Rintik hujan yang seakan tidak mau berhenti. Tapi tak menyusutkan keinginan Nayla untuk bersekolah. Selain tujuannya untuk belajar Nayla berniat untuk bertemu dengan pangerannya. Andi seseorang yang sejak pertama masuk di bangku SMA Nayla suka. Sudah dua tahun Nayla memperhatikan Andi dari jauh. Hari ini dia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada Andi.
" Ma, Nayla berangkat dulu Ma. " Teriak Nayla dengan terburu-buru menuruni tangga.
" Hati-Hati Nay, "
" Siap Ma !! " Teriak Nayla lagi menuju garasi untuk mengambil motornya.
" Anak ini tidak mau mendengarkan Mamanya sama sekali. " Ujar Rita dengan kesal.
Nayla sampai di depan gerbang sekolah. Dengan terburu-buru memasuki kelasnya. Karna bel sudah berbunyi. Andi dan Nayla adalah teman sekelas. Tapi Nayla tidak berani untuk menyapa Andi walaupun hanya sapaaan biasa.
" Nay, jangan diliatin terus. Loe tuh ketahuan banget sukanya sama Andi, sabar aja nanti malamkan acara ulang tahunnya Andi. Nah nanti kita semua bakal bantuin kamu buat deket sama Andi. " Ucap Rini diangguki oleh temen satu gengnya.
" Makasih ya Rin. " Ucap Nayla dengan masih menatap Andi yang tengah sibuk mengobrol dengan temannya.
" Iya Nay, Loe tenang aja kita bakal bantuin kok. " Ucap Sisil
" Makasih kalian bener-bener sahabat gue paling baik " Ucap Nayla dengan anggukan semua temannya. Mereka berpelukan saling memberi dukungan.
Tak terasa bel istirahat berbunyi. Semua murid berkerumun hendak pergi keluar kelas. Nayla yang ingin berbicara pada Andi langsung menarik tangan Andi yang hendak keluar kelas.
" An-Andi... Aku mau ngomong. "Ucap Nayla gugup
" Iya mau ngomong apa "
" Itu... Anu, gini Ndi, Aku.... " Sebelum Nayla menyelesaikan ucapanya seorang Wanita datang.
" Hai Andi, kamu mau ke kantin kan, ya udah bareng aja yuk sama aku. " Ucap sinta
Andi melirik Nayla yang tak kunjung bicara.
" Nggak pa-pa kok kalok kamu mau pergi. Aku gak jadi mau ngomong apa. " Nayla tersenyum dengan terpaksa.
" Baiklah aku pergi dulu ya Nayla. " Andi berlalu pergi dengan Sinta anak kelas sebelah yang sufah lama mendekati Andi.
" Sepertinya Aku harus menunggu sampai nanti malam. " Batin Nayla.
***************
Malam tiba. Kini Nayla tengah bersiap untuk pergi ke acara ulang tahun Andi. Dia menyiapkan diri dengan penampilan yang cantik. Malam ini Nayla dan teman-temannya berencana mendekatkan Andi dengan Nayla.
" Nay, Loe udah siapkan. Gue udah on the way ke rumah Loe. " Ucap Rini dari balik telfon
" Gue udah siap. Gue tunggu loe di depan rumah ya Rin, "
" Oke "
Hampir lima belas menit menunggu. Akhirnya Rini sampai di depan Nayla.
Tin... Tin... Tin... (Suara klakson mobil)
Nayla yang mendengar sura klakson mobil itu bergegas menghampiri mobil yang sudah terparkir di depan rumahnya.
" Udah siap Nay? " Tanya Rini
" Udah. "
" Ya udah cuss berangkat anak-anak udah nunggu "
" Cap cus. " Seru Nayla
Sampai di tempat acara. Nayla terus memperhatikan Andi. Ingin rasanya Nayla menyapanya kalau bisa meminta untuk foto bareng.
" Nay, Kamu pasti bisa, Semangat. " Teman-teman Nayla memberi semangat.
Nayla mencoba mendekat pada Andi. Andi yang tahu Nayla ingin mengatakan sesuatu langsung menghampiri Nayla. Pasalnya dia ingat bahwa tadi siang Nayla ingin mengatakan sesuatu.
" Hai Nay, Loe butuh bantuan? "
"Nggak bukan itu, Andi gue mau ngomong sama loe. "
" Ngomong apa. "
" Gue... Gue suka sama loe " Ucap Nayla tanpa sengaja mengeraskan suaranya. Membuat seluruh orang yang ada di ruangan itu terdiam.
