Aku sudah muak! Aku tahu aku cuma pelayan sedangkan dia adalah manager restoran tempatku bekerja tapi bukan berarti dia bisa berbuat semena-mena seperti itu. Dia memaki bahkan mengatakan kata-kata kasar kepadaku untuk kesalahan yang tidak aku lakukan. Aku difitnah mengambil uang dari mesin kasir padahal saat itu aku sibuk mengantar makanan dan minuman ke pelanggan. Saat aku menantangnya untuk mengecek CCTV, manager itu malah menolak dan tetap menuduhku yang mengambil uang dari mesin kasir dan langsung memecatku.
"AAARRGGHH! MANAGER BRENGSEEKKK!! DASAR BANDOT TUA GAK TAHU DIRI! GUE SUMPAHIN MISKIN TUJUH TURUNAN!!"
JDER!!
Suara petir tiba-tiba menggelegar membuatku kaget setengah mati.
"Astaga! Untung jantungku kuat, kalau engga aku bisa mati kena serangan jantung."
Saat aku akan kembali melangkah, aku mendengar keributan tak jauh dari tempatku berdiri.
Wow! Adegan action live di depan mata!
Aku melihat seorang pria tampan tengah berkelahi dengan beberapa preman berbadan kekar.
Untuk penggemar film action mereka pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini termasuk aku.
Mataku berbinar-binar saat melihat pria tampan yang bak aktor itu menendang dan memukul preman yang menyerangnya.
Tadinya aku pikir dia bisa melawan preman-preman itu tapi mungkin karena kelelahan dia jadi lengah dan berhasil dipukul dengan kayu dari belakang sehingga membuatnya hampir tersungkur.
Tanpa pikir panjang, aku berlari kearah mereka dan menendang salah satu preman yang hampir memukul pria tampan itu. Kebetulan aku juga butuh pelampiasan kekesalanku saat ini.
BUGH!
Mendadak hening. Sepertinya mereka semua terkejut termasuk pria itu.
"Siapa kau?! Berani sekali ikut campur urusan kami!" sentak salah satu preman.
"Gak penting siapa aku! Aku akan menghajar kalian semua!"
Hahahahahaha.
Alisku berkerut mendengar preman-preman itu tertawa. Mereka meremehkanku!
"Gadis kecil, lebih baik kamu pulang saja dan main bone--"
BUGH!
Aku menendang perut preman itu sampai dia terpental.
Uhuk!
Mata preman-preman yang lain menatap horor saat melihat rekan mereka itu batuk darah.
"Sialan! Kita habisin cewek itu sekalian!" sentak salah satu preman berkepala botak.
Setelah beberapa saat memandangiku, pria tampan itu sepertinya tersentak dan kembali melihat kearah preman-preman yang siap akan menyerang kami.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Aku dan pria tampan itu bekerja sama melawan preman-preman yang tersisa setelah dua diantaranya sudah aku buat tak sadarkan diri.
Aku berkacak pinggang dan tersenyum bangga melihat preman-preman yang terkapar di depanku.
"Atlet taekwondo sabuk hitam dilawan," ucapku pongah.
Baru juga aku mengalihkan pandanganku untuk mengecek keadaan pria tampan itu, mataku langsung terbuka lebar saat melihat preman yang berada di belakang pria tampan itu akan menghunuskan pisau ke punggungnya.
"AWAAAASS!!"
Aku berlari dan langsung menendang tangan preman itu sehingga pisau yang dia genggam terlempar jauh lalu tanpa membuang waktu aku menendang perut preman itu hingga terpental.
Aku menghela napas lega, untung jarakku dengan pria tampan itu tidak terlalu jauh jadi aku masih sempat menendang preman tadi kalau sedikit saja terlambat maka sudah pasti pria tampan itu yang terkapar bersimbah darah.
"Kamu gak apa-apa?" tanya pria tampan itu setelah sadar dari keterkejutannya.
"Gak apa-apa, untung masih sempat tadi kalau engga... Huuh... Aku gak mau memikirkannya."
Tak lama, beberapa mobil berwarna hitam datang dan berhenti di depan kami. Beberapa orang berjas hitam keluar dari dalam mobil membuatku kembali waspada.
"Tuan muda! Anda tidak apa-apa? Maaf, kami terlambat!" ucap salah satu pria berjas hitam itu.
Tuan muda? Alisku berkerut mendengarnya.
Lalu aku melihat pria tampan itu mendekatiku. Berdiri tepat di depanku sehingga membuatku harus mengangkat wajah untuk melihatnya. Sial, aku baru sadar perbedaan tinggi badanku dengannya yang bisa dibilang mengenaskan.
