_"Iya ma~ ini aku bentar lagi nyampe kok. Aku lagi beli camilan dulu buat disana. Iya, iya, love you too ma." aku mematikan panggilan._
_Lalu cepat-cepat membayar makanan, dan bergegas pergi masuk kedalam mobil. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan adik-adik kecilku yang kini sudah tumbuh menjadi gadis._
_Perjalanannya terbilang masih cukup jauh. Kami memasuki jalanan nanjak memutar. Pak supir tidak mengatakan apapun selama perjalanan. Mama terus mengirimiku sebuah pesan, tumben sekali mama seperti ini. Aku meyakinkan mama bahwa perjalananku ini lancar dan selamat. Namun tiba-tiba saja aku dapat mendengar sebuah suara klakson kencang sekali. Sebuah truk kontainer dari arah berlawanan melaju dengan oleng, sampai menggilas para pengguna motor dan mobil didepan. Orang-orang berlarian mencoba menyalamatkan dirinya. Aku berteriak menyuruh pak supir untuk keluar dari mobil. Namun beliau menginjak gas lalu menghantam pagar jalan, mobil kami meluncur ke jurang. Tubuhku terguncang seketika, mobil kami beberapa kali membentur pohon kecil dan bebatuan. Kaca mobil di sebelahku pecah bersamaan dengan kaca didepan. Mobil ini berguling-guling sampai akhirnya terbalik. Aku mencoba untuk keluar dari mobil, namun kedua kakiku tidak bisa aku rasakan. Aku bergumam meminta tolong, sebelum pada akhirnya aku mendengar suara dentuman kencang sekali diatas sana. Teriakan-teriakan orang terdengar jelas di telingaku._
Rasanya tubuhku di strum, aku membuka mata dengan napas yang tidak beraturan. Keringat mengucur di sekujur tubuhku. "Mimpi, ini cuma mimpi." gumamku sembari menyentuh kepala. Bisa-bisanya aku bermimpi buruk disiang bolong begini dan mimpinya sangat terasa nyata.
Tanganku meraba ranjang mencari ponsel. Ada beberapa pesan disana, tapi hanya satu yang menarik perhatianku. Pesan dari Angkasa, kekasihku.
Angkasa mengajakku untuk berkencan hari ini. Dia akan menjemputku sekitar jam 4 sore dan sekarang sudah jam set 4. Aku melompat dari ranjang, buru-buru mempersiapkan diri secantik mungkin.
Aku tidak punya banyak waktu untuk mencatok rambut, alhasil aku menggulungnya dengan jepit besar. Tidak berapa lama suara klakson motornya sudah terdengar sampai kamarku. Aku berlari menuruni tangga lalu mencium pipi ayah dan berpamitan.
"Hey~" sapaku terengah. Angkasa melepas helm fullfacenya, aku merasa ada sebuah cahaya menusuk ke mataku. Angkasa tampan sekali dengan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Ko mata kamu sipit? habis nangis, ya,?" Tangannya menyentuh wajahku, mengusap-usapnya pelan.
"Aku bangun tidur." Ku tampakkan gigi-gigiku. Nyengir.
"Kebiasaan ya tidurnya sampe sore kaya gini. Apa ga pusing kepalanya?" Aku menggeleng.
Angkasa memasangkanku helm. Lalu mengetuk helm itu pelan. "Ayo naik.".
"Dah?"
"Udah." sahutku sembari menyimpan kedua tanganku di pundak Angkasa. Aku merasa kedinginan, apa cuacanya sedang dingin? atau akibat aku baru saja mandi?.
Angkasa menggenggam tanganku, ia memasukkan kode agar tiket bioskopnya keluar. Kami duduk di barisan E, tempat biasa. Hari ini aku dan Angkasa tidak terlalu banyak memperhatikan filmnya. Kami membahas beberapa topik yang sama sekali tidak nyambung di film.
