Setiap makhluk yang hidup di dunia telah memiliki garis takdirnya masing-masing. Kita memang hidup di dunia yang sama. Namun, cerita hidup kita mungkin berbeda.
Perkenalkan, Aku adalah gadis desa dari keluarga yang sederhana. Gadis yang berkelahiran tahun '99, yang memiliki banyak impian. Salah satunya, aku ingin menjadi seorang penulis. Banyak yang bilang kalau aku salah masuk jurusan.
"Harusnya sih kamu masuk jurusan sastra." Begitulah kira-kira dari sekian banyaknya teman-teman terdekatku dalam mengomentari jalan hidupku.
Sebagian besar, alasan seseorang ingin menjadi penulis adalah agar banyak dikenal oleh orang lain, sebagai profesi yang memiliki pendapatan, atau hanya sekedar berbagi kisah hidupnya. Hal tersebut juga tidak jauh berbeda denganku.
Aku adalah salah satu dari sekian banyaknya wanita yang hobinya overthinking. Selalu memikirkan dan memaknai sekecil apapun hal pernah terjadi. Jika ingin melakukan pengambilan keputusan, aku harus memikirkan terlebih dahulu apa yang akan terjadi selanjutnya. Begitu pun dengan jalan hidupku. Bukan maksud mendahului takdir, hanya saja aku adalah seorang manusia yang hanya mampu berencana yang terbaik dalam hidupku dan berharap takdir berpihak pada setiap rencana yang telah aku susun rapi. Aku paham betul, bahkan aku percaya dengan kata-kata yang tidak lagi asing bagi setiap yang membacanya.
"Manusia hanya bisa berencana dan Tuhanlah yang akan menentukan."
Sejauh ini, aku pun telah merasakan banyaknya rasa dalam menjalani kehidupanku. Rasanya seperti nano-nano. Aku tidak ingin mengatakan, rasa sakit mana yang tidak pernah aku rasakan, semuanya telah aku rasakan. Mengapa demikian? Jika aku mengatakan hal tersebut, tandanya aku adalah orang yang lemah. Aku tidak pernah bersyukur dengan apa yang pernah terjadi dalam hidupku. Meskipun aku hidup di keluarga yang sangat sederhana, aku mengenal banyak arti perjuangan. Salah satunya adalah berjuang untuk bertahan hidup.
Bertahan hidup dari perkataan orang lain yang hanya bisa mengomentari tanpa memberikan solusi.
Aku pernah menjadi orang yang merasa bahwa aku adalah orang yang paling tidak pernah beruntung. Merasa yang paling rendah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Berjuang dalam pendidikan, orang tuaku hanya bisa menjadi support sistem dalam segi finansial. Pendidikan tertinggi ayahku adalah SD/sederajat dan ibuku seorang buta huruf. Namun, keduanya selalu berusaha agar aku sama dengan teman-teman ku.
Sejak kecil, aku hanya bisa belajar mandiri. Sempat merasa iri, ketika melihat teman-teman ku bisa dibantu mengerjakan PR oleh orang tuanya. Tapi hal tersebut tidak pernah terjadi padaku. Setiap aku kesulitan dalam penugasan sekolah, orang tuaku hanya bisa mengusahakan dengan cara aku dititipkan kepada tetanggaku yang memiliki pendidikan lebih tinggi dari kedua orang tuaku dan keluarga itu lebih mampu. Beruntungnya, tetanggaku yang ini adalah satu-satunya tetangga yang baik dan juga mensupport pendidikan ku. Hingga akhirnya, aku bisa menyelesaikan pendidikan sarjanaku.
Berbeda dengan tetangga yang lain yang sering memberikan komentar buruk.
Keluarga pas-pasan, gausah pilih-pilih sekolah. Swasta aja lebih murah dekat juga. Ngapain jauh-jauh cari yang negeri, mahal pula.
Anak petani, gausah gaya-gayaan sekolah tinggi. Buang-buang uang aja. Udah tahu hidupnya susah.
Ngapain sekolah tinggi-tinggi. Mau jadi apa juga. Lihat tuh, teman-temannya udah pada nikah. Cewek itu ya, ujung-ujungnya pasti ke dapur.
