"Dinda!! mau kemana kamu?!" teriak keras mamah ku.
"Mau ke sekolah mah, udah telat!!" balas ku.
SMA Garuda Hermina, dimana saat ini aku masuk ke kelas 11 dan seorang murid pindahan dari London. Ya, papa terbang kembali ke Indonesia bersama sekeluarga karena cabang perusahaannya sedang ada masalah.
Menaiki mobil sedan pemberian kedua orangtuaku menuju sekolah. Ku parkirkan kendaraan itu di parkiran khusus pelajar, namun saat mundur mobilku tidak sengaja menabrak motor ninja milik siswa disana yang tidak ku ketahui namanya. langsung ku majukan mobil ku sedikit lalu turun dan bergegas menuju kelas. Tolonglahh !! aku sudah lelah berlarian kenapa masih saja terlambat masuk kelas. Ya akhirnya mau tidak mau harus menunggu di luar kelas bersama beberapa siswa untuk di persilahkan masuk oleh guru.
Akhirnya setelah sekian menit menunggu di luar kami di persilahkan masuk dan aku disuruh memperkenalkan diri sendiri sebagai bagian baru dari kelas itu.
"Halo, namaku Dinda, murid pindahan dari London, salam kenal semuanya" ku lambaikan tangan ke arah siswa di kelas. Mataku tertuju pada satu pria yang duduk di pojok belakang dan sibuk mengunyah permen karet. Bad boy dan sepertinya dia cuek. Namun entah kenapa sifatnya itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi ku.
Ku dudukan pahaku di kursi belakang 2 bangku jaraknya dari dia. Ku tanyakan teman satu bangku ku.
"Permisi, itu yang di pojok siapa namanya.?" ku tunjuk pria itu dengan telunjukku.
"Oh dia yang lagi makan? namanya Brian, jangan deket-deket sama dia, galak mah orangnya suka cari gara-gara juga" ucap Chery teman sebangku ku.
"Galak?" ku ucapkan itu sembari menahan senyum mengembang di bibirku.
Menurutku membuat seseorang yang galak menjadi manja kepadaku adalah sebuah hal yang menantang, dan aku suka hal yang menantang.
"Ahhh, kelas udah selesai rupanya" ku regangkan badanku dan punggung yang lelah duduk terus menerus.
Ku langkahkan kakiku menuju jendela kelas dan melihat ke bawah.
"SIAPA YANG PUNYA MOBIL INI!! KELUAR LU SEKARANG JUGA, LU UDAH BIKIN MOTOR KESAYANGAN GW LECET!!"
Ku kerjapkan mata beberapa kali melihat Brian marah-marah di depan mobilku sembari memukul mobilku. "PLISLAH, KENAPA ITU MOTORNYA DIA ASTAGA!!" Buru-buru aku berlari sembari menenteng tas ku di lengan dan menerobos murid-murid yang berkerumun menyaksikan dia marah-marah.
"itu mobil gw! hoshh hoshh!!" ucapku di depan dirinya sambil terengah-engah berlari.
"Ohh, ini mobil lu ya? LU NGAPA NABRAK MOTOR GW ANJ*NG" Teriak Brian tepat di depan ku persis.
"Ihhh, ya mana gw tau, nih buat ganti rugi cat nya, 500k cukup harusnya!!" ku keluarkan dompet serta uang cash 500k dan ku berikan kepadanya.
"Gamau uang!!" ucapnya sembari mengembalikan uang nya ke dalam genggamanku yang membuatku melihatnya bingung dan raut wajahku seakan tau ingin menanyakan apa kepadanya.
"Gua maunya motor gua ini di tuker sama mobil lu biar lu bawa sendiri ke bengkel" jawab Brian enteng.
"WHATSSS?!!!! LO GILA APA, MOBIL KESAYANGAN GW MAU DI TUKER-TUKER AJA!!??"
"LAH, LU YANG NABRAK GA MAU TAU GUA AMBIL MOBIL LU DAN NIH KUNCINYA"ucapnya sembari menukar kunci mobil di tanganku dengan kunci motor miliknya dengan sangat cepat hingga tidak ku sadari sama sekali.
"ARGGGH PLIS LAH, AWAS LO KALAU KETEMU LAGI, untung suka" ucapku lirih di akhir kalimat.
Brian dengan mobilku sudah melaju kencang keluar gerbang, dan dengan pasrah ku naiki motor miliknya. Saat ingin mengenakan helm miliknya ku cium aroma rambutnya yang wangi dan wangi itu tertinggal di dalam helm. Ku pakai helm lalu pergi ke rumah dengan sedikit tidak terbiasa karena motor itu terlalu tinggi untuk ku yang pendek.
.....
"Eh mobil siapa ini?" tanya seorang pelayan yang bingung akan keberadaan mobil sedan yang datang ke rumah.
