Tia berjalan sambil menendang-nendang batu kecil di hadapannya. Berhubung sudah jam 11 malam, sudah tidak ada lagi angkutan umum yang melalui depan kantor. Terpaksa harus berjalan kaki ke jalan utama yang akses kendaraannya masih lengkap.
'_HUFFT,,, Kenapa sih harus lembur malam ini?_' gerutunya dalam hati.
Tidak jauh dari posisinya saat ini, Tia seperti melihat seorang pria yang membungkukkan badan dan menumpukan salah satu tangannya di mobil.
"HUWEKK!! HUWEKK!!"
Sepertinya pria itu sedang muntah. Awalnya Tia berniat tidak ambil peduli, menurutnya mungkin hanya muntah karena masuk angin. Tapi ketika dia sudah hampir melewati mobil itu, pria itu terlihat sesak napas. Tidak mungkin baginya untuk diam saja.
"Pak, bapak kenapa? Saya bantu ya?" tanyanya panik.
Dengan napas yang terputus-putus pria itu membalas "A-Alergi saya kumat!"
"Hah? Bapak simpan dimana obatnya? Biar saya bantu carikan!"
"Ti-ti-tidak ada."
Melihat pria itu sudah berkeringat banyak sekali dan terlihat sangat kesakitan, reflek Tia mengeluarkan tissue dari tas dan mengelap keringat di dahi pria itu. Setelah itu dia pun mengeluarkan air botol mineral yang segelnya masih utuh.
"Minum dulu, pak!" tangan kanannya mengarahkan botol ke mulut dan tangan kirinya menengadahkan kepala pria itu.
"Terima kasih!"
"Pak, bagaimana kalau saya bantu ke rumah sakit saja. Biar saya yang menyetir mobilnya bapak!"
Pria itu menjawab dan langsung memberikan kunci mobilnya. Tia langsung bergerak cepat memapah pria itu ke sisi penumpang. Setelah memastikan pria itu duduk dengan nyaman dan memasang seat belt dengan benar, Tia pun berlari pelan menuju pintu kemudi.
***
"Dokter! Suster! Tolong bapak ini terserang alergi! Dia susah napas."
"Baik, silakan anda keluar. Saya akan periksa pasiennya!"
Keluar dari ruang IGD, Tia diarahkan untuk melakukan pendaftaran. Dering handphone dalam tasnya berbunyi dan ternyata ibu Tia menanyakan keberadaannya yang masih belum pulang juga ke rumah. Tia memutuskan untuk menitipkan kunci mobil pria itu pada meja pendaftaran dan memberikan pesan dia harus segera pamit. Tia yakin pria itu pasti sudah ditangani dengan baik oleh dokter sehingga dia bisa segera meninggalkan rumah sakit. Tia pun pulang dengan menggunakan taksi.
***
Seminggu berlalu.
Setibanya di kubikel mejanya pagi ini, Tia menyapa rekan-rekannya. Seperti biasa pada jam-jam sebelum pekerjaan dimulai, sambil menikmati sarapan di meja masing-masing pasti diselingi dengan obrolan ringan seputar berita di kantor.
"Pada membicarakan apa sih?" Tanyanya.
"Pengganti Pak Richard yang ingin pensiun. Minggu ini katanya Pak Richard terakhir." Jawab salah satu rekannya.
"Katanya pengganti si bos ditransfer dari cabang luar negeri loh! Dan yang gw denger, dia bakal datang juga di farewell party Pak Richard akhir minggu ini" Disambung lagi oleh rekan lainnya.
"Gw nggak akan ikutan deh di farewell Pak Richard. Sorenya gw ada meeting di luar." Tanggapanku
"Lo kan bisa nyusul Tia. Farewell nya juga dinner ini."
" Nggak akan keburu kalau gw datang juga. Selain jaraknya lumayan jauh, macetnya juga pasti parah malam Sabtu gitu."
Rekan-rekannya masih terus membicarakan tentang pengganti Pak Richard. Tia membuka laci meja kerjanya. Ada jam tangan pria yang sampai sekarang Tia bingung bagaimana mengembalikannya. Ya, itu jam tangan pria yang ditolongnya seminggu lalu. Ketika keesokan harinya, dia baru sadar ternyata jam tangan pria itu terbawa olehnya. Mendatangi rumah sakit pun sudah, tapi pihak rumah sakit menolak memberikan informasi pria itu. Alhasil jam tangan pria itu masih disimpan oleh Tia.
"Lo masih belum ketemu juga dengan pemilik jam itu?" Tanya Sasa rekan di sebelah mejanya.
"Iya, gw bingung. Ini jam mereknya mahal lagi."
"Oya? Mana coba gw liat lagi!"
"Nih, merek yang bisa untuk DP rumah ini." Tia mengulurkan jam itu ke Sasa.
"Jual aja, Tia!" Usul Sasa sambil nyengir.
"Bisa dituduh pencuri kalau gitu gw!"
Tia jadi kepikiran. Apa jangan-jangan si pemilik berpikir dia pencuri.