"Selama tiga hari kedepan kampusku ngelakuin ospek buat maba. Males banget, kaya anak SMA aja segala ospek-ospek. Udah bosen sama senior-senior yang so marah-marah." Angkasa menggerutu, pasalnya ia adalah Mahasiswa Baru Arsitektur.
"Semangat dong~ kan biar kenal sama kating cantik."
"Oh iya bener juga." aku langsung berdesis ketika Angkasa menanggapinya seperti itu.
Sepulang berkencan, aku langsung masuk kedalam kamar tanpa bercengkrama dengan ibu. Angkasa mengirimiku pesan.
":(."
"Kenapa?" tanyaku
"Gabisa ketemuu selama 3 hariii :(."
Aku tertawa gemas ketika Angkasa mengirim pesan seperti itu.
"Heem hehe." jawabku, karena mendadak aku tidak mau Angkasa pergi untuk ospek.
"Gatau ah kesell."
"Hpnya nanti di kumpulin?" tanyaku, berharap jika ponselnya tidak diambil oleh para kating.
"Selama kegiatan mah iyaa." bibirku melengkung kebawah.
"Oh iya mumpung ingett yang, Tadi lupa. Selamaa 3 harii kedepan, kan ga ada aku disinii :(( maap yaa, jaga baik-baik dirimuu. Hati hatii juga kalo mau berpergian. Hati hatii juga dengan hatii, hehe. Terus nanti kalo mau main sama temen-temennmu, aku izinin. Jangan pulang malem-malem aja."
Aku membacanya bersamaan dengan irama detak jantung yang semakin kencang. Rasanya aku benar-benar tidak mau ia tinggalkan barang sedetik pun. Aku tidak bisa membayangkannya berjauhan dengan Angkasa selama 3 hari. Namun aku tidak bisa melarangnya karena itu adalah urusan pendidikan Angkasa.
"Kamu juga harus hati-hati disana. Jangan melamun :(. Jangan lupa untuk makan pula." Angkasa itu mudah sekali masuk angin, dia tidak suka dingin. Aku takut kekasihku kenapa-napa di luar sana. Bahkan aku sampai berpikir, takut jika Angkasa akan dipukuli oleh senior-seniornya, terlebih Angkasa itu orangnya keras kepala.
Esoknya Angkasa pergi, kami masih bisa berkomunikasi. Angkasa bilang ia akan pergi menggunakan Truk besar, satu tenda bersama 4-5 teman satu prodinya. Aku takut sekali terjadi apa-apa terhadap Angkasa. Terlebih lagi Angkasa itu penakut, dia sering mendengar suara-suara aneh. Dan Angkasa tidak suka berbau pegunungan, hobiku dan hobi Angkasa itu berbeda. Aku suka hiking sementara Angkasa suka arung jeram. Tanah dan Air mudah menyerap begitu lah hubungan kami, tanpa tahu asal-usulnya kami bisa menjadi sepasang kekasih seperti ini.
Selama Angkasa melakukan kegiatan, aku pergi bertemu dengan teman-teman. Aku pulang terlalu larut, dan itu membuat perasaan Angkasa tidak enak. Dia menghubungiku lewat nomor kakak tingkatnya. Saat aku menceritakan semuanya Angkasa marah namun ia tidak malanjutkan marahnya karena dia lebih merindukanku. Dan saat pulang Angkasa mampir sebentar kerumahku membawakan satu buah es krim jagung kesukaanku. Kami menikmati malam sembari melumati eskrim. Angkasa tampan sekali, dia juga bilang bahwa ia sangat-sangat merindukanku. Aku benar-benar merasakan rasa rindunya itu, dia pasti sangat kelelahan namun tetap memaksakan untuk bertemu.
"Cape ya?" tanyaku, dan Angkasa hanya mengangguk sembari menggigiti kacang yang terdapat di eskrim cokelatnya.
