Titip Dia Yaa Allah adalah sebuah kalimat kepasrahanku pada sang penenti jodohku kala itu.
Aku tak tau siapa nanti yang akan menjadi imamku, pendampingku dan partner hidupku. Tak sedikit berseliweran teman pria yang mencoba mendekati ku, untuk mengenalku lebih dekat.
Namun, hatiku ternyata terpaut oleh sesosok pria kalem, dan bijaksana. Dia seorang ketua pemuda kala itu, disaat aku menjadi panitia bakti sosial dari sekolahan di kampung tempatnya tinggal.
Dan ternyata dari sana, pisauku tertinggal di kampung itu. Bermula dari situ, keakraban kami terjadi, dan berjalan kurang lebih tujuh tahun, hingga aku lulus kuliah.
Dia seorang pria dengan usia yang sudah matang, namun dia tetap setia menantiku yang masih sekolah. Selisih usia kita 10,5 tahun. Berkenalan denganku di usianya yang ke 27 tahun. Sebenarnya kau sudah memintanya untuk mencari wanita lain yang siap menikah, Tatapi dia tetap bersikukuh untuk menantiku hingga aku lulus kuliah.
Bukan hal yang mudah dilalui dua sejoli yang saling suka. Kami normal, tetapi kami terlebih dahulu sudah tau adab dan aturan hubungan lawan jenis. Hingga kami harus bersabar, tidak bisa seperti umumnya anak muda yang berpacaran. Meluapkan perasaan satu sama lain, dengan saling gandeng, saling mengucap sayang dan jalan bareng. Kami yang terlebih sudah tau aturan, kami memilih untuk menitipkan orang yang kami kasihi pada sang maha rahman dan rahim. Penjagaan kami melalui munajad do'a. Dan kami saling percaya untuk menjaga hati, hingga tiba waktunya.
Menjelang hari pernikahan, banyak godaan bagi kami antara membatalkan atau melanjutkan. Karena ada masalah administrasi di pihak calon suamiku, dan aku hampir tergoda dengan teman kuliahku yang siap menggantikan calon suamiku jika dia tidak bisa hadir.
Pernikahan digelar dengan mengundang banyak temanku. Hari pertama, malam pertama, tak seperti pengantin baru lainnya yang mengenal honymoon, atau ritual malam pertama. Kami tak merasakan hal itu. Karena kami sama-sama canggung, dan masih kaku. Kami bahkan tidak tidur sekamar. Suamiku di luar bersama kakak iparku, dan aku di dalam kamar seorang diri.
Hari berikutnya, kami sudah ingin melakukan ritual pengantin baru. Namun lagi lagi tak jadi, karena hati kami yang segan dan tak enak hati dengan saudara sekandung kami -kakakku- yang belum menikah, dan -adik iparku- yang ditinggal pulang suaminya. Kami merasa tak sanggup jika harus menyalurkan hasrat di bawah atap yang sama dengan orang yang jauh dari pasangannya.
Waktu terus berlalu, Suamiku sebenarnya seorang pria penyayang, tetapi hingga dua bulan pernikahan, rasanya aku masih seperti orang asing baginya. Karena dia masih bingung harus berbuat apa untuk menyampaikan keharmonisan sepasang pasutri, kecuali jika di ranjang. Sering menangis pula diawal-awal pernikahan, karena merasa tak diperhatikan suami, karena suami merasa canggung dengaku. Selain itu, aku sellau teringat oleh kakakku yang biasanya aku yang melayani segala keperluan nya, kini kutinggalkan dia demi mengikuti suamiku.
Hingga tiba saatnya rahimku terisi oleh segumpal darah, bernama janin. Sejak saat itu, kehidupan baru kami mulai benar-benar dari nol. Suamiku yang awalnya bekerja mapan di sebuah permebelan, memutuskan untuk resain karena bos nya mengalami kebangkrutan. Begitupun denganku yang awalnya mengajar, memutuskan keluar karena nyidam anak pertama, dimana aku sempat bed res. Dan sejak saat itu, kami hidup dengan pedoman pasrah kepada Allah ta'ala.
Kala itu, semua mas kawinku aku jual, untuk bekal hidup, sambil menunggu suami ada kerjaan lagi. Qodarullah, benar kata orang tua, bahwa anak itu pembawa rejeki. Yang menentukan rejeki anak adalah Allah. Alhamdulillah, meski kami berdua sama-sama tak bekerja, selalu saja ada rejeki untuk periksa ke bidan setiap dua pekan sekali. Entah itu dari saudara, teman yang kebetulan membayar hutang atau dari siapa pun, tetapi alhamdulillah kami tak pernah meminta kepada orang tua ataupun mencari pinjaman.
Diusia kehamilanku yang ke lima bulan, suami mendapat pekerjaan di sebuah kantor. Baru dua bulan suami bekerja, namun sudah tidak nyaman karena banyaknya sesuatu hal yang bertolak dengan hatinya. Diapun resain, dengan tanpa gaji dibulan kedua. Padahal di saat itu, kami sangat mengharapkan gaji itu untuk periksa kandungan, karena ada suatu keluhan pada kehamilanku.
Aku mengalami infeksi dijalan lahir. Hingga aku harua sering USG dan mengonsumsi obat yang cukup mahal. Alhamdulillah, juga ada rejeki untuk periksa dan menebus obat. Hingga mendekati persalinan, Hb ku turun, dan dikhawatirkan bidan akan terjadi perdarahan. Akupun dipaksa mengonsumi makanan pemompa Hb agak Hb ku normal saat persalinan. Dan dengan menyembunyikan keluhanku yang tak ku hiraukan agar suamiku tak kepikiran karena biaya.
Alhamdulillah, tiba saatnya aku melahirkan. Allah memudahkan semuanya, aku bersalin normal dengan bantuan bidan, meski bidan sempat khawatir dengan infeksi di jalan lahir yang kuderita. Babyku besar dan sehat. Dua ekor kambing telah diberikan oleh kedua orangtuaku, untuk Aqiqoh. Padahal kami pasrah, tidak bisa berqurban pun tak apa. Karena kami benar-benar tak ada tabungan untuk aqiqoh.
Kusematkan sebuah nama pada buah hatiku, dimana aku menitipkan do'a agar aku ikhlas menerima semua takdirNya, termasuk ketika suamiku didzolimi.
Alhamdulillah, kini kami sudah mampu berjalan meski masih tertatih tatih dalam biduk rumah tangga. Dua buah hati telah hadir dalam cinta kasih kami. Dam aku hanya mampu, menitipkan orang-orang yang kusayang kepada Allah.
Baarokallahufik. Terimakasih sudah berkenan membaca tulisanku.
By: Dede Dewi