***
Tia melihat pria itu yang sedang menyampaikan pidato perkenalan singkatnya. Ternyata pria yang dibantunya rupanya calon bosnya. Dia mengenalkan dirinya sebagai Aldo. Semua jajaran karyawan fokus mendengarkan. Tak lama suara tepukan menggema di auditorium kantor menyambut kedatangannya sebagai pemimpin baru di kantor. Pria itu turun dari podium dan sudah disambut beberapa petinggi kantor. Terlihat pria itu berbincang singkat dari satu orang ke orang lainnya.
Pandangan mata Aldo bertatapan dengan Tia dari jarak yg lumayan dekat. Aldo sempat berpikir menerka siapa perempuan yang tidak jauh didepannya. Tia memutuskan pandangan mereka terlebih dahulu dengan tersenyum sopan dan menganggukkan kepalanya. Akhirnya memori siapa perempuan ini terlintas di kepala Aldo setelah Tia berpapasan jalan dengannya. Aldo pun membisikkan sesuatu kepada sekretaris yang berdiri di sampingnya dengan tatapan yang terus mengikuti kemana Tia.
***
"Selamat siang, Pak Aldo! Maaf saya menganggu sebentar. Saya ingin mengembalikan jam ini." Kata Tia sambil meletakkan jam tangan di atas meja.
"Kenapa baru sekarang dikembalikan jam ini?" Aldo menatap Tia dari kursi duduknya.
"Mohon maaf, Pak!" Balas Tia menundukkan kepala.
"Saya kan menitipkan jam ini ke kamu. Tapi begitu saya selesai ditangani dokter, kamu sudah menghilang. Kamu berniat mencuri ya?" Aldo menegaskan kembali pemikirannya.
"Jangan sembarangan menuduh ya, Pak! Saya memang harus segera pulang sehingga saya tidak sengaja membawa jam itu. Lagipula bapak sendiri yang menitipkan jamnya, bukan saya yang sengaja mengambil diam-diam tanpa sepengetahuan bapak. Maaf, saya pikir tuduhan bapak tidak berdasar!" Bela Tia dengan emosi.
"Jaga intonasi suara kamu ya! Saya pemimpin di sini." Tantang Aldo.
Mereka saling bertatapan dengan tajam. Tubuh Tia bergetar karena menahan emosi dalam dirinya. Kedua tangannya pun terkepal di kedua sisi tubuh.
Perlahan Tia menghirup napas dan menjawab dengan lembut "Maafkan saya, Pak! Saya tidak ada niat apapun tentang jam itu. Saya akui, saya lupa dan baru tersadar jam itu masih ada di tangan saya sehari setelah nya. Saya juga sudah balik ke rumah sakit dan meminta informasi bapak. Berhubung confidential, pihak rumah sakit juga menolak memberikan akses informasi bapak. Jadi saya bingung dan belum tau bagaimana untuk mengembalikan jam itu. Bapak mungkin bisa cek ke rumah sakit untuk keterangan saya ini. Permisi Pak dan mohon maaf kembali."
"Siapa yang menyuruh kamu keluar?" Aldo menghentikan Tia yang sudah berjalan ke arah pintu.
"Maaf, Pak!" Tia membalikkan badannya kembali.
"Saya tidak akan menerima maaf kamu sebelum saya menghukum kamu?"
Tia kaget dengan permintaan Aldo yang diucapkan dengan senyuman bengisnya.
"A-Ap-Apa????"
***
Sejak kata hukuman yang dilontarkan oleh Aldo sebulan lalu, hari-hari Tia di kantor dipenuhi oleh permintaan aneh-aneh. Awalnya hanya permintaan seputar pekerjaan. Revisi laporan ini ataupun laporan itu. Padahal Tia memiliki atasan langsung, tetapi sekarang Tia harus melapor langsung pada Aldo.
Sejak satu minggu ini juga, permintaan Aldo semakin membuat kesal. Tia juga harus memperhatikan kopinya, makanannya, bahkan kebersihan ruang kantor dan apartemennya. Sudah berasa menjadi asisten pribadi merangkap pelayan saja.
Siang ini Tia sudah 5 kali menghidangkan kopi karena permintaan Aldo yang terus-menerus mengganti kopi karena tidak sesuai dengan seleranya. Tia tau kopi ini dijadikan pelampiasan karena kekesalan Aldo dengan berita pagi ini akibat tender yang gagal.
"Ganti lagi!" kata Aldo setelah menyeruput gelas kopi kelima.
Rasanya sudah cukup. Tia sudah cukup menahan geramnya. "Cukup, Pak! Saya tau bapak tidak dalam kondisi baik hari ini, tapi saya juga capek diperlakukan seperti ini. Kenapa harus saya yang harus selalu toleransi dan sabar ke bapak? Bapak bisa kesal, saya juga bisa kesal! Saya rasanya menyesal ketemu bapak malam itu. Niat saya baik tapi kenapa saya dapat hukuman seperti ini dari bapak. Kapan bapak berniat memaafkan saya? Ini sudah sebulan, Pak! Saya juga ingin bekerja dengan tenang!"
"Kamu berani menantang saya? Saya bisa memecat kamu!" Aldo menatap Tia tajam.
