Malam hari dengan sinar bulan yang menyinari sang bumi. Hembusan angin menerpa pohon-pohon disekitar, menjatuhkan dedaunan kering yang masih bergantungan. Terlihat seorang gadis yang tengah duduk dibawah pohon rindang dengan pandangan kosong kedepan.
Tiba-tiba setetes cairan kental yang berwarna merah jatuh begitu saja dari hidung gadis itu. Gadis itu menatap rok panjang yang ia gunakan terlihat bercak merah. Dengan tenang, gadis itu mendongakkan pandangannya kearah langit sembari mengusap darah yang keluar dari hidungnya.
Setelah cairan kental itu berhenti keluar. Gadis itu langsung saja pulang, sesampainya di depan rumah bukannya langsung masuk, gadis itu malah menatap rumahnya sendu lalu menghela napas panjang dan berjalan masuk.
Dibukanya pintu rumahnya dan tampaklah rumah yang begitu sunyi senyap. Lagi-lagi gadis itu menghembuskan napasnya.
....
Pagi pun tiba, gadis itu sudah siap dengan seragam sekolah putih abu-abunya. Dengan wajah yang sedikit pucat gadis itu berjalan menuruni tangga dan melihat sang Mama yang sibuk mempersiapkan barang-barangnya untuk pergi ke kantor.
"Haruna! Mama sudah memasakan makanan untukmu. Sebelum ke sekolah sarapan terlebih dahulu ... Mama berangkat ke kantor," ucap sang Mama terburu-buru lalu pergi tanpa melihat wajah anaknya yang terlihat kesal.
Haruna. Ya nama gadis itu adalah Haruna, gadis yang baru berusia 18 tahun itu sudah terbiasa ditinggalkan Mamanya hanya untuk sebuah pekerjaan yang membuat Haruna jengah dengan sikap sang Mama. Sedangkan Papanya, sudah meninggal dunia sejak Haruna berusia 15 tahun.
Setelah sarapan pagi, Haruna langsung saja berangkat ke sekolah dengan menaiki taksi. Sesampainya didepan gerbang sekolah Haruna langsung saja turun dan memberikan ongkos taksinya lalu berjalan masuk ke halaman sekolah.
"Dorr!!" sontak Haruna terkejut dan tanpa sengaja memukul lengan temannya itu.
"Awws ...," ringis Riri sahabat Haruna.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Haruna sembari mengusap tangan Riri.
"Kenapa kamu selalu meminta maaf? padahal itu salahku," marah Riri tapi terkesan menggemaskan yang membuat Haruna tak bisa menahan tawanya.
"Kenapa kau tertawa? Apa semua ini terlihat lucu buatmu?" tanya Riri jengkel.
"Ada apa ini? Kenapa masih pagi begini wajah Riri terlihat begitu kesal?" tanya Dira sahabat Haruna dan juga Riri yang baru saja datang.
"Ini, si Haruna ... dia selalu minta maaf kepada siapapun padahal dia tidak pernah melakukan kesalahan, aku sangat jengkel dengan sikapnya yang terlalu baik " Riri mengadu kepada Dira
Riri benar-benar tidak suka melihat Haruna yang selalu merendahkan dirinya sendiri. Riri sangat takut jika mereka tidak bersama lagi, bagaimana dengan nasib Haruna, apa dia akan mendapat teman yang bisa mengerti dengannya atau malah memanfaatkan kebaikannya.
"Sudahlah Riri ... Lebih baik kita ke kelas, sedikit lagi sudah mau masuk pembelajaran pertama," perintah Dira yang dibalas anggukan oleh Haruna.
"Awas saja kau Haruna, kalau aku masih mendengar atau melihatmu melakukan itu, aku akan membunuhmu," ancam Riri yang hanya dibalas ledekan oleh Haruna.
"Aku juga akan membunuhmu," balas Haruna lalu tertawa.
"Apa kau kira aku bercanda?" Haruna pun berlari ketika melihat Riri yang tampak sudah berapi-api.
"Jangan lari kau, Haruna!" teriak Riri lalu mereka pun pergi ke kelas sembari bermain kejar-kejaran.
Dira yang melihat itu tak mau diam saja, dia pun mengejar keduanya. "Kenapa kalian meninggalkanku, berhenti kalian!" teriak Dira lalu mengejar keduanya.
