Bekerja di sebuah perusahaan besar tidak membuat hidup Sara berubah. Justru setelah perusahaan itu berpindah kepemilikan, ia jadi selalu pulang tengah malam saking banyaknya pekerjaan.
Saat pulang inilah Sara rasanya ingin mendatangi bosnya itu, menculiknya, lalu mencincangnya hidup-hidup. Bagaimana tidak? Dia hanya bisa pulang dengan angkutan umum seperti bus atau angkot, dan dengan pulang tengah malam begini, sangat sulit mencari kedua kendaraan itu.
Jika ada yang bertanya kenapa dia tidak memesan ojek online atau bawa motor sendiri? Jawabannya adalah 1) dia ingin berhemat; dan 2) hanya ada 2 motor di rumahnya—yang mana keduanya dipakai oleh orang-orang yang tidak mau mengalah.
Sudah hampir satu jam Sara berdiam diri di halte, tapi tak satupun bus ada yang lewat. Sara mendengus. Menunggu bus, adalah hal yang paling ia benci di dunia ini. Jika saja rumahnya dekat, ia bersumpah tak akan mau repot datang ke halte ini setiap hari.
Ketika Sara memutar pandangannya ke sisi kanan, samar-samar dalam kegelapan, ia melihat beberapa pria bermotor mengelilingi sebuah mobil.
"Pemalakan lagi? Ckck," Sara berdecak; meninggalkan tasnya di situ, lalu menghampiri orang-orang itu.
"Woy! Ngapain ngerubungin mobil begitu?" teriak Sara.
Kelima pria itu berbalik, termasuk pria di dalam mobil yang hendak memberikan sesuatu yang diminta para preman pemalak.
"Lu lagi, lu lagi," keluh salah seorang preman. "Mau lu apa, sih?"
"Emang kalau gue bilang apa mau gue, kalian bakalan nurutin, gitu?" balas Sara jengah.
"Kok lu yang ribet, sih? Orang yang kita palak juga b aja," timpal pemalak lainnya.
"Gue nggak ribet, kok. Gue cuma nggak mau aja ngelihat ketidakadilan di sekitar gue. Kalau kalian mau uang, ya kerja, dong!"
"Eh, ngajak ribut dia. Kita sikat dululah, Bang, baru lanjut malakin ini orang kaya," usul preman lainnya pada si preman pertama.
"Oke lah."
Mereka langsung turun dari motor masing-masing. Sara sendiri sudah bersiap menggulung lengan bajunya dan memasang kuda-kuda.
Pria yang yang berada di dalam mobil terbelalak melihat aksi Sara dengan para preman. Mereka memang belum saling adu jotos, tapi sudah bersiap melakukan aksi itu.
"Hey, Nona!" Pria itu bergegas keluar; berdiri di depan Sara, mencegahnya melanjutkan aksi saling pukul.
"Minggir aja udah. Biar gue kasih pelajaran, tuh, sama para preman gagal pensiun," kata Sara.
"Enggak. Jangan. Nggak usah. Nanti kamu kenapa-napa. Mereka banyak, kamu cuma satu." Pria itu kedengaran khawatir.
"Lu nggak tau siapa gue. Udah minggir aja sana!" Sara mendorong pria itu agar menyingkir dari hadapannya, yang berakibat pria itu jatuh tersungkur.
"Sorry, Bro, ini juga demi lo," ucap Sara. "Ayo, tunggu apa lagi?" lanjutnya pada para preman itu.
Mereka maju satu per satu, yang langsung disambut Sara dengan bogeman mentah nan menyakitkan.
Satu per satu tumbang, mengaduh kesakitan sambil memegangi salah satu bagian tubuhnya.
Rupanya, Sara bukanlah lawan yang remeh. Itu yang Pria Bermobil tangkap dari bagaimana sosok Sara menghajar para berandalan itu sementara ia masih tergeletak di tanah akibat dorongan Sara tadi.
Hingga tiba giliran preman terakhir—yang juga adalah bos dari kawanan preman itu. Sara berduel seru dengan pria botak bertubuh tinggi tersebut. Nahas, tanpa Sara ketahui, salah seorang preman yang semula sudah tergeletak di belakangnya bangkit—bersiap menyerang diam-diam Sara dari belakang.
"Awas, Nona!"
BUGH!
BRUG!
Suara pukulan keras dilanjut debuman di tanah menghentikan aksi Sara. Baik si Ketua Preman maupun Sara, keduanya sama-sama terkejut saat mendapati pria yang hendak dipalak tergeletak di tanah tak sadarkan diri dengan sedikit darah di kening.
