Aku begitu gembira menerima kabar dari pacarku. Ia akan pulang dari luar kota setelah beberapa bulan kita tidak bertemu. Rencananya besok malam ia akan melamar ku. Antara senang bercampur takut. Aku pacaran dengan Juna secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuaku. Padahal selama pacaran kita juga tidak pernah bertemu. Tapi memang sejak awal kedua orang tua ku tidak setuju, terutama Ibu.
"Ibu nanti malam Mas Juna mau main ke rumah?" Ucapku pada Ibu saat berpamitan untuk berangkat kerja.
"Mau apa dia kesini Nak? Apa tidak ada laki-laki lain selain Juna?" Ucap Ibu sedikit marah saat mendengar nama Mas Juna aku sebut.
Aku buang napas kasar. Entahlah apa alasannya kenapa Ibu tidak suka dengan Mas Juna. Kalau ditanya hanya bilang tidak suka.
"Hanya ingin silaturahmi Bu." Jawabku sedikit lesu karena sudah menerima penolakan dari Ibu. Bagaimana aku menjelaskan kepada Mas Juna.
" Lagian bulan ramadhan kita tarawih sampai malam, terus mau ke rumah jam berapa?"
"Mungkin habis tarawih Bu."
"Baiklah, nanti Ibu sampaikan sama Bapak."
"Makasih ya Bu." Aku langsung memeluk Ibu dengan erat. Seperti mendapat angin segar mungkin, Ibu bisa berubah pikiran.
Sore ini aku mau buka puasa bersama Mas Juna. Maksudku memang menyampaikan pesan dari Ibu, bahwa Mas Juna boleh datang ke rumah setelah selesai sholat tarawih.
Aku sudah menunggu Mas Juna di warung makan sederhana di dekat tempat kerjaku.
"Sudah lama menunggu Dek?" Sapa Mas Juna kepadaku saat mendudukkan tubuhnya.
"Belum Mas, barusan kok."
"Ibu bagaimana? tidak apa-apa kalau Mas datang?"
" Semoga saja ya Mas." Ucapku lesu walaupun sebenarnya aku sudah tahu jawabannya. Tapi aku tidak ingin mengecilkan hati Mas Juna. Bukankah cinta kita layak untuk di perjuangan.
Malam hari waktu yang tunggu kami pun tiba. Aku bersama Mas Juna mengetuk pelan pintu rumahku. Sungguh hatiku tidak sanggup nanti melihat penolakan orang tuaku kepada Mas Juna. Bukan aku tidak pernah menyampaikan padanya, tapi Ia ingin memperjuangkan ku begitulah jawabannya.
"Assalamualaikum?" Ucapku sambil membuka pintu ruang tamu rumahku.
"Wa alaikum salam." Jawaban Bapak terdengar dari dalam rumah.
Aku berjalan beriringan dengan Mas Juna. Rasa takut menyelimuti hatiku. Apa yang akan terjadi nanti? Aku takut akan melukai keduanya.
Kamu duduk bersebelahan. di kursi panjang berbahan kayu jati, di sebrang ada Bapak dan Ibu. Kami seperti sedang di interogasi saja pikirku dalam hati.
" Saya kesini ingin melamar Rara Pak? mohon Ibu dan Bapak merestui kami?" Ucap Mas Juna setelah tadi menanyakan kabar orang tuaku.
" Maaf Nak Juna, Bapak tidak bisa memberikan restu."
Mas Juna menunduk, Ia sudah tahu jawabannya tapi di tolak secara langsung bukankah beribu kali lipat sakitnya. Cairan bening sudah menggenang di sudut mataku.
"Baiklah kalau Bapak tidak menerima saya. Sebenarnya saya sudah tahu dari Rara, tapi sebagai seorang pria sejati, saya harus menyampaikan kepada Bapak dan Ibu langsung maksud saya serius kepada anak Bapak dan saya menerima penolakan Bapak."
"Iya, maafkan kami Nak. Semoga kau mendapat jodoh yang lebih baik dari Rara."