Begitulah kira-kira, hangatnya perkataan tetangga dalam mengomentari hidup orang lain. Mungkin, bagi orang lain hidupku akan seperti itu-itu saja. Tak pantas merubah nasib dan akan sama seperti apa yang mereka alami.
Selain itu, semasa aku menjalani dunia pendidikan. Aku sering dibanding-bandingkan oleh orang-orang sekitar, bahkan aku sempat merasa teman-teman ku hanya memandangku sebelah mata. Sempat merasa dipojokkan karena circle pertemanan kita berbeda. Aku memiliki seorang teman karib sejak kecil yang tak lain orang tersebut adalah anak dari keluarga yang baik yang telah berkenan dititipkan aku oleh orang tuaku (satu-satunya tetangga yang baik, kataku diawal). Sejak menjalani pendidikan di bangku TK-SD-SMP hingga SMA, kita berada di sekolah yang sama dan kelas yang sama. Aku sadar, mungkin teman-teman ku bersikap sedemikian karena teman karibku tersebut selain berasal dari keluarga yang mampu dan dia juga anak yang lebih pintar dari ku.
Apa yang bisa aku perbuat selain memilih untuk diam kala itu. Hingga akhirnya aku berpikir, aku tidak bisa seperti itu-itu saja dan ingin memulai perubahan. Aku memang berasal dari keluarga yang sederhana dan orang tuaku tak memiliki pendidikan yang tinggi, apalagi profesi yang berpangkat. Tapi bukan berarti, aku orang yang bodoh dan tidak tahu apa-apa.
Aku berhasil masuk di salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) jalur SNMPTN. Mulai saat itu juga, aku semakin bersemangat untuk membawa perubahan dalam hidupku. Berharap semua yang terjadi akan sesuai dengan apa yang telah aku tulis sebelumnya.
Masuk PTN jalur SNMPTN dan mendapatkan Bidikmisi atau paling tidak uang kuliah tunggal (UKT) minimum, harapku.
Namun, hal tersebut membuatku sedikit kecewa. Berhasil diterima, tetapi UKT yang diperoleh adalah UKT tertinggi yang ada di kampus tersebut. Aku kecewa pada harapanku sendiri. Saat itu, posisiku baru pulang dari sekolah dan masih berpakaian lengkap seragam sekolahku. Aku menangis sejadi-jadinya saat membaca pengumuman mengenai pembagian kelompok UKT. Ingin rasanya aku menyerah dan pasrah, bahkan berniat untuk tidak melanjutkan kuliah karena faktor finansial yang kurang mendukung.
Tiba-tiba orang tuaku datang dengan pakaian lusuhnya yang masih basah akan keringat. Ibu ku baru saja pulang dari ladangnya. Sedangkan ayahku baru pulang dari tempat kerjanya sebagai kuli bangunan.
"Kenapa, menangis? Bagaimana pengumumannya?" Tanya ayahku.
"Sepertinya, aku tidak usah lanjut. UKT masuk kelompok pertama." Ucapku seraya menyodorkan ponsel ku mengenai pengumuman yang menunjukkan nominal UKT yang harus aku bayar setiap semesternya selama kuliah.
Ayahku memandangi wajah ibuku yang tidak memiliki pemahaman akan hal tersebut. Perlahan ayahku membisikkan sesuatu pada ibuku perihal pengumuman tersebut sepertinya. Sedangkan aku, hanya bisa tertunduk lemah dan berpikir apakah semua harapanku akan berhenti sampai disini.
"Tak apa, lanjutkan. Setiap niat baik seseorang dalam menuntut ilmu, akan ada saja jalannya. Tak usah pikirkan masalah biaya. Meskipun gali lubang tutup lubang pasti kami lakukan. Tugasmu hanya satu, belajarlah dengan sungguh-sungguh." Tutur ayahku yang membuat tangisku semakin jadi.
"Ingat akan satu hal, jangan pernah berpikir bahwa semua yang terjadi padamu itu tidak adil. Allah SWT maha adil, hanya saja keadilan yang diperoleh setiap hambanya berbeda. Jadi, tetaplah menjadi orang yang pandai bersyukur." Kini ibuku yang bersuara. Kata-kata bijak pertama kali yang aku dengar dari ibuku yang tidak pernah banyak bicara sebelumnya.
