‘apakah aku telah membuat suatu kesalahan?’ pikiran ini kembali menyerangku.
©By: SweetChinnamon
“apa masih ada yang kurang di kelas kita?” tanya Mr. Ryan
“Clyde, Rayn, Nana, Ricky, serta Kaith belum hadir sir” ucap Sunny membantu sang guru memeriksa jumlah muridnya
“ani, tadi aku melihat Nana dan Kaith sudah datang, tapi sekarang aku tak melihat mereka, mungkin sedang ke kamar mandi” ucap Tiffany
“ada yang bisa menghubungi mereka? Kemungkinan bus kita akan berangkat sebentar lagi” ucap Mr. Ryan khawatir
“Clyde sudah berangkat sir, mungkin sebentar lagi sampai,” ucap Roxane, saudara Clyde
“baiklah, mungkin kita masih bisa menunggu mereka”
15 minutes later, after they’re pray
“okay, semua sudah lengkap, let’s go” ujar Mr. Ryan
“Fanny, aku duduk denganmu ya” ucap Sunny
“tentu saja! Kalau tidak denganku memangnya kau akan duduk dengan siapa?” ucap Tiffany sambil bercanda
Mereka naik ke bus yang telah disiapkan untuk per kelas. Sunny dan Tifanny duduk di baris ke 4 dari belakang. Di belakang mereka ada Rayn dan Henry, di depan mereka ada Lalice dan Kim Jisoo, sedangkan di samping mereka ada Clyde dan Kai.
Rayn dan Henry tidak bisa diam, mereka terus mengerjai Tiffany, Sunny, Lalice, dan Jisoo. Sampai di tempat tujuan. Mereka langsung berkumpul di aula yang telah disediakan, mereka dibagi menjadi beberapa kelompok, dan bermain Games. Setelah bermain Games, mereka diberi waktu untuk beristirahat/berkeliling dan mandi.
“hey, Tiffany, kau mandi dimana?” tanya Sunny
“aku di kamar mandi umum perempuan saja, kamar mandi dalam kamar kita masih digunakan Raeya”
“oh’ okay, I’ll go with you” ucap Sunny
“aku masuk duluan ya, Sunny” ucap Fany
“eum...” jawab Sunny, tak lama kemudian, kamar mandi di hadapan Sunny terbuka, dan ia pun masuk. Setelah selesai mandi, Sunny keluar
“ Tiffany, kau masih di sini?” teriak Sunny mencari Fany
“yupp” jawab Fany dari dalam salah satu kamar mandi
“kau mau kutunggu atau tidak?” tanya Sunny
“sebentar lagi aku selesai Sunny”
“oh, okay” jawab Sunny sembari berjalan ke samping, untuk melihat pemandangan gunung-gunung, suasana di sini sangat sejuk dan asri.
“sedang apa kau?”
“oh my! You surprised me! Yook Sungjae!” kaget Sunny
“ahahahha~ Sawry (sorry)” ucapnya bercanda
“kau yang sedang apa?!” tanya Sunny
“ah, aku mau mandi”
“huh?”Sunny semakin bingung
“ah, jadi, sebenarnya, air di kamar mandi laki-laki rusak, jadi kamar mandinya tidak bisa dipakai” jelasnya
“aaa’ okay okay”Sunny pun akhirnya mengerti
“hey, Fanny! Hati-hati, ada Sungjae disini” teriak Sunny
“ya’! kenapa kau teriak-teriak begitu!” protes Sungjae
“ya’! kau tidak sadar? Ini kamar mandi perempuan, kau pikir bagaimana jika mereka keluar menggunakan pakaian tidak senonoh?! -_- untung tadi aku mengurungkan niatku untuk memakai celana pendekku -_-“
“Sunny, let’s go” ajak Fanny yang telah keluar dari kamar mandi, lalu mereka berdua meninggalkan Sungjae yang masih menunggu kamar mandi kosong serta Henry yang baru datang.
©By: SweetChinnamon
“di sini dingin” ucap Sunny saat semua sedang berkumpul di halaman, menyalakan api unggun, membakar jagung, dan bernyanyi bersama
“tentu saja” jawab Tiffany
“kau tak ada niat untuk kembali ke kamar?” ajak Sunny
“aku malas”
“di sini dingin, kurasa teman-teman sekelas kita juga tak ada di sini” ucap Sunny
“really?” tanya Tiffany
“wah, benar, kalau begitu kita kembali saja” ucap Tiffany akhirnya meng-iyakan ajakan Sunny
Saat sampai di depan pintu kamar, mereka bertabrakan dengan Rayn dan Kai.
