Dalam doa ku meminta, dalam pikiran ku ingat, dalam setiap langkah ku rasakan.Aku tau jika aku ini hanya manusia biasa, tak ada yang spesial dari ku, aku hanya seorang pengemis di pangkuan sang kuasa.
Manusia hanya bisa berencana dan Tuhanlah yang berkehendak. Seperti keinginan ku yang selalu aku lantunkan dalam doaku, keinginan apa itu? tak besar kok, aku tak meminta yang muluk-muluk, bukan hal yang aneh.
.. Aku ingin menikah dengan orang yang aku cintai...
⭐⭐⭐⭐
Pagi menyapa sang malam, menggantikan tugas sang malam untuk menghiasi langit, memberitahu semua makhluk hidup bahwa waktu malam sudah berlalu.
Matahari sudah menampakkan dirinya, menandakan untuk segera memulai segala aktivitas. Seperti aku, sebelum sang mentari menyapa aku sudah bangun menyiapkan segala sesuatu keperluan untuk aku bekerja nanti.
Ah, kalian belum tau siapa aku? aku Nadia Ayu, aku anak pertama di keluarga ku, dimana aku masih punya adik perempuan yang kini sedang duduk di bangku SMA.
Tak ada yang spesial dari ku, aku hanya gadis biasa yang baru saja lulus beberapa bulan yang lalu dan kini aku bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di industri garment. Beberapa hari yang lalu aku melepas status uji coba, dan kini aku sudah menjadi karyawan tetap. Senang, bersyukur hanya itu yang aku rasakan.
Akan aku ceritakan sedikit tentang keluarga ku, aku anak pertama dan aku memilih adik perempuan yang masih duduk di bangku SMA, ibuku bekerja di sebuah pabrik garment dan ayah ku kerja di proyek perumahan yang ada di jakarta.
Ya, aku tinggal di sebuah kota kecil yang padat penduduk.
Hmm.. mungkin hanya itu saja perkenalkan tentang diriku.
Tring...
Aku lihat ponsel ku saat ada pesan masuk.
"Selamat pagi, semangat kerjanya. " tulis pesan itu.
Aku tersenyum saat membaca pesan yang baru aku terima, pesan itu dari kekasih ku. Aldi Pangestu.
Aku dan dia baru berpacaran selama 5 bulan, tidak baru juga tapi juga tidak lama. Aku dan Aldi dulu satu sekolah saat SMA, kami cukup dekat sampai akhirnya kami berpacaran.
"Selamat pagi juga 😊semangat kerjanya juga. " balas ku.
Dia bekerja di bengkel milik keluarga nya, ya dia dari keluarga yang cukup mampu. Setelah membalas pesannya, aku langsung bersiap-siap untuk berangkat bekerja karena jam sudah menunjukkan pukul 5.45.Masih pagi sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? rumah ku dengan jalan raya cukup jauh dan biasanya aku bekerja naik motor tapi beberapa hari yang lalu motor ku, ku putuskan untuk menyekolahkan nya, jangan tanya kenapa.
Beberapa saat kemudian...
Aku sudah sampai di pinggir jalan raya, ku lihat angkot langganan ku sudah datang dan aku langsung naik. Kegiatan ini sudah sering aku lakukan, di saat semuanya serba sulit tapi aku tetap bersyukur.
Setelah berjalan beberapa menit, angkot yang aku tumpangi sampai juga di depan tempat aku bekerja. Sebelum masuk, ku sempatkan untuk menyemangati diriku sendiri, itu sangat penting.
⭐⭐⭐⭐
Seharian bekerja, lelah menyerang badan ku. Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan diri sebelum istirahat.
"Lelah sekali. " ku rebahkan badan ku di kasur minimalis yang ada di kamar ku.
"Kak." kulihat ibu ku masuk ke kamar ku.
"Iya, ada apa?. " tanya ku.
"Nih, kamu dapet undangan. " ibu ku memberikan selembar undangan.
Kulihat undangan itu, dan ternyata undangan pernikahan teman SMA ku.
"Undangan apa? ". tanya ibu ku.
" Pernikahan, temen ku nikah besok minggu. " kata ku.
