Air mata ini takan mampu membasuh luka di dalam hatiku. Di tepi pantai ini, semuanya telah berubah. Dia sudah menjadi bagian dari hidupku bahkan bayangannya pun tak mampu terpisahkan dari bayanganku. Dia teramat lebih dari sekedar sahabat, dia teramat berarti dari sekedar berlian yang menghiasi cincinku.
Mengapa rasa sakit ini terlahir dari hadirnya seorang lelaki diantara kita ?
Persahabatan yang begitu apik dan terjalin bertahun lamanya, terpecah oleh cinta segitiga. Bila harus memilih aku lebih memilih persahabatan kita tapi sayangnya pilihanmu berlawanan.
Kau pergi dengan egomu, kau lebih memilih memutuskan persaudaraan dalam persahabatan kita hanya untuk bersamanya.
Tidakkah kau ingat ? hari-hari yang telah kita lalui bersama. Suka duka manis dan tawa kepedihan dan kebahagiaan kita lewati bersama. Tak ingatkah dirimu ? disaat kesulitan menimpa hidupmu hanya aku yang setia berada disampingmu, setia membantumu disaat kau terjepit, setianya aku mendengarkan semua keluh kesalmu. Hah ...semua telah musnah. Semusnah tulisan diatas pasir yang diterpa ombak.
"Vie...hari sudah mulai sore mendingan kita balik ke hotel yuk !" tiba-tiba terdengar suara Rachel menyadarkan lamunanku.
Dengan cepat aku berbalik arah dan memberikan senyuman, senyuman untuk menutupi luka dalam hatiku saat ini.
Rachel adalah adikku, namaku Stevie. Kami merupakan saudara kembar yang terlahir hanya berselisih 10 menit. Karena aku lebih dulu terlahir jadi aku menjadi kakaknya. Entahlah, mungkin karena kami kembar dia selalu memilikki perasaan yang sama denganku. Saat inipun dia merasakan apa yang sedang menerpaku, walaupun dia tidak mengetahuinya.
Kamipun berjalan dengan kaki telanjang, membiarkan serbuk-serbuk pasir terinjak langsung ke kulit kaki kami. Hari semakin sore sang mentari pun mulai bersembunyi dibalik awan. Namun, angin pantai semakin kencang menerpa helaian rambut kami yang panjang terurai.
"Apa yang terjadi dengan kalian ? apakah kalian sedang bertengkar ? heran saja akhir-akhir ini kita jarang bersama Merisa." Tanya Rachel sambil mengerutkan dahinya.
"Mungkin dia sedang sibuk ." Jawabku datar, Rachel tidak mengetahui penyebab dari menjauhnya Merisa.
"Benarkah ? sesibuk itukah ?"
Aku hanya mengangkat kedua pundakku dengan bibir yang merapat. Rachel hanya mengagah mendapat jawaban itu. Aku yakin dia mencurigai sesuatu terjadi pada kami. Memang benar, dari dulu dimana pun kami berada Merisa pun akan bersama kami.
Sesampainya di kamar hotel, Rachel langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dan aku menjatuhkan tubuh langsungku ke kasur, rasa malas menerpaku. Saat ini aku sedang kurang bersemangat, walupun tubuhku berada di keramaian namun hatiku merasa kesepian. Butuh beberapa waktu untuk mengembalikan hatiku yang sudah terluka.
Perlahan ku pejamkan mataku, bayangan menyakitkan itu terus hadir. Bayangan 2 sosok tubuh yang sedang beradu di dalam sebuah kamar hotel. Mereka sedang bercumbu, memadu kasih, mencurahkan semua perasaan mereka dan menyalurkan kehangatan tubuh masing-masing. Mereka adalah Merisa sahabatku dan Rega kekasihku.
Kepedihan yang menyayat dalam hatiku, sebuah pengkhianatan yang dilakukan sahabatku bersama kekasihku. Sangat menyakitkan dan mengoyakkan seisi tubuhku yang tak terlihat. Kenapa ? kenapa harus sahabatku yang bercumbu dengannya ? dikhianati sudah teramat sakit. Ditambah lagi sahabat sendiri yang menjadi wanita selingkuhannya. Tak sedikitpun aku membayangkannya mereka akan melakukan itu dibelakang ku.
