Gue seorang vampir yang baru dewasa.
Tapi gue hampir mati kelaparan.
Karena gue pengecut.
Nggak berani menggigit manusia.
Gue berjongkok di pintu rumah sakit, berpikir untuk mencari pasien yang sekarat.
Setelah menunggu sangat lama, gue merasa sangat ngantuk dan nggak sengaja tertidur.
Ketika bangun, ada seorang pria berdiri di depan gue.
Dia mengenakan jas putih.
Sepertinya sih seorang dokter.
Pembuluh darahnya yang tersembunyi di bawah kulit sangat jelas, dan terlihat lezat.
1.
Gue menjilat bibir, lalu mengangkat tangan dan menarik celananya, lalu dengan hati-hati berbicara dengannya, "Boleh gue gigit nggak?"
Dia tertegun sejenak, berjongkok, dan bertanya sambil tersenyum, "Apa?"
Gue mengedipkan mata dan berkata perlahan, "… Gue lapar."
Dia tertawa lagi, alisnya yang indah melengkung, lalu mengeluarkan uang 10 ribu dari sakunya, "Beliah sesuatu untuk dimakan."
Ah... apakah ini berarti dia menolaknya?
Gue mendengus dalam hati, lalu mengambil uangnya dengan enggan, berdiri dan pergi.
Gue mendengar suara tawa lain di belakang.
Heh!
Lo lagi menertawai gue ya?
2.
Ketika sampai di rumah, orang tua gue melihat gue dengan penuh harapan.
Gue menggigit bibir, membuka tangan, dan menghadiahkan mereka uang 10 ribu yang gue remas sampai lusuh.
"Apa ini?" tanya mereka curiga.
Melihat mereka yang tampak bingung, gue akhirnya menjelaskan, "Ini yang aku dapat hari ini."
Ibu menghela nafas berat, "Kami menyuruhmu menghisap darah, bukan untuk mengemis."
"Aku nggak ngemis."
Gue membela diri dengan marah, "Aku ingin meminum darahnya, tapi dia menolak, dan kemudian memberiku uang 10 ribu."
"..."
Ibu terdiam, tetapi Ayah berkata, "Kamu sudah ngomong dengannya?"
Gue mengangguk dan memberi tahu mereka apa yang terjadi hari ini.
"Karina, menggigit itu perlu paksaan, kamu nggak boleh bernegosiasi dengan orang lain."
Duh, kok susah ya.
Dengan wajah yang ditekuk, gue duduk di sofa dengan sedih, "Apa aku bisa nggak gigit orang?"
"Nggak," kata Ayah dengan sungguh-sungguh, "Setiap vampir harus minum darah segar supaya awet muda."
Jadi ... kalau enggak muda enggak apa-apa, kan?
Gue menelan kembali kata-kata itu sebelum keluar dari mulut gue setelah melihat ekspresi mereka yang sangat dingin dan datar.
3.
Enggak bisa menyerah, gue hanya bisa melakukannya dengan terpaksa.
Jadi, pada malam yang gelap dan berangin, gue pun menemukan target dan menabraknya.
Gue mendorongnya ke sudut dan berkata dengan kejam, "Jangan bergerak!"
Pria itu tertegun sejenak, lalu mulai tenang. Dia mengangkat tangannya dan menyentuh kepalaku, kemudian berbicara dengan nada lembut: “Kenapa? Lo lapar lagi?"
Eh? ? ?
Kok dia tahu gue lapar?
Sebuah mobil kebetulan lewat, dan lampu depan menerangi wajahnya.
Itu dokter yang gue temui hari itu.
Gue menghela nafas lega dan mundur selangkah, "Pergilah."
Dia sedikit mengangkat alisnya, "Pulanglah lebih awal."
Gue menghela nafas, berjongkok di tanah dengan lemas, dan menggelengkan kepala tanpa suara.
Vampir dewasa tidak diperbolehkan pulang tanpa makan darah pertama mereka.
