Aku liora terlahir di keluarga bangsawan, ayah ku adalah orang yang ahli dalam beladiri. Sejak umur ku memasuki usia 5 tahun aku sudah di ajarkan untuk menguasai teknik beladiri bagian dasar. Setelah aku memasuki usia dewasa aku di jebak, aku di kira telah melakukan hal hal yang menjatuhkan harga diri keluarga ku, hingga aku di keluarkan daru daftar nama keluarga ku. Aku hidup sendiri dan bertahan hidup tanpa bantuan siapa pun.
15 tahun telah berlalu, aku hidup bersama dengan putra ku yang sekarang sudah berusia 5 tahun, yah selama ini teman ku yanran telah bersama ku menjalani hidup bersama di rumah yang sederhana bersama dengan putra ku.
Anehnya aku tidak tahu apa yang telah terjadi saat aku telah melahirkan, ada hal yang menjaggal di pikiran ku, yanran pun sudah berusaha mencari kebenarannya tapi semuanya tetap sama saja. Aku tetap berfikir positif, tujuan ku saat ini adalah membesarkan putra ku dengan baik.
"Kei sayang ayo makan"ujar Liora memanggil Kei duduk untuk makan.
Kei berlari bersama dengan Yanran ke meja makan menemui Liora yang tersenyum hangat menyambut mereka di meja makan.
"Bagaimana dengan sekolah anak ibu? "Ujar Liora menyuapi Kei dengan lembut.
"Berjalan lancar kok mah"ujar Kei makan dengan gembira.
"Wahhhhh anak mamah memang hebat yah"senang Liora.
Kei mencium Liora dengan lembut"Kei akan berusaha membahagiakan mamah, akan Kei buktikan kalau kakek nenek itu, bahwa mamah tidak mudah untuk di tindas"ujar Kei bersemangat.
Liora tersenyum bangga "hal seperti itu nanti saja, mamah bisa membalas mereka, tapi bukan saanya saja kok, Kei fokus sekolah saja"ujar Liora menasehati.
"Baik mah"nurut Kei.
"Anak pinter"Liora mencubit pipi munggil Kei.
Di sisi lain Yanran menatap kesal Liora yang tengah menumpahkan kasih sayangnya pada Kei tanpa memperhatikan bahwa Yanran masih ada di sana.
"Ahemmmmm"batu Yanran.
"Mamah angkat tidak di cium nih"ngambek Yanran.
"Mama angkat juga yang terbaik"ujar Kei melompat ke pangkuan Yanran.
"Sudahlah, ayuk pergi sekolah, kali ini mama angkat yang antar yah"ujar Yanran tersenyum hangat.
"Baik"ujar Kei bersemangat.
"Maaf sudah membuat mu repot Yanran, jika kau tidak ada mungkin aku sudah tidak dapat bertahan bersama dengan Kei"tangis Liora.
"Bicara apa kau ini! Aku adalah teman mu kita sudah bersama sejak kecil bukan? Anak mu juga adalah anak ku, meski aku juga harus mengakui bahwa aku membenci keluarga ku yang juga memaksa ku untuk menjadi penerua bisnis keluarga"ujar Yanran kesal.
"Karena itulah aku meminta maaf, jika dari awal aku tidak mengenal mu kau juga tidak akan terseret ke dalan masalah ini bukan? "Ujar Liora menyesal.
"Jangan menyesali hal yang telah berlalu, soal masalah ku aku bisa mengatasinya, yang harus kau pikirkan sebagai ibu adalah masa depan anak mu, aku hanya bisa mendukung keputusan mu saja sebagai saudara"ujar Yanran menenangkan Liora.
"Terimakasih Yanran"tangis Liora.
"Oke, sudah sudah, nanti kau terlambat kerja loh, aku juga harus mengantar Kei ke sekolah, kau berhati hatilah di jalan menuju tempat kerja"ujar
Yanran menarik lengah munggil Kei keluar menuju mobil.
Liora mengusap air matanya, ia beruntung mendapatkan teman yang benar benar mengerti soal dirinya dengan baik dan membantunyaa membesarkan Kei dengan senang hati.
Kedua orang tua Yanran juga menerima keberadaan Liora dengan senang hati bersama dengan putranya Kei, tapi karena merasa keberatan Liora memutuskan untuk hidup dengan usahanya sendiri tapi Yanran dengan keras kepala tetap ingin membantu Liora dengan alasan Kei, jadi Liora terpaksa menerimanya saja.
Liora kini berangkat ke perusahaan untuk mendaftarkan diri sebagai departeme pemasaran di sebuah kantor paling berpengaruh di dunia, produknya begitu laris setiap bulannya. Dengan kerja di sini Liora bisa membiayai kehidupannya dengan Kei tanpa bantuan Yanran lagi.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya giliran Liora untuk menyerahkan dokumen kerjanya sebagai anggota departemen pemasaran kepada staf di sana.
"Baik, tunggu informasi dari kami di email anda setelah jam 8 malam"ujar staf itu.
"Terimakasih"ramah Liora.
"Semoga beruntung"ramah staff itu.
Liora mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan itu, ia merasa sedikit tertekan akan keputusannya setelah melihat begitu banyak orang yang mendaftar di bidang yang sama dengannya, mungkin ada puluhan.
