Masa yang sangat sulit dikehidupanku hingga menyebabkan trauma mendalam. Hal ini berawal dari keegoisan kedua orangtuaku. Mereka yang selalu berangan-angan tinggi, tetapi malah menjadikan keluarga ini hancur.
Aku adalah seorang anak yang dibesarkan oleh nenek dan kakek sejak masih bayi. Kedua orangtuaku merantau jauh ke kota besar. Aku pun hidup dalam kesepian sejak kecil karena sangat jarang bertemu mereka. Mungkin, hanya satu tahun tiga kali aku dapat bertemu mereka. Kala itu, teknologi tidak secanggih sekarang yang menjadikan komunikasi lewat video call pun belum ada.
Berawal dari semuanya yang masih baik-baik saja ketika aku berumur lima tahun. Namun, tiba-tiba ujian itu datang. Sungguh pilu mengingat kisah ini dimana tahun itu adalah awal yang tiada akhirnya hingga sekarang. Tahun itu adalah saat dimana kakekku tiba-tiba kena gangguan jiwa. Entah apa penyebabnya, tetapi ia sama sekali tidak ingin keluar rumah. Ia tidak keluar rumah sama sekali sekitar tiga bulan. Tugas kakekku yang selalu berkebun pun digantikan oleh nenekku yang menjadikanku menemani kakek di rumah.
Setelah kejadian itu, tepatnya saat aku kelas dua SD keegoisan orangtua bermula dari sini. Mereka menjual sebuah tanah yang telah mereka beli dengan maksud membeli sebuah mobil angkot agar dapat menghasilkan uang. Kakekku melarang orangtua menjualnya. Namun, mereka tetap memaksa menjualnya karena menginginkan sebuah angkot, alhasil penyakit gangguan jiwa kakek semakin parah sejak itu.
Keegoisan mereka berlanjut saat aku kelas lima SD. mereka kembali membeli angkot padahal yang satu saja pembayarannya belum lunas. Mereka terlalu berkeinginan tinggi dan tidak melihat kenyataan padahal rumah di kota pun mereka menyewa sebuah kosan.
Keegoisan mereka masih berlanjut saat aku akan memasuki SMP. Mereka menyuruh nenekku menggadaikan sawah untuk menyewa sebuah perumahan. Nenekku pun menuruti permintaan mereka.
Singkat cerita, orangtuaku itu orang yang selalu punya keinginan tinggi dan tidak memedulikan apakah itu akhirnya akan menguntungkan atau merugikan. Mereka hanya melihat keuntungan awalnya, tetapi keuntungan akhirnya mereka benar-benar tidak mempertimbangkannya secara matang.
Hingga perekonomian keluarga pun semakin terpuruk dan angkot milik orangtuaku semua disita oleh bank. Orangtuaku pun akhirnya tidak pulang selama bertahun-tahun sejak 2014 hingga sekarang. Sungguh memilukan:')
Melihat orang lain bersama orangtua, tapi aku selalu sendiri.
Melihat orang lain saat acara perpisahan bersama orangtua, tetapi aku bersama nenek.
Melihat orang lain curhat dan berbagi kisah bersama ibunya, tetapi aku menyimpan semua sendiri.
Melihat orang lain memeluknya ayahnya, tetapi aku hanya memandang fotonya.
Aku sungguh iri, bahkan orang lain tertawa pun aku menangis melihat mereka bahagia. Bukan iri terhadap harta yang mereka punya, tetapi iri karena keluarga mereka lengkap.
Kedua orangtuaku selalu mengatakan janji-janji manis melalui telepon, tetapi akhirnya itu hanya sebuah janji palsu.
Berulang kali aku percaya pada kata-kata mereka, tetapi akhirnya selalu dikecewakan.
Hingga pada akhirnya aku kini sangat sulit untuk percaya terhadap orang lain bahkan kepada kata-kata orangtuaku sendiri. Aku pun trauma tidak ingin lagi merasakan sebuah cinta karena takut dikecewakan ketika aku mulai percaya terhadap orang yang ku sukai.