Setiap manusia pasti menginginkan memiliki pasangan hidup yg diidam idamkan, seperti halnya wanita.
semua wanita pasti menginginkan sosok imam yg mencintainya, menyayanginya, perhatian, pengertian dan pastinya yg bisa menafkahi lahir maupun batin, tempat untuk bersandar berbagi keluh kesah, dan orang yg selalu suport dan penyemangat hidup.
penyesalan dalam memilih pasangan ataupun suami adalah penyesalan yg sangat sangatlah berat, dimana yang seharusnya pilihan yang membahagiakan, pilihan teman hidup selamanya. Tapi justru pilihan yang menyedihkan.
seperti halnya aku, dimana aku menyesal memilih dia untuk pendamping hidupku. menyesal karna dia suka marah dan membentak aku.
setiap kesalahan anak selalu aku yang disalahkan.
Contohnya Anak aku yang baru umur 2 tahun. Dia memasukkan penghapus kedalam es timun yang telah aku buat tpi aku kena marah karna dia bilang aku gak becus.
Sakit hati ini dikatain seperti itu.
Menurutku itu wajar anak yang masih balita dia belom tau apa apa. Belom tau itu salah atau benarnya.
dan dia juga menjadi pemarah seperti Sa'at aku tanya "mas kamu gak ingin apa cari kerja atau buat gerobak untuk jualan keliling? " jawabannya selalu dengn bentakan. " bentar dulu kenapa? Buru buru banget pengen jualan. Iya entar aku akan jualan", bukanya aku buru buru nyuruh, kalau gak segera cari pekerjaan uang pemasukan gak ada sedangkan manusia itu tiap hari butuh uang makan ataupun yang lainya dan saat anak gak bisa tidur pun karna super aktif dia malah ngajak main mobil mobilan dan aku yg kena marahan lagi "anak itu tidurkan siang, nidurin anak aja gak bisa" atau " anak kecil suda malam itu tidurkan bukan nemani main, bujuk anak agar mau tidur saja gak bisa" ya jika aku salah seharusnya bilang pelan bukan dengan kemarahan. Aku gak kuat dia marahin dan dibentak gitu terus.
Ditambah lagi bapak aku juga ngatain "makan itu yang banyak, jngn nyemil aja. " perasaan aku dari tadi gak nyemil dan perut jg g muat harus makan banyak. Memng porsi mkan aku cuma segitu tpi aku memang banyak minum saat makan. Tiap aku makan biasanya habis 2 gelas air minum. nyuruh makan bnyak jg g usah ngotot gitu.
Bapak aku juga sering ungkit ungkit kesalahan " gara gara kamu suka pacaran mangkanya dulu jadi kecelakaan sepeda motor yang mengakibat kamu harus oprasi dikepala dan harus oprasi 2 kali"
Takdir gak ada yang tau dan musibah kecelakaan juga tidak ada yang menginginkannya. Bukan karna aku pacaran yang mengakibatkan kecelakaan itu dan umpama aku gak pacaran jga belom tentu aku tidak kecelakaan. Itu takdir dan cobaan yang sebenernya bukan karena kesalahanku.
Dan disaat aku terpuruk seperti ini aku ingin suamiku bisa menyemangati aku atau menghibur aku bukan diam aja.
Aku ingin saat aku sedih seperti ini dia bisa buat aku bersandar menenangkan diri tpi apa kenyataanya yang aku malah didiemin dan dicuekin.....
Ya Allah.....Sebenernya salahku apa?.
Awal aku menikah aku sangat bahagia dalam satu tahun pernikahan diawal. Tpi setelah itu suamiku kena PHK karna adanya pengurangan karyawan disaat awalnya ada gejala COVID-19. Setelah itu suamiku berusaha mencari pekerjaan serabutan walaupun gaji tidak seberapa tpi aku terima aja dan pengeluaran juga harus lebih aku hemat mkn seadanya. Jdi beli seperlunya. Beberapa bulan kemudian suamiku dipecat lgi dari tempat bekerja karena suamiku kerja di pabrik kayu dan ternyata pabrik kayunya brangkut jadi harus tutup.
Umur aku dengan suamiku selisih 18 tahun. Awal aku pikir umur jauh lebih dewasa dri aku dia bakalan bisa sayangin aku, bisa ngertiin aku, bisa memahami aku, tpi ternyata pikiranku itu salah. Dia tidak bisa menghadapi masalah dengan kepala dingin, sering ngebentak dan nyalahkan aku. Yg aku inginkan jika aku salah bukan ngebentak atau marah tpi seharusx dia bisa ngomong baik baik.
Sekarang setiap ada masalah aku adalah tempat dia meluapkan emosi, kadang aku tanya "kenapa kamu marah mas" dia jawab "itu loh bapak kamu nyalain aku".
Tiap hari ulang tahun aku, aku ingin bisa diberi kejutan suprais oleh suami. Di hari ulang tahun aq dia selalu hanya mengucapkan saja selamat ulang tahun gitu aja, Tanpa ngasih hadiah apapun Padahal aku menginginkanya walaupun itu kecil.
Pernikahan aku sama dia sudah 4 tahun dan kami mempunyai momongan yang usia baru 2 tahun.
Tetapi sudah 1 setengah tahun dia tidak menafkahi aku secara lahir. Ya aku maklumi, mungkin karena dia belom kerja.
Tiap aku suruh usaha jual jajan atau bakso keliling jawaban selalu entar dan entar, Pdahal seharusnya dia ngerti dalam kondisi seperti ini anak yang masih butuh uang untuk sekolah ataupun untuk jajan.
Ya aku maklumi, mungkin krna dia belom kerja. Jadi sementara ini aq berinisiatif untuk jualan es dan snack jajan anak anak untuk berjualan didepan rumah yang kebetulan rumah aku bersebelahan sama TPA jadi untungnya yang memng gak seberapa bisa buat beli sufor anak ataupun uang jajan anak.
Kehidupan aku sekrang jauh dari kata cukup karna setiap anak aku sakit aku selalu menjual perhiasan untuk beli obat anak, apalagi anak saya dari lahir mempunyai kelainan jantung, jantung berlubang dan harus di oprasi. Ya tiap bulan saya selalu nganterin anak untuk kontrol, sebenarnya aku gak tega anak yang masih balita harus oprasi jantung. Tpi tdk ada cara lain yg membuat sembuh, dan jalan satu satunya cuma oprasi. Dalam keadaan aku seperti ini aku menginginkan suport dari suami untuk kuatkan hati aku.
Akhir akhir ini aku jadi sering menangis bahkan anak aku pernah melihatku menangis malah jadi ikutan menangis. aku memang tidak kuat dibentak dan dimarahi, aku akui aku cengeng dan lemah tpi itulah aku
sekarang aku hanya pasrah karna ini adalah pilihanku dulu..
memilih menikah dengannya
sementara ini aku tetap bertahan dalam pernikahan ini hanya karna anak, karna mungkin bukan perceraian yg bisa menyelesaikan masalah. entah sampai kapan aku kuat menjalaninya.