"Parah banget sih, tapi seru lah." ucapnya datar. Aku mengusap-usap pundaknya sembari menyandarkan kepala di pundaknya. Namun setelah itu aku mengangkat kembali kepalaku. Hanya 10 menit mungkin, setelah itu Angkasa berpamitan pulang. Aku mengantarnya sampai depan gerbang. Kami saling melempar senyum dan mengucapkan "Dah." Aku dan Angkasa itu memiliki salam perpisahan khusus, tangan kanan kami saling mengepal lalu di bertemukan.
Kami menghabiskan waktu malam kami dengan berbincang lewat telfon. Angkasa menceritakan semua kejadian-kejadian disana.
"Bayangin, tengah malam dibangunin, kaya yang di gerebek gitu. Baru juga tidur atuhlah, disuruh masuk kesemak-semak terus kaya yang tiarap gitu. Nya dingin, nya ngantuk, nikmat banget deh pokonya mah. Sapu tangan kamu tuh aku ciumin soalnya wangi, nah pas disuruh ke semak-semak, aku copot dulu soalnya aku gamau sapu tangannya kotor. Se sayang ini aku cuma sama sapu tangan kamu, yang." aku tertawa ketika Angkasa menceritakan itu. Se spesial itu sapu tanganku?. Aku senang karena rupanya Angkasa bisa mendapatkan kenangan yang baik selama ospek, walau ada ke khawatiran-khawatiran lain dalam diriku.
Aku menyuruh Angkasa untuk istirahat, begitupun dengan aku. Kami tidur bersama-sama sembari mengucapkan kata-katan manis, kata-kata sayang yang menggelikan.
Dan mataku terpejam~
_Aku bisa mendengar banyak sekali orang berteriak, riuh. Suara-suara alam, angin, tanah, roda, dan yang lainnya. Mataku rabun seketika, aku bisa melihat sedikit cahaya yang berjalan. Saat aku mencoba untuk membuka mataku dengan lebar, rasanya sulit sekali. Aku bisa merasakan ada seseorang yang menggenggam tanganku, dan beliau adalah ibu._
Keesokkannya, aku menyantap makanan buatan ayah. Nasi goreng di pagi hari begitu nikmat bagiku. Semalam, lagi-lagi aku bermimpi aneh. Akhir-akhir ini aku terus-terusan bermimpi. Aku menontom televisi sembari sesekali membalas pesan Angkasa. "Kamu tahu, setelah ini ga ada lagi pertanyaan mengenai bahagia itu seperti apa. Aku benar-benar beruntung mengenalmu, aku sayang banget sama kamu Riana~." aku tersenyum ketika membaca pesan dari Angkasa. Sepagi ini aku sudah dibuat terbang olehnya.
Aku tidak ingat bagaimana kami bertemu, yang pasti waktu yang aku lalui bersama dengan Angkasa selalu cepat berlalu. Tidak terasa karena sepertinya aku terlalu nyaman bersama dengannya. Dia, adalah laki-laki yang paling serius aku minta pada Tuhan. Laki-laki yang paling serius aku aamiin kan.
Malamnya Angkasa datang kerumah, dia membawa gitar. Kami menghabiskan malam dengan bernyanyi-nyanyi riang. Tiba-tiba saja Angkasa mengubah nada gitarnya menjadi di C lalu Em F dan G#, aku tersenyum karena menyadari lagu apa yang akan di lantunkan selanjutnya.
"Saat bahagiaku
Duduk berdua denganmu
Hanyalah bersamamu
Hmm ..." suara ku mengawali lirik lagu pertama, aku bernyanyi sembari tak henti tersenyum pada Angkasa.
"Mungkin aku terlanjur
Tak sanggup jauh dari dirimu
Kuingin engkau selalu." suara Angkasa merdu sekali, membuatku semakin terbawa suasana oleh keromantisan ini.
Aku dan Angkasa menarik napas lalu mulai bernyanyi bersama.