Kelima preman itu tampak ketakutan. Bergegas mereka menaiki motor masing-masing dan kabur sejauh-jauhnya.
"Lah, dasar preman payah," cibir Sara. Ia lalu berjongkok di dekat pria berjas hitam yang asyik pingsan itu.
"Bangun, Bang. Jangan pingsan di sini napa? Rumah sakit jauh. Ini aja nungguin bus nggak datang-datang. Bang, bangun, Bang," oceh Sara sambil menepuk-nepuk pipi pria itu.
Perempuan itu kemudian membopong laki-laki tersebut ke halte, membaringkannya di sana sambil berpikir cara membuatnya sadar.
"Dia dipukul sekali aja pingsan. Laki macam apa dia? Dasar payah," gerutunya.
Oh, ya. Ia baru ingat, dalam tas yang selalu dibawanya ke mana-mana itu ada minyak kayu putih. Inilah salah satu keuntungan yang dia dapat dengan naik bus meski tengah malam begini.
Sara pun membaukan minyak kayu putih itu pada si pria. Hingga beberapa detik kemudian, pria itu mulai membuka mata.
"Lo nggak apa-apa? Perlu gue bawa ke rumah sakit?" tanya Sara.
Pria itu menggeleng sambil memegangi kepalanya yang terasa pening akibat bertabrakan dengan aspal tadi.
Sara geleng-geleng melihat tingkah pria itu. Mulutnya yang memang tidak bisa diam, akhirnya lanjut mengoceh, "Makanya, Bang, kalau ada begal itu dilawan. Jangan malah main kasih apa yang dia minta. Nanti keenakan. Orang kerjanya cuma malakin orang juga. Udah banyak korbannya, dan mereka itu nggak kapok-kapok. Sekarang gue mau tanya, kenapa lu masih berkeliaran di sini, sih? Habis dari mana? Atau mau ke mana?"
Sara menjeda ucapannya, melihat pakaian pria itu yang adalah kemeja dan jas seperti orang kantoran. "Oh, lu pasti baru pulang kerja, ya? Kayak gue, nih. Semenjak ganti bos, jam kerjanya ditambah sampai tengah malem. Mana bus sama angkot susah kalau dah malem gini. Sialan emang itu si bos."
Pria itu tenganga; seolah lupa akan rasa sakitnya begitu mendengar ocehan Sara yang tanpa henti. Di akhir kalimat pertama, dia bertanya, tapi belum sempat dijawab, sudah kembali mengoceh lagi.
"Andai aja gue ketemu dia, gue pasti bakalan protes. Sayangnya, sampai detik ini gue belum pernah ketemu si bos ngeselin itu. Udah kerja rajin-rajin berangkat pagi buta, masih pula disuruh pulang tengah malem. Kerjaan selesai, selalu kurang dan terus ditambahin, harus sampe tengah malem pokoknya. Dasar ngeselin."
Kan, perempuan ini kembali mengoceh.
Tidak mau keduluan disahut Sara, pria itu memutuskan bertanya, "Memang kamu kerja di mana?"
"Di kantor itu, tuh. Di sana. Jarak lima ratus meter dari sini," jelas Sara, tak lupa menunjuk di mana arah kantor itu berada.
Pria itu mengangguk. "Rumah kamu di mana?"
Kali ini Sara tak menjawab, ia justru menatap aneh pria di sampingnya itu. "Mau apa tanya-tanya rumah? Mampir? Maaf aja, nggak nerima tamu apalagi tengah malam."
"Tapi rumahku jauh," Pria itu beralasan.
"Lah, rumah gue juga jauh kali, Bang. Nah, itu bus gue dateng. Lu bisa pulang sendiri, kan? Bisalah. Jadi laki-laki nggak boleh lemah. Oke, bye~" Sara mengambil tasnya dan melenggang pergi.
"Minyak kayu putihmu!" teriak pria itu.
Sara yang sudah masuk ke bus hanya menggeleng. "Ambil aja! Buat kenang-kenangan!" teriaknya sayup-sayup seiring dengan bus yang mulai menjauh.
Pria itu tersenyum menatap bus, tempat perempuan yang menolongnya tadi menghilang. Gadis barbar, tapi unik.
***
Hari baru lagi bagi Sara. Ya, hari yang menyebalkan. Kali ini dia akan bekerja pelan-pelan saja, karena endingnya sudah pasti pulang tengah malam.
"Sar, lo dipanggil Pak Bos Baru ke ruangannya," ucap salah seorang rekan Sara.
"Seriusan? Gue dipanggil?" tanya Sara semangat.
"Ho'oh. Cepetan ke sana," jawab laki-laki itu sambil berlalu.
