Nadin berjinjit hendak mengambil buku di rak paling atas. Tubuhnya yang mungil membuat kegiatan itu sedikit menyulitkan. Bahkan ia sesekali melompat-lompat untuk meraih benda yang ia inginkan, namun percuma saja, buku itu terlalu jauh dari jangkauannya.
"Makanya punya badan tinggi dikit," ejek seorang lelaki sambil terkikik geli.
"Lebih baik bantu aku daripada cuma jadi penonton," sahut Nadin sedikit kesal.
Lelaki itu mengedikkan kepalanya, lalu mengambil buku yang dimaksud Nadin dengan sekali juluran tangan.
"Nih, ambil."
Lelaki yang akrab disapa Al itu memainkan buku di tangannya.
"Ayolah, Al. Jangan main-main. Ini perpustakaan, bukan kamarmu. Kalo di kamar, kamu bisa main-main sepuasnya," Nadin berusaha merebut buku dari tangan Al.
"Ngomong apa sih kamu," Al geleng-geleng sambil tersenyum gemas melihat tingkah pacar mungilnya itu.
"Please, Al... " Nadin yang sudah lelah hanya bisa berdiri pasrah sambil menadahkan dua tangannya dan menatap Al penuh harap.
Al hampir tertawa keras melihat ekspresi wajah Nadin yang terlampau imut.
"Iya deh," Akhirnya Al menyerahkan buku itu di atas telapak tangan Nadin. Tak lupa mengacak-acak rambut gadis itu setelahnya.
"Kyaa... Rambutku berantakan, Al!" sungut Nadin yang langsung pergi dengan menghentakkan kaki. Kesabarannya selalu teruji jika sudah dijahili pacarnya yang usil.
Meski Al dan Nadin terlihat mencolok soal tinggi badan, namun mereka tetap tampak serasi. Perhatian Al ke Nadin pun tak perlu dipertanyakan, Al sangat menyayangi pacarnya itu. Ketika bersama, mereka malah lebih tampak seperti kakak adik daripada sepasang kekasih.
"Tumben gak bawa motor?" tanya Nadin saat mereka sudah di perjalanan pulang dengan berjalan kaki.
"Bukannya gak bawa, cuma gak dipake aja."
"Maksudnya?"
"Motornya aku tinggal di sekolah," jawab Al, santai.
"Apa?!" Nadin melotot karena kaget.
"Kenapa?"
"Kamu tega bikin kakiku pegel?! Kita balik yuk? Ambil motor kamu," rengek Nadin.
"Males, ah. Lagian rumah kamu gak terlalu jauh juga dari sekolah."
"Tapi, aku capek, Al... "
Al berjalan mendahului Nadin, lalu berhenti tepat di depannya sambil berjongkok.
"Naik!" titah Al.
"A-apa?"
"Naik, cepetan."
Dengan ekspresi yang masih bingung Nadin pun menuruti perintah Al.
"Sengaja aku tinggal motornya di parkiran. Biar aku bisa gendong kamu," ujar Al yang membuat hati Nadin sedikit tersentuh.
Selain jahil, pacarnya itu memang pandai membuat Nadin tersentuh dengan sikap romantis yang ditujukan padanya.
"Nanti kamu capek, Al."
"Aku takut."
"Takut kenapa?" Nadin menolehkan kepalanya mengamati wajah Al dari samping, yang tiba-tiba berubah sendu.
"Gak bisa gendong kamu lagi."
"Memangnya kenapa?"
"Soalnya... Aku mau... " Al nampak ragu dengan apa yang ingin ia ungkapan.
"Mau apa? Ish, Al, kalo ngomong jangan dijeda sembarangan dong. Bikin penasaran tau."
"Maaf ya... "
"Kamu tuh kenapa? Aneh deh. Tadi mau ngomong, sekarang malah minta maaf," omel Nadin yang mulai frustasi.
"Kita putus aja, ya?"
"Hahaha."
"Kok, malah ketawa? Kamu seneng ya kalau kita putus?!" Ada rasa kecewa dari pertanyaan yang diajukan lelaki itu.
"Kamu kalau mau ngeprank pilih-pilih mangsa dong. Aku udah hafal gimana jahilnya kamu. Hahaha... "
"Tapi aku serius, Nad."