"Tuk jadi milikku
Kuingin engkau mampu
Kuingin engkau selalu bisa
Temani diriku
Sampai akhir hayatmu
Meskipun itu hanya terucap
Dari mulutmu
Dari dirimu yang terlanjur mampu
Bahagiakan aku
Hingga ujung waktuku
Selalu." kami saling bertatapan untuk beberapa waktu, aku benar-benar sangat bahagia bersama dengannya. Pria yang begitu romantis dan manis, pria yang selalu ada ketika aku membutuhkannya.
Lelaki manja yang pernah aku temui, aku suka memainkan rambutnya lalu menggigit lengannya karena gemas. Menatap matanya yang berwarna cokelat gelap, parfume khasnya yang aku sukai dan cara menyampaikan rasa kasih sayangnya padaku, aku suka. Aku suka semua tentang Angkasa, tidak ada celah sedikitpun untuk tidak menyukainya sekalipun dia menyebalkan.
Ku sandarkan kepalaku di pundaknya dan, "Aku sayang sama kamu." gumamku pelan sekali bahkan mungkin nyaris tak bersuara. Namun ajaibnya Angkasa mendengar itu, dia mengecup kepalaku lalu membalas perkataanku.
"Aku juga sayang, sayang banget-banget. Aku mau kamu jadi pendamping aku kelak nanti, menemani wisuda aku, menemani pagiku dengan secangkir teh hangat buatan kamu. Melihat anak-anak berlarian di halaman rumah, dan yang paling penting adalah aku mau kamu jadi yang aku lihat pertama ketika aku membuka dan menutup mata. Maka dari itu, jangan tinggalkan aku."
"Jangan tinggalkan aku~ jangan tinggalkan aku." mendadak kepalaku sakit, kalimat yang di katakan oleh Angkasa terus terngiang di telingaku.
Rasanya kepalaku terus-terusan si pukul oleh benda yang berkilo-kilo. Sakit sekali, aku menarik-narik rambutku, bahkan aku berteriak nyeri. Ku sentuh tangan Angkasa namun, aku membelalak ketika tanganku menembus tubuh Angkasa. Aku mendongak menatapnya.
"Riana~ kamu akan memilih aku kan? kita akan hidup bahagia disini. Jika kamu memilih untuk tinggal disini, rasa sakit yang pernah kamu alami tak pernah terasa lagi." aku mengernyit kan kening tidak mengerti dengan perkataan Angkasa.
Tiba-tiba saja ruang tamu ini berubah menjadi sebuah taman yang begitu indah, banyak sekali burung merpati yang berkeliaran. Kupu-kupu cantik yang berterbangan disana-sini juga harum semerbak bunga yang menusuk hidungku.
"Kita dimana, Angkasa?" tanyaku kebingungan. Angkasa tidak menjawab sama sekali, dia hanya tersenyum lalu merogoh saku celananya. Tangan Angkasa meraih tanganku lalu meletakkan sebuah miniatur kupu-kupu silver ditanganku.
"Terbanglah dengan bebas."
Sementara itu............
Author Pov :
Suara melengking dari mesin EKG membuat kaget semua anggota keluarga Riana yang sudah enam bulan lamanya menunggu Riana sadar dari koma.
Ayah Riana langsung berlari memanggil dokter. Disisi itu, ibu Riana menangis sembari menggenggam tangan anaknya tersebut. Dia tidak henti berdoa kepada Tuhan untuk kebaikan anaknya. "Tuhan, jika memang engkau akan mengambil anakku sekarang, tolong ku mohon jangan. Tukar saja dengan diriku, anakku masih perlu hidup di dunia ini, jangan renggut Riana dariku. Renggut saja aku yang sudah tua ini."
Keadaannya benar-benar mencekam dan menyayat hati. Adik-adik Riana menangis melihat kakaknya yang kini kejang-kejang, banyak sekali alat-alat aneh yang menempel ditubuh Riana.
