Kasih yang tak sampai membuat ku selalu penasaran beribu pertanyaan yang akan ku ajukan jika suatu saat dapat mengenal mu sang pengisi hati.
Aku hanya bisa mengagumi mu karena kau jauh dari jangkauan ku.
"May, kamu kenal gak cowok yang satu itu." aku
"Yang mana?," Maya
"Itu, yang pakai baju hitam setelan jeans kulit putih tinggi, hidung nya mancung dan badan maskulin." aku tak sadar mengungkapkan isi hatiku.
"Tunggu, kok kamu bisa hapal semuanya, atau jangan-jangan?." Maya.
"Eh enggak. 😁" aku malu.
" Itu saudara aku, anak dari kakak nya ibu?." Maya.
"Kenal?." aku begitu girang.
"Akrab, bukan kenal lagi." Maya.
"Boleh di kenalin?." aku
"Ini WA nya." Maya memberikan no WhatsApp nya.
"Makasih so cute banget kamu Maya." girangnya hatiku
"Iya iya." Maya.
Sore harinya aku mulai galau, aku telpon apa tidak, message atau tidak, uuuhhh bikin grogi, ya udah aku coba misscall saja.
Chat 0895xx
Siapa?
"Aduh bales gak yah?." aku bingung.
Panggilan masuk 0895xx
"Halo?." dia
"Siapa ya?." masih dia
"Ya sudah di tutup ya!." dia
"Tunggu." aku
"Siapa?." dia
"Aku orang yang selalu mengagumi mu." to the point.
"Boleh tahu namanya?." dia.
"Aku temen nya Maya." aku
"Ya sudah, jadi aku harus nanya sama Maya nih?." dia
"Enggak gitu." aku
"Terus gimana?." dia
"Iya, aku Syela." aku
Ia hanya terdiam.
"Ini Yuda kan?." tanyaku
"Oh iya." Yuda
"Ya sudah maaf ya udah ganggu waktunya." aku
"Enggak kok lagi santai aja." Yuda
"O ya udah aku tutup ya." aku mulai salah tingkah.
"Besok ada waktu?." Yuda
"Banyak. ups." saking senengnya aku.
"O boleh ketemu?." Yuda sambil tertawa kecil.
"Boleh." aku
"Aku jemput ya, sampai besok bye." Yuda begitu senang
"Bye." aku
Ya tuhan ada apa ini, aku bahagia setelah sekian lama mengagumi nya akhirnya aku akan bertemu langsung dengan pangeran impian ku.
Malam terasa panjang waktu pun terasa lama berputar, aku menantikan hari esok.
Pagi hari.
WhatsApp messenger
Yuda
Maaf ya aku gak bisa jemput kamu, aku tunggu kamu di taman. Yuda
"Tuh kan udah ngeles kayak bajaj, ya sudah iya aja, untung lo ganteng kalo enggak udah gua lempar pake sandal." aku mulai geram.
Sampai di tempat yang di janjikan.
Terlihat laki-laki memakai baju putih celana jeans berwarna navy, Earphone di telinga nya tak lupa balutan jam tangan yang biasa ia pakai, tubuh tegap dan terlihat menunggu seseorang. Meleleh rasanya melihat Yuda yang begitu maskulin.
Dia menengok ke arah ku dan melambaikan tangan, sontak aku merespon nya tapi apa yang terjadi ketika aku mendekati nya, dia membuka kedua lengan nya menengadah menunggu rangkulan seseorang, oh aku makin percaya diri menghampiri nya. Dan ZOONK dia memeluk wanita lain di depan ku. Ngenes nya.
"Loh, Syela ngapain ke sini?." Yuda.
"Loh, kan di?" aku menunjuk ke arah Yuda tapi tak di hiraukan.
"Sini, kenalin ini wanita ku". Yuda
"O iya, ya udah bye." aku pergi dengan kesal nya meninggalkan nya.
"Malang nasib mu nak." Maya bicara dari belakang
"Apa si may, kenapa gak bilang!" aku
"Loh salah dimana? kamu kan gak bilang kalau kamu suka sama dia,.!" Maya
"Iya si, tapi kan kamu peka dong." aku mulai frustasi.
"Ya sudah aku telpon Yuda ya." maya.
"May, mau ngapain." Aku
Maya menelpon Yuda dan tak lama kemudian, ada yang menutupi mataku dari belakang, aku bingung, siapa ini.
"May siapa ini?." aku gelagapan dengan mata tertutup.
"Coba tebak." Maya
"May, jangan bercanda deh." aku
Dibukanya kedua mata ku, terlihat begitu dekat wajah yang selama ini ku pandangi dari kejauhan, wajah yang selalu ku nanti ketika lewat depan rumah nya, wajah yang selalu hadir dalam khayal dan mimpi ku.
"Yuda." aku bingung bercampur tak percaya
"Iya aku, aku memang sudah lama memperhatikan mu, tapi aku takut mengatakan nya, aku terlalu pecundang." Yuda
"Tapi cewek tadi." aku
"Aku, aku hanya model di drama ini." cewek tadi muncul
"Sudah jelas kan bahwa kalian memang punya rasa yang sama."Maya
"Ya sudah tunggu apa lagi." cewek tadi
"Mau gak kamu jadi pacarku?." Yuda.
Dengan senang hati jawaban yang sudah ku persiapkan selama ini, Iya aku mau jadi pacar kamu Yuda pangeran impian ku.