Lengkungan senyum di wajah Nadin perlahan memudar. Sepertinya Al memang sedang serius.
"Dalam rangka apa kamu bisa serius?" tanya Nadin penasaran.
"Aku harus pergi, Nad."
"Kemana?"
"Aku harus melanjutkan kuliah ke luar negeri."
"Apa harus sekarang banget? Tapi kan, gak harus putus juga, Al," protes Nadin dengan nada sedikit parau.
Al yakin, gadis itu sedang berusaha menahan tangis.
"Aku gak bisa ngekang kamu dengan status kita. Saat aku pergi nanti, kamu punya kehidupan dan pilihanmu sendiri. Sedangkan aku gak tau apakah aku bisa kembali ke sini buat nemuin kamu lagi atau enggak. Aku--"
"Kenapa kamu berfikir gak bakal kembali?" sela Nadin.
"Aku cuma takut gak bisa lihat kamu lagi, padahal kamu disini nungguin aku dengan penuh harap. Penantianmu akan sia-sia, Nad."
"Enggak, gak boleh. Kita gak boleh berakhir seperti ini. Aku yakin kamu pasti akan kembali. Kamu sayang sama aku kan, Al?"
"... "
Al terdiam, ia nampak berfikir untuk menjawab pertanyaan sederhana dari pacarnya.
"Kamu udah gak sayang sama aku, ya?" Nadin menunduk, menenggelamkan wajahnya di punggung Al.
Al merasakan punggungnya mulai basah. Tangis lirih Nadin memenuhi pendengarannya.
"Jangan nangis, Nad."
"Kamu yang mulai. Hiks..."
"Maaf. Maaf buat semuanya."
"Aku mau turun," pinta Nadin.
Al langsung mengabulkan permintaan Nadin. Setelah menurunkannya, Al langsung berbalik menatap wajah gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Maaf... " lirihnya lagi.
Dibalik kata maafnya, Al menyembunyikan sebuah fakta bahwa sebenarnya ia mengidap penyakit kanker yang mematikan. Kanker itu sudah menyebar, hanya mukjizat yang dapat menyembuhkannya. Bahkan dokter sudah memvonis umurnya tidak akan lama lagi.
Pikirnya, dengan menjauhi Nadin mulai detik ini, tidak akan membuat gadis itu semakin terluka nantinya, jika ajal benar-benar menjemput dalam waktu dekat.
Dengan begini Nadin tidak akan mempertanyakan lagi keberadaannya jika ia benar-benar menghilang dari bumi. Nadin juga tidak akan menunggunya lagi.
Melihat gadis yang sangat dicintainya menangis di depan mata membuat dadanya sesak. Bagaimana ia bisa membayangkan seperti apa sedihnya Nadin jika melihat kematiannya nanti?
Al sungguh tidak sanggup. Membayangkan saja, sudah membuatnya sulit untuk bernafas. Lelaki itu menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan perlahan.
Al harus pergi. Jika tidak, Nadin akan melihatnya bertarung dengan penyakit menyebalkan itu. Dengan segenap kekuatan yang berusaha ia kumpulkan, Al pun menangkup kedua pipi Nadin dengan tangan besarnya yang bergetar.
Ibu jarinya menyeka air mata yang sudah membanjiri pipi Nadin.
"Nadin, dengar. Aku mencintaimu. Sampai kapanpun akan terus mencintaimu. Tidak akan pernah berubah. Tapi... "
Al menjeda ucapannya untuk menarik nafas. Sakit. Rasanya sakit sekali. Tapi ia harus melakukan ini.
"Perjalanan kita masih panjang, masih akan ada banyak cerita. Tapi, aku tidak bisa hadir lagi dalam ceritamu nantinya," final Al, yang kemudian mendaratkan kecupan di dahi Nadin sebelum melangkah menjauh, sambil berusaha menahan cairan bening yang siap menetes.
Nadin yang mendengarnya bahkan sudah berlinang air mata lagi. Tangisnya semakin pecah, saat sosok lelaki yang sangat ia cintai perlahan menghilang dari pandangannya yang semakin buram, tertutup cairan bening yang tak henti-hentinya berlinang.
"Al, jahat..." lirihnya.
"Aku tidak pernah mengucapkan selamat tinggal, karena aku akan selalu menemani di setiap langkahmu, meski kau tidak menemukan diriku di sisimu. "_Al