"Teteh~" lirih Sheila ketika tubuh Riana semakin parah kejang-kejangnya. Sheila tak kuasa melihat kakaknya yang semakin parah tersebut, dia memeluk adik bungsunya yang sudah terduduk di lantai.
"Teteh udah janji sama kita buat bawa kita liat pemandangan bagus, tapi kenapa pemandangan yang kaya gini yang Bila liat. Kasian teteh Riana~" tangis Bila semakin menjadi ketika Sheila memeluknya. Mereka adalah sepasang adik yang paling Riana sayangi.
Tubuh Riana tidak merespon alat kejut sama sekali. Para dokter dan suster sudah menggunakan metode apapun untuk membantu Riana kembali sadar. Namun, Tuhan berkata lain. Riana, tak berhasil tertolong.
Riana tengah terduduk bersama dengan Angkasa, mereka masih berada di taman yang entah dimana tempatnya. "Sudah saatnya kamu untuk pulang, Riana." Angkasa menoleh pada Riana yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Aku benar-benar bahagia, aku akan selalu berterimakasih kepada Tuhan karena sudah membiarkan aku mengenal dirimu. Tapi, kita tidak bisa bersama~ Tuhan sudah membuat takdir yang lebih baik untukmu~."
Riana menggeleng ketika Angkasa berkata demikian. "Kumohon, aku masih ingin tinggal bersama denganmu. Aku gamau pisah sama kamu Angkasa." tangisnya pecah, suaranya yang kini berubah menjadi serak memohon pada Angkasa. Riana tidak mau berpisah dengannya.
"Kita sudah merencanakan banyak hal bersama. Kumohon, aku tidak mau berpisah denganmu." Tangannya menarik tangan Angkasa yang kini bisa tersentuh. Air matanya tidak berhenti keluar, bibirnya terus-terusan memohon pada Angkasa. Agar Angkasa tidak pergi meninggalkannya sendirian di taman ini.
"Jalan kita berbeda Riana~ kamu punya kehidupanmu sendiri begitupun dengan aku. Aku tahu kamu sudah pasti akan memilih aku, namun, di dunia itu orang-orang masih belum bisa merelakanmu untuk pergi. Jangan paksakan diri, aku takut kamu menyesal setelah memilih diriku." Angkasa melepas cengkeraman tangan Riana. Lalu terdengarlah suara pintu menjulang tinggi berwarna putih terbuka.
"Aku sudah harus pergi." gumamnya berdiri.
"Kumohon~" tangan Riana menarik pakaian putih Angkasa. Angkasa menoleh lalu tersenyum, dia sedikit membungkuk untuk menyama ratakan kepalanya dengan kepala Riana.
"Hiduplah kembali." kata Angkasa lalu mengecup bibir Riana. Mereka menutup kedua matanya, ada air mata yang keluar dari mata Angkasa. Dia juga sama beratnya untuk melepas Riana yang sudah menjadi sumber kebahagiaannya.
Dan ketika Riana membuka mata, dia sudah berada di ruangan yang berbeda. Dia beringsut melihat banyak sekali keluarganya disini telinganya mendengar suara isak tangis yang begitu menyakitkan. Mendadak, Riana teringat kejadian sebelum ia terbangun disini.
"Angkasa~" lirihnya menangis begitu kencang. Dadanya sesak sekali, dia tidak bisa bernapas saking sakitnya.
"Ang..kasa....~" gadis itu terus-terusan menangis.
Riana tidak pernah berpikir bahwa semua keindahan yang diberikan oleh Angkasa hanyalah sebuah mimpi. Dia terbangun dari mimpi indahnya yang begitu manis dan romantis.
Pada akhirnya Angkasa mengembalikan Riana ke dunianya karena Angkasa tahu sekalipun Riana memilih untuk tinggal di dunia Angkasa, mereka tetap tidak akan bersama.
Tamat.