Dengan semangat 45, Sara bergegas ke ruangan atas, ruang bos barunya itu berada. Dia juga punya tujuan lain: protes dengan jam kerja yang hingga tengah malam itu.
Sara memang terkenal dengan sifatnya yang tak bisa diam, tak tahu malu, tapi pemberani. Apa saja yang menurutnya salah, maka akan dia protes. Tidak peduli jika protesnya itu pada orang besar seperti seorang bos.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk."
Pintu dibuka dari luar oleh Sara. Tampaklah sesosok pria yang tengah membelakanginya. Benar, kan, dugaan Sara, bos barunya itu masih muda.
Ketika Sara hendak membuka suara memanggil bosnya itu, sebotol minyak kayu putih yang menyatu dengan gantungan kunci warna pink, sukses menarik perhatian Sara. Minyak kayu putih itu tampak tak asing di matanya.
Astaga. Itu kan ... minyak kayu putihnya semalam yang ia berikan pada pria yang ditolongnya. Bagaimana bisa benda itu berada di sini?
"Emm ... Pak Bos," panggil Sara hati-hati. Baru kali ini jantungnya berpesta tak karuan, memikirkan kemungkinan yang semoga saja tidak mungkin.
Pria itu berbalik; memamerkan senyumnya yang menawan sambil menatap Sara.
Sara terkesiap. Pria ini ... ini yang ditolongnya semalam? Iya, tidak salah lagi.
"B-b-bos? Kau ...?"
"Iya. Saya bos baru kamu," kata pria itu. Kalimat 'saya bos baru kamu' seperti sengaja dieja dan kedengaran sangat jelas di telinga Sara.
Siapa saja tolong! Sara mau pingsan di tempat rasanya.
"Pak ... maaf, maaf soal semalam. Saya ... saya sungguh tidak tahu siapa Anda," sesal Sara.
Sungguh, ini sangat tidak lucu. Dia menggosip tentang keburukan bosnya, bersama pria itu sendiri. Siapa saja, tolong culik Sara dari sini!
"Tidak masalah ... Nona Sara." Zavier, bosnya itu tersenyum kecil. "Justru," lanjutnya, "saya ingin berterima kasih padamu. Kamu telah menolong saya dari gangguan para preman itu semalam."
"Sa-sa-saya ... tidak, Pak. Anda tidak perlu berterima kasih. Sudah tugas saya sebagai seorang karyawan untuk ... menolong bosnya."
"Dan menggibah tentang kelakuan buruk si bos?" pancing Zavier; Sara membelalak.
"Tidak, Pak, tidak. Itu ... mmm ... semacam kesalahan teknis. Saya hanya kesal, karena setiap hari harus pulang tengah malam. Mana nyari angkutan juga susah, banyak preman lagi. Untung saya bisa bela diri. Saya nggak ada niatan menjelek-jelekkan Bapak, kok. Saya hanya ... hanya mengungkapkan unek-unek yang selama ini mengganjal. Dan biar Bapak tahu, membuat jam pulang semua karyawan jadi tengah malam itu bukan hal bagus, karena tidak semua karyawan punya tumpangan pulang," celoteh Sara.
Zavier tersenyum. "Iya. Saya mengerti. Maaf sudah merepotkanmu selama ini, dan ... terima kasih atas kritikannya. Sekarang kamu bisa keluar."
"Makasih, Pak. Makasih banyak." Sebelum keluar, ekor mata Sara menatap minyak kayu putihnya yang masih tergeletak rapi di meja Zavier.
Zavier yang menyadari arah pandang Sara, langsung mengambil benda itu. "Ini sudah kamu berikan ke saya, kan? Orang bilang setelah memberi, nggak boleh diambil lagi."
"Enggak, Pak, enggak. Saya nggak ada niatan ngambil minyak itu lagi, kok. Permisi, Pak." Sara buru-buru keluar, sebelum dirinya semakin bertingkal konyol dan mempermalukan diri sendiri.
"Gila, gila, gila," rutuk Sara di sepanjang jalan kembali ke ruangan tempat ia bekerja bersama lusinan karyawan lain.
"Ada apa, Sar? Kenapa Pak Bos manggil lu?" tanya Vihan, salah satu dari lusinan rekannya—yang tadi memberitahu soal panggilan bosnya tadi.
"Enggak. Nggak ada apa-apa," jawab Sara asal. Jika dia ceritakan yang sebenarnya, Vihan pasti akan mengejeknya habis-habisan.
***
"Bos baru kita baik banget, sih. Siapa pun yang lembur dan nggak bawa kendaraan, bakal dianterin pulang sama mobil kantor. Mana sekarang jam kerjanya juga dikurangi, nggak sampai pulang malem lagi. Akh makin suka, deh, sama Pak Bos," oceh Alizeh, sahabat yang juga teman sekantor Sara.
