Bila kalian menjadi aku, apa yang akan terlintas di pikirkan kalian mengenai malam pertama? Yah, malam itu adalah malam tersakit yang pernah aku rasakan. Bukan karena Berhubungan suami istri namun karena mencoba menghindari dari serangan suamiku sendiri
"Biar pun kita sudah menikah, aku gak mau seranjang dengan kamu" ucapku pada seorang pria yang telah resmi menikah ku hari ini.
Namanya Derrel Prayoga. Pria yang tak ku kenal sama sekali yang mendatangi rumah ku dan langsung melamarku.
"Cepat atau lambat aku akan memilikimu Mona! " balas Derrel.
Mona Destrin itulah nama asliku. aku memiliki tubuh yang cukul menggoda para kaum adam, Banyak pria yang ingin melamar ku tapi hanya Derrel yang cukup menyakinkan aku.
Saat mataku mulai tertutup, aku merasa ada tangan yang perlahan menyentuh perutku dari belakang. Aku berbalik dan tampaklah Derrel yang tengah telanjang dada. Aku menutup rapat mataku berharap tak melihat pemandangan itu.
Derrel tampak gusar dan mencoba meraih tubuhku, Aku berdiri dan menjauh dari Derrel.
"Mengapa kamu menghindar? aku adalah suamimu, ini adalah malam pertama kita Mona, harusnya kamu melayani aku" gerutu Derrel
"A aaku tau... tapi aku belum siap Derrel " balas ku
Derrel mendekati ku dan menarik tangan ku sekarang aku tertindih oleh tubuh Derrel. Aku mulai merasa ada sesuatu yang menegang dari balik celananya Derrel.
"Tidakkkk" teriak ku karena tangan Derrel mulai berjalan ke tubuhku.
Dengan sekuat tenaga aku mendorong Derrel dan akhirnya ia terjatuh, aku segera menjauh namun Derrel tau mau menyerah ia mengejarku dan terjadilah adegan kejar mengejar. Hingga akhirnya aku masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya rapat.
"Mona apa yang kamu lakukan? keluar lah!"
"Gak mau, aku mau tidur di sini ajah"
Derrel tampak kesal dengan ku.
"yaudah, tidur ajh sana"
Keesokan harinya aku bangun dengan badan yang agak pegal dan aku berada di atas ranjang
"bagaimana bisa aku tidur di ranjang? bukannya semalam aku tidur di kamar mandi yah? " batinku sembari melihat Derrel yang masih terlelap di sofa.
Sejak saat itu Aku memutuskan untuk pisah kamar dengan Derrel mengingat hanya aku dan dia yang menempati rumah ini.
Derrel juga tampak begitu kesal walaupun begitu Derrel selalu menggodaku mulai dari memeluk, mencium bahkan menarikku ke kamar secara paksa. Tetap saja aku menolak.
Berbulan bulan lamanya aku mulai terbiasa dan menganggap Derrel hanya sebatas teman rumah ku. aku mengingat bahwa selain malam pertama, aku tidak pernah lagi tidur seranjang dengan Derrel itu tanda aku masih perawan walaupun statusku sudah menjadi istrinya.
Derrel begitu menyanyangiku ia selalu memperhatikanku dan semua kebutuhanku. Itulah yang kadang membuatku kasihan dengan Derrel, walaupun aku tidak pernah melaksanakan kewajibanku sebagai seorang istri , namun Derrel melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami.
"Derrel, apa kamu gak nyesal nikah denganku"tanyaku pada Derrel.
"Tidak sama sekali, aku bahkan bahagia" balas Derrel tersenyum kepadaku.
"Bahagia? sekalipun aku tidak melayanimu di atas ranjang? " ucapku lagi
" Iyah, aku gak mau memaksakan diri, aku bakalan nunggu sampai kamu siap" jawab Derrel lagi.
