Melihat kekasihmu yang sudah lama kau pacari memadu kasih dengan wanita lain.
Kekasih idamanmu. Ternyata selama ini tak mencintaimu.
Dalam sekejap duniamu hancur. Tak ada tempat berpijak disana.
Sudah tiga bulan sejak kejadian Mas Danu memutuskanku. Dengan alasan selama pacaran aku tak memenuhi kebutuhan biologisnya.
Dia bilang dia lelah karena ekspetasiku padanya yang terlalu tinggi. Karena ia hanya lelaki biasa. Yang juga memiliki kebutuhan.
Bulan pertama dan kedua aku menyalahkan diriku sendiri. Hingga aku tak ingin keluar rumah juga, pekerjaanku berantakan.
Bulan ketiga. Mala, sahabatku yang berada di bumi belahan lain datang dengan kesalnya padaku.
"Lo Goblok! Emang dia yang ngasi lo makan? Enggak kan!"
"Bodoh jangan keterlaluan, disini lo inget manisnya gak lupa, disana doi mana inget lo, lha dijejeli terus sama su su janda gatel"
"Lo gak liat emak bapak lo yang ngabisin bermilyar-milyar buat ngegedein lo"
Dan banyak lagi koaran yang menyakitkannya. Tapi memang aku bebal. Tak kudengarkan.
Hingga aku mendengar bahwa keluarga mantanku itu tak merestui hubungannya denganku.
Jadi selama ini yang aku anggap keluarga itu tak pernah menerimaku. "Kemana aja lo" itu pasti ucapan Mala jika tahu kebenarannya.
"Mata lo buta?! Udah keliatan kali, mata lo ketutup taiknya cinta" Cerca Mala. Semalam setelah aku menceritakan kebenarannya.
"Gue liat meeeka nerima gue" pelanku.
"Liat dari mananya sih? Emang waktu pacaran sama Danu mata lo kebuka? Enggak kan lha wong gue liatnya lo merem" ia terbahak kencang diujung sana.
"Honey" terdengan teguran Felix Navida suami Mala.
"Kicep lo, makan tuh bucin, mata lo ketutup taiknya cinta kan?" Sarkasku.
"Bodo yang penting dia gak kayak Si Danu, kalau dia begitu, udeh gue sunat tuh bule"
"HONEY" geraman Felix Yang tahu dirinya menjadi topik mereka.
"Udah ya say gue mau merayu beruang dulu, maeah doski, wasalam," Klik.
Tanpa mau menunggu, seperti biasa.
Ting!
Oh iya lupa, kemaren sebelom gue
balik gue naroh amplop di meja
samping ranjang lo, di slorokan kedua
Gue harap lo gak trauma sama
hubungan ya cinta, dan nemu
Sesuatu yang berharga disana.
Aku membuka laci kedua dimeja samping ranjangku. Menemukannselembar kertas dan tiket pesawat.
Buat Sobat kentelku, ahelaah...
JANGAN GOBLOK!
SUDAHI KE GOBLOKAN LO!
BLOK... GOBLOK!
DIA SI EMBAHNYA GOBLOK!
gue aneh deh itu GOBLOK salah satu fitur gojek yang baru apa piye???
Banyak juga kasusnya yes... sorry bertai intermezzo, ini gue tinggalin tiket, sama atm gue yang unlimitied. Lo bisa majuin kalo lo nemuin ini tiket sebelon tanggal terbangnya, atau angus beli aja tiket maning.
HURA-HURA LAH KAWAN! KAPAN LAGI LO NEMU SAHABAT SEROYAL GUEKAN BESTAI!
Aku hanya tersenyum tak menyangka sahabatku yang perhitungan dan kadang pelit itu bisa melakukan hal ini.
Okey aku putuskan mengikuti sarannya.
*****
Keluar dari bandara aku mengeratkan syalku "Dingiiiiinnn"
Melihat kearah orang yang menjemputku. Lauren Aditama. Aku mendekat.