"Hah? Apa lo bilang tadi?"
"Kita nggak bakalan lembur-lembur lagi, Sar. Dan kalaupun terpaksa lembur, pulangnya bakalan dianterin sama mobil kantor," jelas Alizeh.
Sara terdiam sesaat. Baru saja kemarin dia meluapkan unek-uneknya pada sang bos, dan laki-laki itu sudah mengabulkannya? Kalau begitu, wah, keren sekali bos baru itu.
Ketika hendak menimpali ucapan Alizeh, Sara merasa ada seseorang di belakangnya. Ia pun menoleh. Zavier, bosnya itu berdiri tak jauh darinya sambil memasang senyum teduh yang manis.
Sara pun membalas. Meski agak kikuk, tapi sungguh dia sangat berterima kasih. Mungkin, Zavier melakukan ini sebagai rasa terima kasihnya karena Sara telah menolongnya dari para preman malam itu?
"Woy! Jangan senyum-senyum sendiri! Dilihat orang ntar dikata gila, loh!" tegur Alizeh.
Sara terkesiap. Selanjutnya kembali memfokuskan mata pada laptop di depannya.
***
Pengurangan jam kerja itu rupanya tak berlaku bagi Sara. Ketika Alizeh, Vihan, dan rekannya yang lain dipulangkan, Sara malah ditahan untuk tetap lembur. Akan tetapi, ia malah selalu pulang dengan diantar Zavier. Ya, kau tidak salah dengar. Setiap hari.
Alih-alih dipesankan taksi atau diantar dengan mobil kantor, malah Zavier sendiri selaku bos yang turun tangan mengantar Sara.
Mau menolak, Sara tak bisa. Ia takut dipecat dan kembali jadi pengangguran. Meski Zavier juga tak pernah mengancamnya sampai detik ini: hari keempat belasnya diantar sang bos.
"Pak Bos, kenapa, sih, selalu nganterin saya?" tanya Sara di hari kelima belasnya diantar Zavier. Biasanya, mereka hanya diam-diaman saja. Zavier sebenarnya tidak terlalu banyak bicara, sedang Sara akan mengantuk jika terlalu lama diam.
"Karena aku kasihan pada para preman yang kau pukuli," jawab Zavier seraya terkekeh pelan.
Sara mengerjap beberapa kali. Kasihan pada preman? Jawaban macam apa itu? pikirnya.
"Tapi aku ini hanya karyawanmu. Kenapa kau malah mau repot mengantarku pulang segala?"
Zavier mendadak menghentikan mobil, memutar duduknya menghadap Sara. Sara ketar-ketir; gugup dan bingung sendiri. Mau apa bosnya ini?
"Karena, aku tidak bisa membiarkan masa depanku pulang sendirian. Bagaimana kalau dia kenapa-napa?"
Deg!
Masa depanku? Apa maksud Zavier dengan menyebut Sara sebagai masa depannya? Apa pria itu ... tidak, tidak, tidak. Sara menyingkirkan jauh-jauh pikiran itu. Mana mungkin Zavier menyukainya? Mustahil, pikir Sara.
"Sara Haseena, will you marry me?"
Sekali lagi Sara mengerjap beberapa kali, memastikan dia tidak sedang bermimpi. Ini sungguhan, kan? Siapa saja tolong tampar atau cubit Sara, biar Sara segera sadar jika ini hanyalah mimpi.
"Pak Zavier? Sadar, Pak," Sara melambai-lambaikan tangan tepat di depan wajah bosnya itu.
"Saya tidak sedang mabuk, Sara. Saya serius. Maukah kau jadi istriku? Menjadi masa depanku, teman hidupku, dan ibu dari anak-anakku kelak. Will you marry me, Sara?"
Sara hanya bisa mengangguk-angguk. Ia tebak, pipinya yang memanas ini sudah sangat terlihat merah. Kata-kata itu tedengar begitu manis di telinga; Sara yang nyaris tak pernah baper dengan segala tingkah lelaki, bagai tak berkutik sekarang ini.
"Terima kasih banyak." Zavier mendekatkan kening mereka, memberi kecupan lembut di puncuk rambut Sara, membuat jantung Sara tidak aman untuk pertama kalinya.
"I love you," bisik Zavier tepat di telinga Sara.
"I love you too, Pak Bos," balas Sara.
Keduanya lalu berpelukan. Di sini, di mobil ini, dan di jalan ini, yang menjadi saksi bagaimana awal pertemuan mereka, dan awal yang baru bagi perjalanan mereka.
---THE END---