Panggil aku Rose, seorang gadis yang baru mekar, tentu saja banyak kumbang yang hendak mendekati dan menghisap madunya, mulai dari kumbang kuning, hitam, bahkan lebah juga ikut-ikutan. Saat bungaku yang mekar harum semerbak, mampu menghipnotis, aku pun terjebak, lupa akan hari dimana aku bisa layu dan tak dilirik lagi.
Aku bertumbuh menjadi gadis yang imut dengan badan yang pas, rambutku panjang hitam sampai panggul, lurus dengan kulit eksotis. Bisa dikatakan, gen yang aku turunkan milik Ayah, karena Ibuku memiliki kulit yang putih, ada lesung pipi di kedua pipinya, sedangkan aku tak memiliki lesung pipi, mata sipit dan hidung pesek, berbeda dengan ibuku bermata bulat seperti mata boneka.
Walaupun begitu, aku memiliki pesona. Aku di kelilingi banyak pria, pria muda, remaja, dewasa, hingga tua. Kehidupan sekitarku yang membuatku seperti itu, memiliki enam orang adik kandung laki-laki, 25 orang sepupu laki-laki, dan 14 orang Paman laki-laki yang seumuran denganku.
Kehidupan ini membuatku populer, karena pria-pria dikehidupanku tampan semua, menembak cinta sungguhlah banyak, surat cinta menumpuk begitu saja. Aku merasa di atas awan jadinya. Hingga aku ingin menjajakan dunia yang terdengar indah di telingaku, teman-temanku berkata, enaknya pacaran, bisa jalan bersama, duduk bareng, makan romantis dan lainnya. Aku sangat ingin mencoba!
Hingga aku mencoba, pacar pertama berlangsung satu hari, aku putuskan karena pria itu mengajakku bicara gelap-gelapan! Kedua, aku pacaran lagi, karena hidupku kasar, aku tempeleng kepalanya, dia marah! Ketiga, aku pacaran lagi, tapi dia minta kiss, aku marah lagi, aku jijik lihat bibirnya, mau muntah! Aku tendang bokong, dan tentu saja, akhiran kami menjadi buruk! Fix, aku gagal!
Aku memutuskan berpacaran via telepon, aku nyaman dan senang berpacaran dengan orang tersebut, suaranya indah, kalau nyanyi main gitar merdu, hingga kami putuskan untuk bertemu, dan aku syok melihat orangnya, tampangnya dibawah standarku. Ok, baiklah, aku mencoba berusaha menerima pilihan, tetapi sayangnya, ada watak dirinya yang tak aku sukai!
Sebagai jantan, betina menyukai pejantan tangguh, lah dia, seorang pria pemalas yang letoy, usaha gak mau, pantas dia tiap saat main gitar aja kerjanya saat telfonan bersamaku, aku pun memutuskan hubungan dengannya sepihak, walaupun dia merengek, aku tak peduli, huh!
Aku kembali berpacaran dengan orang bebas, lebih besar dariku, sengaja aku memilih begitu, karena teman-teman bilang, orang dewasa itu menyenangkan dan pengertian. Baiklah, aku akan mencoba.
Orang dewasa pertama, aku berpacaran dengannya dua bulan, benar saja, dia lembut dan pengertian, tidak kayak anak remaja seusiaku, minta ini itu. Aku senang! Tetapi, rupanya, dia suka mengkonsumsi obat terlarang, hal yang sangat tidak aku sukai, jadi aku putus, padahal dia baik banget.
Lanjut, aku menjalin hubungan kembali dengan orang dewasa, umur 25 tahun, waduh, pria matang siap nikah, dia bilang mau nunggu aku tamat sekolah, terus nikah, dia udah siap-siap.
Aku dan dia cukup lama, 9 bulan. Wow! Itu hubungan yang paling lama, namun aku dan dia putus kembali. Kenapa?
Karena aku tidak suka dengan pria yang taunya kerja aja, tapi lupa sama Tuhan. Aku minta dia sholat Jum'at aja gak mau! Padahal dia boss, punya enam orang karyawan, dia itu usaha jualan gitu di pasar, pas aku suruh beli mobil aja, dia mau kredit mobil loh! Tetapi kenapa saat aku bilang sholat, dia jawab hatinya belum siap, nanti aja ya? Aku benci mendengar itu, lalu aku menghilang tanpa kabar, dia menghubungi aku di fbku karena nomor ponselku ndak aktiv lagi, aku hapus akun itu karena dia gak tau dimana rumahku. Jujur, aku tipe perempuan yang tidak mau membawa pasangan ke rumah, walaupun aku sudah dikenalkan pada orangtua si pria.
Aku gagal, hingga aku memilih jomblo sampai umur 25 tahun. Hahahaha! Perjalanan cintaku membosankan.
Suatu hari, aku melihat adik sepupuku yang masih kelas 1 SMP di goda bapak-bapak di FB. Aku maki itu bapak-bapak, aku kasih tahu, adik sepupuku itu masih bocah. Eh, malah aku yang digodanya dan si bapak-bapak itu tanya alamat rumahku. Aku tipu dong, aku sebut alamat kebunku, di sana cuma ada kera dan monyet. Hohohoho!
Siapa sangka, pria yang aku kira bapak-bapak itu dengan latar berfoto di Singapura adalah kakak laki-laki teman SMA ku. Buset, kami hanya tetangga kampung, jadi dia tahu alamat kebun yang ku sebut. Dia berkunjung ke rumahku jam 10 pagi. Dimana, entah kesurupan apa ayah dan ibuku, biasanya mereka setiap hari dari jam 7 hingga jam 6 sore di kebun, hari itu mereka tidur-tidur di rumah, katanya capek!
Saat pria itu berkunjung, ayah malah semangat mengobrol sama dia, padahal ayahku seram, belum pernah ada cowok yang berkunjung ke rumahku, kecuali teman laki-laki yang sejak dulu dekat denganku dari kecil.
Entah kenapa, tiba-tiba pria itu bertanya apa aku bersedia menikah dengannya, karena dia serius denganku, saat itu umurnya 28 tahun, aku berumur 25 tahun, rupanya, fotonya benar-benar tak sesuai dengan asli dirinya.
Aku tak tahu kenapa, aku tak menjawab, tapi kepalaku malah mengangguk, sebulan kemudian lamaran resmi datang, aku dipinang, lalu menikah dengannya.
Hello!! Aku kenapa? Kok bisa nikah sama dia?
Inilah Jodoh dari Tuhan. Aku mencari jalan jodohku, tetapi mereka semua bukan yang terbaik untukku, karena Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang sesungguhnya untukku.
Saat baru menikah, aku tidur diluar sambil nonton tv, aku mengabaikan suamiku sendirian di kamar, aku sibuk sama duniaku, dia sabar, hingga sebulan berlangsung, dia mulai mendidik ku dengan contoh lembut, tak marah, tapi perkataannya menyentuh diriku.
Dia tidak menyentuhku buru-buru, seperti kata teman-teman ku, hari pernikahan adalah malam pertama. Tidak! Itu semua tidak benar.
Kini, aku telah menikah dengannya 8 tahun, aku menyadari, dia benar-benar jodohku. Dia benar-benar bisa mendidikku yang keras kepala dan sempit ilmu pengetahuan ini dengan caranya.
Suamiku, terimakasih, kau adalah jodoh dari Tuhan yang sangat kusyukuri. Love you💓💖