"Temen mu udah nikah, terus kamu kapan? kamu harus pikiran masa depan mu. " ini yang tidak aku sukai, ibu ku selalu saja mengatakan untuk segera menikah karna teman-teman ku sudah menikah.
"Gampang itu. " kataku malas.
"Kamu jangan ngomong kaya gitu, kamu itu cewek jangan asal ngomong. "
"Memang nya kamu tak malu jadi bahan omongan tetangga? ibu aja risih tau nggak. " kata ibu.
Aku hanya menghela nafas malas, "Ya udah biarin aja sih, emang kalo aku nikah tetangga mau biayain?. " aku kesal jika sudah seperti ini.
"Kamu jangan suka nantangin, kamu itu cewek jangan suka bicara besar. "
"Ya terus gimana?. " tanya ku.
"Gini ya bu, nikah itu nggak gampang. "
"Kalo itu kan bisa sambil jalan Nad. " kata ibu ku.
"Ya enggak bisa dong, nikah itu bukan perkara sah doang. Kalo cuman perkara sah, anak tk juga bisa. Nikah itu sakral, harus di pikirkan matang-matang. "
"Kamu itu kalo di nasehati orang tua ada aja, kamu itu memang susah kalo di bilangin. " ibu ku langsung keluar dari kamar ku.
"Ck selalu saja. " aku langsung menutup mata bersiap untuk ke alam mimpi.
⭐⭐⭐
Weekend, hari yang di tunggu-tunggu oleh sejuta umat. Jam menunjukkan pukul 3 sore, sore ini aku dan Aldi memutuskan untuk jalan-jalan di sebuah taman.
"Bagaimana kerjaan kamu?. " tanya Aldi.
"Yah, seperti biasanya nggak ada yang spesial. " jawab ku jujur.
"Semangat ya. " Aku sangat menyukai kepribadian Aldi yang hangat dan friendly.
"Iya, makasih. "
"Yuk duduk situ. " Aldi membawaku ke sebuah bangku kosong.
"Kenapa kita malah duduk di sini?. " tanya ku.
"Ada sesuatu yang mau aku katakan. "
"Apa?. " tanya ku penasaran.
Setelah kami berdua duduk, Aldi menatap ku dengan wajah bahagia.
"Ayo kita menikah. " aku terkejut mendengar ajakan Aldi.
"Apa? ".
" Ayo kita menikah. " kata Aldi.
"Kamu nggak lagi bercanda kan?. " tanya ku.
"Ya nggak lah, mana mungkin aku bercanda. "
"Kitakan baru menjalani hubungan beberapa bulan, kamu yakin?. " tanya ku memastikan.
"Iya, lagian keluarga ku juga suka kok sama kamu. "
Aku diam, kami berdua memang sudah saling mengenal keluarga masing-masing dan kedua orang tuaku suka dengan Aldi.
"Jika kamu serius, kamu bawa kedua orang tua mu untuk menemui kedua orang tua ku. " kata ku akhirnya.
"Ok, aku dan kedua orang tua ku akan datang ke rumah mu. "
Ada rasa senang saat Aldi mengajak ku menikah, ini adalah salah satu keinginan aku, menikah dengan orang yang aku cintai.
⭐⭐⭐
Hari-hari terus berlalu, beberapa hari yang lalu aku mengutarakan niat Aldi kepada kedua orang tua ku dan mereka menyambut baik niat Aldi. Kedua orang tuaku langsung memberi kabar bahagia ini kepada seluruh keluarga besar, dan mereka juga bahagia atas kabar ini.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan hari berganti minggu. Tepat dua minggu setelah ucapan Aldi di taman dan satu minggu sebelum hari yang di tetapkan oleh kedua keluarga untuk acara lamaran, ada yang berbeda.
Aldi mulai jarang membalas pesan ku, jika di balas rentang waktunya sangat jauh bahkan kadang tidak di balas. Ada rasa was-was di hati ku, rasa takut menyelinap di hatiku tapi aku berusaha berfikir positif, mungkin dia sibuk.
"Kak, jam berapa Aldi dan keluarga mau datang? ". tanya ibu ku.