Merisa mengaku padaku bahwa Rega adalah anak dari pamannya. Jelas mereka sepupuan. Darah yang mengalir dalam diri mereka menetes dari para leluhur yang sama. Namun, betapa kejinya perbuatan mereka telah melakukan sebuah perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan oleh saudara sedarahnya sendiri. mereka bagai makluk yang tidak memiliki etika.
Air mataku bergulir mengalir ke pipiku, aku tidak bisa menahannya. Aku tidak mampu menampung sakit ini saat ini. Andai Tuhan memberikan sebuah pilihan akan ku pilih untuk tidak ada seorang Rega diantara kami.
Kembali ku pejamkan mata dan mengingat kembali tentangnya. Saat itu aku mengenalnya ketika berkunjung ke rumah Merisa. Tiga bulan lamanya aku putus dari pacarku. Statusku saat itu jomblo. Kami hanya berkenalan sekilas karena aku belum bisa move on dari kekasihku yang telah putus hubungan 3 bulan yang lalu.
Rega memiliki perawakan yang tegap, tinggi dan ideal. Wajahnya yang tampan, hidung mancung mata kebiruan dan bibirnya yang seksi mampu membuat mataku melayang sesaat. Wanita manapun bila bertemu dengan lelaki seperti itu pasti akan terbuai dalam perangkap pesonanya. Selain tampan dia merupakan lelaki yang sangat perhatian dan romantis. Banyak sekali kesan baik yang dia berikan setelah kami berkenalan.
Dia terus melancarkan pendekatan, perkenalan dan keseriusan untuk mendapatkan simpatikku. Didukung oleh bantuan Merisa sebagai sepupunya dan sahabatku. Hingga aku berhasil ditaklukan olehnya. Kamipun akhirnya memulai sebuah hubungan yang dipenuhi dengan bunga-bunga. Hidupku saat itu merasa beruntung. Saat aku terluka karena putus dengan kekasihku datang seorang lelaki dewasa yang mampu merenggut segalanya. Perhatiannya yang begitu besar mampu membuatku bahagia dan menjadi wanita satu-satunya yang paling beruntung mendapatkannya.
Rega merupakan warga negara Australia. Ayahnya warga Indonesia dan ibunya Australia. Sebelum berkenalan denganku dia baru menetap seminggu di Indonesia. Dia tinggal di Indonesia karena ayahnya yang merupakan anak satu-satunya menetap di Australia. Orang tuanya yang merupakan kakek dan neneknya tidak mau mengikuti anaknya hingga Rega harus mau menetap menemani nenek dan kakeknya. Rumah mereka bertetanggaan dengan Merisa. Ayah Merisa anak dari kakek Rega. Rega dan Merisa memiliki hubungan sebagai saudara sepupu.
Hari demi hari hubunganku semakin erat terjalin. Kami tidak pernah mengalami selisih yang besar karena Rega lebih dewasa dan bijaksana. Tidak ada yang dia tutupi, dia sangat terbuka. Namun, setelah setahun lamanya. Kerikil itu mulai menghantam hubungan kami.
Aku melihat Rega sedang bermesraan dengan seorang wanita. Setelah diselidiki ternyata wanita itu tunangannya. Pertunangan yang telah terjalin begitu lama sebelum Rega mengenalku. Betapa hancurnya hatiku saat itu, kasih sayang, cinta suci dan kebersamaan kami yang telah terlewatkan setahun lamanya terkuak dengan sebuah kebohongan.
Sebagai seorang wanita aku tidak mau menjadi wanita yang bahagia diatas penderitaan orang lain. Pilihanku adalah melepaskannya dan menghapus semua angan yang sempat kami impikan bersama.
"Aku mohon Vie, beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku." Pintanya saat itu dengan wajah penuh mohon.
"Semuanya telah berakhir bersamaan dengan sebuah kenyataan bahwa kau sudah memiliki tunangan." Tolakku.
"Aku terpaksa bertunangan dengannya dan aku tidak pernah mencintainya." Ucapnya pelan.
"Aku tidak bisa lagi percaya akan kata-katamu. Kau telah membohongiku dan membodohiku, Rega. Apa kau tidak pernah berfikir sedikitpun saat kau memulainya ? siapa yang akan terluka ? bukankah aku ?" dengan sedikit nada meninggi. Air mataku tak sanggup lagi terbendung begitu saja keluar tanpa henti.
Wanita mana yang tidak akan bersedih saat dirinya menerima kenyataan bahwa kekasihnya yang sudah menjalin hubungan selama setahun sudah bertunangan.
Rega menggenggam erat jemariku.
