Jodohmu sudah ditetapkan dalam catatan takdir,
Dia akan datang pada saat yang tepat, mau kamu nikah muda atau malah menikah di saat usia sudah matang.
Yang perlu kamu tanyakan adalah, apakah kamu sudah memantaskan diri untuk bertemu dengannya nanti ?
"Aku tak pernah menunggumu, kamu yang memang sengaja datang. Tapi itu karena kehendak Tuhan, entah untuk saling duduk berdampingan atau saling memberi pelajaran. Entah untuk saling mengirim undangan pernikahan, atau duduk bersama di pelaminan."
*
*
*
Nama ku Alesya, dulu tepat nya di tahun 2009, aku yang baru saja lulus dari SMA, sempat bingung mau masuk ke universitas yang mana. Aku yang kala itu baru menginjak usia 18 tahun menginginkan untuk masuk universitas kedokteran, ya aku sangat ingin menjadi dokter, tapi sayangnya... Itu hanya angan angan yang tak pernah terjadi.
Papa ku sangat disiplin, dan juga otoriter dalam mendidik anak anak nya. Ia ingin aku mencoba ikut test polwan waktu itu, aku yang memang tidak pernah ingin mencoba akhirnya membantah keinginan Papa ku untuk pertama kalinya selama 18 tahun aku hidup.
Kami empat bersaudara, aku anak bungsu sekaligus anak perempuan satu satunya didalam keluarga kami. Kakak ku yang pertama bernama Robby, ia sudah menikah, dan punya dua anak. Kakak ku yang nomor dua nama nya Ega, ia pun juga sudah menikah, dan punya satu anak. Mereka berdua sudah tinggal dirumah mereka masing masing dan sudah tidak tinggal lagi bersama kami.
Hanya tinggal kakak ku yang nomor tiga bernama Nino dan aku yang masih belum menikah, dan kami juga masih tinggal bareng bersama kedua orang tua. Aku dan kak Nino, hanya selisih umur 3 tahun saja.
Kak Nino kuliah di fakultas kedokteran, dari dia lah aku menjadi semakin tertarik dengan dunia kedokteran dan kesehatan. Tapi sekali lagi sayangnya... Impian ku tidak terwujud.
.
Saat teman teman ku semua sudah sibuk mendaftar kuliah, aku masih cuek cuek saja. Tidur, makan dan tidur lagi, hanya itu yang setiap hari aku lakukan sampai dengan 5 bulan lamanya.
Malam itu... Papa ku yang baru saja pulang dari tugas luar kota nya, menyuruh aku keluar dari kamar dan menemui nya di ruang keluarga rumah kami. Aku yang waktu itu hanya berpenampilan santai saja, dengan pede nya langsung turun dan menghampiri Papa ku.
Dengan raut wajah yang menyeramkan, Papa ku langsung saja melotot kepadaku. Sontak saja, aku pun tersenyum cengengesan. Ternyata diruang keluarga rumah kami, bukan hanya ada Papa dan Mama ku saja, melainkan ada kak Nino, kak Robby dan teman nya yang ganteng bernama kak Aldi.
Mama langsung mendekati ku, dan mengajak aku untuk masuk kedalam kamar nya. Didalam kamar, Mama mengatakan suatu hal yang sangat membuat ku terkejut, sekaligus sangat bahagia...
"Lesya, kamu itu sudah berusia 18 tahun. Itu artinya kamu udah gede kan, dan bukan anak kecil lagi." ucap Mama ku.
"Terus???" jawabku.
"Kamu tahu Aldi kan?" tanya Mama ku.
"Hem tentu tahu lah, cowok ganteng gitu pasti deh aku tahu, memangnya kenapa Ma?" jawab ku.
"Aldi ingin melamar dan menjadikan kamu istrinya?" ucap Mamaku dengan begitu santainya.
"Astaga apa maksudnya?" teriak ku dengan raut wajah terkejut, dan tentu saja juga bahagia.
"Mama dan Papa setuju, kalo kamu jadi istrinya Aldi. Dia ganteng, mapan dan juga sangat baik." ucap Mama ku.
"Bukan gitu juga sih Ma, tapi aku tuh belum mau menikah, aku juga masih sangat muda masih harus kuliah, terus kerja dulu, baru setelah nya nikah." jawabku dengan raut wajah protes.
"Apa masalahnya kalo masih muda, Mama juga dulu menikah sama Papa mu itu umur 18 tahun. Ya seperti kamu ini, lagian pamali kalo wanita udah di lamar itu ya harus di terima. Kalo gak nanti kamu bakalan jadi perawan tua." jelas mama ku.
Aku tidak lagi menjawab pertanyaan Mama ku, dan malah berlari pergi naik ke tangga masuk kedalam kamar. Didalam kamar aku sempat terdiam, lalu kemudian tertawa terbahak bahak.
Aku benar benar tidak menyangka jika pria yang sudah dari SMP aku kagumi, ternyata juga mengagumi ku, dan bahkan dengan berani mengatakan akan melamar saat aku sudah lulus SMA. Di satu sisi aku memang bahagia, karena akan menjadi istri dari pria yang aku sukai. Tapi di sisi lain, hati ku melow apakah aku benar benar harus menikah di usiaku yang bahkan baru saja jalan 18 tahun.
Aku dan kak Aldi terpaut usia 10 tahun, aku berusia 18 tahun, dan kak Aldi sudah 28 tahun. Tapi kak Aldi berwajah baby face, meski usia nya sudah 28 tahun waktu itu wajahnya bahkan tak jauh berbeda dari wajah ku.
