Kehidupanku tidaklah mudah, bisa berada di titik sekarang, sudah membuatku sujud syukur.
Terlalu banyak penderitaan yang harus aku lalui, dan itu disebabkan oleh kakakku sendiri. Dia bisu dan tuli, kadang baik, kadang kejam.
Setiap hari, aku selalu melewati hari-hariku dengan air mata. Aku masih ingat, saat aku masih sekolah dasar. Waktu itu, aku membawa temanku ke rumah, namanya Sunarya. Di panggil, Sun. Karena jarak rumah ke sekolah, sangat dekat membuatku memilih pulang setiap jam istirahat.
Waktu itu di di dapur, aku membawa Sun ikut masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba kakakku bangun tidur dan meludahi wajah temanku. Dan itu membuat aku merasa malu sampai sekarang dan tak bisa memaafkan kejadian itu.
Bahkan setiap kali pulang sekolah, aku selalu di kurung di kamar, jika keluar rumah, kakakku akan selalu menghukumku. Lebih parahnya, temanku yang tak tau apa-apa, akan menjadi tempat pelampiasannya. Mereka akan kena amukan kakakku.
Kadang aku terpaksa mengunci pintu kamar dari dalam, lalu aku keluar dari jendela yang hanya ukuran 30x30 cm. Untungnya saat itu tubuhku sangat kecil sekali, sehingga aku bisa lewat jendela itu dan meloncat ke bawah dengan hati-hati. Dan dari situlah aku bisa bermain sebentar dengan teman-temanku yang rumahnya tak terlalu jauh. Teman yang juga merupakan saudaraku sendiri.
Tak ada yang berani melawan kakakku, karena mereka sangat takut. Bahkan aku seringkali melihat ibuku di siksa oleh kakakku, di ludahi, di tendang, di pukul dan lain sebagainya. Dan aku sebagai anak, kadang hanya bisa diam aja. Tapi kadang aku membela ibu dengan berkelahi dengan kakakku sendiri.
Pernah aku sampai kelaparan, gara-gara aku gak di kasih makan oleh kakakku. Rasanya perih. Dan waktu itu, Ibu dan Ayah membawaku ke sawah dalam keadaan perut kosong.
Aku bahkan mencuri kacang panjang yang di tanam di ladang orang lain. Aku terpaksa melakukannya untuk meredakan perutku yang terasa perih.
Sesampai di sawah, aku melihat ibuku menitikkan air mata, aku tau ibu terluka dengan sikap kakakku, dialah yang melahirkan kakakku. Tapi dengan kejamnya kakakku yang menyiksa ibuku sampai tubuh ibuku bengkak karena tendangan mautnya. Bahkan pernah ibuku sampai kesulitan nafas dan merasakan rasa nyeri yang teramat sangat karena kakakku menendangnya di bagian rusuk ibu.
Sungguh kejadian itu tak bisa aku lupakan, hingga aku lulus SD. Ibu membelikan aku baju yang di sembunyikan di rumah tetangga, lalu menyuruh aku mondok agar aku bisa lepas dari siksaan kakakku.
Namun aku bertahan hanya satu tahun, aku tak bisa membiarkan ibuku tersiksa sendirian. Lebih baik menderita tapi tetap bersama ibuku.
Hari-hariku sangat berat di jalani, aku bahkan pernah lari tengah malam bersama ibu agar bisa lepas dari amukan kakakku. Aku dan ibu berjalan melewati kuburan dan bersembunyi di belakang rumah tetangga yang berjarak beberapa rumah dari rumahku.
Kalau ada Ayah, mungkin kakakku tak akan sampai berani memukul, berbeda jika Ayah tak ada. Kakakku dengan leluasa melakukan apapun yang ia mau.
Aku dan Ibu terus bertahan di sana hingga beberapa jam lamanya, jangan di tanya bagaimana rasanya. Sungguh aku dan Ibu merasa ketakutan, gemeteran, belum lagi nyamuk yang cukup banyak karena dengan dekat got tetangga.
Setelah merasa aman, aku dan Ibu pulang diam-diam, dan aku melihat Ayah yang berada di belakang rumah, dan sepertinya kakakku sudah tidur. Di sana Ayahku memberikan aku makanan, aku segera memakannya dan sisanya Ayah taruh di atas kamar mandi yang gak akan kelihatan orang lain.
Kamar mandi emang ada dibelakang rumah, makhlumlah di desa kebanyakan sumur atau kamar mandi ada di luar rumah, hanya orang-orang tertentu yang punya sumur atau kamar mandi yang taruh di dalam rumah.
Lalu tanteku tiba-tiba keluar, dan mengajak aku tidur di kamarnya. Sedangkan Ayah dan Ibuku tidur di kandang sapi. Sejujurnya aku gak tega meninggalkan mereka, tapi aku juga sangat ngantuk dan butuh istirahat.