"Mobil temen mbak, lagi tukeran ceritanya" jawab Brian yang baru saja keluar dari mobil disambut satu-satunya pelayan di rumah itu bernama mbak Arum. "Oh begitu ya nduk, Ibuk lagi masak banyak nduk, ayo sini masuk kasihan ibuk ga di makan nanti makanannya" jawab mbak Arum lembut. "iya mbak, Aku mau ganti baju dulu"
Dilangkahkannya kaki Brian menuju ruang makan yang penuh dengan aroma makanan kesukaannya serta sang bunda yang menunggu di ruang makan. "Kamu dah dateng toh, bunda baru sadar" "Bunda mah ga pernah liat anak sendiri" jawab Brian yang membuat sang bunda tertawa pelan mendengar jawaban sang anak. "Hahaha iya, itu mobil siapa, jangan-jangan kamu usil lagi ya di sekolah?!" tanya sang bunda yang seolah menjadi mata-mata. "Motor Brian tadi di tabrak sama yang punya mobil itu, jadinya tukeran bentar biar bisa dia benerin sendiri" "ohh gitu, dia cowo atau cewe?" "cewe Bun, cerewt juga kaya bunda" "Heh kamu nih ya suka banget bikin bunda emosi, udah-udah makan dulu, cape nih bunda masak dari tadi" "iya Bun siap" jawab Brian sembari mengambil lauk serta sayur di depannya dan makan.
di sisi lainnya.... Rumah Dinda
Brmm Brmm...
Ku lihat papa juga masuk ke gerbang rumah bersamaan dengan ku.
"Dinda?" "Eh, iya pah kenapa?" tanyaku sambil melepas helm dan turun dari motor. "Itu motor siapa astaga Dinda perasaan tadi pagi berangkat pakai mobil deh?" "ehehe iya pah, tadi Dinda tukeran sama temen sebentar" jawab ku pelan. "oh, sama temen, yaudah, jangan sampe ilang awas ya?!" "iya pah" lega sudah di interogasi sebentar oleh papa, seperti mau lepas jantung ini.
Beberapa hari kemudian... di sekolah
"Cer!"
"Apa Din??"
"Liat Brian ga?"
"Biasanya jam segini dia ada ekskul basket"
"oh, Okey makasih Cer" ucapku lalu berjalan menyusuri lorong sekolah menuju lapangan basket indoor di sekolah.
"Lah, kok sepi" tanyaku yang bingung mendapati lapangan basket sama sekali tidak ada orang,
"Nyari siapa lu?" ku dengar ada seseorang menanyakan kepadaku dari tribun atas. Ku dongakkan kepalaku dan mendaapti Brian lah yang memanggil ku. Langsung saja aku ke atas dan memberikan kunci dalam genggaman. "Nih kunci motor lo, udah kinclong tuh motor lo, mna sini kunci mobil gw?" "oh udah selesai, nih kunci mobil lu, tapi ada syaratnya" "Syarat apa lagiii?!!!" "Gua mau lu jadi pacar gua".
.....
Aku terdiam sesaat mendengar permintaan itu terucap dari mulut seorang Brian Argatama. "G-Ga salah ngomong kan?" ucapku terbata-bata gugup seketika mendengar ucapannya. "Iya beneran" ucap Brian sembari melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap mataku. "Okelah, kita pacaran, gw pergi dulu bye" jawabku sembari menahan rasa senang karena telah mendapatkan seorang bad boy cuek dan galak menjadi pacar seorang Dinda.
Tiap-tiap hari sejak hari itu hubungan kami berdua menjadi bahan perbincangan penuh kalimat sinis oleh para siswa dan siswi di sekolah itu. "Sirik aja Lo pada" "Biarin ay pada iri Tu" ucap Brian sembari meletakkan tangan kirinya di pundakku, berat namun tidak apa. "Ihhh ketekmu kok bau, tumben-tumbennya bau!" tanyaku sambil sedikit teriak. "Tadi kelupaan pakai deodorant habis basket" jawabnya enteng. "lain kali pake, ga pake lagi ntar itu motornya aku jual" jawab ku sembari sedikit mengancamnya agar takut. "Jual aja gapapa sayang, nanti bisa pakai mobilmu hahaha". Slah satu sifat yang membuat ku kesal setengah mati olehnya adalah sifat nya yang sangat suka sekali menggoda ku disaat sedang kesal, bukannya jadi happy malah tambah kesal yang ada., emosi? ya pasti itu yang terjadi jika dekat dengannya
Hari kelulusan pun tiba, ku duduk tepat di sebelahnya Brian "Habis lulus kamu mau kemana?" tanya nya kepadaku. "aku mau balik ke London, masalah di indonesia udah beres soalnya" "oh balik London" "Iya, makasih ya udah nemenin 2 tahun ini sampai kita berdua lulus bersamaan, perjalanan kita masih sangat panjang, namun diri ku ini akan berhenti dihari esok, sekali lagi makasih ya" ucapku sambil merebahkan kepalaku di pundaknya perlahan.