"Apa kamu gak marah karena aku gak pernah memasak buat kamu? "tanyaku lagi.
Derrel menatapku lalu membelai rambutku dengan lembut.
"Tidak, aku percaya Istriku adalah wanita yang tau kewajibannya, hanya saja ia butuh waktu. " balas Derrel lagi.
"Aku tau Derrel berbohong, ia melakukan ini semata mata hanya untuk menyakinkan aku saja semua yang ia lakukan hanya untuk memenuhi kewajibannya, Derrel tidak mencintaiku, aku yakin sekali. "batinku
Lalu Derrel mencium pipi dan keningku kemudian berangkat kerja.
"Aku ingin tau sampai dimana kesabaranmu padaku" ucapku saat Derrel sudah jauh.
Mulai saat itu aku sungguh menjadi wanita pemalas, setiap hari kerjaku hanya shopping, makan dan tidur saja, bahkan untuk membersihkan rumah pun aku tak mau. Aku bergantung pada Derrel sepenuhnya.
Waktu mulai malam Derrel baru pulang dan tampak lelah ia melihatku yang sedang ngemil dan membuang sampahnya di sembarang tempat.
"Rumah kita sangat kotor Mona, mengapa tidak kamu bersihkan? "ucap Derrel
Aku memasang wajah cuek lalu beranjak dan menuju kamar VIP ku. Dari kejauhan aku memantau Derrel perlahan membersihkan rumah walaupun dalam keadaan lelah.
Karena seharian ini aku shopping dan tak ingat makan, Akhirnya pada pagi hari aku demam hebat bahkan muntah muntah. Dengan sigap Derrel merawat ku dan mengabaikan pekerjaannya hari ini. Ia tampak sangat khawatir dan untuk pertama kali aku melihat Derrel menangis di sampingku berharap aku cepat sembuh.
Hatiku terasa tersentuh, Aku baru menyadari memiliki suami yang teramat hebat dan bodohnya aku mengabaikannya.
Malamnya demamku mulai turun dan kali ini aku meminta Derrel menemaniku tidur, tentu saja Derrel setuju. Gairah Derrel pun mulai bergejolak, aku bisa merasakannya dari deruh nafas Derrel yang tak beraturan dan sesuatu kembali menegang dari balik celana Derrel namun ia tau, aku pasti menolaknya terlebih lagi aku belum sembuh total. Ia pun menahannya dan mencoba memelukku dengan hangat.
Hari ini Derrel libur dan karena aku masih belum sembuh total, ia pun memanjakan aku, ia melakukan segala yang ku perintahkan tanpa ada bantahan sedikit pun. Hingga hal itu cukup membuat ku tersentuh dan aku mulai memandang Derrel sebagai suami ku bukan teman rumahku.
Entah mengapa malam itu aku merasa sedikit berbeda, setelah Derrel keluar dari kamar mandi Tiba-tiba aku naik nafsu dan kali ini aku rasa, aku sendiri yang akan memintanya kepada Derrel.
Perlahan aku mulai mendekati Derrel dan menariknya ke atas ranjang. Aku sudah tak bisa menahannya lagi. Bibirku pun menyatu dengan bibir Derrel kemudian tanganku mulai meraba seluruh tubuh Derrel.
Tentunya Derrel sudah tau maksudku, ia pun merespon setiap sentuhanku dan mulai memainkan perannya yang telah tertunda pada bulan bulan yang lalu. Hingga pada Puncaknya aku sepenuhnya memberi tubuhku kepada Derrel
Keesokan harinya kami terbangun secara bersama, dan kami kembali mengingat kejadian semalam yang cukup menguras tenaga. Walaupun begitu kini tampak lah kepuasan di wajah Derrel.
Aku juga bahagia telah memberikan semuanya kepada suamiku. Tak satupun dari tubuhku yang tak luput dari penglihatanya karena Aku Adalah Miliknya.
°°°
The And
Jangan lupa mampir ke Novel aku