"Pffftttt..... Loe suka sama Andi? Loe gak ngaca apa, loe tuh gak ada apa-apanya dibanding Andi. Loe gak level sama orang kayak kita. Benerkan Andi? " Sinta tersenyum sinis pada Nayla, seolah meremehkan.
" Tentu. Nayla aku baik sama kamu. Tapi bukan berarti aku suka sama kamu, jadi please buang rasa suka loe jauh-jauh." Ucap Andi dingin
Nayla terdiam. Dia tidak menyangka Andi akan mengatakan hal seperti itu padanya. Nayla yang merasa sakit hati memilih untuk pergi dari ruang acara.
" Loe bener-bener keterlaluan ya Ndi. Nayla udah suka sama loe dari dulu, Dia udah ngelakuin banyak hal buat loe. Laki-laki kayak loe emng gak pantas untuk di cintai. " Ucap Rini lalu pergi menyusul Nayla yang lari entah kemana.
Andi tertegun mendengarnya. Ingatan-ingatan saat Nayla selalu memberinya bekal walau tanpa memberikannya secara langsung padanya. Membuat Andi merasa tak enak hati telah menyakiti perasaan Nayla.
Disisi lain Nayla berlari dengan air mata yang tak kunjung berhenti. Hujan yang tiba-tiba menetes dari langit tidak membuatnya berhenti. Nayla menerobos derasnya air hujan. ia lupa tentang penyakitnya.
Rini dan Sisil yang tahu tentang penyakit Nayla. Terus berusaha mencari Nayla dari derasnya hujan. Mereka khawatir terjadi apa-apa pada sahabatnya itu.
" Huhuhuhu..... Hikss...Hikss... " Nayla menangis tersedu-sedu tanpa merasa bahwa di hidungnya mengeluarkan darah. Kepala Nayla pusing. Dia terjatuh dan pingsan ditengah jalan. Rini dan Sisil yang melihat Nayla jatuh berlari mendekati tubuh Nayla yang sudah lemas.
" Nay, Nay bangun Nay. Telfon Om Rudi sekarang. " Perintah Rini pada Sisil. Sisil langsung menghubungi Orang tua Nayla.
" Apa, Nayla pingsan, Baik om akan segera kesana. Kalian bawa Nayla ke rumah sakit. " Teriak Rudi saat mendengar putri semata wayangnya pingsan di tengah jalan.
" Ada apa Pah? " Tanya Rita saat melihat suaminya nampak Cemas.
"Nayla Mah, Nayla pingsan. " Bagai disambar petir. Rita yang mendengar ucapan suaminya itu. Menangis sejadi-jadinya. Dia tak ingin kehilangan putrinya.
" Pah, ayo susul mereka. Ayo Pah, Mama mau liat keadaan Nayla. " Raung Rita.
Orang tua Nayla bergegas menuju rumah sakit tempat Nayla di rawat.
" Bagaimana keadaan Nayla Rin? " Tanya Rita
" Nayla Tan. Nayla harus segera di operasi tan. Penyakit Nayla semakin parah.... Hikss... Nayla.... Kanker Nayla sudah semakin parah " Rini dan Sisil menangis.
" Huhuhuhu.... Bagaimana bisa nayla seperti ini? Bukankah Nayla sudah baik-baik saja selama ini?" Terus meraung saat melihat tubuh putrinya yang sudah di penuhi selang panjang.
Rudi hanya diam. Dia menguatkan diri. Dan selalu berdoa untuk kesembuhan putrinya. Air mata keluar dari matanya. Hati Rudi sakit melihat kondisi putrinya yang lemah.
Seminggu lebih Nayla di rawat. Tidak ada tanda-tanda dia akan sembuh. Tubuhnya semakin lemah. Tapi dia berusaha untuk tersenyum agar orang tuanya tidak mengkhawatirkannya.
" Hai Nay, Aku bawa buah-buahan buat kamu " Ucap Rini menyembunyikan kesedihannya.
" Lha.... Loe aneh Rin, Tunggu Nayla sehat dulu baru kasih dia buah-buahan. " Canda Sisil.
Nayla terkekeh lemah diatas ranjangnya. Kedua sahabatnya yang melihatnya seperti itu tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan sedihnya.