"Gue nggak punya rumah lagi," kata gue dengan pelan, lalu gue menatapnya dengan sedih, "Gue bole ke rumah lo nggak?"
Dia menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya kepadaku: "Ayo."
Yeah!
Asalkan gue bisa pergi ke rumahnya, maka gue bisa menggigitnya saat dia tidur!
4.
Rumahnya begitu besar.
Gue berdiri di lorong dengan sedikit bingung.
"Masuklah," dia meletakkan sepasang sandal di depan gue, "Lo mau makan apa, biar gue masakin."
Gue menjilat bibir dan mengatakan permintaan gue lagi: "Lo. Gue mau nindih lo di tempat tidur."
Dengan begitu dia tidak bisa mengalahkan gue.
Dia tertegun sejenak, lalu menggelengkan kepalanya: "Hari ini nggak bisa."
? ? ?
"Kenapa?"
Dia terdiam sejenak, "Gue baru saja melakukan dua operasi hari ini dan gue nggak punya tenaga."
"Nggak apa-apa!"
Gue bahkan lebih bersemangat, "Lo nggak perlu bergerak, gue yang bakal melakukannya."
Dengan begitu dia nggak akan melawan dengan kuat.
Dia mengangkat alisnya sedikit, dan terlihat sangat terkejut.
Setelah beberapa detik, dia menjawab: "Oke, sebelum lo mengungkung gue, lo mau makan apa?"
"Apa masih perlu makan lagi?" Gue berkedip dan bertanya dengan sungguh-sungguh, "Ini pertama kalinya, gue nggak punya banyak pengalaman."
"Apa lo mau kue?"
Gue mengangguk dengan bingung.
"Mau minum?"
Gue menjilat bibirku dan ragu-ragu, "Darah?"
Ekspresinya menjadi beku, dan dia terkekeh: "Maksudmu jus tomat?"
"… Terserah."
Cepat, gue mau gigit lo.
5.
Gue duduk di meja makan dan melihat berbagai macam barang di kulkasnya.
Gue melebarkan mata.
Gue belum pernah melihat begitu banyak barang.
Seiingat gue, di kulkas rumah gue cuma ada kantong darah doang.
"Lo bisa ambil apa pun yang mau lo makan."
Ketika gue mendengarnya berbicara, mata gue berbinar, "Apa nggak apa-apa?"
Dia mengangguk, "Tentu saja."
Gue mengambil salah satu barang.
Gue mencicipinya satu per satu di depan dia.
Tapi itu nggak mengurangi rasa lapar gue.
"Lo udah kenyang?" tanyanya.
Gue menggelengkan kepala dan mengangguk, "Kalau begitu, bisakah gue gigit lo sekarang?"
"Ya?"
Dia menatapku dengan bingung.
Saat hendak bertanya lagi, tiba-tiba gue teringat perkataan ibuku, "Menghisap darah harus dengan paksaan."
Jadi tanpa menunggu dia bereaksi, gue pun melingkarkan tangan di lehernya, lalu berjinjit dan menggigit lehernya.
Dia tertawa kecil, "Lo terlalu terburu-buru."
Setelah mengatakan itu, dia pun membungkuk dan menutup mulut gue.
? ? ?
Emang begini ya gigitnya?
Gue lihat mereka menggigit orang di bagian leher.
Lupakan saja, apa pun yang terjadi, gigit aja dulu.
Lalu gue mendengarnya mendengus.
Ada bau darah di mulut gue
Dalam sekejap, gue sangat senang sampai nggak bisa menyembunyikan taring gue.
6.
Detik berikutnya, ujung lidahnya menjilati taring gue dengan ringan.
Gue menggigil.
Dia berhenti sejenak dan menjilat lagi.
Kepala gue berdengung, dan gue mendorongnya dengan panik.
Jangan-jangan... dia sudah menyadarinya!
Sudut mulutnya tertusuk oleh salah satu taring gue, dan darah menyembur keluar.
