assalamualaikum...
sapa seorang laki laki muda kepada orang orang yang berada didalam majelis sore itu.
waalaikusalam..
jawab hadirin yang hadir disana.
"Eh nak Azam kapan kembali kesini"sapa seorang laki laki tua yang tampak sangat berkharisma meski usianya sudah tak muda lagi.
"kemaren abah,gimana khabar abah sekarang?"
"Alhamdulillah,abah masih diberi umur panjang oleh Allah.SWT"
"amiin"
"bagaimana kuliahmu di Mesir sudah selesai?"
"belum abah insyaallah tahun depan abah"
"syukurlah,ayo duduk disini bareng yang lain untuk membaca Alqur'an"
"iya,abah"jawabku sambil duduk disamping Abah syaifudin,mendengarkan para santri santri muda sedang mengaji
"banyak sekarang santrinya bah,"
"Alhamdulillah,ada generasi penerus setelah kalian,"jawabnya.
aku jadi teringat kenangan 5 tahun lalu saat aku,imam,fikri dan abdilah belakar di pondok milik abah syaifudin saat itu suasana pondok masih sunyi belum serame saat ini,tapi kami sangat bersemangat untuk menuntut ilmu agama pada beliau,karena beliau termasuk guru ngaji yang disegani di sini.
"kalian berempat masih selalu berhubungankan "
"masih abah,mereka bertiga sudah mendahului saya untuk sukses lebih dulu"jawabku.
"jangan khawatir setiap orang akan sukses diwaktu mereka masing masing."
"iya abah"
*****
"Assalamualaikum....
sapa seorang perempuan muda yang mengenakan busana muslim lengkap dengan cadar menutupi wajahnya.
"Waalaikumsallam..
jawab kami berdua,
"azzam kau sama putri abahkan"
aku mencoba mengingat ingat seperti apa anak abah syaifudin dulu.
"maaf abah, ini putri abah"
" iya ini aisyah yang sering ikut kalian kemana mana"
"masya allah,dudah besar sekarang kataku sambil menatap perempuan didepanku sekilas.
"aisyah apa khabar,"tannyaku menyapanya.
"alhamdulillah baik abang"jawabnya menyebutku dengan panggilan yang sama seperti dulu.mungkin kalau dulu aku tidak merasakan peradaan apa apa tapi saat sekarang kami sudah sama sama dewasa dia memanggilku dengan sebutan itu,ada rasa berdesir dihatiku mendengarnya.
******
sejak pertemuan kami sore itu kami jadi sering bertemu walau hanya untuk membantu abah mengajar mengaji di surau pondok.
Tanpa kusadari aku selalu menantikan saat saat singkat itu.
Ada rasa berdesir indah saat mendengar suara aisyah melantunkan ayat ayat suci Alqur'an untuk mengajar para santri.
terbersit keinginan dihatiku setiap kali kami bertemu untuk mengutarakan perasaanku yang mulai mengaguminya.tapi aku merasa ragu dan mengurungkan kembali niatku itu.
*******
sampai tidak terasa waktuku liburku sudah habis,dan mau tidak mau aku harus kembali ke Mesir untuk melanjutkan studiku.
"sudah kau siapkan semua yang akan kau bawa Azzam"tanya ummi malam itu sebelum aku berangkat esok pagi.
"insyaallah sudah umi,jawabkuagak lesu
"kenapa sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu"tanya umi padaku.
"tidak ada umi,azzam baik baik saja ko,"jawabku berusaha menyembunyikan perasaan resahku.
"umi ini ibumu azzam wanita yang telah melahirkanmu,jadi umi bisa merasa kalau putranya sedang punya masalah"jawabnya.
""benar umi azzam baik baik aja"kataku bekeras tidak mau mengatakannya.
"Azzam ceritalah pada umi beri umi kesempatan untuk mendengarkan keluh kesahmu sebelum itu semua kau katakan pada pasangan hidupmu kelak"katanya,membuat aku merasa semakin sesak didada.
"umi bolehkah azzam jujur,pada umi"tanyaku sambil menggengam tangan wanita pertama yang kucintai itu.
"katakanlah"jawabnya dengan lembut.
"umi bisakah umi dan abi datang kerumah abah syaifudin untuk memintakan aisyah buat azzam"tanyaku dengan memohon.
"sudahkah engkau yakin dengan apa yang kau katakan,"
"insyaallah umi,azzam ingin menjadikan aisyah sebagai bidadari surgaku kelak"kataku dengan yakin baiklah kalau kau sudah yakin mari kita pergi ketempat abah syaifudin untuk bertanya langsung pada beliau,apakah beliau iklas menyerahkan putrinya.
"terimakasih umi"kataku sambil memeluk perempuan yang sangat kucintai itu.
*****
malam itu kami pergi kerumah abah syaifudin,untuk bertemu beliau dengan maksud untuk meminang Aisyah langsung,karena aku tidak ingin menundanya lagi.
sampai disana kami disambut dengan hangat oleh abah syaifudin,kami lansung menyatakan niat baik kami untuk meminang Aisyah,kupikir abah syaifusin pasti menyetujui niatku tersebut,tapi ternyata jawaban beliau menolaknya.
saat aku mendengar kata penolakan dari mulut beliau hatiku sangat hancur,impian indah yang kubangun beberapa saat lalu langsung hilang.
dengan lesu aku kembali kerumah,semangat hidupku seakan pupus.
tok...tok...
"azzam umi masuk ya"
"masuklah umi pintunya tidak dikunci,kataku dengan malas.
"kenapa?"
"tidak papa umi,hanya merasa tidak enak saja"
"azzam,bolehkah umi bertanya padamu"
"apa umi"tanyaku masih dengan posisi menelungkupkan badan diatas kasurku"
"tuluskah perasaanmu pada aisyah"
"apa maksud umi,tentu saja aku tulus kalau tidak aku tidak meminta umi dan abi untuk meminangnya".
"kalau kau tulus apakah kau akan menyerah hanya karena penolakan dari abah syaifudin"
"maksud,umi"
"berjuanglah,buktikan kesungguhanmu pada aisyah agar hati abahnya luluh"
"tapi umi besok aku harus kembali kekairo,bagaimana aku akan memperjuangkan aisyah"
"ingatlah azzam,kau masih punya allah untuk menolongmu mengabulkan keinginanmu jadi mintalah padanya"
"baik umi,terimakasih,kataku lalu mencium pipi perempuan cantik itu.
*****
Assalamualaikum Aisyah...
saat kau membaca surat ini,itu berarti aku sudah terbang kekairo,untuk kembali menuntut ilmu,maaf karena hanya melalui surat ini aku memberitau mu.
bukan karna tidak ingin menemuimu secara langsung tapi aku ingin menghargai keputusan abah yang menolakku.
tapi Aisyah walaupun abah sudah menolakku aku tidak akan menyerah memohon pada yang Rabb,agar kelak menjadikanmu sebagai bidadari surgaku,ibu dari malaikat malaikatku.
tapi sebelum itu terjadi biarlah aku menjalani ujian dari abah agar bisa menjadi imam yang bisa kau banggakan.
jadi melaui surat ini aku ingin meminta ijin padamu untuk menyebut namamu disetiap doa disepertiga malamku agar niat tulusku dapat dikabulkan oleh ya Rabbku.
Salam manis
Azzam.