Roseline dan Rosana adalah kembar tidak identik. Bagaimana tidak, walau lahir satu perut dan Rosana yang lahir lebih dulu, tapi kulit mereka berbeda. Rosana lahir dengan kulit lebih gelap di banding adiknya yang lima menit lahir belakangan. Sang adik lebih mirip ayahnya yang memang keturunan Amerika-Padang sedang, Rosana lebih mirip ibunya yang asli Jawa tulen.
Walau perbedaan kulit yang mencolok, tak membuat keduanya dibedakan dalam kasih sayang. walau terkadang Rosana merasa kedua orang tuanya lebih menyayangi Roseline. Itu terbukti dari perbedaan nama yang mencolok. Adiknya memiliki nama panjang yakni Roseline Angelica, sedang dirinya hanya Rosana saja. Pernah ia tanyakan perihal perbedaan nama itu pada ibunya.
“Kan hanya nama, sayang. Jangan buat drama oke!”
Rosana hanya bisa pasrah, ia pun menurut tak mempermasalahkan perbedaan nama itu. Ternyata, bukan hanya nama yang berbeda. Perihal mainan pun berbeda. Rose atau biasa dipanggil Angel oleh ayah dan ibunya psti lebih besar dari miliknuya. Awalnya sang ibu beralasan akan bergantian membelikan yang besar setelahnya. Tapi ketika boneka itu ada, Angel meminta mainan itu dan ibu langsung memberikannya.
“Mengalah saja. Dia adikmu, jadi kau harus mengalah,” begitu yang ibu katakan ketika Rosana hendak protes.
Ketika sekolah, mereka berangkat bersama, Angel bersikeras ingin satu kelas dengan kakak kembarnya. Rosana sebenarnya tak keberatan jika adiknya itu satu kelas dengannya. Tetapi, ia jadi menyesal karena semua hasil karyanya diakui oleh sang adik.
“Wah ,,, anak ibu memang hebar. Kamu harus menirunya Rosana!” ujar sang ibu.
“Tapi itu milikku yang diakui oleh adik, bu,” protesnya.
“Ini milikku. Kakak jangan begitu,” sergah Angel tak terima.
“Oke kalau itu milkmu. Bisakah kau membuatnya lagi?” tantang Rosana.
Hal itu membuat gugup Angel. Sang ibu tahu jika hasil karya yang diperlihatkan ini adalah hasil kerja keras kakak kembarnya. Wanita itu memilih membela sang adik dibanding menegurnya.
“Sudah jangan membuat adikmu patah arang. Besok kau ajari saja, biar dia bisa mengerjakan sendiri karyanya, oke?”
Rosana kesal bukan main. Sedangkan Angel merasa tak bersalah sama sekali. Semenjak dari sana. gadis kecil itu tak lagi membuat karya apapun. Ia memilih adik kembarnya yang mengerjakan.
“Bukankah kau sangat jago membuatnya, Angel!” ketusnya meledek. “Itukan yang kau katakan pada kami kemarin?”
Angel malu bukan main. Pulang sekolah, ia sedih dan mengadu pada ibunya. Tentu saja bukan cerita yang sebenarnya. Hal itu membuat sang ibu marah pada anak tertuanya.
“Kenapa kau mempermalukan adikmu, Rosana!” teriaknya.
“Aku tidak ....”
“Kau merusak karya Angel karena kau iri!”
“Itu tidak benar!” teriak Rosana membela diri.
“Hei ... kenapa putri ayah meneriaki ibunya?” sang ayah datang.
“Entah ... aku pusing mengajarinya, padahal semua yang ia inginkan aku penuhi,” sahut sang ibu kesal.
“Rosana, kenapa kau begitu?” tanya sang ayah lembut.
“Aku tidak seperti itu,” jawab Rosana tetap membela diri.
“Sudah, abaikan saja, yah. Namanya juga anak-anak. Ayah lelah kan?’
Sang ibu mulai mengalihkan pembicaraan. Hal itu membuatnya sedih bukan main. Ia menatap adiknya dengan penuh kekesalan. Hanya air mata yang mewakili betapa ia marah akan fitnah keji adik kembarnya itu. sedanglan Angel hanya menatap kakaknya biasa saja dan acuh.
Semenjak itu Rosana banyak diam dan murung. Sikapnya yang berubah, membuat ayahnya heran. Ia sempat menanyakan perubahan sang putri pada istrinya.
