pernahkah kau tahu bahwa hujan memiliki bau yang khas, bukan hanya bau tapi suasana hati juga akan berubah jika sedang hujan, cobalah dengar sesakali mendengar suara rintik kan air yang menimpa benda kau akan menjadi rileks.
lucu ya hanya dengan hujan aku sangat bahagia, tapi itulah sebab mengapa aku suka hujan. Beban akan terangkat dan kita bisa menangis dibawah hujan tanpa seorang pun tahu.
"Rin jangan main hujan entar sakit," teriak seorang lelaki dibalik jasnya yang sedang menutupi dirinya agar tidak terkena hujan.
"aah ngapain ngumpet gitu sini bareng main hujan-hujanan," minta ku tanpa ragu pada sahabat priaku ini. dia juga tanpa ragu langsung membuang jasnya bersamaku menikmati setiap rintik hujan yang datang.
"sesenang ini kau sama hujan" tanya Pian padaku dengan bibir sudah mulai pucat "hm di bawah hujan aku dapat mengeluarkan semuanya yang aku inginkan," jelasku memperhatikan kondisi Pian.
"lalu ... jika aku yang menjadi untukmu," badan Pian gemetar kedinginan "boleh asal jangan jadi badai aja," canda ku pada Pian. aku yang melihat Pian sudah gemetaran mengusaikan bermain hujan dan membawa Pian ke rumahnya.
di rumahnya Pian hanya hidup sendiri sebab ada masalah internal dalam keluarganya, masalah apa itu aku pun tak tahu karena Pian juga tidak menceritakan tentang masalahnya. aku yang sudah basah kuyup masuk mengerikan badan dan memakai baju kaos Pian yang berukuran kecil "hahaha jadi adek ku aja gimana baju ku masih banyak yang kecil di lemari," tanyanya saat aku keluar dari kamar mandi "yeee ngaak yaa aku masih sayang sama Abang ku di rumah," bantahku.
"Rin keringin rambut ku ya," menyodorkan pengering rambut padaku "males ..." aku duduk di sofa mengambil cemilan sambil menunggu hujan untuk reda. "sekali doang," dengan bersungut-sungut aku mengambil alat itu.
aku mengobrak-abrik rambutnya hingga ke ujung-ujung akarnya "sakit woi kalau nggak ikhlas yaudah," regeknya kesakitan "dari awal aku juga nggak mau," membuang nafas panjang. setelah selesai mengerikan rambut Pian, Pian langsung membuka handuk di kepalaku dan menyuruh duduk di lantai "duduk di bawah," suruhnya "malas ah," aku yang merupakan kaum rebahan sangat malas untuk bergerak jika sudah terjebak dalam posisi yang nyaman.
akhirnya Pian berdiri dan mengerikan rambut ku, aku yang tak peduli asik menonton TV "rambut mu wangi pakai shampo apa? perasaan aku tidak punya bau shampo kayak gini," tanyanya yang penasaran. "oh itu ibu Ki waktu kecil sering sekali memandikan ku dengan bahan herbal, jadi bau-bau itu melekat pada rambut dan badan ku," merasa cemilan sudah habis di bungkusnya aku meminta lagi pada Pian "Ian cemilannya nambah ya heheh," Pian masih serius dengan rambut ku mengambil sebungkus kripik di meja dekatnya dan memberikan padaku "nih jangan jatuh remahannya," menatap rambutku dan menciumnya.
"wah aroma sangat enak," puji pian padahal ia sudah lima kali memuji rambutku, 1 menit kemudian hujan sudah reda "wah hujan sudah reda aku balik ya," lompat ku dari sofa dan mengambil barang milikku.
"aku antar," Pian juga beranjak keluar "tak perlu ..." ucapku "bilang aja kau mau pergi beli eskrim sebelum pulang," tebak Pian "hehehe..." Pian sering sekali menebak jalan pikiranku entah karena pola pikir ku yang sederhana atau karena sudah kebiasaan sering bersama pian.
"traktir aku ya," Pian merangkulku setelah meminta di traktir "ya tapi jangan mahal-mahal boke entar isi dompet,"
kami berjalan menuju rumah ku lalu kami terlebih dahulu singga di minimarket terlihat gadis-gadis di sana terus menatap abang-abang kasir yang Tampan bukan main, aku yang sudah terbiasa dengan orang itu bersikap cuek sebab ia adalah kakak sepupuku "Abang kalau di jual berapaaan ya," umpatku di dekat Pian "ya aku laporin Abang mu ya," ancam Pian "Yee bercanda,"
saat sampai di kasir Para gadis itu masih saja melihat sepupu ku ini dibalik pintu kaca minimarket "bang ..." tegur ku "hm apaan," sambil menghitung harga belanja kami "nggak niat gitu gebet satu gadis di sana cantik-cantik tau," satu pukulan halus aku dapat dari sepupu ku ini "balik cepat sana! Pian antar cebol ini kerumah dan jangan biarkan dia pergi main bola di lapangan," suruhnnya pada Pian " baik bang!" entah mengapa aku merasa dua pria ini lebih mengenal diriku dari pada aku sendiri.
keluar dari minimarket tatapan tajam gadis-gadis melihat kearah ku padahal selama ini aku tidak pernah berbuat salah padanya dengan cerobohnya aku malah berteriak pada gadis itu "aku ada utang ngeliatin kayak gitu," seruku
Pian memukul kudanya sendiri "dasar ..." para gadis itu mulai mendekat padaku dan mengejar kami dengan sigap aku dan paian lari dari mereka "Rin udah gila apa!" Dengan suara nafas yang hampir habis "nggak tu mereka aja lihatin aku sampai segitunya," lalu ibu pun keluar dari rumah melihat kami kelelahan.
"kalian habis ngapain sampai begitu," tanya ibu ku yang mengeluarkan lagi pakaian yang belum kering
"habis dikejar anjing," jawab ku membuka pintu
"Ian masuk gih ibu udah masak kalian makanlah," ini mengambil pakaian dan menjemurnya dengan lihai.
Pian pun masuk bersama ku menikmati Makanan yang di sediakan ibu, terlihat makannya memang sederhana tapi aku dan Pian tahu bahwa rasanya sangat enak bahkan tempe pun jadi rebutan kami saat makan "yak ini tempe ku," teriakki "aku yang dapat duluan jadi ini tempe ku," suara sendok dan piring mulai terdengar "hei kalian makan dengan tenang! heran kayak orang tidak pernah makan saja," ibu yang sudah menjemur pakaian masuk dengan membawa keranjang.
keranjang itu mengenai kepalaku dan Pian "tenangkan enak," ibu pun berlalu tapi kami tetap saja berebutan makanan tapi secara pelan-pelan.
suara motor terdengar dari luar bertanda bahwa kakak sudah pulang "kakak?" seru ku. kakak pun masuk dan membawa banyak kotak pizza alih-alih menyerahkan pada adiknya kakak malah langsung memberikannya pada Pian "kakak!! aku di sini,"
"terus ..." kakak membuka sepatunya dan masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.
pian yang menjadi kesayangan keluarga ini selalu meledekku saat ia mendapatkan semua perhatian keluarga Ku "mau? makanya jangan buat onar mulu," ledek pian.
terdengar suara kakak mencegah perang keliam terjadi "makanannya banyak Jangan berebut," minat kakak lelaki ku yang dari awal dialah yang memicu perang itu.
"siap kak,"balas pian