Tik tik tik, drrrrssss...
Ku merenung menunggu hujan dibawah warteg. "Fyuhhhh, kapan mau berhenti nih hujan, bete ih, pengen nya menikmati dibawah selimut tebal dan memeluk bantal guling ku..... Ahhhh.... Nyesel ngga bareng ama bella" Ujarku mengeluh. Miiiii..... Miiiii......, kudengar suara dari pojokan, penasaran dengan hal tersebut, aku tertarik untuk mengikuti arah suara tersebut berasal. Aku terkejut, kumelihat anak kucing berwarna kuning, kecil, merinding dengan bulu bulu yang basah. "Hei kucing kecil, ya Tuhan...... Aku akan menghangatkan mu.... " Ucapku, ku bongkar isi tasku, ku menemukan syal panjang pemberian nenek. Kuambil kucing kecil tersebut, awalnya ia mundur, sepertinya ketakutan dengan orang asing. "Ayo meong, kesini, aku tidak akan menyakiti mu.... " Mohon lembutku kepada kucing kecil tersebut. Kucing kecil kuning itu mendekati ku, kupeluk ia dibalik syal tersebut. Purrr... Suara dengkurannya dan kuku kecilnya meremas syalku, sepertinya dia nyaman. Menunggu sampai 30 menit, hujan reda, aku melewati hujan reda tersebut, ku lindungi kepala kucing kecil tersebut sambil berlari. Kondisiku seperti gembel, dengan baju yang basah kuyup, rambut acak, dan sepatu yang mulai basah dan penuh lumpur. "Aku pulang....... " Ucapku, mama menunggu ku dan membawa handuk kecil. "Kau kehujanan lagi, Salma??? " Tanya mama kepadaku. Aku hanya mengangguk setuju. "Itu apa?? " Tanya mama lagi kepadaku. Aku terdiam, entah mungkin mama akan membuang kucing kecil ini. "Ini kucing kecil, aku menemukan nya di dekat warteg, kasihan" Ucapku kepada mama.
"Buang saja.... Kau tidak akan bisa mengurusnya... " Ucap mama, hatiku seakan tertusuk, masa kucing ini harus dibuang?? Sama saja kita memberi harapan palsu kan??. Aku memohon mohon, mama hanya menghela nafas berat, ia mengizinkan ku. "Mama mengizinkanmu, tapi belum tentu papamu" Ucap mama, membuatku sedikit senang dan tersenyum. Aku berlari kekamarku, membawa kucing kecil tersebut. "Nah meong, kamu disini dulu yaaa.... " Ucapku kepada kucing kecil yang sedang nyaman tertidur pulas di syal tersebut. Aku beralih kekamar mandi, memakan waktu 20 menit, aku mendengar goresan dipintu kamarku, aku berlari kearah kamarku, kulihat kucing kecil itu mengaruk garuk pintu kamarku. "Haduh meong.... Kau ingin keluar kah?? " Tanyaku kepada kucing kecil itu, membuat kucing itu merengek. Aku hanya tersenyum dengan rengekan kucing kecil itu. Malam ini malam minggu, banyak teman temanku yang mengajakku jalan jalan, tapi aku menolak, karena aku ingin menghabiskan malam mingguku dengan kucing kecil. Aku bermain dengan kucing kecilku, ia terlihat aktif mengejar ngejar benang yang kumainkan bersamanya. "Hahahaha, kau lucu, kucing kecil...... Aku beri namamu Yellow..... " Ucapku mengangkat kucing kecil tersebut, ia melihatku dan merengek kecil, kurasa, hari hariku akan menyenangkan jika bersama Yellow.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, ku lihat Yellow ku yang tiap hari kian bertumbuh besar dan aktif, membuatku seperti memiliki anak saja. "Yellow, nyew..... Kemari dan mari makan" Ucapku sambil membunyikan piring makannya, ia bersembunyi dibalik lemari makan, aku curiga dan menyusulnya, kulihat dia pup. "Oh, nakal ya... " Ucapku sambil mengangkat Yellow. Ku bersihkan pantatnya dan ku bersihkan bekas pup nya, bau sekali, tapi ini resiko seorang majikan. "Owh, setelah pup, kau lapar ya.... " Ucapku sambil duduk dikursi meja makan. "Kenapa tidak kamu kembalikan saja kucingnya??? " Tanya mama, aku terkejut dan beralih pandanganku ke arah mama. Aku membantah, karena tidak mungkin aku membuang Yellow, bisa bisa dia tidak kuat bertahan di luar sana. "Ya sudah" Ucap mamaku.
