Apa yang kamu bayangkan ketika orang yang baru kamu jumpai ternyata adalah orang yang selama ini kamu kenal. Dan ternyata, kecelakaan yang kamu alami membawamu melalui hari-hari yang lebih panjang dengannya. Yang tak pernah terbayangkan akan mendapatkan hal indah karenanya. Namun, hal tersebut hanya kamu yang mengetahui. Seperti ceritaku ini.
***
"Maaf, tapi kami tak mengenalmu. Ribuan orang bernama Sukarta, cobalah cari Sukarta yang lain. Maaf." Lelaki yang kutaksir berumur empat puluh tahun itu menutup pintu setelah berbicara panjang lebar.
Aku berbalik. Entah hendak ke mana. Pagi ini, aku terbangun dengan kebingungan. Berbagai macam pertanyaan berputar dalam kepalaku.
Bagaimana bisa aku terbangun di halaman belakang rumah orang? Bagaimana bisa kakiku hanya tinggal sebelah? Dan, bagaimana kota tempatku tinggal menjadi aneh seperti ini?
"Kau mau minum?" Seorang remaja seusiaku menyodorkan sebotol air mineral.
"Terima kasih," ucapku seraya menerima botol dingin itu dari tangannya.
"Kudengar kau mencariku?" tanyanya.
"Kau siapa?" Aku balik bertanya tak mengerti.
"Aku Karta. Sukarta. Aku mendengarmu menyebutnya saat berbicara pada ayahku tadi," katanya.
"Tak mungkin. Karta yang kucari sudah tua," kataku pelan, tak yakin. Ia terkejut. Kemudian untuk beberapa saat kami hanya terdiam.
"Tapi aku bisa menjadi temanmu," ucapnya.
Aku tersenyum mengangguk. Pada saat itu juga kami langsung akrab. Karta memberitahu di mana aku bisa tinggal dan melanjutkan hidup. Sebuah panti asuhan. Aku tertawa miris saat mengingat bahwa aku memang pantas tinggal di sini.
Panti asuhan yang terletak tak jauh dari rumah Karta membuatku sering mengunjunginya. Aku bersyukur orang tua Karta tak keberatan jika aku berkunjung ke rumahnya.
Rumah Karta mengingatkanku akan sebuah tempat. Sebuah rumah penuh kenangan, sangat mirip. Bahkan model bangunan pun sama. Hanya saja yang ini terlihat lebih tua dan tak ada sumur di halaman belakang seperti rumahku dulu.
***
"Wow, kau seperti peramal!" teriak Karta saat kuceritakan hal-hal yang akan terjadi dari tahun ke tahun. Waktu itu surat kabar yang dibaca ayah Karta menunjukkan tanggal 7 Desember 1960. Lima tahun sejak aku terjatuh ke dalam sumur.
Setelah itu, Karta selalu mendengar ceritaku. Aku bilang padanya nanti pada tahun 1970 telepon tak lagi memiliki kabel, dan bisa dibawa ke mana-mana. Ia tak percaya padaku. Namun, kulihat ada kekaguman pada matanya.
Aku pun takjub dengan tempat ini. Cirebon pada masa lalu sangat indah. Transportasi sisa peninggalan kolonial masih beroperasi pada masa ini.
"Bus ini, nanti tidak beroperasi lagi. Dan terminal ini, akan berubah menjadi mall terbesar pertama di kota ini." Ceritaku pada Karta ketika kami menaiki bus MOGA--sebuah bus yang terkenal di Cirebon pada masa itu--menuju Pekalongan.
"Wah, benar, kah? Sayang sekali. Aku suka sekali naik bus ini," ucapnya sedih.
Waktu berlalu. Karta melanjutkan sekolahnya Jerman. Sementara aku, masih di sini sebagai pengamen berkaki satu yang bisa meramal.
Bertahun-tahun kami tak bertemu. Sampai suatu hari di bulan Juni tahun 1962, kami bertemu kembali. Ia begitu berubah, terlihat sekali ia sebagai orang yang terpelajar.
"Terima kasih, berkatmu aku menjadi semangat belajar berbagai macam hal. Aku sudah menemukan alat yang bisa membawa kita ke melewati waktu. Aku membuatnya bersama kawan-kawan di Jerman." Karta berbicara dengan semangat.
"Oh, iya, kah?" tanyaku, sangsi.