"Baik, saya akan urus surat pengunduran diri hari ini!"
Tia sudah tidak tahu harus menjaga mukanya bagaimana? Ditatapnya lagi Aldo di hadapannya dengan pandangan nanar dan segera pamit keluar.
Tia tidak menyadari bagaimana perubahan muka Aldo setelah dia meninggalkannya. Aldo tau dia lah di sini yang brengsek mempermainkan Tia. Sebenarnya dia pun sudah mengecek juga dengan pihak rumah sakit mengenai kebenaran keterangan Tia. Aldo juga tau siang ini dia melampiaskan kekesalannya karena kekalahan tender dengan mengerjai Tia. Tidak tau dampaknya akan seperti ini.
***
TOKK... TOKK...
"Mba Tia, ada tamu buat mba!"
Tia membuka pintu kamarnya. "Siapa, Bi?"
"Tidak tahu, Mba Tia. Sepertinya si Mas ini belum pernah ke sini bertamu."
"Laki-laki?" Tia mengerutkan kepalanya berpikir.
"Iya, Mba. Ditunggu di ruang tamu ya. Saya permisi dulu."
Sepeninggalan Bibi, Tia pun berjalan ke arah ruang tamu. Dan betapa terkejutnya dia setelah melihat tamunya yang sedang duduk di kursi.
"Ada apa lagi, Pak? Saya rasa urusan kita sudah selesai. Saya juga sudah tidak peduli lagi dengan hukuman bapak!"
"Kamu masih kesal dengan saya? Ini sudah seminggu, Tia." Kekeh Aldo.
"Tidak peduli sudah seminggu atau berapa lama pun, saya pikir kita sudah tidak urusan!" Tia duduk di hadapan Aldo dan menatapnya dengan sengit.
"Saya minta maaf!" Aldo membalas tatapan Tia
"A-Ap-Apa?" Tia takut salah dengar dengan perkataan Aldo barusan.
"Saya minta maaf, saya salah. Saya tau kamu tidak berniat apapun terhadap jam saya. Katakanlah, sebenarnya saya,,," Aldo menghentikan perkataannya sejenak dan memandang Tia dengan dalam. "Saya sengaja memberikan hukuman untuk kamu."
"Kenapa? Bapak senang mempermainkan saya?" Lirih Tia menatap Aldo. Matanya pun sudah berkabut mengingat bagaimana Aldo memperlakukannya dan hal itu adalah kesengajaan. Padahal Tia berpikir selama ini adalah tanggung jawabnya karena lalai akan jam itu. Makanya dia hanya mencoba pasrah dan menerima hukuman Aldo selama ini.
Aldo berdiri dan mendekat ke Tia. Dia mengangkat kedua tangannya ke wajah Tia. Perlahan ibu jarinya mengusap air mata Tia yang sudah jatuh. "Tolong maafkan saya! Seharusnya saya mengucapkan terima kasih, bukannya mengerjai kamu. Saya terlalu menjaga ego saya karena salah paham ke kamu. Awalnya saya hanya berniat sebentar, tapi semakin sering saya bersama kamu, semakin saya ingin kamu selalu beredar di pandangan saya. Kamu dengarkan Tia, saya menyukai kamu."
"Bohong! Tidak ada orang yang memperlakukan orang yang disukai seperti bapak memperlakukan saya." Tia memutuskan tidak mempercayai ucapan Aldo.
"Saya kekanakan, Tia. Saya ingin menarik perhatian kamu dengan cara mengerjai kamu. Saya ingin kamu selalu di dekat saya dengan cara menyuruh kamu langsung memberikan laporan pada saya. Saya ingin kamu mengenal saya dengan cara kamu mengenal kebutuhan pribadi saya. Maaf, maafkan saya yang memakai cara seperti ini untuk menarik perhatian kamu. Bukannya kamu menyadari ketertarikan saya, kamu malah pergi"
"Ini beneran, Pak? Tidak mengerjai saya lagi?"
Aldo menggenggam tangan Tia dan menatapnya dengan kesungguhan. "Saya jujur Tia. Tidak ada perkataan saya yang ingin mengerjai kamu. Tolong beri saya kesempatan untuk memperlakukan kamu dengan baik. Tolong beri saya waktu agar kamu dapat mengenal pribadi saya dengan baik. Kamu mau kan?
"Bapak tetap saja menyebalkan. Bapak memaksakan kehendak!" Tia menatap tajam sebentar lalu terkekeh.
"Ma-maaf!" Aldo mengusap tengkuknya salah tingkahnya
"Ok, saya maafkan dan beri kesempatan ke kamu, Aldo! Tidak apa-apa kan saya menyebut namamu? Tanya Tia tersenyum hangat di hadapan Aldo.
Aldo yang tidak dapat menahan kebahagiannya langsung memeluk Tia ke dekapannya. "Terima kasih, saya bahagia! Saya senang kamu menyebut nama saya"
Mendengar ini, Tia pun membalas pelukan Aldo juga dengan erat.
Dan ternyata tidak butuh waktu lama bagi Aldo untuk meyakinkan Tia. Enam bulan setelahnya undangan pernikahan mereka pun tersebar.
***