kekakuan setiap menatap kaca kosong yang tidak berkata jujur. ya... itu kaca ajaib yang selalu menampilkan Kilauan wajahku. Semua berubah saat mantra tak kukatakan lagi didepannya, mengingatkan ku seperti cerita dongeng putri salju yang betul betul terjadi dihidupku.
1 tahun yang lalu temanku Dina meninggal karena kecelakaan tragis yang menewaskan dua orang adiknya dan 1 sopir pribadinya. Semua keluarganya begitu baik kepadaku, Aku merasa diistimewakan disekitar mereka. Penyesalan dan keterpurukan ku tidak akan bisa membalas semua perlakuan baik Dina kepadaku.
Hari demi hari, aku semakin jatuh kedalam lubang hitam yang begitu sunyi. Aku selalu mogok makan, tidak mandi, dan selalu berdiam diri dikamar ku.
Dan itu tidak mengusik orang tua ku dan saudara Perempuanku. Mereka sama sekali tidak peduli denganku mungkin, jika aku mati pun mereka tidak akan berduka cita atas Kematian ku.
Dina lah yang selalu membuat hidup ku berwarna bagaikan kertas kosong yang sama sekali belum disentuh senimannya. namun ada seorang yang sengaja menumpahkan cat warna warni di kertas putih itu yang membuat gambarannya hidup dan terisi.
Bukankah Tuhan begitu kejam kepadaku, Tuhan sudah mengambil sesuatu yang berharga dari diriku dan menjadikan ku kertas kosong kembali yang sekarang mulai menghitam.
Aku tak peduli dengan wajahku ini, aku akan menerima ini sebagai tukaran Dina. tapi sekarang apa kau melanggar kesepakatan yang sudah kuyakini.
Begitu lama aku tidak memperhatikan wajah ini namun kau kembali buatku untuk melihat begitu menjijikkan wajah ini. Aku tak ingin berkaca apalagi berswafoto.
Itu hanyalah hal yang tidak mungkin aku lakukan,
Hasan yang dari tadi menundukkan kepalanya dengan melipat kedua tangannya ke siku. Mulai merasa bahwa dia telah gila dalam khayalannya bersama Dina.
Keobsesiannya terhadap Dina selalu menghantui pikiran dan perbuatannya. Bahkan sudah 1 bulan setelah kejadian itu Hasan berhenti sekolah, Dia seperti patung yang hanya berdiam diri tapi masih bernyawa.
"Has, kemari kamu harus coba ini," memberikannya serenteng buah mangga yang baru saja dia panjat.
"Turun Din bahaya tau nanti kamu jatuh!" ujar Hasan sambil mengambil buah mangga tadi.
"seru tau has, cepat sini naik pemandangannya juga bagus has" mengajak Hasan.
Hasan yang ragu ragu menaiki pohon itu selangkah demi selangkah menghampiri Dina yang masih jauh di atas sana. "Han cepat!" melambaikan tangannya dengan penuh semangat. satu langkah lagi Hasan akan sampai puncak dan Dina yang sangat apresiasi terhadap usahanya segera menggenggam tangan Hasan dan menariknya ke batang pohon yang kokoh.
"Huaaa" Teriak Hana untuk menghilangkan semua pikiran dibenaknya dan menikmati pemandangannya. Mencoba hal yang baru memanglah seru karena kita baru merasakan sensasi yang luar biasa, perkataan Dina yang begitu bergema di telinganya.
Membuka matanya yang sudah menangis histeris karena baru membayangkan masa masa indah bersama Dina." Din... jangan gini aku nda bisa kalo kamu nggak ada" lirihan hati Hasan yang seperti disayat sayat pisau tajam.
"Mah hasan berisik banget hasan mulai lagi tuh kambuh sifat gilanya" seru Clara saudara perempuannya.
"Kita kirimkan dia kerumah sakit jiwa aja sekalian, biar nggak malu maluin keluarga kita." balas mamahnya yang mulai jengkel dengan Hasan.
Bahkan sosok seorang ibu pun tidak memberinya dorongan untuk bangkit dan menjalani masa masa hidup yang lebih bahagia, apakah itu seorang ibu?
Betul saja ucapan ibunya kemaren. Ibunya memanggil RSJ untuk membawa anaknya kesana.
Suara ambulance terdengar dari luar rumah Hasan, ibu ibu segera mengerumuni saat Hana dibawa masuk oleh perawat perawat berbaju putih yang langsung memasukkannya kedalam mobil itu.
Tanpa mimik dan gestur tubuh yang lemas Hana hanya mengikuti tubuhnya yang tak sinkron lagi dengan pikiran. Sesampainya disana Hasan langsung dibius dan dibawa ke ruangan yang hanya ada satu kasur.
1 cermin langsung menghadap kasur Hasan dilengkapi dengan toilet, dan lemari yang berisikan baju baju Hana yang kemaren dibawa oleh ibunya.