"Terima kasih." Hanya dua kata itu saja yang terucap dari mulutnya.
Setelah itu dia kembali mendekat ke pria berjas hitam tadi dan membisikkan sesuatu.
Lalu pria berjas hitam itu membuka kan pintu mobil untuk pria yang dia panggil tuan muda.
Aku melihat pria tampan itu masuk dan duduk di kursi belakang mobil.
Setelah pintu mobil ditutup, pria berjas hitam tadi mendekat lalu menyodorkan selembar cek kosong kepadaku.
"Terima kasih Nona sudah menyelamatkan Tuan muda kami, Nona bisa menulis berapa pun nominal di cek itu sebagai balasan kebaikan Nona."
Mataku berkedip-kedip, otakku masih mencerna apa yang pria berjas hitam itu katakan sambil memegang cek kosong darinya.
Disaat otakku sudah selesai loading, aku baru sadar ternyata mereka sudah pergi bahkan preman-preman yang terkapar di jalan juga sudah tidak ada hanya aku sendiri di tempat ini.
*
*
*
Tiga hari kemudian setelah kejadian itu.
Aku bersiap pergi untuk interview di salah satu restoran mewah yang letaknya lumayan jauh dari rumah kontrakanku.
O iya soal cek kosong itu, aku masih menyimpannya dan tidak berniat melakukan seperti yang diminta pria berjas hitam waktu itu karena aku merasa ketulusan tidak sepantasnya dinilai dengan materi. Biarlah semua itu menjadi karma baik untukku lagipula aku bukan orang yang gak tahu malunya mengambil keuntungan dari orang lain.
Mengingat aku pergi menggunakan transportasi publik membuatku harus berangkat satu jam lebih cepat dari waktu interview berharap agar aku tidak terlambat.
Beruntung hari ini jalanan tidak terlalu padat sehingga aku bisa sedikit santai.
Bus berhenti di halte tujuanku. Aku keluar dari dalam bus lalu berjalan ke restoran yang ada di sebrang jalan.
Sebelum masuk ke restoran, aku merapikan penampilanku sebentar. Jujur, aku gugup sekali apalagi saat melihat bangunan mewah di depanku. Astaga, dimana kepercayaan diriku tadi?
Aku menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Apa yang kamu takutkan? Ini hanya interview, benar, hanya interview!"
Setelah merasa lebih tenang, aku pun kembali melangkahkan kakiku dan membuka pintu restoran mewah itu.
Saat sudah berada di dalam, mataku berbinar-binar mengagumi interior restoran ini. Benar-benar definisi dari kemewahan.
Aku baru tersadar saat seorang wanita berpakaian rapi datang menyambutku.
"Selamat pagi Nona, apa Anda sudah memesan tempat?" sapa wanita itu yang namanya tercetak di name tag yang terpasang di dada kirinya.
"Maaf, Saya diminta datang kesini untuk interview."
"Baik, silahkan ikut dengan Saya."
Aku mengangguk dan mengikuti wanita itu hingga kami sampai di depan pintu berwarna hitam.
"Silahkan masuk Nona, pemilik restoran ini sudah menunggu Anda."
Pemilik??? Kenapa aku harus bertemu dengan pemilik restoran untuk interview? Biasanya yang interview kan manager.
Belum sempat aku bertanya kepada wanita itu, wanita itu sudah pergi meninggalkanku sendirian disini.
Aku kembali melakukan ritual yang tadi aku lakukan sebelum masuk ke dalam restoran.
Setelah aku merasa lebih tenang, aku pun mengetuk pintu hitam di depanku.
Tok
Tok
Tiba-tiba pintu hitam itu terbuka membuatku sedikit terperanjat.
Beberapa saat aku terdiam melihat bagaimana pintu itu terbuka sendiri lalu perasaan gugup itu pun kembali menyerang membuat tanganku terasa dingin dan sedikit gemetar.
"Masuk."
Aku melihat seorang pria memakai setelan jas navy blue berdiri membelakangiku di dalam ruangan itu.
Mendengarnya memintaku masuk, aku terpaksa mengangkat kakiku yang gemetar masuk ke dalam.
Tak
Tak
Tak
Mendengar suara hak sepatuku, pria itu perlahan berbalik.
Mataku membulat sempurna saat melihat wajah pria itu.
Di-Dia pemilik restoran ini?! Be-berarti dia yang akan jadi Bossku!
"Ka-Kamu...."
Pria itu tersenyum sangat tipis sampai aku hampir tidak melihat senyumannya.
"Senang bertemu denganmu... Lagi, Katrine Keil."
*
END
*