Dia mengangkat ibu jarinya dan mengusap lukanya dengan acuh tak acuh, lalu tertawa pelan.
"Apakah gue... sudah melukai lo?"
Gue menatapnya tanpa berkedip, jari-jariku terpelintir, ujung jari memutih karena terlalu kuat.
Dia menyipitkan mata padaku, "Gigi lo lumayan tajam."
Gue menjilat bibir dan menelan saliva saat melihat lukanya yang masih berdarah.
Darah barusan hanya memberi gue sedikit kelegaan, tapi gue masih belum kenyang!
Maka itu!
Mana boleh boros!
Gue mendekatinya, berjinjit dekat ke bibirnya, dan menjilatnya dengan ringan.
"Jangan marah, gue nggak bermaksud."
Lain kali gue pasti akan menggigit leher lo.
Menggigit bibir terlalu mudah ketahuan.
Melihat lukanya yang nggak lagi berdarah, gue oun meminumnya dua teguk.
Tapi tindakan gue ini membuatnya salah paham.
Dia menyentuh kepalaku, "Lo lagi ngerayu gue?"
Gue terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
Kalau dia bisa dibujuk, nggak apa-apa kalau berbohong!
Kalau nggak, bagaimana cara untuk bisa terus menggigitnya?
"Cium aja lo nggak bisa, gimana lo bisa mengungkung gue?" Dia menatapku dengan senyum di matanya.
Dia nggak terlihat marah lagi.
"Gue memang nggak berpengalaman, lain kali gue bakal melakukannya dengan baik." Kata gue dengan nggak yakin.
Hal itu mah siapa aja juga pasti bisa!
7.
Dia mengangguk, suasana hatinya terlihat baik: "Mau coba lagi?"
! ! !
Gue curiga dia ingin menjilati taring gue!
Dan ada buktinya!
"... Nggak!" Gue berkata dengan sungguh-sungguh, "Nggak boleh!"
Senyum di matanya semakin dalam, "Kenapa? Bukannya lo bilang mau makan gue tadi?"
Gue harus tunggu lo tidur dulu, baru gue makan lo diam-diam.
Kalau nggak, identitas gue bakal terungkap.
Ugh, menjadi vampir itu sulit.
Gue menundukkan kepala, dan tiba-tiba dia memeluk pinggang gue. Saat gue terpana, dia menyentuh bibir gue dengan lembut.
"Oke, gue nggak bakal menggoda lo lagi." Dia terus tersenyum, "Istirahatlah lebih awal."
Dia berbicara sambil menunjuk ke samping dan berbaring, "Lo tidur di kamar itu."
Gue menghela napas lega, lalu melihat punggungnya sambil menjilat gigi gue.
Nggak rela.
Belum bisa memakannya.
8.
Jam empat pagi, gue dibangunkan oleh suara keroncongan.
Tanpa sadar, gue memejamkan mata dan menyentuh nakas, tetapi ternyata kosong.
Gue terdiam sesaat, lalu tiba-tiba duduk.
Gue hampir lupa hal penting!
Kalau gue nggak bangun karena kelaparan, gue hampir aja ketiduran.
Dengan pelan gue turun dari tempat tidur dan membuka pintu, berjalan ke pintu kamar dokter, dan memutar gagang pintu dengan pelan.
Nggak berputar.
Dia mengunci pintu.
Gue menghela nafas dalam, dan saat gue hendak kembali, gue melihat sebuah kunci jatuh dari gagang pintu.
! ! !
Dokter ini sungguh bodoh!
Dia mengunci pintu dan lupa melepas kuncinya!
Gue tersenyum, lalu memasukkan kunci dan membuka pintunya.
Dia berbaring dengan tenang di tempat tidur dengan napas teratur.
Gue berjalan ke tempat tidur, pertama-tama menarik selimut, lalu mengulurkan jari-jari gue dan mulai menyentuh pembuluh darahnya.
Arteri harus dihindari.
