Aku termenung seorang diri, lalu, kurangkai kata dalam selembar kertas. Tentang jiwa yang hilang nurani yang tertinggal.
Ini tentang aku
Tentang Dia
Tentang luka dan bahagia
Hari itu sangat cerah, Langit biru berselimut awan putih menggumpal indah satu gumpalan satu lagi gumpalan.
Aku mengkrutkan kening, Kenapa? bisikku.
indah, tetapi ... berjarak? tanyaku dalam hati.
Lalu dia datang membawa seikat bunga. Sayang, bukan bunga mawar yang dia bawa melainkan Bunga Anggrek.
Anggrek? tanyaku dalam hati.
Dia Berjalan mendekat, tersenyum simpul menatap tajam kearahku. Sungguh tampan, lelaki penuh karisma. gumamku.
"Hay, bagaimana kabarmu hari ini?" tanyanya.
"Baik begitu baik," jawabku.
"Semoga setelah hari ini hatimu tetap baik ...," tukasnya. Mantap.
"Apa yang kamu bicarakan?" tanyaku terheran.
Sejenak Dia menunduk.
"Kamu, Sakit?" tanyaku terheran.
"Tidak!" tegasnya.
"Lantas ...?" tanyaku.
"Maaf," ucapnya.
Dia memberiku seikat bunga Anggrek itu.
"Terimakasih." aku menyambut.
Dia tersenyum tipis lalu membalikan badan.
"Secepat ini? apa salahku!" aku menggertaknya.
Dia tak menoleh dan terus melangkah.
"Hey, Aku ini bukan sampah!" teriakku melempar ikat bunga itu.
Dia berbalik dan mendekat. Mulutnya terbuka lebar, aku menunggunya berbicara.
"Ayahmu, Ibumu. Tidak. Maksudku ...," suaranya tersekat.
"Ada apa dengan orang tuaku?" tanyaku.
"Aku bukan pengemis," jawabnya.
"Mereka menghinamu!" gertaku.
"Tidak." tolaknya.
"Lantas ...?"
"Aku ingin kita putus, itu saja," pintanya.
Matanya dengan tajam menatapku, aku diam mematung.
"Baiklah, bukan Ayah atau Ibuku, tetapi harta dan jabatanmu."
Senyum sinis tersungging di ujung bibirnya.
"Ya, itu benar!" tegasnya.
Kusunggingkan senyum padanya.
"Terimakasih telah membuatku sadar," ucapku pelan.
"Ya." suaranya terdengar menggelegar.
Dia berlalu pergi
Hatiku Luka ya itu nyata. Aku mencintainya tentu saja.
Dulu ada tawa
Dulu ada cerita
Kini ada luka
kini tinggal cerita
Aku dan kamu tidak lagi menjadi Kita
Kadang terselip tanya dalam diriku
Kenapa ada pertemuan bila harus berakhir perpisahan?
Tetapi ah tetapi. Tuhan lebih tahu hati mana yang pantas untukku.
Biar saja Luka, tidak apa
Biar saja derita, tidak apa
Ini Hanya tentang Waktu, biar saja mata itu buta,
Hanya tentang Waktu bahwa luka akan menjadi tawa. tentang waktu bahwa cerita akan menjadi kita.