Liora memutuskan untuk datang ke toko puding di sebelah kantor di mana ia mendaftar, puding adalah makanan favorit Liora di saat dia sedang stress.
dengan senang hati Liora memesan dua puding dengan sara yang sama yaitu coklat, sejak ia ada di keluargannya ia di larang keras untuk memakan cemilan yang manis.
"Pesanan anda akan segera datang tunggu sebentar yah"ujar pelayan itu pwrgi setelah mencatat pesanan Liora.
"Kakak pelayan juga yang semangat yah kerjnya"ujar Liora menyemangati.
Pelayan itu tersenyum hangat lalu pergi setelah membungkuk pada Liora.
"Ternyata dia orang korea yah"ujar Liora tersenyum.
Liora duduk sambil melihat ke arah luaran jendela karena bosan, tanpa sengaja Liora melihat di atas sebuah gedung ada seseorang yang memegang senapan yang mengarah ke seorang pria yang tengah sibuk membaca dokumen.
Melihat hal ini Liora mengamati gerakan orang yang ada di atas gedung, setelah benar benar yakin Liora berlari ke arah pria itu membengkapnya ke dalam pelukannya.
DORRRRRRRR
Suara tembakan terdengar keras di sekitaran area itu. Liora dengan senyuman hangatnya menayap pria itu dengan serius.
"Ada yang ingin membunuh mu"ujar Liora memeluk Pria itu.
"Apa yang kau lakukan? "Ujar Pria itu panik.
"Tenang saja, aku tidak akan mati, coba lihat di punggung ku ada apa? "Ujat Liora tertawa terbahak bahak.
"Syukurlah kau tidak mati karena tembakan"ujar pria itu.
"Semuanya keluar dari tempat ini, setelah kalian ada di tempat yang aman segera telepon polisi terdekat"ujar Liora.
Semua pengunjun meninggalkan tempat itu menggunakan pintu belakang yang di pandu oleh pelayan toko itu. Liora jugaa keluar tapi tidak menggunakan pintu yang sama karena jika ia menggunakan pinth yang sama oramy yang melewatinya akan terkena peluruh itu.
Liora mengambil ponselnya dan menyuruh Pria itu untuk menelpon polisi secepat mungkin sedangkan Liora mengamati sekitarnya untuk memastikan tempat persembunyian mereka aman.
"Gawat, pasti orang itu menghubungi teman temanya, tidam ada waktu lagi"ujar Liora berfikir keras.
"Kau, kenapa kau membantu ku? "Tanya Pria itu.
"Aku mana mungkin membiarkan mu mati, lagian menyelamatkan nyawa seseorang itu bukannya perbuatan yang mulia? "Ujar Liora tersenyum hangat.
"Kau selalu tersenyum di situasi apa pun yah? "Ujar pria itu duduk di dekat Liora.
"Benarkah? Aku tidak menyadarinya, siapa kau sebenarnya? "Ujar Liora.
"Aku? Rahasia"ujar pria itu.
"Baiklah, tidak masalah"ujar Liora kembali mengamati sekitar.
Seseorang datang ke dekatnya dengan membawa pistol mencari ke sekitaran lorong lorong di mana Liora tengah bersembunyi. Baru saja Liora ingin memukul kepala orang itu tapi dia di tahan oleh pria itu.
Pria itu mengeleng ngelengkan kepalnya, Liora mengangguk setuju mengetahui arti dari rencana pria itu.
Orang yang membawa senjata itu akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua
"Syukurlah tadi kau menahan ku"ujar Liora menghela nafas lega.
"Jika kau tadi memukul kepalanya, kau akan tertembak lagian tidak ada jaminan kalau kau akan menang melawan orang yang memegang senjata jarak jauh"ujar pria itu.
"Benar, selain itu aku rasa tadi itu jebakan agar kita keluar, lebih baik kita tidak meninggalkan tempat ini dulu, ada kemungkinan mereka akan ada di sekitaran sini, mungkin saja sedang mengawasi tempat ini"ujar Liora mengertak kan giginya.
"Tenanglah, oramg orang ku akan membereskannya"ujar pria itu.
"Oh iya nama mu siapa? "Tanya Liora penasaran.
"Baiklah, nama ku Kiron semoga aku bisa berjumpa dengan mu lagi setelah ini"ujar Kiron.
"Aku juga berharap seperti itu"ujar Liora tersenyum hangat.
Beberapa saat kemudian
"Maaf kan kami yang terlambat tuan"
"Tidak masalah, tolong antar nona ini sampai dia kembali ke rumahnya, jangan biarkan mereka menyakitinya"ujar Kiron.
"Baik tuan"
"Ternyata bangsawan yah? "Ujar Liora.
"Benar, maaf merepotkan mu"ujar Kiron.
"Sebainya kau membawa pengawal untuk menjaga keselamatan mu, aku yakin mereka akan kembali lagi untuk menyerang mu, berhati hatilah"ujar Liora pergi.
"Terimakasih, akan ku balas nanti jasa mu"batin Kiron.
Ponsel Kiron tiba tiba berdering
"Hallo papa! Apa papa baik baik saja? "Cemas Meisha.
"Yah, papa baik baik saja, kau tunggu saja di ruangan kantor ku"dingin Kiron.
"Hemph.... Kau jahat"ngambek Meisha.
Sambungan telepon akhirnya berakhir dengan tidak baik.
"Wanita tadi begitu memiliki sifat yang cukup sama dengan orang yang ku kenal"batin Kiron.