Bagaikan "Air dan Minyak" itulah kata-kata yang pantas untuk menggambarkan Bagas dan Intan. Keduanya tidak akan pernah bisa bersatu sampai kapanpun tapi keduanya bisa hidup berdampingan.
***
Disebuah ruangan di rumah sakit, terlihat seorang wanita yang terbaring lemah diatas kasur pasien. Wanita itu terbaring lengkap dengan jarum infus ditangannya.
Dia tidak sendiri, dia ditemani seorang pria, pria itu selalu menatap ke arah orang yang tengah berbaring itu.
Dia selalu berharap bahwa orang yang dihadapannya bisa segera bangun dan menyaksikan pernikahan anak-anaknya.
Wanita itu bernama Intan Safitri seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik, wajahnya masih segar walau terlihat sedikit pucat karena sakitnya dia selalu merawat wajah cantiknya itu.
Pria yang dihadapannya sekarang adalah Bagas Pratama, seorang pria paruh baya yang juga masih sangat tampan, gagahnya ia yang sedang memakai jas lengkap dengan dasi yang terpasang rapi.
Dia selalu berharap bahwa Intan lah yang akan memakaikannya dasi setiap hari namun sayang harapan itu musnah ketika Bagas mengetahui bahwa ia di jodohkan dengan mitra bisnisnya dan kejadian itu telah berlalu 20 tahun lamanya.
***
20 tahun yang lalu
"Kemana sih Mas Bagas, udah 20 menit nungguin masih belum keliatan," ucap seorang wanita berumur 20an yang terlihat sangat cantik. Wanita itu tengah menunggu seseorang di sebuah halte.
Dikenakannya Baju Muslim yang panjang, tidak lupa dengan kerudung dikepalanya yang berwarna senada yaitu biru. Dia sudah lama menunggu dan ketika dia mulai menggerutu tiba-tiba
"Tidd Tidd." suara klakson mobil
Seorang pria berjas biru dengan dasi yang rapi keluar dari mobil itu dan mulai mendekati wanita yang tengah duduk tadi.
"Kemana aja sih Mas, panas tau." ucap wanita itu mengeluh kepanasan
"Maaf Intan, ada urusan sebentar," ucap pria bernama Bagas tadi.
Intan hanya mengangguk mengiyakan dan sekarang Bagas membuka pintu mobil untuk Intan. Intan tidak banyak bicara, dia langsung masuk ke mobil dan duduk di sebelah kursi kemudi.
Selama perjalanan dia sangat gugup karena hari ini ia dan Bagas berencana untuk memberitahu Ani (mamah Bagas) bahwa mereka sudah memutuskan untuk menikah. Walau keduanya tidak berpacaran terlebih dahulu tapi keduanya sudah saling mencintai sejak kecil karena memang Intan tumbuh besar di keluarga Bagas.
"Aku gugup, Mas." ucap Intan tiba-tiba
"Iya aku tau. Tenang aja. Pasti mamah setuju kok, kan dia juga sayang banget sama kamu," ucap Bagas menenangkan dan tak lama dari itu mereka tiba di rumah Bagas.
Bagas turun dari mobil disusul dengan Intan. Mereka berjalan ke dalam dan mengucap salam ketika tiba.
"Assalamu'alaikum, Mah." ucap Bagas disusul dengan Intan.
Mereka mendapati Ani tengah berbincang dengan seorang wanita yang sangat cantik. Wanita yang mengenakan kemeja maroon dengan rok selutut berwarna merah. Wanita itu terlihat seperti habis pulang kerja karena masih mengenakan pakaian kerja.
"Tania?" ucap Bagas mendapati mitra kerjanya berada dirumahnya.
Tania adalah anak dari pemilik salah satu perusahaan terbesar di Indonesia dan kini dia adalah mitra kerja Bagas.
Apa sebenarnya hubungan wanita itu dengan Bagas?
Itulah yang dipikirkan Intan sekarang.
Namun saat dia melihat Bagas, Bagas mencoba memberitahu Intan bahwa dia akan menjelaskannya nantin namun itu terlambat karena
"Mamah sudah menjodohkan kalian berdua. Tania dan Bagas! Kedua keluarga kita sudah setuju dan tanggal pernikahan pun sudah ditentukan. Jadi Bagas, kamu tidak bisa menolak," ucapan itu tiba-tiba keluar dari mulut Ani.