"Mis loren" aku mengangguk. Ia mengiringku kemobil jemputanku.
"Antarkan saya ketempat ini ya" aku menyerahkan sebuah alamat.
"Si" Jawabnya.
"Tapi sebelumnya tolong berhenti sebentar di toko roti yang enak sejalan dengan alamat tadi"
"Si si" Jawabnya lagi.
"Silahkan Nona, toko roti ini sangat enak dan selalu baru" aku mengucapkan terima kasih. Lalu keluar untuk memebeli beberapa potong roti atau dessert.
Belum membuka pintu saja aroma roti yang dipanggang juga aroma manis menguar, membuatku tak sabar untuk mencicipi.
Kubuka pintunya, wangi butter langsung menabrakku. Membuat ku berkali menelan salivaku yang menganak sungai.
Aku keluarkan ponsel dan sebelum aku potret aku meminta ijin dan mereka mengijinkan.
Aku membuat story. Dengan mevideokan seluruh kue, roti dan pastri yang dipajang di etalasenya.
Berbagai variasi, buah dengan warna dan kilauan yang menggoda juga coklat mengkilat yang seakan menyuruhmu untuk mencolek dan menjilatnya.
Sangat amat mengiurkan. Croissant yang gembul dan shining, kulitnya yang terlihat garing kecoklatan pasti sangat Lezat.
Sudah! Loren.
Kuposting, dengan tulisan, "bon apetit, baby"
Dan respon yang membludak tak ia sangka.
"Dimana lo, Anjir, keluar goa lo" respon besTAInya siapa lagi, Mala ikatul Navida.
"Kayaknya tau eug ini dimana, tapi lupa, maklum saya hamidun" Komennya lagi.
Tak kutanggapi. Kututup ponselku. Menikmati jalanan-jalanan.
*****
Ding Dong!
"Si"
Aku tersenyum alias nyengir kuda. Sambil memperlihatkan bungkusan paperbag didepannya.
"ANJRIT LAH KAO! MANUSIA GOA! gue udah duga lo kemari, honey! come here" teriakkan kencang ibu hamil ini.
"What? Are you okay, Honey?!" Felix yang panik berlari kedepan pintu.
"Oh Not again!" Melihatku tampang paniknya berubah malas, Aku memamerkan cengiran kudaku padanya.
"Ayolah Felix sampai kapan kau marah padaku, kau mau jadi seorang ayah!" Felix melihatku garang. Aku pernah mengerjainnya. Bilang kalau Mala tak akan kembali padanya.
Lalu dia kelabakan dan menyusul ke Indonesia. Pas sekali memang Mala kabur darinya. Karena cemburu pada pekerjaan Felix.
Dari situ Aku dan Felix seperti kakak anjing dan adek kucing. Begitu perumpamaan si emak hamidun ini.
"Kan aku disini bisa membantu kalian" Tawarku, "Welcome Bestai!" Sambut pelukan Mala padaku, ia sangat suka tawaranku itu.
"Honey!" Mala mengedikan kepalanya, menyuruh Felix menyambutku. Aku telah merentangkan tanganku.
Menaik-naikkan alisku. "Welcome besti" Memelukku ucapnya datar mengikuti Mala. Aku terkekeh.
"Oh iya ini, siapkan untuk dessert kita ya sayang..." Mala mengambil bungkusan paperbag itu dan memberikannya pada Felix.
Mala merangkulku dan membawaku masuk ke dalam yang diikuti Felix dengan malas. Sangat. Aku hanya terkekeh.
Ding Dong!
"Please, siapa lagi yang kau undang Honey!" Teriakkan Felix putus asa.
"Tidak ada, aku hari ini tak mengundang siapapun Felix Navida! Jangan menuduhku!" Mala berbalik ia menyusul Felix.
"Hai guys, dinner?" Aaron mengacungkan wine mahalnya didepan wajah Felix. Aku mengintip. Dan matilah aku!