Just friends doesn't get jeaolus when you talk to others.
--- Pulang Sekolah ---
"Dave, pinjam catatan dong..."
"Tulisanku jelek, pinjam yang lain saja", sahut David cepat.
"Hahaha... Aku sudah biasa baca tulisanmu yang cakar ayam", Calista menjawab dengan santai.
Lalu seperti biasa Calista membuntuti David. Mereka memang biasa pulang sekolah bersama karena rumah mereka berdekatan.
"Hmmm... catatanku ga lengkap. Makanya jangan suka ngobrol dikelas. Sekarang ketinggalan pelajaran kan?", suara David terdengar sewot.
"Hah??? Aku kan tadi latihan paduan suara buat lomba....Siapa juga yang ngobrol dikelas?", Calista bersungut - sungut.
David tak menjawab. Dia melengos lalu berjalan cepat menuju gerbang sekolah.
"Dave... Daveeeee....", Calista mengejar David.
"Calista!! Mulai sekarang pinjam catatanku, belajar bersama dan apapun itu. Kamu sama Raymond aja," David membalikkan badan dan langsung bersuara dengan nada tinggi.
Hah?!!?? Calista? Panggilan Calista terasa asing di telingaku. Biasanya dia memanggilku Tita. (Calista mulai bertanya - tanya dalam hati)
"Apa hubungannya sama Raymond? Aku kan sudah biasa baca catatanmu...", Calista berusaha menjawab sesantai mungkin. Dia mencoba menutupi perasaan tak enak yang mulai muncul. Delapan tahun bersahabat dengan Dave belum pernah Dave bicara dengan nada seperti ini.
"Cari Raymond saja. Jangan sok dekat sama aku lagi!!!", bentak David.
PLAASS!!!
Jantung Calista serasa jatuh ke perut. SHOCK!!!
Sementara David sendiri tak kalah kagetnya mendengar ucapannya sendiri. Di hadapannya Calista diam dan mengerjapkan mata berulang kali menahan tangis.
"Iyaaaa.... MAAF.... AKU GA jaDI piiNJAM" , setelah sekian detik akhirnya Tita bersuara. Suaranya tersendat. Terdengar setengah berteriak namun sebenarnya menahan tangis. Lalu Calista langsung berlari pulang tanpa menoleh lagi ke arah David.
*******
POV David
Melihat Tita menangis, kenapa hatiku ikut sakit? Aku sendiri tak tau kenapa aku tak suka melihat Raymond begitu dekat dengan Tita. Akhir - akhir ini tempat duduk mereka pun berdekatan. Yang menyebalkan adalah Tita nampak nyaman bersama Raymond. Tadi pun mereka belajar bersama saat jam istirahat.
Usai latian basket, kudengar cewek - cewek bergosip. Idola mereka yang bernama Raymond berencana pergi bersama Tita ke ulang tahun Mariska. Entah apa yang ada di dalam dadaku. Terasa panas dan tak nyaman dengan gossip itu.
Emosi yang semula aku tahan - tahan akhirnya meledak saat melihat Tita dengan wajah tanpa dosa meminjam catatanku.
Kenapa dia tak meminjam ke Raymond-nya yang hebat itu?
Bukankah saat ini mereka dekat?
*******
--- Ice War ---
Hari - hari berlalu, Calista dan David masuk sekolah seperti biasa. Yang tak biasa adalah mereka selalu bertemu tapi tak saling menyapa. Jarak tempat duduk yang tak sampai 2 meter, tak juga membuat mereka berinteraksi.
Seperti ada dinding kasat mata yang menghalangi mereka untuk saling mendekat.
David yang memilih menyibukkkan diri dengan basketnya karena sebentar lagi ujian kelulusan tiba dan akan menjadi pertandingan basket terakhir di SMA. Sedangkan Calista? Dia sibuk dengan ekskur paduan suaranya dan persiapan ujian kelulusan.
