"Kamu ingin mati?" iringan lembut menemani seruannya bergema ditelingaku. Wajahku berpaling menjumpainya. Katanya ia bertanya, apa aku ingin mati?. Bodoh, senyuman itu telah terlukis manis diwajahnya yang pucat kala itu. Sambil mengulurkan tangan ia tetap tersenyum, seperti menyambut makhluk terbodoh di dunia ini. Dingin, kulit ditelapak tangannya sangat dingin tapi tetap ku genggam dengan hipnotis yang dimilikinya. Lirik kedua akhirnya memunculkan kalimatnya kembali. "Kamu bodoh" sudah, lalu ia tertawa. Dan saat itu aku sadar bahwa diriku ini benar-benar idiot. Langitpun mulai men-jingga, di atas balkon berlantaikan enam puluh tujuh kakiku melemas dan terduduk, lalu melutut, kemudian tertawa, bagaikan orang yang baru saja mengenal kata gila. Sesaat aku berpaling dan menemukan wajahnya yang masih tersenyum lebar, entah senyuman itu untuk siapa. Apa untuk ku?, apa dia menertawaiku?. Ya! Aku memang pantas untuk ditertawakan.
"Kenapa?"
Kenapa apanya?. Dia bertanya tapi pertanyaannya apa?. Gumamku.
"Kenapa bertanya?"
"Bertanya apanya?" aku mulai bertanya.
"Pasti kamu bertanya didalam hatimu, kenapa atas pertanyaanku" ujarnya kala itu. Saat itu aku hanya menatapnya membisu. Ia, aku memang melakulan itu.
"Pasti kamu ingin bertanya" ujarnya kembali.
Untuk hal ini aku benar-benar bingung atas semua ucapannya. Siapa yang bertanya dan siapa yang tanya?.
"Hidup ini penuh tanya, kapan aku mati?, kapan kamu mati?, apa kamu ingin hidup?, apa aku ingin hidup?" aku hanya mendengarnya tanpa kata, hanya terus melihatnya dan berusaha untuk mencerna kalimatnya.
"Semua orang berbeda, tapi ada kata dimana semua orang sama. Ada dimana kita semua akan mati, tapi tidak semua waktu kita sama" selesai. Ia kembali tersenyum lalu meninggalkan ku sendirian.
Lama ku fikirkan merenungi kalimatnya barusan. Apa dia berhasil menggagalkan rencanaku untuk mati?. Dan saat itu aku berdiri, menatap langit yang sudah menenggelamkan mentari. Melihatnya tenggelam perlahan demi perlahan lalu digantikan oleh cahaya rembulan yang indah. Dengan diri yang hampa aku tersadar jika kalimat per kata yang diucapkan oleh gadis itu ternyata benar, semua orang sama tapi berbeda.
Aku menghela nafas, lalu berlari mengejar gadis itu. Aku ingin bertemu. Aku ingin melihatnya. Syukurlah aku menemukannya, langkah kakiku berhenti tapi mulutku tidak bisa bertanya. Dadaku mulai sesak, nafasku tak karuan. Tidak, aku salah. Sebenarnya aku tidak mengerti semuanya, aku tidak paham, aku hanya pura-pura mengerti semuanya.
"Tidak, tidak mungkin. Baru saja aku bersamanya, duduk di atas atap bersamanya. Dia menyelamatkanku, tapi" tuturku tak percaya. Dia semakin menjauh, kain itu menutupi wajahnya. Apa ini?.
Dan mulai saat itu, aku benar-benar mengerti betapa pentingnya waktu yang ku miliki. Setiap menit, setiap detik. Perasaan itu tetap sama. Di balkon rumah sakit, dia tersenyum tepat di depan wajahku. Tujuh tahun yang lalu, aku melihat senyumnya untuk pertama dan terakhir kalinya. Rasa dan perasaan kala itu tetap sama, dengan seribu pertanyaan di kepalaku, hanya satu yang terjawab. Yaitu, siapa namanya?. Namanya adalah Nadi.
Nadiku.