Aku seorang pemuda yang biasa saja, namaku -- ah! Itu tidak perlu.
Yang perlu diketahui bahwa, aku hanyalah alat bagi kedua orangtuaku. Aku yang disekolahkan pada sebuah sekolah yang cukup ternama hanya bisa menghadapi rundungan demi rundungan.
Ketika aku di rumah, hal yang sama harus terjadi, bahkan lebih parah dari yang kalian bayangkan.
Semuanya berawal dari ketika aku dilahirkan ke dunia ini sebab sebuah hubungan yang tak senonoh. Namun, kedua orangtuaku nampak masih merawatku, tetapi hingga aku menginjak umur 5 tahun, disitulah ingatanku akan kejadian kelam mulai terbayang.
Setiap hari aku harus membantu mereka, mulai membersihkan seisi rumah yang sangat besar, setelah itu bahkan aku tak diberi makan sama sekali, yang aku makan hanyalah ... tikus liar yang selalu menghantui rumahku.
Ya, aku tak punya apa-apa untuk membeli bahkan sepotong roti saja. Aku juga tidak diberikan izin untuk keluar rumah kecuali ketika kedua orangtuaku yang kejam memberi perintah.
***
Aku saat ini berada disuatu ruangan yang sangat gelap. Bahkan kedua tanganku yang nampak seperti terikat tak dapat terlihat. Bayang-bayang kejadian masa laluku mulai terbayang. Usiaku saat ini menginjak 15 tahun.
Krieet ...!
Suara berdecit ketika seseorang membuka sesuatu yang berada didepanku. Dari balik daun pintu, aku melihat cahaya -- ah tidak! Aku melihat hal yang mengerikan akan segera terjadi.
Kemudian, kedua orangtuaku masuk sambil menenteng koper besar berwarna hitam. Kemudian ibuku, tidak! Aku tak akan pernah menganggap demikian. Wanita itu menuju sisi dinding dan menekan sebuah tombol di sana.
Lampu ruangan seketika terbuka dan terlihat bahwa aku saat ini tengah dirantai dengan posisi tangan ke atas. Tubuhku terasa lemah dan tak dapat meronta.
“Kau! Kenapa kau tak memasakkan kami makanan?!” pekik wanita tua bajingan dihadapanku saat ini sambil menghunuskan sebilah pisau yang dia ambil dari mantel miliknya.
Aku hanya menunjukkan senyuman tipis kemudian berkata, “Maaf, I-ibu ... aku kelelahan.”
Bugh ...!
Kepalaku oleng seketika disaat sebuah benda tumpul menghujam wajahku. Pandanganku menjadi buram, nampak saat ini aku melihat pria bajingan itu sedang memegang tongkat kayu dengan nafas memburu.
Aku merasakan kucuran cairan dari dahiku. Itu pasti darah.
Kemudian, dipandanganku yang buram, aku melihat bahwa wanita bajingan itu membuka koper miliknya dan mengambil seutas tali tambang dengan pegangan yang diperkuat.
Ptaass ...!
“Herrkhh!”
Sambaran tali mengenai tubuhku yang nampak telanjang dada. Aku hanya memakai celana pendek.
Ptasss ...!
Terjadilah, dan wanita bajingan itu terus menerus melesatkan tali tambang itu tanpa henti membuat tubuhku nyeri dimana-mana. Aku ... sepertinya telah biasa menerima semua ini.
Bugh ...!
“Lama sekali!”
Sebuah hantaman keras menghujam punggungku. Aku seketika tercekat ketika rasanya tulangku retak. Rasanya ingin teriak, tetapi suaraku tak keluar yang membuatku hanya teriak dalam diam.
“Mati saja kau anak bajingan! Kenapa kau ada, hah?!”
Bugh ...!
Pria bajingan itu terus menerus menghantamkan tongkat kayu itu diseluruh tubuh yang nampak mati rasa.
Dengan segenap tenaga aku berkata, “Siapa yang merawatku hingga saat ini?”
Seketika pria itu terdiam. Urat-urat didahinya sudah sangat terlihat jelas, aku gemetar ketakutan, begitupun wanita yang berada disampingku ketika melihat pasangannya saat ini.
“Mati!!!”
Buughh ...!
Pandanganku langsung buram ketika mendapatkan hantaman keras dikepalaku.
“Sayang! Hentikan! Jangan sampai dia mati, dia masih bisa dimanfaatkan!” Wanita itu nampak mencoba menghentikan pria bajingan tersebut dengan merentangkan kedua tangannya didepanku.
Maaf saja yaa, tak ada belas kasihan kepadamu. Aku dengan segenap tenaga, langsung mencoba mengangkat kakiku untuk mendorong tubuh wanita didepanku. Dengan susah payah, akhirnya aku dapat mendorongnya.