Dan kehidupan itu terus berlanjut hingga aku lulus SMP. Lagi-lagi Ayah dan Ibu memintaku untuk mondok.
Aku pun lagi-lagi menerima kemauan mereka. Namun di pondok itu, aku merasa gak cocok. Aku capek, karena habis sholat shubuh, aku harus masak, lalu cuci baju Ibu Nyai, Pak Yai dan anak-anaknya, harus jemur baju di lantai atas dan harus turun naik tangga. Dan harus nyapu. Setelah selesai, aku kadang bantu teman buat masak. Sebenarnya banyak teman-temanku, tapi entahlah hanya aku dan Mbak Lum yang di kasih kepercayaan buat nyuci baju orang dalem (Buk Yai dan sekeluarga)
Hingga akhirnya aku jarang mandi pagi karena sering telat, dan harus cukup cuci muka. Dan yang bikin aku gak suka, karena aku harus mengenal obat haram, obat yang bikin orang melayang dan tiba-tiba berbunyi guk seperti anjing.
Belum lagi, di sana terlalu bebas untuk pecaran membuatku risih. Hingga akhirnya aku hanya bertahan 6 bulan lamanya. Hanya dalam waktu en bulan, aku sudah berhasil pacaran dengan ketua osis, kakak kelas dan teman sekelas ku. Bahkan aku membuat dua orang bertengkar karenaku.
Entah apa jadinya jika sampai tiga tahun disana, aku bisa rusak. Akhirnya aku memilih untuk berhenti. Lalu melanjutkan sekolah di Aliyah khusus perempuan, dan dari sanalah aku mulai belajar dan bekerja keras mencari uang untuk kebutuhanku.
Aku lebih banyak menghabiskan waktuku di luar dari pada di rumah yang membuat aku dan kakakku berkelahi. Bahkan kakakku pernah membuang semua baju-bajuku, dan merobek baju-baju kesayanganku hingga membuat aku menjambak rambutnya dengan keras dan membuat dia merasa pusing, karena aku melakukannya dengan emosi dan tenaga.
Hingga akhirnya, ia mengambil batu besar, karena aku tak mau mati sia-sia, aku lari sekencang mungkin, sampai lupa mengenakan hijabku, dan tak memakai sandal. Aku lari seperti orang gila hingga akhirnya aku tiba di sungai. Aku menyebrang sungai dan melewati sawah-sawah.
Di sana aku menyalahkan Tuhan, kenapa tidak memberikan aku kebahagiaan. Setelah cukup lama menangis, entah dari mana ibuku tau aku berada. Ibuku datang dan memelukku, ia menangis dan mendoakan kebahagiaanku.
Setelah itu Ibu pulang lebih dulu, sedangkan aku butuh waktu untuk menenangkan diri.
Hingga aku tamat SMA, kehidupanku tak pernah berubah. Aku bahkan beberapa ingin bunuh diri agar lepas dari masalah, sayangnya saat mau minum parfum dan aku mencobanya beberapa tetes membuat ku muntah-muntah dan tenggorokanku panas seperti kebakar, hingga membuatku tak jadi minum parfum.
Begitupun saat aku ingin menggores lenganku, saat mencobanya sedikit saja sudah membuat aku kesakitan, akhirnya aku gak jadi menggoresnya dengan pisau.
Lalu aku mencoba untuk menabrakkan tubuhku di jalan, tapi karena takut gak langsung mati dan hanya patah tulang, itu membuatku ngeri.
Akhirnya aku pulang dengan langkah yang gontai. Lalu aku mengumpulkan bajuku ke dalam tas, lalu aku pergi ke stasiun, aku ingin minggat ke kota S. Tapi karena gak tau cara memesan tiketnya dan hanya punya uang sedikit, di tambah aku gak punya kenalan di kota S. Akhirnya aku pulang lagi ke rumah. Dan yah itulah ceritaku.
Hingga akhirnya, setelah tamat SMA. Aku bekerja sambil ambil D1. Dan setelah selesai D1, aku ikut majelis taaruf, setelah satu Minggu perkenalan, kami sepakat menikah.
Dan sejak menikah, hidupku bahagia karena suamiku memperlakukan aku bak seorang ratu. Aku bersyukur setelah apa yang aku alami, Tuhan memberikan aku suami yang super baik, perhatian, pengertian dan selalu menjain aku.
Kini aku bahagia dengan kehidupanku, tak ada lagi air mata. Yang ada hanyalah kebahagiaan.
Aku tau, dan aku percaya. Setelah air mata, pasti Tuhan akan memberikan kebahagiaan buat hambaNya yang lolos menerima semua takdirnya.
Dan kini aku dan suamiku hidup berdua dalam perantauan, sedangkan kakakku ia sudah tak seperti dulu lagi, walaupun kadang sesekali seringkali mengamuk namun tak sejahat dulu.