" Enggak tau bu. " jawab ku jujur, karena Aldi belum memberi tau ku.
"Kamu ini gimana sih? ya kamu tanyain dong. "
"Iya bu nanti aku chat dia. " kata ku.
"Ya udah, nanti kabari ibu. "
Aku langsung mengirim pesan kepada Aldi, setelah pesan terkirim aku menunggu cukup lama padahal centang dua.
"Kemana sih?. " tanya ku, aku bingung dengan perubahan Aldi.
Keesokan harinya, pesan ku belum juga di balas dan aku mulai takut.
Sore harinya Aldi menelfon ku, tapi sayang aku lagi sibuk jadi tidak bisa mengangkat telpon nya. Aku baru bisa mengangkat telpon nya saat malam.
"Halo Aldi. "
"Halo Nad, maaf ya baru ngasih kabar soalnya lagi sibuk ini. " katanya, mendengar alasan Aldi ada rasa tak percaya di hatiku tapi aku memilih diam.
"Iya nggak apa, jadi gimana? " tanya ku.
"Hmmm, Nad. " mendengar suara Aldi yang terbata ada rasa aneh muncul.
"Ada apa Al?. " tanya ku.
"Hmm, gimana ya Nad. "
"Ada apa sih?. " aku mulai kesal degan Aldi.
"Itu.. sepertinya.. kita nggak bisa menikah. " katanya pelan.
Deg...
Apa ini?.
"Maksudnya? ". tanya ku tak yakin.
" Kamu tau kan Nad keluarga aku menganut kepercayaan kejawen, dan ibu ku bilang kita nggak bisa nikah karena weton kita bertabrakan. "
Marah, kesal, sakit, kecewa menjadi satu, aku nggak tau harus memberi respon seperti apa.
"K-kenapa kamu baru ngomong sekarang?. " tanya ku kecewa.
"Aku nggak enak buat ngomong ke kamu. "
Tut.. aku langsung mematikan sambungan telepon nya.. aku menangis, bingung, marah.
"Sialan!. "
⭐⭐⭐
Setelah itu aku mengatakan apa yang di katakan Aldi kepada kedua orang tua ku dan ya mereka marah dan merasa terhina. Ibu ku langsung menghubungi keluarga Aldi yang mengungkapkan rasa kecewa nya, sedangkan aku? aku memutuskan untuk tidak berhubungan dengan mereka.
------
Setelah kejadian itu aku memutuskan untuk tak terlalu memikirkan tentang pernikahan, aku hanya ingin mengikuti alur yang Tuhan ciptakan. Sedangkan ibu ku, dia sering mengenalkan banyak laki-laki untuk ku, tapi entah kenapa aku tak berniat untuk menerima salah satu dari mereka mungkin aku sedang dalam fase ingin sendiri.
Banyak orang yang mulai membicarakan tentang ku, membicarakan bagaimana aku gagal lamaran. Tapi aku tak pernah menggubris mereka, karena ini hidup ku.
⭐⭐⭐
Ternyata waktu tak menjamin jika dia adalah jodoh kita, tak perduli selama apa kamu mengenalnya jika dia tak berniat bersamamu maka itu akan jadi hal yang sia-sia. Mencintai orang jangan sepenuh hati, cintai lah dia separuh hati karena jika kamu tersakiti kamu tak akan merasakan sakit yang teramat.
Di masyarakat, isu kapan nikah? adalah hal yang sensitif. Masyarakat cenderung melihat gadis/perjaka yang sudah besar (dari segi fisik) pantas untuk segera menikah, tanpa berfikir apa sudah siap/belum.
Menikah bukan perkara sah atau tidak sah, buka tentang ada teman tidur, juga bukan karena ada teman berbagi. Setiap orang punya cara pandang yang berbeda dalam mengartikan pernikahan.
Kenapa [harus] menikah, karena kita di ciptakan berpasangan tak perduli bagaimana rintangan nya. Rasa sakit, kecewa, marah akan terobati dengan kehadiran orang yang tepat.
⭐⭐⭐
Jangan lupa kunjungi profil aku ya..
Dan tolong beri dukungan untuk ku😊😊