" Nayla... Kamu harus sembuh ya Nay, Biar kita bisa sekolah bareng, ketawa bareng lagi... Kamu harus sembuh Nay.... Hiks... Hikss... " Tangis Sisil dan Rini pecah. Mereka memeluk sahabatnya itu dengan erat.
" Iya, kita bisa main bareng lagi kok. Udah ya kalian jangan nangis kayak gini. Aku gak suka ngeliat kalian nangis. " Ucap Nayla lirih.
" Bisa nggak kalian bantuin aku? " Lanjut Nayla.
" Bantuin apa Nay? "
" Aku ingin ketemu sama Andi. "
" Nggak bisa, kamu kayak gini gara-gara dia. Kami gak mau. "
" Aku mohon sekali ini saja. " Mohon Nayla. Melihat Nayla yang seperti itu membuat Sisil dan Rini mengangguk setuju.
********
" Andi Nayla ingin bertemu denganmu " Ucap Rini dingin.
" Dimana dia?" Tanya Andi. Sebenarnya dia terkejut mendengar Nayla di rawat. itu sebabnya dia langaung datang ke rumah sakit.
" Dia ada didalam masuklah. " Ujar Sisil
Andi masuk ke ruang dimana Nayla dirawat. Ruangan yang penuh dengan bau obat. Matanya lesu saat melihat Nayla sedang terbaring lemah.
" Hai Andi, Apa kabar? " Tanya Nayla.
" Aku baik. " Nayla sekuat tenaga untuk tersenyum.
" Apa kamu baik-baik saja? " Tanya Andi.
" Tentu, aku baik-baik saja. " Lirih Nayla.
" Ya sudah aku keluar dulu. Kamu istirhat saja! " Seru Andi.
" Andi tunggu, Surat ini untukmu. Terimalah, anggap saja ini kenang-kenangan dariku. Nanti saat kamu keluar aku mohon jangan masuk. Aku tidak mau kamu melihatku lagi " Lirih Nayla lagi. Andi mengangguk dan keluar dari ruang rawat nayla.
" Bagaimana keadaannya? " Tanya Rini Saat melihat Andi keluar.
" Dia baik-baik saja. "
" Baiklah, Sil ayo kita masuk " Ajak Rini saat tahu kondisi Nayla baik-baik saja.
Andi terdiam di kursi depan ruangan Nayla. Perasaan bersalah menumpuk dihatinya. Surat dari nayla terus dia genggam.
Dengan gemetar dia membuka surat itu dan membaca isi suratnya.
Untuk Andi.
Hai andi, apa kabar? Kamu pasti baik-baik saja kan? Aku sudah lama loh menyukaimu. Tapi aku tidak berani mengatakannya. Tapi malam itu aku mengungkapkan perasaanku padamu. Sebenarnya aku kecewa dengan perkataanmu. Tapi tidak masalah, karna aku sangat menyukaimu Andi. Oh ya, Sampai lupa happy birthday ya. Aku berharap kamu akan menemukan seseorang yang mencintaimu lebih dari aku. Anggap saja surat ini ungkapan terakhirku untukmu. Karna mungkin kamu tidak akan pernah melihatku lagi. Sampai jumpa Andi!!
Dari orang yang menyukaimu
Nayla.
Air mata Andi menetes bersamaan dengan nafas terakhir Nayla. Sahabat dan keluarganya menangis melihat kepergian Nayla untuk selamanya.
Andi menangis. Menyesali perbuatannya. Janji untuk tidak masuk lagi ke ruangan Nayla menghentikan langkahnya. Andi tidak menyangka perasaan Nayla membuatnya kini sadar bahwa selama ini dia juga mencintainya. Tapi semua sudah terlambat Nayla kini telah pergi dan tak akan pernah kembali lagi.
Terima kasih Nayla karna sudah mencintaiku sebesar ini!! Terima kasih karna sudah hadir dalam hidupku, Kini Aku menyesal!! Nayla akan aku jaga surat darimu. Akan aku rawat dengan baik.
End
Nb : Hargailah seseorang yang mencintaimu dengan tulus. Karna jika dia telah pergi kau tidak akan pernah bisa membawanya kembali.
_
_
~ Cerita ini berasal dari pemikiran saya sendiri. Jadi mohon maaf jika ada kesamaan alur dan nama. Jujur cerpen ini hadil dari kegabutan saya karna tidak tahu harus ngelakuin apa😂