Tawa ketiganya begitu lepas tanpa memperdulikan pasangan-pasangan mata yang terus saja memperhatikan mereka. Rasa kesal Haruna terhadap Mamanya hilang begitu saja.
...
Bel istirahat berbunyi, ketiga sahabat itu menuju kantin sekolah, sesampainya di kantin sekolah mereka pun memesan makanan dan juga minuman. Tak butuh waktu lama pesanan mereka pun datang lalu memakannya bersama.
"Riri, Haruna!" panggil Dira yang langsung ditatap oleh keduanya.
"Ada apa?" tanya Riri sembari menautkan alisnya.
"Hari ini, hari ulang tahunku. Aku mengundang kalian untuk makan siang bersama dirumahku," ajak Dira sedikit ragu. "Maaf, aku tidak bisa traktir kalian karena aku tidak punya uang yang cukup ... jadi, aku hanya bisa mengajak kalian makan dirumahku," sambung Dira lagi.
"Tidak masalah ... Yang penting, kamu bisa bahagia itu sudah cukup buat kita," balas Riri sembari merangkul Dira.
"Makasih," ucapnya yang membuat Riri dan Haruna merasa tidak nyaman karena mereka seakan-akan baru saja mengenal satu sama lain.
"Sama-sama," balas Haruna sembari tersenyum manis.
....
Setelah sekolah selesai, ketiga sahabat itu langsung saja menuju rumah Dira. Sepanjang perjalanan Dira tampak gugup.
"Kamu kenapa?" tanya Haruna yang memang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Dira yang tampak cemas dan gugup.
"Sebenarnya ... Aku takut kalian tidak nyaman berada dirumahku nanti. Karena rumahku tidak semewah seperti rumah kalian," jelas Dira yang membuat Haruna menghembuskan napas.
"Dira! Kita ke rumah kamu itu untuk merayakan ulang tahunmu, bukan mau liburan," tegas Haruna membuat Dira menunduk.
...
Sesampainya di rumah Dira, mereka pun langsung masuk dan terlihat Mama Dira yang menyambut mereka dengan ramah.
Rumah Dira memang terlihat sederhana tapi entah kenapa Haruna sedikit cemburu. Keluarga Dira benar-benar idaman Haruna. Mama Dira yang tengah menyiapkan makan itu bercanda ria dengan anaknya dan juga suaminya. Tanpa disadari air mata Haruna terjatuh, mengingat sang Mama yang tak pernah menetap di rumah dan Papanya yang sudah tidak ada.
"Ada apa?" tanya Dira yang membuat semua pandangan tertuju padanya.
Haruna dengan cepat mengalihkan pandangannya cepat. Riri yang menyadari semuanya langsung merangkul pundak Haruna.
"Na ... Kita semua disini itu keluarga, kamu tidak perlu bersedih," jelas Riri yang diangguki oleh oleh Dira.
Mama Dira menghela napas sembari menunduk. Sebenarnya Mama Dira juga tau apa yang ada dipikiran Haruna, karena Dira selalu menceritakan tentang keluarga Haruna. Perlahan Mama Dira mendekatinya lalu memeluk Haruna. Entah kenapa air mata Mama Dira jatuh begitu saja, seakan-akan dapat merasakan rasa sakit Haruna.
"Makasih Tante," ucap Haruna sembari mengeratkan pelukannya.
...
Setelah drama kecil-kecilan itu, mereka pun makan bersama. Riri yang melihat Haruna masih saja murung dia pun membuka suara.
"Haruna, kau tau?" tanya Riri membuat Haruna menatapnya.
"Kamu beruntung masih memiliki Mama, sedangkan aku hanya anak angkat dari Papa dan Mama aku yang sekarang, aku hanyalah anak yang dibuang dan dibesarkan oleh mereka, bukankah itu lebih menyakitkan? ... Orang tua kandungku membuang ku seakan-akan aku adalah barang rongsokan yang tidak pernah jadi barang istimewanya," tutur Riri sembari tersenyum getir.
Sakit? Tentu saja. Riri kembali menunduk dan memakan sup buatan Mama Dira dengan air mata yang tertahan dipelupuk matanya. Rasanya sangat sesak, membuat Riri hampir tak bisa menelan kuah sup itu.