Setiap kali ada informasi mengenai pendaftaran beasiswa aku memberanikan diri untuk mendaftar. Awal-awal memang sering tereliminasi, namun aku tidak pernah berputus asa setiap ada pendaftaran. Gagal, coba lagi. Hanya demi membantu meringankan tanggungan kuliah, aku berjuang agar dapat menerima beasiswa. Beruntungnya, aku menerima dua jenis beasiswa di semester yang berbeda. Hingga aku berhasil meringankan beban orang tuaku meski tak seutuhnya. Hampir tiga semester aku bisa membayar UKT dari hasil beasiswa ku. Bahagia yang dirasakan sangat luar biasa meski perjuangan ku tak seberapa dibanding perjuangan orang tuaku.
Di pandang rendah oleh orang lain, sempat mempengaruhi pemikiran ku. Akan tetapi, semuanya berubah menjadi sebuah motivasi. Segala macam bentuk prestasi, baik akademik maupun non akademik aku ikuti.Meskipun semuanya tak memberikan kabar kemenangan, setidaknya memberikan aku sebuah pengalaman. Salah satunya adalah menekuni lomba kepenulisan. Meskipun kosa kata dan bahasa yang aku pakai tak sebaik penulis yang terkenal. Akan tetapi, dari sinilah aku memulai belajar untuk percaya diri bahwa setiap orang memiliki ciri khas dan kemampuan masing-masing.
Bagiku menulis adalah seni untuk menyampaikan rasa secara tersirat. Tujuanku menulis berawal dari hanya sekedar berbagi kisah yang mungkin bisa dijadikan pelajaran untuk orang lain. Hingga akhirnya, aku juga mulai menulis kisah fiksi. Namun, masih mengutamakan arti pelajaran hidup atau pesan moral dalam setiap cerita yang ku tulis.
Cerita ini, adalah kisah nyata. Selain pernah dipandang rendah oleh orang lain, aku juga pernah merasakan besarnya kekecewaan dalam kisah percintaan. Sebelumnya aku tidak pernah memikirkan bagaimana kisah percintaan yang akan aku alami. Bahkan, hal tersebut pun tak pernah aku tulis bagaimana konsep perjalanan cintaku yang harus aku lakukan jika terjadi. Aku hanya terlalu fokus bagaimana aku bisa membawa perubahan dalam keluargaku dan membahagiakan kedua orang tuaku.
Naasnya, aku berhasil jatuh cinta kepada temanku sendiri yang telah aku anggap seperti saudara kandungku. Dia adalah orang baik, begitupun keluargaku mengenalnya. Aku tidak pernah menduga semuanya akan terjadi. Kata-kata manisnya berhasil membuat pintu hatiku terbuka untuknya, percaya dan menerimanya begitu tulus. Aku pikir, teman sendiri tidak akan setega itu mengecewakan teman sendiri. Tapi dugaanku salah. Sebenarnya orang-orang terdekatlah yang berpeluang untuk menyakitiku begitu dalam. Kisahnya begitu rumit dan sangat sulit untuk dijelaskan. Lucunya, dia yang sering kali meminta agar aku selalu ada untuknya dan tidak ingin kehilangan diriku. Dia sendiri yang melakukannya.
Ini kisah cintaku yang pertama, karena sebelumnya aku memang tidak pernah berniatan untuk menjalin sebuah hubungan seperti anak muda pada umumnya, iya pacaran. Aku hanya tidak ingin meluangkan waktuku hanya untuk hal yang sia-sia. Ini hanya cara berpikirku saja yang berbeda. Aku tidak membohongi diri sendiri, aku juga pernah merasakan hal yang sama dengan anak muda lainnya. Hanya saja, semua ada waktunya menurutku.
Sebenarnya kita adalah teman lama yang bertemu kembali. Hingga akhirnya, dia mengungkapkan perasaannya dan mampu membuka pintu hatiku yang masih tertutup rapat sebelumnya. Dua tahun sudah kita mengetahui perasaan masing-masing dan memiliki tujuan untuk selanjutnya. Kisah kita berakhir, saat dia menjilat ludahnya sendiri. Dia mencintai orang yang sebelumnya dia ceritakan bahwa dia membencinya. Dia tidak suka saat teman-temannya membulinya dengan wanita yang saat ini menggantikan posisiku.