Dia seperti terdorong mengatakan itu ketika melihat Intan dan Bagas datang bersama. Dia sepertinya sudah menduga bahwa anaknya akan menikahi Intan, anak dari pembantu keluarganya dan karena tidak setuju Ani mengatakannya.
Mendengar perkataan itu Bagas dan Intan sangat terkejut pasalnya Tania bagi Bagas hanyalah seorang mitra namun kenapa sekarang mereka malah dijodohkan, setidaknya harus ada persetujuan dari Bagas namun itu sepertinya tidak berlaku bagi Ani dan itu sangat tiba-tiba bagi Intan karena dia tidak pernah tau tentang Tania.
Hatinya sakit seketika itu, bukan saja dia tidak bisa menikah dengan Bagas kini dia harus menjadi saksi akan perjodohan Bagas dan Tania.
"Mah gak bisa dong, aku dan Intan..." ucapan Bagas tergantung karena Ani memotong perkatannya
"Tidak ada tapi-tapian. Ini sudah keputusan mamah dan papah. Kamu akan menikah 2 bulan lagi dan Intan.." ucapnya menatap Intan
"Iya tante, ada apa denganku?" ucap Intan yang masih sangat terkejut bukan hanya terkejut dia juga sangat sakit hati sekarang. Dia seperti tau kenapa Ani melakukan semua itu. Karena dia adalah anak dari pembantu keluarga Bagas.
"Kamu kan seorang desainer, kamu yang akan mendesain gaun pernikahan Tania dan kamu juga yang akan memdesain jas untuk Bagas!" ucapnya lembut namun penuh tekanan.
Sudah cukup bagi Intan menerima kenyataan ini namun kenapa sekarang dia sendiri yang harus mendesain baju untuk pernikahan mereka.
Itu lebih menyakitkan dari apapun, dan Intan?
Dia hanya bisa setuju karena bagaimana pun dia berhutang budi pada keluarga Bagas dan mungkin ini caranya untuk membalas budi itu.
"Baik tan."
"Gak mah! Aku gak setuju dengan pernikahan ini! Intan kamu gak boleh setuju!" ucap tegas Bagas namun sayang itu semua tidak ada gunananya
"Diam kamu! Jika kamu tidak mau dengan perjodohan ini, kamu tidak akan mamah anggap sebagai bagian dari keluarga ini!"
Bagas terdiam mendengar perkataan mamahnya, dia bisa saja meninggalkan keluarganya dan membangun keluarga yang baru dengan Intan namun dia tidak mau jadi anak durhaka.
"Mah tolong dong, jangan paksa Bagas," ucapnya lirih dan saat Bagas hendak berkata lagi
"Sudah Mas, turuti kata tante. Kamu gak boleh jadi anak durhaka hanya karena masalah ini." ucap Intan, dia mengatakan itu dengan hati yang menangis.
"Tante, aku hanya akan mendesain baju untuk pernikahan tapi maaf aku gak bisa datang ke pernikahan itu, aku akan segera pergi ke luar negeri." ucapnya.
Setelah mengatakan itu semua Intan tiba-tiba pergi dengan berlari. Terlihat sangat jelas bahwa dia berlari dengan memangis dan itu sangat menyakitkan hati Bagas.
Ketika Bagas hendak menghentikan Intan, dia dicegah mamahnya.
Satu minggu setelah kejadian itu Intan kembali ke rumah Bagas untuk memberikan desain baju yang dipesan dan saat itu Bagas sedang di kantor. Intan sengaja mengantarnya ke rumah agar dia tidak bertemu dengan Bagas dan setelah itu dia pergi ke luar negeri tanpa memberitahu siapapun dan pertemuan terakhirnya dengan Bagas saat dia mengukur badan Bagas untuk membuat pakaian.
***
"Aku gak pernah berharap kita bertemu seperti ini Intan."
"Impian kita akan menjadi kenyataan untuk membangun sebuah keluarga. Walau impian itu tidak sepenuhnya tercapai tapi setidaknya kita bisa berkeluarga dengan status besan."
"Anakmu Aryan dan anakku Nisa akan menjadi sebuah keluarga yang seutuhnya menggantikan kita." ucap Bagas dan setelah itu dia mengecup lembut kening Intan dengan meneteskans air mata ke pipi indah Intan.