Menjadi lebih dewasa? Aku sering memimpikan bagaimana rasanya menggenggam uang lebih dari sekedar kertas abu. Menjadi lebih semakin besar tak sefantasi yang kukira. Awalnya aku senang, ternyata jauh dari yang kubayangkan.
Pernah aku mengikuti les keyboard, sayangnya aku justru gagal mengembangkan bakatku itu. Padahal, sedari dahulu kedua orang tuaku menginginkanku dalam posisi pianis terkenal.
Aku cacat, aku minus, bahkan kondisi fisikku lebih lemah dibandingkan yang lainnya. Namun, satu hal yang dapat kubanggakan, nilai akademis. Otakku lebih lancar dalam hal berbau teori di kalangan keluargaku. Wajahku tirus, putih, berambut gelombang dengan warna sedikit kemerahan.
Aku pernah mengikuti satu lomba paduan suara, aku menang ke babak selanjutnya. Namun, di saat di babak selanjutnya, semua mundur karena menganggap lomba tersebut sekedar permainan. Aku geram, padahal aku sangat menantikan perlombaan tersebut.
Tepat beberapa hari yang lalu, aku berulang tahun. Ulang tahun? Tentu saja aku senang, sangat senang bahkan bahagia. Ucapan saat aku membuka knop pintu kelas terdengar. Teman-temanku tahu jika aku bertambah usia karena aku membuat status di aplikasi komunikasi.
Bagiku, itu adalah hak bersejarah, sangat bersejarah. Tiga minggu sebelum aku berulang tahun, aku masuk lomba sains. KSN, biasa disebut dengan kepanjangan Kompetisi Sains Nasional.
Jujur, aku terpaksa masuk ke sana, tapi itu hanya awalnya. Dikarenakan aku yang merupakan kalangan siswi pintar, mungkin, aku direkomendasikan mengikuti Kompetisi Sains itu.
Setelah aku masuk grup penyeleksian, aku rajin belajar. Bahkan aku yang merupakan pecinta pemain ponsel harus menguasai diri, membagi waktu semampuku. Bagiku, 3/4 persen aku terus belajar, belajar dan belajar.
And you know?
Saat ujian penyeleksian aku sempat tak enak badan. Aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku yang menginginkan kemenanganku membawa nama baik sekolah ke luar sekolah. Alhasil, aku memaksa diri untuk mengikuti ujian penyeleksian tersebut.
Hari demi hari berlalu, aku sangat mempercayai bahwasanya akulah yang menjadi pemenangnya. Namun, nyatanya aku salah. Sangat salah besar.
Di hari ulang tahun ku, aku merasakan kekecewaan mendalam. Membuka laman, aku begitu tertampar melihat namaku yang hanya masuk tiga besar saja. Tiga besar? Ya, tiga besar dengan total nilai 20 saja.
Peringkat pertama mendapat nilai 24, sementara peringkat kedua mendapatkan nilai 22 saja. Sangat berurutan bukan? Aku hanya sampai 20 saja. Hanya berbeda beberapa saja, sangat tanggung.
Aku tertampar, terjungkal, terguling-guling. Hah, ekspetasiku yang ingin membanggakan orang tua jatuh runtuh seketika. Sulit untukku menjadi yang terbaik. Ini, adalah saat ulang tahun ku berlangsung. Rasa mimpi, pil pahit, aku sangat pembenci kekalahan, terlebih pada nilai. Aku seperti orang obsesi dengan nilai. Jika turun sedikit, aku panik.
Hidupku keras, bagiku. Aku tuli, mata minus, gigi berantakan. Tak ada kesan menarik di wajahku, fisikku, dan sikapku. Semua minus, bahkan kedua orang tuaku menganggapku demikian. Sedari kecil aku sakit-sakitan, berbolak balik ke rumah sakit hingga Bibiku menganggap, masa depanku hanyalah seorang penjahit saja.
Sedari kecil aku kurus, hitam, rambut keriting gelombang, gigi berantakan, pemakai kacamata, juga tuli. Aku mengandalkan keaktifan Alat Bantu Dengar saja untuk berkomunikasi dan mendengar suara orang lain atau benda.
Aku anak kedua. Sedari kecil aku hobby membaca, terlebih sebuah cerita. Jika saat kecil dinamakan cerita dongeng, legenda, juga fabel. Beda dengan saat sudah besar yang menyukai cerita novel romansa, action, time travel, fantasi, dan teen.
