Jodoh itu misteri, ibarat rezeki yang sering datang di waktu yang tak disangka-sangka. Di saat saya sudah putus asa dan pasrah, jodoh tiba-tiba hadir. Kami sudah saling tahu sangat lama, dimulai sejak duduk di bangku SMA. Kami bahkan berpacaran sekitar 5 tahun, sejak 2011-2016. Tapi tahun ke-6 kami memutuskan untuk berpisah dan tidak saling menghubungi lagi. Kami berdua bahkan sudah memulai hubungan dengan orang lain. Saya sendiri bahkan mendengar kabar bahwa dia akan segera menikah.
Tapi, seperti yang kebanyakan orang katakan. "Kalau jodoh, gak akan kemana."
Di tahun 2017 tepatnya bulan Mei, tiba-tiba saja suami mengungkapkan ingin bertemu orang tua saya dan ingin berkomitmen dengan saya lewat pernikahan. Kaget? Sudah pastilah. Tapi saat menghadapi hal seperti ini antara kaget, bingung, ada senengnya juga, semua campur aduk jadi satu. Apalagi saat itu saya akui memang belum bisa move on darinya. Singkatnya tanggal 10 Mei, saya menerima dan mencoba kembali menjalani hubungan dengan suami saya.
Kami berdua bekerja di tempat berbeda, ibaratnya jika dia di Bandung, saya di Puncak Bogor. Suami akhirnya bertemu dengan kedua orang tua saya di bulan Juni. Di sinilah drama-drama dimulai, awalnya saya berpikir itu hanya pertemuan keluarga dengan tujuan saling mengenal tapi ternyata saya dilamar. Waktu pernikahan diserahkan kepada kami berdua. Awalnya saya dan suami minta sebulan kemudian menikah, mengingat ada tanggal cantik 17 Juli 2017.
Nentuin tanggal nikah itu ribet juga, udah fixed tanggal itu, ternyata tanggal ini pun berubah lagi, karena ada kendala dari keluarga yang meminta lebih baik acaranya setelah Idul Adha saja.
Kami akhirnya berunding kembali, setelah berbagai macam pertimbangan, akhirnya acara di tentukan mundur ke bulan September.
Persiapan pernikahan itu memang perlu waktu apalagi kami punya prinsip jangan sampai terlalu merepotkan keluarga. Urusan administrasi pernikahan baru dilakukan awal bulan September. Konsep pernikahan dari kecil saya memimpikan konsep pernikahan yang sederhana cukup ijab qobul di KUA dan kenduri sebagai rasa syukur dan mengumumkan kalau kita sudah menikah resmi secara agama dan hukum. Suami pun meng-iyakan, tidak perlu adanya pernikahan yang seperti orang lain lakukan dengan adanya resepsi dan lain-lain.
Ternyata kenyataan tak sesimpel yang kami pikirkan. Saya anak satu-satunya di keluarga saya. Akhirnya mengesampingkan keinginan saya dan memutuskan ada resepsi meskipun kecil-kecilan sesuai masukan dari keluarga. Menentukan konsep pernikahan dan mencari baju pengantin, make up, dan lain-lainnya dengan waktu satu bulan itu ternyata sangat simpel sekali di desa-desa seperti tempat saya tinggal. Baju pengantin cukup sekali saya memilih konsepnya, suami, orang tua dan mertua langsung setuju.
Konsep pengantin adat daerah kami yang terpilih meskipun tidak semua prosesi adat dilaksanakan, hanya yang bagian-bagian paling penting saja. Hal ini karena perhitungan budget yang kami punya. Kami benar-benar menikah dengan sederhana. Dan kami menikah dengan mahar seperangkat alat salat saja dengan tambahan emas 2 gram dan uang tunai Rp. 17.900.
Tak hanya konsep pernikahan, hal-hal kecil kalau kami mendahulukan ego masing-masing akan berakhir dengan pertengkaran. Nah, yang mungkin sering orang lain rasakan saat hari-hari terakhir menjelang pernikahan ada-ada aja kejadian. Mulai dari tiba-tiba suami yang marah karena hal-hal kecil.
Tak berakhir di situ, tiba-tiba saya mengetahui kelakuan buruk suami saya saat hari dimana ada acara adat dilaksanakan. Kalau saya tidak teguh dengan pendirian bisa saja hal ini membatalkan pernikahan kami. Namun saat itu saya bisa menerimanya dan menganggap hal itu hanyalah sesuatu cobaan sebelum pernikahan. Kalau saya melihat satu keburukannya dan tak melihat seribu kebaikannya itu tidak adil. Toh setiap manusia punya masa lalu, dan dia mau berubah untuk yang lebih baik. Saya pun bukan orang yang sempurna pasti punya banyak kekurangan.
Akhirnya setelah melalui berbagai hal, pada tanggal 17 September 2017 pada pukul 08.00 WITA kami sah secara agama dan hukum dengan mahar seperangkat alat shalat, emas dua gram dan uang Rp. 17900, dibayar tunai.
Menikah itu bukan akhir kisah percintaan tetapi awal dari kisah cinta yang sesungguhnya. Namanya bersatunya dua orang yang berbeda pasti tak semudah mempersatukan kedua tangan. Perbedaan pendapat dan cara pandang pasti ada, asal kita mau mendiskusikan dan tidak mendahulukan ego masing-masing masalah bisa diselesaikan bersama. Berbicara menggunakan hati dan mau lebih mengenal kepribadian pasangan. Sampai sekarang saya menganggap suami adalah teman hidup dan teman berbagi.