Haruna pun menghampiri Riri lalu memeluknya, seakan-akan mengerti dengan rasa sakit Riri. Dira yang melihat itupun memeluk keduanya, seakan-akan menyalurkan lagi rasa kasih sayang untuk keduanya. Dira tahu, mereka berdua benar-benar mengalami masalah keluarga yang memang menyayat hati.
Dan tiba-tiba saja tubuh Haruna merosot kebawah membuat Dira dan Riri heran. Dira pun melepas pelukannya dan ternyata Haruna telah pingsan di pelukan Riri.
Sebelum mereka berpelukan ternyata Haruna sudah merasakan kepalanya yang sakit luar biasa wajahnya pun terlihat begitu pucat. Mereka benar-benar khawatir dan langsung saja membawa Haruna ke rumah sakit terdekat.
Menit-menit berlalu, Haruna masih ditangani dokter membuat kedua sahabatnya dan juga orang tua Dira khawatir. Riri terus saja menghubungi Mama Haruna tapi tak kunjung ada jawaban, Riri pun mengirim pesan singkat kepada Mama Haruna. Tak lama dokter pun keluar, mereka langsung saja menghampiri dokter itu.
"Dok, bagaimana keadaan Haruna?" tanya Mama Dira khawatir.
"Apa kalian keluarganya?" tanya dokter lagi.
Mama Dira pun melirik suaminya dan dibalas anggukan. Mama Dira pun mengangguk sebagai isyarat bahwa dia adalah orang tua Haruna.
"Kalau begitu ikut saya di ruangan!" perintah dokter itu lalu pergi dan disusul Mama Dira dan juga Papa Dira.
Sesampainya di ruangan dokter tersebut diapun menjelaskan semua yang dialami Haruna.
"Jadi bagaimana, dok?" tanya Papa Dira.
"Begini ... Anak bapak terkena kanker otak stadium akhir," jawab dokter itu membuat air mata Mama Dira jatuh begitu saja, entah kenapa rasanya begitu sesak.
"Kanker otak stadium akhir?" ulang Papa Dira yang masih tidak percaya.
Dokter pun mengangguk. "Kenapa? Apa kalian tidak mengetahui penyakit anak kalian?" keduanya pun mengangguk mengiyakan.
Dokter itu hanya bisa menarik napas. "Sepertinya penyakitnya ini tidak pernah diobati jadi, kanker sudah menyebar ke seluruh tubuhnya."
Dokter ingin sekali mengoperasi Haruna, dia tidak tega melihat anak gadis itu terbaring lemah, tapi sayang operasi itu tidak akan menyelamatkannya karena kanker itu telah menyebar ke seluruh syaraf-syarafnya. Hanya Tuhan yang tahu.
Setelah keluar dari ruangan dokter itu. Terlihat dari jauh seorang wanita berpakaian kantor berlari ke arah mereka membuat Mama Dira mengernyit.
"Apa itu Mama Haruna?" tanya Mama Dira yang dibalas anggukan oleh kedua sahabat Haruna.
Ya, setelah kedua orang tua Dira masuk di ruangan dokter itu. Riri terus saja menelpon Mama Haruna dan sampai akhirnya dia menjawabnya.
"Bagaimana keadaan Haruna?" tanya Mama Haruna khawatir dengan napas yang tersengal-sengal.
"Dia terkena kanker otak ... dan sudah masuk stadium akhir," ungkap Mama Dira.
Bagaikan disambar petir disiang bolong. Kaki sang Mama lemas begitu saja dan langsung terduduk, sedangkan kedua sahabat Dira hanya bisa terdiam. Terkejut? Tentu saja, ini begitu cepat, kenapa mereka tidak mengetahuinya padahal mereka selalu bersama.
...
Mereka pun masuk kedalam dan terlihat Haruna yang sudah sadar lalu tersenyum manis ke arah mereka semua.
"Mama kemari hanya untuk menemui ku?" tanya Haruna senang dengan wajah yang begitu pucat.
Bukan menjawab sang Mama hanya berjalan menatap wajah pucat anaknya itu, air matanya terus saja jatuh walaupun dia berusaha untuk kuat didepan anaknya.