Sedari kecil juga aku sangat tidak pernah merasakan nilai turun. Selama ini, jikapun itu ulangan, paling rendah adalah delapan puluhan saja. Tujuh puluh? I'm sorry, aku tak pernah merasakannya.
Obsesi ku terhadap nilai meninggi di kala aku mendapat nilai enam puluh lima saat jenjang sekolah dasar. Aku takut dan merobek segera kertas ulangan ku setelah pulang sekolah. Aku gelisah, dan duduk di koridor yang memang sudah sepi.
Menjambak rambut, sudah terbiasa. Awalnya aku menahan tangis, tetapi tak dapat mampu menahan lagi. Aku terisak, menangis, dan memukuli diriku sendiri. Menyebut diri sendiri dengan sebutan BΟDΟH karena tak becus mengerjakan ujian.
Itu ... penyakit mental yang kusembunyikan.
Di saat ulang tahun ku, aku menangis tanpa suara di toilet. Awalnya ingin menangis di kelas, tetapi ramai orang berlalu lalang. Kelasku mengadakan jamkos, aku segera beranjak dan pergi ke toilet.
Penyakitku, kambuh lagi ...
Aku mengunci pintu dan memukuli diriku berkali-kali. Sungguh malang, hanya berbeda beberapa poin saja. Aku sendiri sudah sedih, apa kabar dengan kedua orang tuaku? Mereka lebih dari sedih dibandingkan aku karena mereka sangat berharap hingga berdo'a setiap malam dan bangun tidur.
Ini kegagalanku yang kesekian kalinya.
Hingga dua hari setelah kejadian itu, aku duduk menemui kedua orang tuaku di dalam kamar. Mereka sedang berbicara santai bahkan tertawa keras karena merasa obrolan mereka lucu. Aku tak paham dengan obrolan mereka. Kepalaku sedari dua hari yang lalu pusing, sangat pusing.
"Ma,"
"Kenapa belum tidur? Besok sekolah kan? Tidur!"
"Ma, aku kalah lomba,"
Ucapan yang sudah lama ingin kurahasiakan terucap. Aku menahan tangisku dan menunduk. Kedua orang tuaku terdiam memandang satu sama lain.
"Tidur, besok sekolah!" titah Papaku.
Aku menurut saja. Saat di keluar kamar, aku tak langsung masuk ke kamarku. Aku duduk di sofa dan kembali menangis tanpa suara. Memukul bahkan menjambak rambutku ke belakang. Aku tak bisa mengecewakan mereka lagi dan lagi. Aku mau, aku berhasil membuat mereka bangga dengan hasil pekerjaanku sendiri.
Setelah puas, aku ke kamar. Sepaginya aku dan kedua orang tuaku tak berbicara satu sama lain. Kecewa? Tentu, aku juga kecewa. Di antara aku dan saudaraku yang lainnya, aku lebih rendah.
Fisik? Aku yang kalah.
Harta? Aku paling banyak menghabiskan harta orang tuaku untuk bolak-balik berobat.
Sikap? Haha ... aku yang paling nakal.
Aku silit diatur, aku sulit disuruh ini-itu, dan aku sulit dimintai tolong. Semua aku lakuin, agar aku punya rasa jika orang tuaku menganggapku anaknya. Aku paling rendah, aku paling insecure, aku paling tak bisa diandalkan.
Abangku? Dia punya banyak bakat dalam musik. Keluargaku pecinta musik. Dia juga memiliki kulit putih di antara keluarga besar kami.
Adikku? Dia pintar, berambut lurus, bergigi rapi, penurut walau cerewet. Aku terkadang iri karena dia anak bontot, anak emas, anak kesayangan.
Lalu aku bagaimana?
Hah, dunia memang keras. Tak boleh mengeluh. Gagal adalah proses, tetapi menerima kenyataan sesulit menerima istana negara dari si semut. Jalani, tabah, kuatkan hati, mental, pikiran, juga fisik.
(Cerita asli yang semuanya mengisahkan sahabatku. Si frustasi, si gampang emosi, si moodyan. Jangan plagiat karena ini benar-benar aku rangkum sesuai curhatan dia padaku.)
↝↜↝↜↝↜↝↜
Third cerpen, jangan plagiat dan berikan hati yaa...
by. Missileᦗ