*******
POV David
(Pertandingan basket terakhir di masa SMA)
Biasanya setiap kali selesai bertanding, aku selalu menuju tempat duduk Tita untuk mengambil barang - barang yang sengaja kutitipkan.
Hari ini kusadari, aku begitu terbiasa dengannya. Bahkan saat ini aku menunggu kata - kata absurdnya.
Setiap kali selesai bertanding basket, tak peduli apakah aku menang atau kalah, dia selalu mengucapkan satu kata yaitu "Awesome!!!"
Disaat aku kalah, dia akan berkata "Awesome!!" (Baca: Asem)
Tak lupa sambil menutup hidung dan memonyongkan bibirnya. Saat aku berpura - pura marah, dia akan tertawa puas. Dan manisnya dia selalu berkata,
"You tried hard, Dave"
(Kamu sudah berusaha keras Dave)
Benar - benar menggemaskan dan menghiburku yang kalah waktu itu.
Di lain waktu, saat aku menang... dia akan begitu ekspresif. Tersenyum lebar, mengacungkan kedua jempolnya, lalu berteriak,
"AWESOME!!!" (Baca : luar biasa)
In the end, we will not remember the words of our enemies, but the silence of our friends.
*******
POV Calista
(Usai Acara Pelepasan Siswa kelas 12)
Aku berjalan menuju ruang kelas 12 IPA 1 yang sudah kosong. Mungkin selain panitia pelepasan, aku adalah siswa terakhir yang belum meninggalkan sekolah ini. Kupandangi seluruh ruang kelas. Berharap dapat merekam semua kenangan tanpa ada satu pun yang terlewat.
Kakiku melangkah ke bangku dekat jendela. Tempat duduk Dave dimana kami biasa belajar bersama. Kenangan - kenangan itu bermunculan. Dave yang iseng melempar bulatan - bulatan kecil ke kepalaku. Datang sekolah pagi - pagi untuk mencontek PR Fisika Dave. Di meja ini pula, aku selalu diam - diam meletakkan minuman dingin dan tissue basah untuknya.
Dave... Dave...
Now, we are like strangers with memories....
(Sekarang kita seperti orang asing dengan banyak kenangan)
*******
POV David
Diantara puluhan siswa yang mengikuti acara pelepasan, dengan mudah kutemukan sosok Calista. Dimataku...seistimewa itulah dia. Tampak Calista mengedarkan pandangan seolah mencari seseorang.
Ups....
Mata kami bertemu tak lebih dari 5 detik. Lalu Calista buru - buru melihat ke arah lain.
Ya...kurang dari lima detik tapi cukup bagiku untuk menyadari bahwa kami sama - sama merasa kehilangan.
We've been there
We cry, laugh
When I'm mad
When I'm crazy
When I'm down
When I'm happy
When I'm sad
She grow with me through everything....
Acara pelepasan siswa kelas 12 telah usai. Ruang serba guna mulai kosong, hanya tersisa panitia yang membereskan sisa - sisa acara. Kulihat Tita berjalan keluar ruang. Diam - diam, aku mengikutinya.
Oh!! Hatiku berdesir karena ternyata dia termenung di depan bangkuku. Tak ingin membuang waktu, aku segera menyapa sahabatku.
"Titaaa.... "
1 detik...
2 detik....
Tak ada respons darinya. Sepertinya dia melamun. Apa yang sedang dipikirkannya? Kemudian kuputuskan untuk mendekatinya. Kutepuk pelan bahunya.
"Tita..."
Aaah... dia menoleh. Wajah kagetnya begitu menggemaskan. Tapi tunggu!!! Ada cairan bening mengumpul di pelupuk matanya. Hatiku kembali seperti diremas.
........................ hening.............................
"DAVE...... Huaaaa....", Tita berteriak sambil menangis. Aku tak tau harus berbuat apa selain terus mengulang kata, "Maaf..."
My best friend...My precious...
💓💕💗
"Just friends" is the words to describe two teenagers who were scared to love one another.