Aku sudah menikah,,aku menikah saat usiaku masih 17 tahun,sekarang aku mempunyai seorang anak laki-laki yang usianya 4 tahun...
menjalani hubungan suci pernikahan pada awalnya ku pikir gampang gampang saja,berfikir setiap proses bisa teratasi dengan mudah,masalah ekonomi aku sunggu tidak terlalu terfikirkan karnah waktu itu yang terpikirkan olehku asalkan bersamanya semua akan terasa indah...
seiring berjalannya waktu,pikiran yang awalnya hanya mengandalkan kebersamaan akan terasa indah ternyata hanya seperti angan,menjalani rumah tangga tak hanya di alaskan dengan Cinta "KARNA CINTA TIDAK MEMBERI MAKAN"
masalah sering datang dalam kehidupan rumah tanggaku,tahun tahun berganti anak kami makin besar sekarang yang menjadi tujuanku adalah memiliki rumah dan menetap di satu daerah agar kami tidak selalu bepergian,suamiku bukan berasal dari daerahku tapi dari daerah yang jauh,Ia hanya tinggal mempunyai orang tua tunggal yaitu seorang ibu karnah itulah kami selalu bepergian dan tidak menetap di satu tampat,makin kesini saya makin berfikir,,,Apa seunur hidup hanya akan kesana-kemari ?? saya jujur tidak mau tinggal di tempat suami,diapun sama,bukan tanpa sebab saya tidak mau tinggal di tempatnya saya mempunyai alasan sendiri,perlakuan mertua saya yang membuat saya tidak bisa bertahan tinggal di daerahnya,sakit batin itu masih teringat jelas,perlakuan memalukan yang di lakukan masih teringat jelas dalam memori otakku,aku memang seorang yang suka menyimpan masalah akan ku kenang selalu perbuatan mereka....
anakku mulai sekolah,aku memutuskan membuat surat KK DAN AKTA KELAHIRAN,Kartu keluarga hanya berisikan nama kami berdua,aku dan putra kecilku,serta surat AKTA KELAHIRAN putraku di bantu oleh ibuku,,aku mulai berpikir mungkin aku hatus mulai berdiri sendiri demi masadepan anakku kekecewaan mulai datang pada hatiku,aku kecewa kenapa dia tidak bisa mengerti demgan diriku ??! aku selalu berusah mengerti keinginannya apapun yang dia inginkan aku selalu menurutinya walau hal itu sebenarnya tidak pernah aku sukai sekalipun,,biar saja di katakan aku Egois,tapi dia memiliki lima orang kakak karnah suamiku yang bungsuh,lalu kenapa harus dia yang,mengapa selalu dia,aku mau dia ikut tinggal bersamaku membuat rumah untuk keluarga kecil kami dan hidup bahagia itulah keinginanku,bukan aku tidak menghormatinya,bukan juga aku tidak menyayangi orang tuanya,tapi sunggu berat untukku jika harus mengikuti keinginannya karnah sejak awal dia mengatakan akan mengikuti kemanapun aku mau,ria berjanji pada orang tuaku...