"Benar, sebentar aku tunjukkan padamu," ucapnya seraya mengeluarkan sebuah benda bulat dengan pengatur di tengahnya.
Aku mengusapnya. Ini mesin waktu. Seketika aku ingin memilikinya, aku ingin mencobanya untuk kembali pulang.
"Sudah, jangan diliatin gitu, nanti rusak." Karta mengambil benda itu dari tanganku. Aku hanya tertawa mendengarnya.
Tahun terus berganti, aku mendapat kabar bahwa Karta akan menikah. Saat itu kami berdua berusia dua puluh lima tahun. Sebuah pernikahan yang sangat indah.
Beberapa hari setelah pernikahan, Karta bertemu denganku. Ia berkata bahwa mesin waktunya hilang, entah ke mana. Namun, ia tak berusaha mencarinya. Ia bilang percuma melaporkan mesin waktu yang hilang kepada polisi, bisa dianggap orang gila.
***
Karta dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Bagus. Aku sungguh terharu saat melihatnya. Seorang Bagus kecil yang tak lama kemudian menikah dengan seorang gadis cantik.
"Kamu masa tertarik sama calon mantuku, to, Mas." Aku gelagapan saat Karta mendapati ku menatap Irma, calon istri Bagus.
"Eh, ya, gak, aku udah tua, kok," jawabku asal.
Bagus dan Irma dikaruniai seorang anak lelaki. Aku datang saat mereka berkunjung ke rumah Karta.
"Nah, ini, Mas. Masa cucuku namanya sama denganmu, hahahaha," kata Karta begitu aku tiba di rumahnya.
Aku menatap bayi mungil itu. Tak terasa setetes bulir bening jatuh dari mataku, bayi itu begitu disayangi di keluarga ini.
Pada suatu hari di akhir tahun 2005, Karta mendapat kabar duka. Anak dan menantunya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Dimas tidak ikut bersama mereka. Ia dirawat oleh Karta dan istrinya
Saat pemakaman, aku menatap begitu iba pada bayi mungil yang belum genap berusia satu tahun itu. Namun, setelah peristiwa itu aku melihat Karta menjadi pribadi yang begitu posesif terhadap cucunya. Ia begitu menyayangi cucu satu-satunya.
Sampai ketika ia begitu marah saat kubilang, jangan terlalu posesif nanti ia akan sakit ketika Dimas meninggalkannya.
"Kau tidak tahu rasanya kehilangan, Mas. Kau tidak tahu rasanya punya keluarga," ucap Karta.
Aku tertegun mendengarnya. Ia benar aku memang tak punya keluarga. Karta, lah, keluargaku satu-satunya di dunia ini.
Sore itu bulan Juni tahun 2020. Aku mengunjungi Karta yang sedang terpekur menatap bingkai foto bergambar Dimas, cucunya.
Dimas menghilang sejak pagi tadi dan tak kembali. Karta mendengar ada suara benda jatuh ke dalam sumur, ia kira itu Dimas. Namun, saat ditengok tak ada apa pun di sana. Dia hanya menemukan mesin waktu yang dulu hilang berada di sana.
" Mesin waktu ini, kuatur waktunya tahun 1955 persis saat kau muncul pertama kali di belakang rumahku. Mesin waktu ini tak dapat membawa kita ke masa depan." Karta mulai berbicara. Matanya tak lepas dari bingkai foto dan benda bulat itu.
"Aku membuat ini untukmu. Aku ingin tahu dari mana kau berasal dan bertemu dengan orang tua yang mensia-siakan hidupmu. Sekarang aku tahu, siapa orang tua itu." Karta menunduk mengusap matanya yang basah.
"Aku minta maaf, Mas. Kakek minta maaf," ucapnya lagi.
"Tak ada yang perlu disalahkan. Akupun bersalah karena mencuri mesin itu. Andai aku tak mencurinya. Namun, aku bahagia telah melewatinya. Aku bisa bertemu Ayah dan Ibu, serta bermain bersama Kakek lebih lama," kataku sambil menatap matanya yang basah. Mata kakekku--Karta--yang selalu cerita banyak hal padaku.
Sejatinya aku dan mesin itu tak bisa dipisahkan. Entah siapa yang lebih dahulu ada. Mesin itu kah, atau aku. Ini seperti paradoks ayam dan telur di mana sebagian orang bingung telur atau ayam yang pertama ada di bumi ini.