Setiap hariku ku habiskan hanya bersama Yellow ku. Hingga malam tahun baru, keluarga ku merayakan malam tahun baru dengan barbeque an di halaman rumah, aku hanya melihat nya saja dari jendela, karena aku tidak akan kesana kecuali aku dipanggil. Kulihat kucingku yang sedang menjilati kakinya, aku berjinjit, dan dor! Yellow terkejut dan terpental dari posisi awalnya, ia melihat ku dengan tajam, ia berlari kearah kakiku, dan grep! Yellow menggigit kakiku dan mengibas ngibaskan kakinya, seakan gelud dengan kakiku. Aku meringis kesakitan dan tertawa, kulepas ia dari kakiku dan kupeluk dia. Seiring jalannya waktu, Yellow semakin besar, ia menjadi jantan yang sejati, aku bangga dengan pertumbuhannya sekarang. Kurasa, aku mulai jatuh cinta dengan kucingku.... Kurasa itu hal yang biasa bagi pecinta kucing. Yellow setia menunggu ku didepan pintu kamar mandi, menemaniku jika pergi kewarung, ia seperti pelindung ku dan seperti pacarku saja. "Yellow..... " Panggil ku, ia datang dan langsung menyambutku dengan ramah. Aku memeluknya dan menciumnya. Kurasa, Yellow dan aku adalah sepasang makhluk yang berbeda tapi saling menyayangi.
Dikala umurku mulai remaja, dengan aktivitas sekolah yang padat, kedekatan ku dengan Yellow tidak seperti dulu. Aku sering lupa memberi makannya, aku sering memarahinya, bahkan memukulinya jika ia mengeong ngeong manja di kakiku. Suatu malam, ia mengeong ngeong kepadaku, aku yang sedang sibuk belajar langsung mengomelinya, karena mungkin itu sudah jadwal makan malamnya. "Yellow! Hentikan! Kau mengganggu ku! Pergi sana! " Teriakku kesal, ku lempar satu buku, ia menjauh dariku dan pergi saja. Mirisnya, ia sampai mengais ngais makanan di kotak sampah dapur, aku marah dan ku pukul pantatnya, ia menjauh dan melihat ku dengan sendu.
Suatu malam yang tidak kuduga, ia mulai menunjukkan keanehan pada tubuhnya, ia tidak nafsu makan, nafasnya tidak beraturan, dan dia sering tidak pulang selama 2 hari. Mungkin karena ia ingin pamit pergi, ia sengaja membuatku marah dan ia ingin keluar dari rumah, ku keluarkan dia dari rumah dan menenangkan diri di kamarku. 3 hari kemudian, aku mulai panik dengan tidak adanya Yellow dirumah, aku mencari kucingku dimana saja, bertanya kepada tetangga rumahku, hasilnya nihil. Aku nekat masuk ke kebun dan kulihat, banyak lalat hijau didekat pohon pisang, aku mendekat dan....... Jgerrr.... Aku melihat mayat kucingku.... Aku menangis, ia sudah menjadi bangkai. Aku menangis sambil membawanya. Sepulang ku, kuambil baju kaos putih ku, ku balut mayat kucingku yang sudah kaku, aku tidak memikirkan jijik atau tidaknya mayat itu. Aku menggali lubang dihalaman rumahku, cukup dalam dan ku taruh pelan kucingku dilubang itu. Aku tidak dapat menahan air mataku, hari terakhir dia selama ini, aku hanya menyia nyiakan dia saja. Hampir seminggu, pikiran ku kosong, aku hanya terfokus dengan kucingku, berharap ia kembali lagi. Suatu malam, aku bermimpi ia mendatangi mimpiku, dia yang berisi dan bersih, mengajakku bermain. Setelah selesai dengan bermain itu, dia pergi saja. Aku terbangun dari tidurku, kurasa Yellow menyampaikan sesuatu, aku harus merelakan kepergiannya.
2 hari setelah mimpi dan rela tersebut, aku tidak merasakan sedih, sepertinya aku sudah benar-benar ikhlas ia pergi. Sampai sekarang, ku anggap Yellow ku adalah kucing terbaik yang kumiliki selama ini.............