Tatapannya kosong mengarah ke cermin besar yang bernuansa klasik. Itu hanyalah cermin biasa yang hanya memantulkan apa yang ada pada cermin tersebut. Disaat kekosongan itu ada secelah cahaya yang memantul kearah Hasan, Tiba tiba terdengar suara tangisan mendalam yang membuat Hasan tersadar dengan suara itu. "Dina... apakah itu kamu?"ujar Hasan. Suara tangisan itu semakin menjadi memenuhi ruangan itu.
Hasan yang begitu terpukul mendengar tangisan Dina langsung berjalan mencari sumber suara itu, semakin Hana menjauh dari kasur itu semakin kecil suara tangisan itu. saat Hasan menatap cermin itu seketika cahaya yang tadi muncul langsung menarik Hana masuk kedalam nya.
Ribuan memori Hasan terpapang melayang di udara, seperti film yang memunculkan thriller bersama Dina. Hasan hanya terbungkam diam seakan tak mengerti apa yang terjadi. Tibalah dia di suatu tempat yang dimana dia berada ditengah ribuan cermin kokoh. "Aku dimana, kenapa aku ada disini ?" ucapnya bingung.
sesosok wanita berdiri dihadapannya dengan muka bercahaya "Has, jangan gini dong km harus bangkit dan lupakan kejadian tahun lalu, Aku nggak mau kamu terus terjatuh didalam lubang itu, pikiran kan juga masa depanmu, aku sudah nggak ada Han di dunia tempat km berpijak." Suara Dina yang tersedu sedu sambil mengelus rambut lusuh Hasan.
"kamu Dina? Din... kok kamu gitu, kamu tuh masih hidup didalam pikiran ku, Din kamu kembali, aku senang banget, ayo kita pulang Din, baju kamu tipis banget pasti kamu kedinginan." Ucap Hana yang terdengar menyedihkan untuk menerima kenyataan.
"HAS!" teriak Dina dengan keras.
" Kamu harus hilangkan aku dipikiran mu itu has, itu hanya akan membuat kamu tersiksa, kita udah berbeda dunia has, tolong hiduplah tanpa penyesalan dan keterpurukan, ini permintaan terakhirku"pinta Dina sambil memegang tangan Hana dengan lembut.
"Buat apa aku hidup, kalo nda ada kamu, itu percuma Din," terjatuh dan meruntuhkan semua perasaan nya.
"Has, tolong jangan gini, please Han, kamu harus jalani kehidupan baru demi persahabatan kita selama ini, yah has," sambil memeluk erat tubuh Hasan yang kaku.
Perbincangan berat ini membuat Hasan tidak bisa berpikir jernih, yang ada dia malah bahagia atas kehadiran Dina. walaupun ini mimpi atau apapun Hasan tidak peduli asalkan bertemu Dina.
Melihat Dina yang menangis, Hasan tidak tega dengan Dina, ini memang permintaan terakhirnya tapi aku nggak bisa, nggak bisa, Separuh badan Dina yang mulai menghilang membuat kenyataan itu kembali lagi, "please Has, aku yakin kamu pasti bisa walaupun itu butuh perjuangan!"Menghapus air mata Hasan yang mengalir.
Untuk melihatnya bahagia, aku harus mewujudkan permintaan Dina, walaupun itu menyakitkan. Tapi aku nggak mau buat dia kecewa. " Baiklah Din, aku akan mewujudkan janji kita" bisik hana dengan lembut sambil menahan air matanya.
Dina tersenyum mendengar perkataan Hasan, dan itu sudah cukup melegakan hati nya selama ini, Dina mencium kening Hasan dengan hangat untuk bisa melepaskan kepergian Hasan. Tubuh Dina yang sudah menghilang membuat ringisan Dina menjadi jadi.
Saat dia terbangun air mata nya membasahi pipinya. "Aku akan mewujudkan nya dengan perlahan Din"Gumamnya dengan suara serak.
Seakan semua menjadi normal dan berjalan baik, Hasan sudah hidup seperti yang Dina inginkan, sudah mempunyai 1 anak perempuan yang begitu mirip dengan Dina, dan itu adalah anugrah tuhan untukku. Dipenuhi dengan keluarga kecil yang hangat, Suami yang pengertian, dan ibu mertua yang sangat menyangiku dengan tulus. Itulah buah perjuanganku melewati ini Din.
seketika heningan berubah menjadi hal yang tak pernah Hana pikirkan."Duarr" Suara tembakan yang begitu keras, mengarahkan peluru itu keperut Hasan yang sedang berada di sofa ruang tamu, lirikan Hasan menjawab semua kecurigaan nya. "Kehidupan yang bahagia hanyalah omong kosong yang membuatku muak"berbisik kearah Hana yang sudah terduduk kaku disofa." Kamu--" kata terakhir yang keluar dari mulut Hasan.