“Ya’ sedang apa kalian di sini?” tanya Sunny
“berkeliling, mencari makanan hahahaha” jawab Rayn terbahak
“astaga, dasar tak modal kkk~” ucap Lalice dari dalam kamar
“memangnya di tempat kalian tidak ada makanan ringan?” ucap Jisoo
“bukan begitu, karena makanan gratis lebih nikmat dibanding makanan sendiri hahahah” jawab Kai
“benar sekali hahahaha” ucap Rayn menimpali
“bagaimana keadaan di tempat kalian?” Tanya Sunny
“kamar kami lebih kecil dari kamar kalian, tapi tidak buruk juga, nyaman. Tapi kamar mandinya sangat mengganggu” ujar Rayn
“hahahah, kalian tadi sampai menumpang mandi disini, seburuk itukah?” tanya Lallice
“ne, kamar mandinya ada di bawah tanah, jadi kalau mau kesana, kau harus menuruni tangga dulu, pencahayaannya sangat temaram dan terlihat seperti lorong rumah sakit di malam hari” ujar Kai
“bagaimana dengan kamar kalian?” tanya Tiffany
“kamar kami kecil, jika kalian sepuluh orang sekamar, kamar kami hanya diisi 4 atau 5 orang saja. Aku sekamar dengan Brake, Ray, dan Samuel” ucap Kai
“aku dengan Henry, Sungjae, Denish, dan Clyde” ucap Rayn
“hai semuaaaa!” ucap Henry yang baru datang
“Kenapa kalian ikut kemari juga, ini sudah malam, aku ingin tidur, kalian kembali saja sana!” usir Sunny
“aku bermalam disini saja lah hahhahaha” tiba-tiba ide gila muncul di benak Henry
“excuse me?! You must be kidding me! Aku tak ingin dimarahi guru” ucap Tiffany
“kalau begitu besok pagi-pagi buta kami akan kembali” Rayn kini ikut menimpali
“ya’ kalian serius?” tanya Sunny
“kenapa tidak?” jawab Kai sembari tertawa
“aku sih setuju saja” jawab Lallice
“bagaimana kalau aku di sebelahmu?”
“of course” jawab Lallice. Akhirnya Lallice dan Kai tidur di kasur yang di pojok. Sedangkan yang lain sedang menggabungkan dua kasur yang berada di tengah. Dan tidur disana beramai-ramai.
Posisi mereka saat ini adalah Sunny berada di paling pojok dekat dengan tembok, lalu di sebelah nya ada Tiffany, di sebelah Tiffany ada Henry, lalu Jisoo dan terakhir adalah Rayn. Namun, karena merasa sempit, mereka pun saling dorong mendorong. Dan karena merasa tidak nyaman Jisoo berdiri, dan akhirnya pindah tidur kasur yang lain.
“kau kenapa Jisoo?” tanya Sunny sembari bangun dari posisi berbaringnya.
“hahaha, aku tidak bisa tidur dengan keadaan seperti itu hahha” jawab Jisoo sembari tetap berbaring
“hahha, kau benar, aku bahkan merasa panas” ucap Sunny sembari bangkit berdiri, hendak berjalan keluar.
“kurasa aku akan mencari angin di luar saja” ucap Sunny sembari berjalan melewati teman-temannya
“ya’! sudahlah, jangan keluar-keluar, bagaimana kalau ada guru yang kemari, pintunya sudah dikunci, jadi tidak usah mengambil resiko untuk keluar” ucap Rayn sembari menarik tangan Sunny ke bawah
“eh!” pekik Sunny saat dirinya terjatuh di sebelah Rayn karena tarikannya. Matanya berkedip beberapa kali, bingung dengan situasinya saat ini.
“huh? Emm, kalau begitu aku kembali saja” ucap Sunny hendak berdiri. Namun langsung di tahan oleh Rayn
“sudahlah, kau terlalu banyak bergerak, justru akan membuatmu semakin gerah. Sudah, tidur disini saja” ucapnya
“tapii” ucapan Sunny tertahan, saat dia merasakan tangan Rayn menggenggam tangannya
“hmm, Rayn?” panggil Sunny perlahan karena melihat Rayn yang memejamkan matanya, sembari mencoba melepaskan genggaman tangan mereka, namun tidak bisa karena Rayn mengencangkan genggamannya.