"Kamu sudah makan, nak?" tanya sang Mama yang dibalas anggukan oleh Haruna.
"Sudah, ma. Haruna makan di rumah Dira ... Kenapa Mama menangis? Apa aku akan mati?" pertanyaan itu sontak membuat sang Mama menangis lagi.
"Apa yang kau bicarakan, Haruna!" teriak Riri dengan air mata yang sudah tertampung dipelupuk matanya.
"Hehe ... aku hanya bercanda, bukankah kau mau membunuhku, jadi aku menunggu kau yang membunuhku," ucap Haruna seperti tak ada kelelahan dimatanya.
"Ya, aku akan membunuhmu jika kau masih saja membahas kematian," tegas Riri dengan air mata yang jatuh begitu saja.
Lalu Riri berjalan menghampiri Haruna. "Jangan pergi!" lirih Riri lalu memeluk tubuh lemah Haruna.
"Aku tidak akan pergi," balasnya.
"Haruna ... Apa aku bisa memelukmu juga?" tanya Dira berusaha tegar.
Haruna pun mengangguk dan merentangkan sebelah tangannya. Dengan rasa sesak didadanya dia berlari dan menangis sekencang mungkin dan memeluk tubuh Haruna.
"Aku menyayangimu, Haruna."
"Aku tahu itu," balas Haruna terkekeh.
Setelah pelukan mereka terlepas, Haruna langsung saja menatap sang Mama yang terus saja menangis.
"Ma!" sang Mama pun mendekat lalu mengusap rambut Haruna.
"Tadi Haruna mimpi bertemu Papa. Haruna bermain bersama Papa, Haruna benar-benar merindukan Papa. Haruna ingin bermain bersama Papa lebih lama lagi," ungkap Haruna yang membuat kedua sahabatnya semakin menangis.
"Lain kali saja, Haruna," balas sang Mama, hatinya seperti tidak rela jika Haruna harus menutup mata, dia sangat takut jika Haruna tak mau lagi membuka matanya. Haruna adalah anak satu-satunya ia miliki.
"Tapi Haruna maunya sekarang," mohon Haruna yang membuat sang Mama menunduk.
Wajah memelas itu telah kembali lagi, Haruna yang dulu selalu memelas meminta sesuatu kini telah kembali, tapi kali ini sang Mama benar-benar tidak mau mengizinkannya.
"Haruna mohon!" dengan berat hati sang Mama pun mengangguk dan dibalas senyuman tulus dan manis Haruna.
Beberapa detik mata Haruna perlahan terpejam. Alat pendeteksi jantung itu berbunyi dengan nyaring, bertanda kalau Haruna telah tiada. Semuanya menangis sejadi-jadinya.
Kedua sahabatnya itu seperti tidak percaya semua ini, padahal baru tadi mereka bersama disekolah dan sekarang, Haruna benar-benar pergi.
"Bukankah kau bilang, kau akan mati ketika aku yang membunuhmu, dan kenapa kau pergi. Kenapa kau tak tepati janjimu ... Kau bilang kau akan membunuhku juga, ayo bangun dan bunuh aku juga," gumam Riri dengan air mata yang benar-benar tidak bisa ia bendung, dadanya terasa sesak.
"Ini adalah hari ulang tahunku, apa semua ini kejutan untukmu. Ayo Riri apa ini kejutan Haruna buatku? Ini tidak lucu, kenapa kalian memberi kejutan seperti ini. Ini sangat menyakitkan!" ucap Dira frustasi, dengan air mata yang masih bertengger dipelupuk matanya.
"Kenapa diam! Dan kau Riri, hentika aktingmu itu. Ma, apa Mama juga mengikut rencana mereka, Tante bangunkan Haruna," teriak Dira tak terima.
"Dira, Haruna sudah pergi, nak," jelas sang Mama yang membuat Dira terdiam.
"Penderitaan Haruna sudah berakhir, Dira." Riri pun memeluk tubuh Dira yang bergetar hebat akibat menangis.
Sang Mama yang sedari tadi menangis, kini terdiam seperti tak ada lagi emosi yang ia bisa rasakan. Hatinya hancur ketika melihat anaknya yang pergi. Ini benar-benar menyakitkan..
TAMAT.