"Aku salah, aku mengakuinya Vie. Tapi aku tidak ingin kehilanganmu. Aku bertunangan dengannya karena bisnis ayahku untuk memperkuat perusahaan. Aku tidak pernah menginginkannya dan mencintainya. Aku mohon beri aku waktu untuk menyelesaikannya. Aku sengaja menerima tinggal di Indonesia selain untuk menemani kakek dan nenekku tetapi ingin menjauh darinya." Terangnya dengan tatapan yang sangat lembut selembut genggaman tangannnya.
Aku menggelengkan kepala masih terisak. Harus percayakah ? aku tidak mampu lagi melkukan itu. Walaupun benar adanya, hubungan kami tidak akan pernah terjalin dengan restu. Itu akan menyulitkanku dan dia.
"Aku tidak bisa...sungguh...! aku tidak bisa, Rega." Akupun melepas paksa genggamannya dan berlari meninggalkannya.
"Vie...Vie..." Hanya itu yang terdengar di sela-sela langkah lariku.
Sejak kejadian itu aku memblokir semua media yang bisa menghubungkan kami. Aku sudah bulat untuk mengakhiri semuanya. Ini tidak baik, hubungan yang dipertahankan dari sebuah kebohongan tidak akan bisa terjalin abadi. Aku wanita pengecut yang tidak memiliki sebuah keberanian untuk memperjuangkan cintaku. Dan menyerah sebelum mencoba masuk ke dalam lingkaran keluarganya. Aku hanya tidak ingin bahagia diatas penderitaan tunangan Rega.
Beberapa hari berlalu, aku selalu menghindar saat Rega mendatangi rumah. Hanya adik kembarku yang menemuinya dan Rega sudah mengenalnya baik adikku itu.
"Aku minta maaf, Vie . Selama ini aku menutupi pertunangannya." Tercetus ucapan dari bibir Merisa.
"Jadi selama ini kau mengetahuinya...! (dengan sedikit membentak) Kenapa kau lakukan semua ini ? Apakah kau tidak memikirkan terlebih dahulu sebelum memperkenalkannya padaku ?" terdiam sesaat sambil menarik napasku yang sesak.
"Kini perasaanku sangat sakit dan terluka. Apa kau tidak sedikitpun memikirkan perasaanku setelah semuanya terjadi ? kenapa, Mel ? kenapa kau lakukan ini ?" isakan tangispun berhambur dari mulutku tak mampu ditahan lagi.
Merisapun memeluk erat tubuhku sambil menangis." Maafkan aku, Vie ! Aku salah ( keluar isakan tangis dari bibirnya) Aku fikir saat itu kau akan bahagia setelah mengenal Rega karena kau sedang mengalami patah hati. Akupun tak menyangka hubungan kalian makin serius. Aku selalu ingin mengatakannya padamu tapi melihatmu bahagia dan Rega begitu mencintaimu. Aku bingung dan merasa bersalah padamu. Sungguh aku sangat sedih melihat kau sesedih ini, Vie."
Kamipun menangis bersamaan. Gejolak amarahku memuncak diulu hati. Ingin rasanya ku memaki Merisa, tapi apa gunanya ? semua telah terjadi dan waktu tidak bisa ditukar kembali.
Hari-hari ku lalui dengan luka, aku terus merajut asa untuk kembali menyembuhkan sayatan luka itu. Mencoba dan terus ku coba, jalan kehidupan masih membentang di depan sana. Suatu hari Tuhan akan memberikan seorang lelaki yang benar-benar jodohku. Harapan yang membuatku untuk terus bertahan.
Namun, akhir-akhir ini ada yang berbeda dengan Merisa. Rutinistas yang sering kami lalui bersama disaat weekand kini tidak lagi ada. Malam Minggu para jomlowati yang diisi dengan shoping , nongkrong di mall atau sekedar jalan-jalan malam saja . Sudah 2 bulan berlalu tak pernah kami lakukan. Aku pernah menanyakannya, apa Merisa memiliki kekasih yang belum mau dia publikasikan kepadaku dan Rachel. Tapi ia tidak mengakui memiliki kekasih. Dia beralasan sekarang keluarganya rutin melakukan acara bersama.
Aku mengetahui keluarganya selalu sibuk dengan pekerjaannya masing -masing. Dan aku senang akhirnya keinginan Merisa, ayah dan ibunya memiliki waktu untuk bersama terwujud. Dan aku tidak mau mengganggunya.