“sudahlah,, tidur saja” jawab Rayn. Namun, Sunny tidak bisa tidur karena tangannya masih di genggam oleh Rayn. Hatinya berdegup kencang, dia bingung apa yang harus dilakukan. Agak lama, Sunny mencoba untuk kembali melepaskan tangan mereka. Merasa tidak ada perlawanan, akhirnya dengan cepat Sunny melepaskan tangannya lalu berbalik memunggungi Rayn. Dia mengira kalau Rayn sudah tertidur.
©By: SweetChinnamon
Sunny POV
Study tour telah selesai dijalani, kehidupan sekolahpun mulai berjalan dengan normal. Siswa-siswa terus menjalani aktivitas mereka di sekolah dengan baik. Menjalani hari dengan saling menyapa, menonton film, bergosip, menjahili teman, belajar, mengambil self camera, dan lain-lain.
Tak terasa sudah beberapa bulan terlewati. Aku juga sudah tak ingat apa saja yang telah terjadi dan apa saja yang telah kulakukan. Satu hal yang pasti, ada beberapa hubungan yang mulai menjauh. Aku sendiri tidak mengetahui alasan pasti, dan akupun terlambat menyadari. Aku merasa Rayn sudah lama tak menjahiliku seperti dulu lagi, akupun tak mengerti alasannya.
“hey, apakah aku melakukan suatu kesalahan?” tanyaku saat semua sedang berkumpul di kelas namun sibuk dengan urusan masing-masing
“hmm? Tidak ada, kenapa??” tanyanya (Rayn)
“Seingatku belum lama ini kau tidur menggenggam tanganku, dan entah pikiranku saja atau memang aku merasa belakangan ini kau menjauhiku hahha, Tapi kalau memang tidak, yasudah, lupakan pertanyaanku tadi” ucapku sambil tertawa canggung dan beranjak pergi meninggalkan tempat duduknya.
“tapi bukankah kau yang melepaskan tanganku waktu itu?” ucapannya agak menusukku
‘degg’
Aku terkejut mendengar ucapannya. Aku berpikir, ‘Ternyata waktu itu dia belum tidur. Dan memangnya ada apa dengan melepaskan tangannya?’.
“huh? tapi kau juga membiarkanku melepaskannya kan?” tanyaku sambil berbalik menghadapnya lagi, aku tak mengerti memangnya apa salahnya melepas tangannya?
“ya, mau bagaimana lagi, kalau memang kau tak suka” ucapnya sembari tersenyum. Tapi mengapa aku melihat rasa lelah dan sedih di balik senyuman itu? Atau hanya perasaanku saja?
“bukannya tidak suka, tapi bukannya tidak nyaman jika tertidur seperti itu” ucapku, tapi dia seperti tidak peduli lagi dengan ucapanku dan hanya diam saja.
‘apakah yang aku lakukan itu salah?’ pikirku. Saat itu aku masih belum menyadari apa maksud dari perbincangan ini. Tapi ada satu hal yang pasti. Senyum itu. Senyum itu mengganggu pikiranku sampai saat ini.
Tak lama setelah kejadian itu, aku mendapat kabar bahwa ternyata dia telah berpacaran dengan Lallice. Entah kenapa aku merasakan sedikit sesak di hatiku saat mendengar kabar itu. Sampai saat inipun aku masih tidak mengerti apa artinya rasa sesak dan senyum yang mengganggu pikiranku itu? Apakah aku tidak terima teman yang sering menjahiliku sudah tidak akan bisa bercanda denganku seperti dahulu? Ataukah perasaan ini disebut cinta?
‘apakah aku telah membuat suatu kesalahan?’ pikiran ini kembali menyerangku. Namun ada satu hal yang pasti. Kesalahan atau bukan, apa pun yang kulakukan, sudah tidak ada lagi yang dapat merubah situasi ini. Selamanya, hubungan kami yang dulu tidak akan kembali lagi. Jarak antara aku dan dia sudah tak dekat seperti dulu lagi.
Sebenarnya semenjak kejadian itu, sudah beberapa tahun berlalu, tapi, seandainya. Seandainya waktu itu aku tidak melepas genggaman itu, apakah akan merubah jarak diantara kami saat ini?