Awal berkenalan denganmu, aku merasa biasa saja. Namun, semakin lama aku berada di dekatmu—Ada rasa yang menggetarkan sanubari. Bunga-bunga cinta perlahan tumbuh di dalam hati meski kamu bukanlah pria romantis seperti yang aku mau.
Cita-cita dan harapan besar yang pernah ada perlahan terkikis oleh waktu. Semua angan tentang suami impian di masa depan harus aku lupakan kala hati menginginkan bersandar kepadamu. Aku merelakan sosok pria dengan segala kriteria yang aku impikan pergi begitu saja demi dirimu yang sederhana.
Mungkin, aku terlalu naif dengan mengatakan akan menerimamu dengan segala kekurangan. Namun, semua itu telah ku buktikan dengan menerima lamaranmu.
Pernikahan yang pernah kita idamkan akhirnya terlaksana walau banyak rintangan yang menghadang. Kamu mengucap lafadz ijab kabul dengan fasih di depan penghulu dan ayahku, saat itu—31 Agustus 2017.
Aku tahu ... menjalani pernikahan ini tidaklah mudah, bahkan kamu tidak pernah menjanjikan apapun untukku. Akan tetapi semua itu tidak membuat rasa cintaku kepadamu hilang ditelan oleh waktu. Aku berterima kasih kepadamu, wahai suamiku ... karena kamu sudah mengajariku bagaimana cara mencintai yang sesungguhnya—bukan karena harta ataupun tahta.
Mojokerto, 21 April 2022
Tie tik