First love? Menurut riset dari banyak orang, kebanyakan cinta pertamamu akan selalu gagal, dan aku adalah salah satunya.
Namanya Yohan, teman baik aku sedari kecil. Ini bukan kisah yang selaras dengan novel, aku dan Yohan tidak sedekat itu.
Secara teknis kalau urusan letak geografis rumah, baru bisa dikatakan dekat. Karena yups, Yohan adalah tetanggaku. Itu yang membuat kami selalu saja kedapatan satu sekolah.
Keluarga Yohan adalah pribadi yang religius, orang tuanya berhasil mendidik Yohan dalam beragama.
Yohan juga berprestasi entah itu di bidang akademik atau agama. Naturally, Yohan cerdas.
Alasan itulah yang membuat Yohan menjadi ekhem- rival ku saat aku menduduki bangku sekolah dasar.
Sungguh, itu benar-benar menyenangkan dan yeah sangat berguna. Ku akui keberadaan Yohan memberikan peran besar untuk ambisi ku.
Hari itu, hari terakhir di semester ganjil. Saat menegangkan karena pembagian nilai raport dan rangking kelas.
Kurasakan jantungku berdebar dua kali lipat dari biasanya. Intinya aku hanya berharap agar aku lebih baik dari Yohan.
"Tebak siapa yang menduduki peringkat pertama?" kata wali kelasku dengan senyum yang menggoda.
Sungguh, kini hanya ku dengar teman-teman sekelasku meneriakkan namaku dan Yohan.
"Dia yang jadi peringkat pertama semester lalu... Laras!"
Yeeees aku menang, Yohan!!
Jeritku di dalam hati. Senyumanku tidak luntur sedari tadi. Ku lirik manik mata indah itu, Yohan membuat jantungku selalu berdebar karenanya.
Tubuh kecil Yohan yang tingginya hanya berbeda beberapa cm dari ku benar-benar menggemaskan. Senyumannya yang jarang tersungging tapi sekali tarikan bibir, pesonanya sungguh tak tertolak. Yohan teramat manis.
Ada berbagai alasan kenapa aku mau dengan sukarela bersaing dengan uhuk- orang yang ku suka.
Karena aku sadar, aku tak secantik anak-anak lain tapi mungkin Yohan akan tertarik jika aku memiliki nilai yang baik.
.
Kertas binder menjadi incaran anak-anak di zaman itu. Salah satunya ya teman-teman sekelasku.
Entah ide darimana aku dan Yohan berhasil kerja sama mendagangkan kertas warna-warni dengan berbagai gambar menarik itu.
Hasil penjualannya lumayan untuk tambahan uang jajan. Itu tak terlalu penting, karena yang paling berkesan adalah saat semua orang mulai menjodoh-jodohkan ku dengan Yohan.
Terlalu sering sehingga aku semakin memikirkan apakah aku dan Yohan memang secocok itu?
.
Yohan tenang tapi memikat. Banyak anak-anak perempuan yang sudah jatuh hati pada Yohan.
Salah satunya adalah Febi, teman sekelas kami.
Aku ingat saat semua anak perempuan di kelas tau akan rencana Febi untuk menaruh sepucuk surat cinta di tempat pensil Yohan, manis sekali. Tapi sayangnya hanya aku yang tidak tau apa-apa tentang rencana itu. Miris bukan?
Febi sengaja untuk menulis surat itu secara anonim, sehingga semua anak laki-laki di kelas kebingungan.
Aku mulai jengah karena marah atas ketidak setia kawanan dan mungkin...cemburu?
"Yang ngirim surat ke Yohan itu yang duduknya di pojok kanan!" ujarku sarkas.
Sungguh, tak bisa ku tahan mulut ku untuk cepu saat itu juga.
Dan yang terjadi adalah perkelahian antar aku dan Febi. Untungnya itu tak berlangsung begitu lama.
Lucu memang kalau diingat, aku pikir Febi pecundang hanya karena dia tidak mau Yohan tau. Sebelum aku menyadari, bahwa aku lebih dari pecundang karena tidak mampu hanya untuk mengungkapkan rasa suka ku.
.
Di lain hari, seperti dejá vu teman sekelasku yang lain mulai mengutarakan cintanya pada Yohan. Namanya Sindi.
Layaknya anak SD pada umumnya yang belum benar-benar mengerti cinta, Sindi dan Yohan terus dipojokan.
Terima! Terima! Terima!
Teriak demi teriakan untuk Yohan menerima cinta Sindi terus menggema.
Aku hanya diam di kursi ku, tak mampu melakukan apapun. Aku sadar, rasa cemburu mulai merasuki ku.
Rasanya seperti semuanya suka jika Yohan dan Sindi bersama, kecuali aku.
Sampai saat dimana aku melihat Yohan menangis karena pengakuan cinta Sindi.
Konyol memang, tapi aku bisa merasakan bagaimana malunya jadi Yohan.
Sampai satu momen sakral terjadi, dimana anak-anak yang tadi meneriaki Yohan dan Sindi mengintrogasi Yohan. Bertanya hal bodoh siapa yang membuat Yohan menangis.
"Pasti Laras, kan?" tanya Febi.
Yohan menggeleng.
Diantara semua anak perempuan yang dia iyakan sebagai pelaku atas tangisnya, hanya aku sebagai pengecualian dari Yohan.
Bolehkah aku senang atas tertolaknya Sindi?
.
Waktu terus berjalan sampai akhirnya aku dan Yohan akan melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama.
Ku harap cinta monyet ini segera berakhir, tapi ternyata tak semudah itu.
Entah pelet apa yang Yohan berikan padaku sehingga aku tak bisa untuk tidak menyukai nya selama bertahun-tahun lamanya.
Aku tak ada niatan untuk confess ke dia. Sungguh!
Kupikir, itu bukan waktunya. Kita masih terlalu muda untuk patah hati dan segala antek-anteknya yang merumitkan.
Tapi aku tetap tak bisa menepis perasaan gelisah ku saat tau kalau Yohan akan melanjutkan study nya ke sekolah dengan asrama.
Pikiran ku terus awut-awutan mengingat itu.
Apakah Yohan akan benar-benar pergi?
Bisakah dia tetap disini?
Kenapa aku harus peduli dengan dia? Aku bahkan tidak lebih dari seorang teman.
Logika dan perasaan mulai berperang, mengulur waktu sampai pada akhirnya hari kelulusan mulai di depan mata.
Pulang sekolah, ditengah perjalanan yang panjang dan ku tempuh dengan jalan kaki, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.
Memaksakan ku untuk berteduh di warung samping jalan yang sudah tutup.
Tak kusangka Yohan berada di sana, sendirian.
Aku lihat seragamnya juga basah karena rintik itu.
Semua pemikiran gila berkecamuk, bagaimana kalau aku bicara padanya?
Mengatakan bahwa anak perempuan ini sudah sedari lama menyukai mu! Menyukai diam-diam sampai hampir kehilangan kewarasan rasanya.
Menanyakan apa keputusannya tentang asrama?
Dan semua hal tentang Yohan.
Sampai, semuanya sia-sia.
Yohan pergi menjauh, meninggalkan ku sendiri dan lebih baik menerobos derasnya hujan.
Membuat ku semakin tersadar, bahwa apa yang selama ini aku harapkan dari Yohan? Itu semua hanya hayalan ku semata.
Nyatanya seiring dengan lebatnya air hujan, semua tentang Yohan harus reda seperti hujan hari itu.