"Terimakasih Bapak, kalau begitu saya pamit ya?" Mas Juna segera keluar, sesaat setelah berpamitan dengan orang tuaku.
Setelah satu bulan berlalu, aku tidak bertemu ataupun berhubungan dengan Mas Juna. Kami menjalani kehidupan masing-masing.
Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku mendengar kabar kalau Mas Juna di rawat di Rumah Sakit sudah satu minggu lamanya. Aku memang sudah tidak berhubungan lagi dengannya. Tapi kenapa keluarganya mendatangiku karena Mas Juna sakit. Ya Allah apakah ini gara-gara penolakan orang tuaku. Bukankah Ia menerima dengan lapang. Kenapa sekarang aku mendengar ia sakit.
Diam-diam aku selalu mendatangi Mas Juna di rumah sakit. Setiap sore pulang kerja aku selalu menjaga Mas Juna, dan tentunya aku berbohong pada Ibu kalau aku sedang lembur. Aku merasa bersalah atas apa yang menimpa Mas juna.
Dan serapat apapun kita menyimpan bangkai pasti akan tercium juga bukan. Ibuku akhirnya tahu kalau aku masih berhubungan dengan Mas Juna. Tentu saja aku tidak pernah melihat Ibu marah seperti ini.
"Rara! kenapa kau bohong sama Ibu? Alasan lembur ternyata kau setiap hari menemui Juna?"
"Maaf Bu." Hanya kata itu yang terucap dari mulutku.
Ibu mendiamkan ku, apapun yang ku lakukan untuknya selalu di tolak. Termasuk malam ini, aku bawakan makanan kesukaan ibu. Tapi sedikit pun beliau tidak menyentuh nya.
Antara aku harus memperjuangkan cintaku? Atau aku melepasnya demi Ibuku. Sungguh berbeda sekali ramadhan tahun ini. Bolehkah aku minta keduanya Ya Allah.
Tengah malam aku terbangun, aku lewat kamar Ibu. Ada suara isakan tangis yang yang siapapun mendengarnya akan ikut menangis. Aku tidak tahu apa yang di tangis Ibuku. Bukankah Ibu tidak ada masalah dengan Bapak. Apakah aku yang membuatmu sedih ibu.
Pagi harinya aku menemui Mas Juna. Aku benar-benar memutuskan hubungan dengannya. Karena aku akan tetap memilih ibuku. Hanya kata maaf yang terucap saat aku menemui Mas Juna.
"Maaf Mas, kita tidak bisa bersama, memang kita tidak berjodoh. Tolong maafkan aku." Ucapku sambil menangis. Lalu aku tinggalkan Mas Juna yang masih duduk di bangku taman.
Malam harinya aku memberanikan diri bicara kepada Ibu.
"Kenapa Ibu mendiamkan aku?" Ucapku yang sudah menangis.
"Bagaimana tidak ibu mendiamkan mu? kau berbohong kepada Ibu. Apa kau mau memilih Juna di bandingkan orang tuamu Rara!"
Ku geleng kan kepalaku. "Tentu saja tidak bu, maafkan Rara."
"Kau tahu Rara, sebenarnya Ibulah yang lebih sakit karena mendiamkan mu. Di bulan ramadhan yang penuh hikmah ini. Seorang ibu marah kepada putrinya. Hati ibu lebih sakit Nak. Karena kau berbohong kepada Ibu."
"Maaf Bu. Rara janji tidak berhubungan lagi dengan Mas Juna."
"Baiklah, Ibu pegang kata-kata mu.
" Iya Bu. Kau segalanya untukku."
Bagaimana aku bisa memilih seseorang yang belum tentu akan mencintaiku sampai akhir Bu, sementara dirimu yang sudah jelas banyak berkorban untukku.
Sedihku akan terhapus waktu ibu, sedangkan aku melihatmu sedih ibarat akhir dari segalanya untukku.
Ramadhan tahun ini menjadi berkah untukku, mengajari aku bagaimana memilih. Memilih cinta dari seseorang yang mungkin sesaat, atau cinta kasih seorang ibu untuk anaknya yang ia berikan sepanjang usianya.
Ibu segalanya untukku ❤️