Tetapi untuk ke-2 kalinya aku tertipu, malam tahun baru kami selalu menghabiskan waktu di pantai. Kami selalu membooking satu kamar untuk ber-3. Merisa mengatakan bahwa ayah, ibu dan adiknya berada di hotel yang sama. Mereka akhirnya meluangkan waktu untuk berlibur bersama. Tetapi kami tidak pernah bertemu dengan orangtuanya. Kami sudah mengenal baik.
Merisa selalu meminta izin untuk pergi menemuik keluarganya. Seperti pagi ini, Merisa sudah siap untuk pergi dengan alasan yang sama. Rachel sedang pergi keluar mencari udara segar dan aku hanya bermalas-malasan sambil membuka beberapa aplikasi sosial media. Tak terasa 3 jam lamanya aku larut dalam perangkap aplikasi, aku menoleh ke arah pintu. Rachel belum kembali begitu juga Merisa.
Aku mulai kesal dan memutuskan ke tepi pantai menyusul Rachel. Kucoba menghubungi Merisa namun ponselnya tidak aktif. Akhirnya aku keluar hotel dan menyusuri pasir dengan kaki telanjang. Sandalku tertenteng di kedua tanganku. Senyumku terukir di bibir dan ku hirup udara untuk menikmati indahnya alam yang Tuhan berikan.
Tak terasa sang mentari pun mulai tenggelam, aku tidak menemukan Rachel juga Merisa.
"Aneh, kemana sih mereka berdua ?" gerutuku sambil berjalan menuju hotel.
Sesampainya di kamar hotel mereka berdua pun tidak berada di ruangan itu. Aku hanya mengerutkan keningku heran. Akhirnya ku putuskan untuk duduk di loby hotel. Tetapi sebelum sampai di loby mataku melotot kaget melihat Rega dan Merisa berjalan bergandengan. Sangat mesra, bahkan Rega tidak malu mengecup kening Merisa saat menuju lorong kamar. Merekapun berjalan memasuki sebuah kamar dan tidak menyadari keberadaanku yang mengikuti.
Aku menaruh tanganku ke dada rasa nyeri menyerang ulu hatiku. Sakit itu kembali terkuak. Hatiku sangat hancur.
Mengapa mereka melakukan itu ?
Setelah aku benar-benar meyakinkan hati untuk kuat menerima semua kenyataan pahit yang akan terlihat nanti. akupun memegang knop pintu, beruntung mereka tidak menguncinya dan perlahan pintupun terbuka. Aku menarik napas sesaat dan membuangnya kemudian melangkah memasuki kamar.
Pemandangan yang seharusnya tidak aku lihat, mereka sedang bercumbu dengan penuh napsu. Aku menutup mulutku tak percaya.
" Merisa...." Gumamku masih menutup mulut.
Merisa yang sudah setengah telanjang dan Rega yang hanya memakai celana pendek menoleh bersamaan dan terlihat kaget.
"Jadi keluargamu yang sedang berlibur itu adalah Rega. Dan kalian kenapa melakukan ...." akupun berlari meninggalkan mereka.
" Vie...tunggu.." Rega turun dari kasur dan mencoba meraih lenganku.
"lepaskan ...aku sudah tidak mau mengenal lelaki bajingan seperti kamu !" bentakku.
"Aku melakukan ini karena kamu Vie, lewat Merisa aku bisa mengetahui tentangmu. Merisa menyukaiku dan aku ...."
"Kenapa harus Merisa, Rega ? kau bajingan Rega..kau lelaki brengsek." aku memukul dadanya sekuat yang aku bisa dan mencoba menarik lenganku dari genggamannya.
"Aku mohon Vie !" Rega semakin menguatkan genggamannya.
"Lepaskan Rega !" teriakku sambil melotot dengan mata yang memerah dan air mata yang mengalir dipipi.
Rega melepaskannya dan aku melihat sesaat ke arah Merisa yang menunduk.
Cukup bagiku untuk mengubur semua kenangan manis hubunganku dengan Rega. Bahkan tidak akan ku biarkan sedikitpun dia kembali masuk ke dalam cela hatiku.
Ku buka mataku memandang langit-langit kamar hotel. Ku tarik napas dan menghempaskannya. Sakit hati memang tak mampu begitu saja terlupakan, sehebat apapun perlu waktu untuk menyembuhkannya. Betapa sakitnya saat kita mendapat sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh sahabat sendiri.