sekarang dia mulai berkerja di salah satu perusahaan,dia merantau aku dan putraku menetap di desaku,waktu itu kererakan rumah tanggaku mulai terasa,hatiku merasa sunggu tidak tenang entahlah,aku merasa dia seperti melakukan sesuatu yang tidak kusukai,,setiap ku tanya dia tidak menjawab,akhirnya kami selalu berakhir dengan bertengkar satu bulan bekerja dia tidak pernah mengirim uang karanah dia tidak menerima upah kerjanya begitulah yang dia katakan kernah menurut perusahaan,,aku tidak mengambil pusing,walau begitu setiap kami bertengkar dia yang selalu minta maaf duluan dia selalu sabar menghadapi setiap kemarahaanku,,4 bulan bejerja dia menyuruh kami berdua untuk datang menemaninya di sana,awalnya aku tidak mau karnah merasa nyaman dengan orang tuaku selain itu banyak perhitungan yang ku lakukan biaya hidup dan lain sebagainya karna di sana di hanya tinggal ngeKost tapi dia selalu memaksa akhirnya kami berdua berangkat kesana,,
setibanya di sana,dua hari disana aku di kagetkan dengan Hutang yang di milikinya,,oh Tuhan rasanya aku mau menghajarnya,mau memaki tapi dia suamiku,padahal aku sudah mengatakan padanya jangan boros,tapi apa,dia mengirimkan uang pada kami pas-pasan tapi uang yang di pakainya sendiri membuatku ingin menerkamnya,,aku masih bisa sabar aku ikhlaskan semuanya,,sua hari aku membersikan kamar kami,aku menemukan slip gaji nya aku melihat berapa jumlah uangnya,karnah dia hanya mengirimkan foto slip gajinya hanya sekali lalu berikutnya setiap ku tanya dia selalu mengatakan sudah hilang entah jatuh dimana dan alasan lainnya,akupun tidak mempermasalahkannya karnah yang ku pikirkan dia yang bekerja itu uangnya aku merasa tidak pantas menanyakannya walau aku istrinya...
saat duduk dengan teman-teman baruku,mereka banyak bercerita tentang suamiku di situ perasaan kecewaku semakin besar,ingin rasanya aku menangis tapi ku tahan,sunggu suamiku begitu tega dia memboroskan uangnya untuk keponakan lakii-lakinya yang juga bekerja satu perusahaan dengannya tapi pelit terhadap anak dan istri,aku masuk di dalam kamar menahan rasa sesak,aku membuka dompetnya aku mengambil kartu ATMnya dan di situ ku lihat nomor pun yang tertampel di kartu aku berfikir jika tertampal seperti ini hanya pada kartu yang tergadaikan aku ingat betul karnah aku pernah melihat saudaraku melakukan seperti itu saat ada orang yang meminjam uang padanya dengan jaminan ATM gaji,aku tidak dapat menahannya lagi aku menangis mengapa dia membohongiku ?? pikiran-pikiran buruk pun mulai muncul,ketika malam dia pulang aku diam saja tidak menanyakan soal kartu atm tersebut karnah aku bergifikir dia baru pulang kerja...
besok paginya setelah selesai memasak kami bertiga sarapan habis sarapan aku mulai bertanya padanya mengenai atm tersebut dan dia menjawab dengan jujur kalo memang dia habis menggadaikan ATM nya Oh Tuhan kemarahanku tidak tertahankan lagi aku bertanya untuk apa ? dan apa yang dia katakan !! di MEMBANTU KEPONAKANNYA,,anjng ingin sekali ku Cekik lehernya ku picahkan kepalahnya kenapa selalu mengutamakan orang lain tapi anak istrimu kau terlantarkan,aku hanya menegurnya singkat lalu aku mendiamkannya biarlah terserah dia mau melakukan apapun qku tidak perduli sekarang di fikiranku aku harus bisa menghasilkan uang sendiri agar dia tau aku tidak bergantung hidup hanya padanya karnah bukan baru sekali dia melakukan itu bahkan fia pernah membiarkanku kelaparan dan lebih memilih membelikan makanan pada keponakannya...
tapi seiring berjalannya waktu,rumah tanggaku berjalan seperti biasa dia perlahan kelakuannya mulai berubah tidak seperti waktu lalu,aku pernah meninggalkannya tapi akhirnya kami bersama kembali 🙂🙂
sekarang dia mau mengikuti apapun yang ku katakan bahkan dia sendiri yang mengatakan bahwa akan menetap di manapun ku mau,aku sempat berpikir mungkin lebih baik Bercerai saja,tapi ya Tuhan mengingat semua kenangan indah kami aku kembali berpikir,aku mencobah bertahan setidaknya untuk malaikan kecil kami 😘
itulah perjalanan rumah tanggaku 🙏