Thius yang terus menerus bermain video gim, dirinya sampai lupa waktu telah hampir menunjukkan pukul sebelas malam, dimana orang-orang sudah terlelap.
Sang ibu mendatanginya, "nak, ayo tidur sudah malam ini." Pinta sang ibu dengan lembut.
"Tunggu, Bu, setelah ini baru aku akan tidur."
Sang ibu hanya bisa menghela nafas panjang, anak itu sudah mengatakan hal yang sama tiga kali. Karena tidak tahan sang ibu mengambil remote tv dan langsung mematikan tv itu, sontak sang anak langsung protes, karena dirinya sedikit lagi bisa membunuh bos akhir dari gim yang dia mainkan.
"Cepat tidur, besok kau harus sekolah, bukan?" Ucap ibunya sambil memegang pinggulnya. "Dan malam ini handphone kamu, ibu sita, ibu tau kamu suka diam-diam main handphone dikamar, 'kan?"
"Jangan dong, Bu! Aku mau naikin levelku, nanti temen aku ngajak main."
Sang ibu hanya bisa kembali menghela nafas, dirinya tau bahwa anaknya tidak memiliki seorang teman, anak itu hanya beralasan untuk bisa bermain handphone.
Thius hanya bisa pasrah, dia berjalan dengan malas kedalam kamar, sesampainya disana, dirinya langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Dirinya ingin sekali memiliki waktu luang yang banyak untuk bisa bermain gim setiap saat, mungkin jika itu terjadi dia sudah menaikan levelnya hingga tinggi, namun dirinya ditampar oleh kenyataan, waktunya habis oleh sekolah dan waktu lainnya.
Berpikir seperti itu, dirinya teringat saat dia masih kecil, sebelum tidur biasanya dia berfantasi tentang hal-hal yang mustahil terjadi di kehidupan nyata.
"Seandainya aku memiliki banyak waktu luang, mungkin aku bisa menaikkan levelku secara gila-gilaan." Ucapnya pelan, dia kemudian mengambil posisi samping berbaring dikasur.
Dia mulai berfantasi lagi, pagi tadi dirinya menonton anime, dimana ada satu karakter yang dia sukai, karakter itu seperti wanita yang sudah menikah, memiliki perawakan tubuh tinggi dan tegas, mungkin itu dikarenakan dirinya menyukai karakter wanita yang berumur lebih tua dari dirinya. Dirinya juga membandingkan karakter itu dengan ibunya, perbedaannya cukup jauh, sang ibu memiliki sifat penyayang dan lembut, memiliki tubuh pendek, bahkan tingginya hanya semata dirinya.
Kini dirinya berfantasi tentang hal lain, kini tentang dunia ini, menurutnya dunia ini cukup kacau, walaupun tidak ada kerusuhan atau perang, namun polusi ada dimana-mana, orang-orang mementingkan diri mereka sendiri. Seandainya dunia ini tidak seperti itu, mungkin dunia ini jauh lebih baik. Dan tambah dengan unsur sihir, mungkin dengan adanya sihir hidup orang-orang jadi lebih mudah, dan tidak merusak lingkungan, atau menambah polusi.
"Hah... Seandainya saja hal itu terjadi, iya 'kan? Aldi? Alya?" Tanyanya pada kekosongan.
Aldi dan Alya adalah teman khayalan yang Thius buat, karena dirinya tidak memiliki seorang teman, entah itu di dunia nyata ataupun di dunia maya.
Kedua teman itu dia buat adalah anak kembar tidak identik, mereka selalu bersama dengannya setiap saat. Aldi memiliki sifat aktif dan kadang ceroboh, sedangkan Alya memiliki sifat pendiam namun bisa diandalkan, ditambah keduanya memiliki kepedulian pada sekitar mereka. Dirinya berharap akan ada orang-orang seperti mereka diluar sana untuk menjadi temannya.
"Huh?! Sudahlah buat apa coba, berkhayal tidak jelas seperti itu, lebih baik aku tidur." Thius menutup kedua matanya, dan memasuki dunia mimpi.
Pagi hari matahari berada di langit menyinari semua yang ada dibawahnya. Dikamar Thius, dirinya tengah tertidur pulas, tak lama alarm berbunyi, dirinya hanya mematikan alarm itu dan kembali tidur.
Tak lama pintu kamar Thius dibuka paksa, ibunya yang datang menghampiri Thius yang tengah tertidur pulas, "hei!! Bocah?! Bangun!! Mau sampai kapan kau tidur?! Kau pikir kau ini adalah snow white apa?!"