Setelah hampir satu jam aku mengurung diri dikamar, akhirnya aku keluar juga dan turun untuk menemui Papa, Mama, kak Robby, kak Nino dan yang pastinya aku juga harus bicara dengan kak Aldi.
Saat aku turun dan mulai menghampiri Papaku, kak Aldi tersenyum dan langsung menyapaku. Senyuman manisnya, tentu saja gak akan pernah bisa aku tolak. Ya akhirnya aku pun membalas balik senyuman dari nya.
*
*
*
Aku dan kak Aldi, kini sedang berada di taman samping rumah ku. Disana kak Aldi mengutarakan keinginannya, lalu di sambung dengan pernyataan cinta dari nya. Tentu saja aku di buat berbunga-bunga oleh nya, tapi... sedetik kemudian aku tersadar dan langsung mengatakan jika sebaiknya kita saling mengenal dulu.
Awalnya raut wajah kak Aldi langsung berubah sendu, tapi kemudian ia tersenyum dan mengangguk kan kepalanya tanda ia setuju dengan keputusan ku.
.
Hampir satu tahun kami terikat sebagai tunangan untuk saling mengenal satu sama lain, dan paham dengan sifat masing masing. Sampai akhirnya aku siap dan mantap untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Saat usiaku sudah 19 tahun aku resmi menjadi istri dari kak Aldi sampai dengan hari ini, Alhamdulillah...
"The Young Marriage (Nikah Muda)" bagi ku tidak masalah, intinya kecocokan dan rasa sayang terhadap kekasih kita, akhirnya membuat aku dan tunangan ku memutuskan melangkah ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan...
Selain rasa cocok, rasa sayang, dibarengi dengan kesiapan mental dan biologis, hal terpenting lain yang membulatkan tekad ku untuk menikah muda adalah komitmen kak Aldi sebagai calon suami ku. Komitmen ini mengacu pada sikap kak Aldi yang mau mendukung pilihan hidup ku, tidak membatasi ku untuk berkembang sebagai manusia, dan tidak mencoba mengecilkan diri ku.
Dalam keputusan ku untuk menikah muda, aku bersyukur tidak harus melewati pertentangan dari keluarga ku. Bahkan Papa dan Mama ku justru mendukung penuh untuk menikah muda dengan alasan bahwa aku dan kak Aldi sudah cukup lama kenal dan saling memahami sifat masing masing, jadi tidak perlu lagi berpacaran lama lama.
Kendati keluarga inti mendukung keputusan ku, aku sempat mendapat sindiran dari keluarga besar.
"Kalo keluarga besar ada yang kayak, ‘Ah, pasti nanti abis nikah enggak mau lanjut kuliah, enggak mau kerja. Tapi untungnya, enggak ada yang sampai menentang keras gitu sih."
Dari sindiran itu, aku justru semakin ingin membuktikan bahwa tidak selamanya menikah muda membuat perempuan tidak berkembang.
"Aku mau buktiin kalau aku enggak kayak gitu (tidak berdaya). Makanya, aku pengin banget empowering orang yang nikah muda bahwa enggak selamanya kita perempuan enggak punya masa depan."
Mungkin ketakutan terbesar perempuan ketika sudah menikah adalah dibatasinya ruang gerak mereka untuk mengaktualisasikan diri. Masih banyak perempuan di luar sana tidak bisa menggapai mimpinya mengenyam pendidikan tinggi ataupun bekerja setelah suami melarang mereka untuk melakukan hal-hal tersebut.
Namun, Alhamdulillah nya hal ini tidak terjadi kepadaku. Justru setelah pernikahan, aku dapat mewujudkan salah satu mimpi ku yaitu dengan mengenyam pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Pernikahan yang aku jalani juga tidak membatasi diriku untuk bekerja sesuai dengan minatku.
Hal ini dapat terjadi karena aku dan suamiku, sama-sama menekankan bahwa satu sama lain harus saling mendukung mimpi masing-masing dan saling menghormati. Kami berdua juga menekankan pada negosiasi dalam pernikahan kami, sehingga apapun yang kami lakukan sudah menjadi komitmen bersama dan tidak ada relasi yang timpang. Karenanya, kami berdua pun rela berkorban untuk kebahagiaan satu sama lain sampai dengan hari ini 💖
.
Dan yang membuat ku selalu bersyukur kepada tuhan, karena kedua orangtuaku masih lengkap dan sehat sampai sekarang. Papa ku sudah pensiun waktu usia nya 55 tahun, sekarang usia Papa Alhamdulillah sudah 66 tahun, dan Mama ku 61 tahun. Sehat dan berbahagia lah selalu Pa, Ma bersama anak, menantu, dan 9 cucu + 1 cucu lagi yang bakalan segera launching.
Lesya selalu sayang Papa, dan Mama. Terimakasih sudah membesar kan kami berempat sampai bisa sukses bersama sama seperti sekarang ini ❤️
Untuk kakak ku Nino, meskipun dulu sudah aku langkahi karena menikah duluan dari nya, maaf banget ya pak dokter, hehehe!
Kelamaan jadi pak boy, dokter ganteng akhirnya menikah juga di usia 32 tahun guys dengan kakak cantik yang berprofesi sama dengan nya.
Sekarang kak Nino dan kak Dini sedang menanti kelahiran anak ketiga nya, kakak kakak ku pada balapan buat 3 anak semua, sedangkan gue apa kabar? Baru satu anak guys hahaha...! See you 💙
By : @alesya_arabella