“Sudah tidak apa-apa. Mngkin dia hanya ngambek,” jawab sang istri menenangkan sang suami. “Nanti dia baik lagi kok.”
Diamnya Rosana membuat nilainya turun. Para guru mulai bertanya bahkan mulai memanggil orang tuanya.
“Putri saya memang kurang dalam pelajaran, bu. Bahkan sikapnya membuat imbas buruk pada adik kembarnya,” jawab sang ibu.
“Tapi maaf bu. Nilai Angel ada di peringkat ke lima sedang yang peringkat pertama selalu Rosana. Bahkan semua nilai Rosana jauh lebih sempurna di banding Angel,” jelas guru.
“Itu tidak mungkin. Bisa saja, Rosana menukar kertasnya kan?” sahut sang ibu masih membela putrinya yang cantik itu.
“Itu tidak mungkin bu. Tempat duduk mereka saja berbeda. Rosana duduk di barisan depan sedang Angel duduk di pojok belakang. Sangat tak mungkin untuk Rosana menukar jawabannya,” jelas bu guru lagi.
Ibu terdiam. Selama ini putri yang selalu ia bela berbohong dan memfitnah kakak kembarnya. Ia sebagai ibu tak pernah melarang putrinya yang cantik itu memperundung kakaknya. Bahkan ia mengamini semua kelakuan Angel.
“Jika dilihat, sepertinya ibu lebih sayang pada Angel dibanding Rosana ya?” terka ibu guru.
“Tidak! Saya menyayangi kedua anak saya, jangan menuduh sembarangan!” sangkal sang ibu tak suka.
“Maaf bu, kami hanya menduga, tidak menuduh,” ralat ibu guru.
Ibu pun pergi dengan hati kesal bukan main. Ia sangat marah pada Rosana, karena gara-gara salah satu putrinya itu ia dituduh pilih kasih. Kekesalannya ia lampiaskan pada putrinya itu ketika ia pulang sekolah.
“Senangkan kau sekarang!” teriaknya pada sang putri.
Rosana yang tak tau apa-apa bingung, sedang Angel memilih lari dan bersembunyi karena takut akan kemarahan sang ibu. Siang itu, sang ibu habis memukuli putrinya dengan gagang sapu. Rosana tergeletak tak sadarkan diri dengan tubuh memar dan bahkan ada yang terluka.
“Bangun kau!” teriak sang ibu kalap.
Melihat tubuh putrinya tak bergerak, sang ibu mulai panik. Ia menggoncang tubuh kecil itu berkali-kali. Sang ibu terus memanggil namanya.
“Rosana ... bangun, nak!”
Angel yang melihat ibunya mulai histeris dan sang kakak yang kaku datang mendekati. Gadis kecil itu tak tahu apa yan terjadi, ia sendiri ketakutan pada sosok ibunya kini.
“Ibu ... kakak kenapa?”
Sang ibu terus menepuk pipi putrinya yang masih setia memejamkan matanya. Wanita itu berteriak kencang memanggil nama putrinya.
“Rosana bangun!”
Ayah datang dan melihat sang istri tengah memangku salah satu putrinya. Di sana ada gagang sapu yan patah, sedang salah satu putrinya meringkuk dengan tubuh gemetar. Hari sudah gelap.
“Bu ... ada apa ini?” tanyanya dengan suara tercekat.
Sang istri hanya membelai wajah ayu Rosana yang pucat. Wanita itu mengecup putrinya dengan kasih sayang. sebuah kecupan yang tak pernah ia berikan pada putri pertamanya itu kecuali ketika Rosana lahir.
“Ssshh ... diam lah, yah. Rosana sedang tidur lelap bersama bidadari,” jawab sang istri lembut.
Tubuh ayah lansung merosot ke lantai. Sang istri baru saja mengirim putrinya ke alam keabadian selamanya. Pria itu menangis tergugu. Ia memeluk Angel yang juga menangis. Sedang sang istri terus mengusap wajah Rosana yang kini tersenyum sangat manis.
Langit mendung, hujan rintik membasahi pusara seorang gadis kecil yang harus pergi selamanya. Seorang pria berdiri dengan baju basah, tengah memeluk putri yang lainnya. Sedang sang istri kini nerada dalam penanganan medis. Wanita itu terganggu jiwanya setelah memukuli sang putri hingga tewas.
“Nak, maafkan ibu nak ... maafkan ibu,” gumamnya lirih.
T A M A T