Thius yang awalnya tidur, merasa risih akibat bentakan ibunya, dirinya juga menyadari sesuatu yang aneh, ibunya tidak memiliki sifat suka membentak. Maka dari itu Thius memutuskan untuk bangun, "baik-baik aku bangun, ibu sudah pu–"
Kata-kata Thius terhenti saat melihat ibunya sendiri, dirinya seperti melihat orang lain, matanya tidak salah lihat 'kan? Ibunya mengenakan pakaian kantor ketat, dengan rok selutut, ditambah tinggi tubuh ibunya naik drastis dan jangan lupa model rambut ibunya yang berubah. Dirinya seakan melihat karakter wanita kesukaannya sendiri, namun wajahnya adalah wajah ibunya. "I-ibu makan apa sampai jadi tinggi seperti itu?"
"Hah...?! Kau ini ngomong apa?! Jelas-jelas ibu sudah seperti ini?! Ibu suka ikut fitness, rajin ke gym dan olahraga dan terus diet." Jawab ibunya.
Thius tambah terdiam, itu adalah hobi yang biasa dilakukan oleh sang karakter, dirinya suka melakukan olahraga setiap saat.
Melihat Thius yang masih terdiam, sang ibu langsung memukul kepalanya, "cepatan beranjak?! Ini udah kesiangan tau!?"
Thius yang sadar langsung dan buru-buru mandi, degan secepat kilat Thius langsung sudah bersiap, dan tidak lupa dia menghabiskan roti isi yang sudah disiapkan oleh sang ibu.
"Aku berangkat."
"Hati-hati dijalan." Sahut ibunya dengan senyuman yang Thius belum lihat, dan jujur itu senyuman terbaik yang belum pernah ibunya tunjukkan pada dirinya.
Thius kemudian menarik kenop pintu, dan membuka pintu, namun dirinya terkejut dengan sesuatu yang tiba-tiba lewat didepannya, yang langsung menutup pintu kembali. "I-ibu ada yang terbang!!"
Sang ibu hanya menatap malas pada anaknya, tingkah anaknya sudah aneh saat bangun tidur, "hah?! kau ini mimpi apa? Jelas-jelas itu karena sihir bodoh?! Bahkan anak berusia 3 tahun saja tau akan hal itu." Ucap ibunya.
"Si-si-sihir?!" Thius langsung membuka pintu rumahnya, dan melihat keatas, mata terkagum dengan apa yang dia lihat, banyak orang-orang menaiki sapu terbang, pakaian mereka juga seorang pakaian sihir dengan desain casual.
Melihat Thius belum berangkat, ibunya yang kesal langsung mengambil tongkat sihirnya dan menembakkan pada Thius yang masih berdiri di teras rumah.
"Ukkhh!!" Thius yang terkena serangan itu, membuat dirinya terlempar hingga gerbang rumah, punggung sakit akibat serangan mendadak itu.
Dirinya yang tengah tertidur dijalan, tak lama dua orang mendekati dirinya.
"Astaga, dia seperti ini lagi." Ucap orang yang mendatangi Thius, dari suaranya itu seperti seorang anak laki-laki.
"Huh?! kau ini bagaimana sih? Bukannya dibantu malah hanya nge-bacot aja." Satu orang lainnya seperti seorang anak perempuan, terdengar dari suaranya yang ringan dan nyaring.
Mereka kemudian membantu Thius berdiri, "terima kas–" lagi-lagi Thius dibuat diam, kini ada dua orang didepannya, dan mereka adalah Aldi dan Alya, itu sungguh mereka.
Kepala Thius seperti berputar, dirinya masih kebingungan dari tadi pagi, dimulai dari ibunya, sihir, kini adalah teman khayalan nya kini menjadi nyata. Dari semua ucapan yang ada di kepalanya, Thius hanya bisa mengeluarkan satu kata."Eh?"
Semuanya benar-benar jadi kenyataan, apa dewa tengah mengerjainya sekarang? Semua mimpinya menjadi kenyataan, dimulai ibunya yang seperti karakter favoritnya, adanya sihir dan lingkungan yang bersih, dan kini teman khayalannya kini berdiri didepannya.
"Thius?"
"Dia kenapa?" Aldi dan Alya kebingungan dengan Thius yang tiba-tiba mematung, wajahnya pucat dan berkeringat dingin.
"APA-APA INI!!????" Teriak Thius hingga menembus langit ketujuh.