Kecewa dan ingin menertawakan hal yang telah terjadi aku rasakan bersamaan. Orang yang telah aku percayai, ternyata berhasil menghianti. Jika ditanya apakah aku menyesal mengenalnya? Tentu tidak. Aku terlalu banyak berhutang budi karena kebaikannya. Dia orang yang baik, hanya saja dia sedang melakukan kesalahan yang mungkin saja dia tidak menyadari itu. Aku hanya kecewa, dari sekian banyaknya rasa sabar menghadapi sikap dan perilakunya. Berusaha menyepadani perbuatan baiknya seperti tidak ada apa-apanya. Bahkan dia tidak pernah ingin tahu bagaimana rasanya berada di posisiku, dia hanya bersikap sebahagianya.
Meskipun aku lebih dulu menyelesaikan tugas akhir kuliah ku. Aku juga menyempatkan diri untuk mempelajari tugas akhir miliknya. Semua usaha aku lakukan agar kita bisa lulus tepat waktu dan berhasil bersama. Sayangnya, ditengah-tengah kita di buat pusing oleh tugas akhir. Dia malah memberi kabar buruk. Sebenarnya aku sudah mengetahui bahwa dia sedang dekat dengan wanita itu. Padahal, aku telah menyiapkan beberapa langkah untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Semua aku lakukan hanya agar kita berada di proses yang sama dan berhasil bersama. Selain mengkhawatirkan keberhasilan diri sendiri aku juga mengkhawatirkan keberhasilannya. Maka dari itu, semua usaha yang aku lakukan untuk tugas akhirnya, hanya demi dirinya.
Baru dua hari yang lalu dia mengirimkan pesan yang berisikan bahwa dia tidak ingin kehilanganku dan aku tidak menjauhi dirinya. Bahkan dia berharap bahwa akulah jodohnya. Tapi, keesokan harinya dia malah meminta agar kita mengakhiri hubungan ini dan meminta agar kita menjadi sahabat seperti sebelumnya. Harusnya aku sadar dari sebelumnya, bahwa dia hanya sedang ingin bercanda bukan serius. Dia hanya ingin bermain, membutuhkan tempat singgah bukan rumah untuk pulang.
"Sejak kapan?" Tanyaku yang masih bersikap santai tentang hubungan mereka berdua.
"Senin kemarin." Jawabnya polos.
Cerita yang bersamaku saja belum dia akhiri. Tapi, semudah itu memulai cerita baru dengan orang lain. Memaksa tidak ingin dijauhi dan kehilangan tapi berani bermain dibelakang seakan tidak terjadi apa-apa. Sepertinya aku terlalu bodoh untuk dimainkan perasaannya. Kekhawatiran yang aku rasakan selama ini akhirnya benar-benar terjadi.
Masih tidak percaya, bahwa dia bisa melakukan hal tersebut. Aku hanya bisa diam, menikmati kegalauan yang pertama kali aku rasakan. Haha, lucu sekali drama percintaan. Hanya kekecewaan tersebut, sempat memberhentikan, memutuskan dan menghilangkan beberapa harapanku.
Sudah pernah dipandang rendah oleh orang lain, ternyata aku juga tidak beruntung dalam kisah percintaan. Tapi tak apa, dari kejadian tersebut membuatku berterimakasih. Semua hal pahit yang aku rasakan, kini menjadi motivasi besar dalam melanjutkan hidup. Aku tak perlu mengkhawatirkan keberhasilan orang lain, yang tak pernah mengkhawatirkan keberhasilan ku bahkan tak pernah menghargai perjuanganku.
Dari kisah-kisah sebelumnya, aku bisa belajar tak semua yang apa yang aku harapkan harus terjadi. Ada yang lebih baik dari apa yang aku harapkan.
Saat ini, aku bisa membuktikan bahwa aku bisa menyelesaikan pendidikan ku hingga Sarjana (Alhamdulillah otw wisuda). Aku berhasil melakukan apa yang aku mau. Aku bisa membuka usaha kecil meski tidak sebesar usaha orang lain, setidaknya aku memiliki pekerjaan sampingan. Selain itu, aku juga berhasil menjadi penulis disalah satu platform kepenulisan, yaitu NovelToon.
Ini lah aku, yang memiliki cerita hidup berbagai macam rasa. Setidak indah apapun perjalanan hidup, jika semuanya dinikmati dengan rasa syukur. Hal pahit pun akan menjadi yang paling manis.