Wanita tersebut jatuh dan menabrak pria bajingan didepannya. Langsung saja aku menarik tanganku dengan kuat, seakan aku mendapatkan tenaga disisa-sisa kehidupanku saat ini.
Pergelangan tanganku bergeser, tetapi aku tak peduli. Aku menariknya dengan sangat keras sebelum kedua pria dan wanita itu bangkit dari terjatuhnya. Ketika aku terus menarik tanganku, sekarang, pergelangan tanganku nampak bergeser lebih jauh.
Namun, aku bebas. Aku langsung saja menuju ke koper hitam yang berada disudut ruangan untuk mengambil alat mereka berdua. Dengan gontai, aku sampai, tetapi dari sebuah dorongan membuatku jatuh tersungkur.
Ternyata itu adalah pria bajingan tersebut, beruntungnya mataku yang tepat berada disamping pisau yang mencuat keluar tidak kenapa-kenapa. Aku berbalik dan menendang pria itu dengan sekuat tenagaku.
Namun, tak bekerja. tanganku yang nampak mati rasa kuusahakan untuk bergerak memegang. Lantas aku memegang pisau yang mencuat keluar tadi, kemudian menghujam ke arah tubuh pria ini yang masih berseringai kejam ke arahku.
“Pria bajingan! Sialan! Kenapa kau membuatku, hah!” Layaknya sebuah robot yang baru saja diisi daya, aku benar-benar bisa berteriak keras.
“Heh! Nampaknya anak papa bisa mengumpat juga yaa, hahaha!” Sambil memegang pisau yang aku hujam ke arahnya, dia tertawa kejam.
Dari arah belakang pria tersebut, wanita bajingan itu datang sambil membawa palu gada dan diangkat ke atas kepala pria didepanku. Terlambat bergerak, palu gada itu menghantam kepala pria tersebut hingga pecah dan tercerai berai.
“Terima kasih, dan ... membuatku bisa mengurangi seseorang!”
JLEB ...!
Aku dengan tenaga terakhir lantas menghujam pisau yang masih berada ditanganku dan belum diambil pria bajingan tadi ke arah jantung wanita ini. Dia nampak terbelalak sebelum kesadarannya menghilang dan jatuh ke arahku.
Aku lantas menggesernya ke samping sebelum aku duduk diatas perutnya dan terus menghujam dada besarnya kemudian merobek perutnya hingga mengeluarkan isinya.
JLEB !!!
“Ini ... buat kau melahirkanku!”
JLEB !!!
“Ini ... buat kau yang selama ini menyiksaku lebih dari pria sialan itu!”
JLEB !!! JLEB !!! JLEB !!!
Entah berapa kali aku menghujam pisauku ini hingga terus membuat cipratan darah kemana-mana dan membasahi tubuh serta wajahku.
Namun, tiba-tiba suara langkah kaki gaduh dari arah luar. Seketika pintu ruangan yang tertutup didobrak oleh seseorang sambil menodongkan sebuah senapan ke arahku.
“Angkat tangan!”
Aku berdiri dan melepas pisau itu seraya mengangkat tanganku yang tampak telah patah akibat aku terus menerus memaksanya sehingga harus benar-benar patah.
Kemudian aku berbalik dan menunjukkan senyuman tipisku yang membuat sekelompok polisi berseragam mundur selangkah dan menjadi gugup.
Bruk ...!
Aku ambruk dan kehilangan kesadaran.
***
Disebuah ruangan yang terdapat banyak sekali orang, dan didepanku terdapat beberapa orang yang memakai baju seperti seorang hakim. Nampaknya aku berada disebuah ruang pengadilan.
“Anda dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena telah menghilangkan dua orang nyawa secara keji.”
Aku yang terborgol dikursi pada tengah-tengah ruangan hanya bisa menerima cibiran dari para saksi. Aku kemudian tersenyum untuk terakhir kali sebelum sifatku benar-benar berubah.
***
KABOOMM !!!
Sebuah ledakan terjadi pada bangunan lapas yang berada disebuah wilayah terpencil. Aku keluar dari gerbang lapas sambil menenteng beberapa kepala di kedua tanganku.
“POLISI!!!” pekik seorang yang nampak gemetaran melihatku.
Ratusan polisi menodongkan senjatanya ke arahku tanpa ampun.
“2.980 orang yang berada disana telah mati, sekarang giliranku,” teriakku yang membuat semua polisi terkejut.
Lapas yang aku tempati memang terbilang sangat besar dan mampu menampung ribuan narapidana.
Tanpa aba-aba dari pemimpin kelompok polisi tersebut, aku pun langsung dihujani oleh tembakan, dan tubuhku telah berlubang-lubang.
Aku terkapar tak berdaya sebelum benar-benar nyawaku melayang.