Kalau nggak, dia akan mati.
Tiba-tiba, dia bergerak.
Gue menarik tangan gue dengan ketakutan.
Lalu gue meringkuk dan bersembunyi di samping tempat tidur.
Dan berdoa dalam hati.
"Karina."
Gue tiba-tiba membeku.
Sudah ketahuan.
"Apa yang lo lakuin di sini?" katanya lagi.
Gue dengan berani melihat ke atas dan menatapnya dalam gelap.
Gue mengangkat tangan dan dengan lembut menarik selimutnya, lalu mulai berbohong: "Gue takut tidur sendiri."
Beruntung karena sudah larut malam, kalau nggak bakal langsung ketahuan.
Wajahku memerah.
Terasa sangat panas.
Dia sepertinya nggak percaya: "Karena ini?"
Gue memutuskan untuk berhenti berpura-pura, melebarkan mata dan membuka mulut untuk menunjukkan taring gue, dan berkata dengan kejam, "Lo ... sebaiknya percaya, atau gue bakal menggigit lo!"
"Yah," dia sepertinya berkata sambil tersenyum, "Gue percaya."
9.
Gue merasa lega.
Perut gue juga menghela nafas lega, dan mulai bersuara.
Gue menelan ludah beberapa kali, tetapi pada akhirnya gue tidak bisa menahannya, gue berbaring di samping tempat tidur dan berbisik, "Jangan percaya sama gue, oke?"
Dia bergerak ke arahku, "Kenapa?"
Gue mengedipkan mata, lalu terdiam selama beberapa detik, dan merengek lagi: "Karena gue mau gigit lo."
Dia menatapku dan mengangkat tangannya.
Tanpa sadar dia mengelus kepala gue.
Bukankah dia seharusnya mukul gue?
Setelah menunggu beberapa saat, rasa sakit yang dibayangkan nggak muncul.
Gue membuka mataku perlahan-lahan untuk melihat dia, dan dia mengulurkan tangannya di depanku sambil berkata dengan nada tidak berdaya: "Kalau begitu gigit saja."
? ? ?
Dia nyuruh gue gigit?
“Gue lihat semua orang menggigit...leher.” Gumamku pelan, “Gue nggak tahu apakah boleh menggigit tangan?”
"Boleh," katanya tegas, "Asalkan itu darah."
Gue menatapnya dengan tatapan kosong, "Bagaimana lo bisa tahu?"
Suasana mejadi hening, lalu dia berkata: "… gue rasa."
"..."
Gue pikir dia adalah orang jahat yang handal dalam menangkap vampir!
"Gue gigit tangan lo, terus gimana lo bisa pegang pisau bedah besok?"
Dia terlihat terkejut, kemudian mengangkat tangannya dan menggulung lengan bajunya, memperlihatkan lengan bawahnya, dan menyerahkannya kepadaku: "Kalau begitu gigit lengan gue."
Gue menjilat bibir dan nggak bisa menolaknya, lalu membuka mulut dan menggigitnya, dan berkata, "Oke."
Gue merasakan lengannya menegang saat gigi gue menembus kulitnya.
Segera setelah itu, bau darah yang membuatku bersemangat memenuhi mulutku.
Sepuluh menit kemudian, gue melepaskan lengannya.
"Udah kenyang?"
Gue hanya bisa cegukan.
Dia tertawa kecil, lalu turun dari tempat tidur.
Setelah beberapa saat, dia masuk dan menyalakan lampu malam paling remang dengan remote kontrol.
"Basuh mulut lo."
Dia menyerahkan cangkir di tangannya buat gue.
Gue masih sedikit bingung, gue menerimanya dengan linglung, dan beberapa saat kemudian gue baru tersadar, melihat bekas gigi yang jelas di lengannya, "Lengan lo..."
"Nggak apa-apa." Dia menyekanya dengan tisu, "Nggak ada yang mau lo katakan sama gue?"
Pikiranku yang semula tenang langsung menegang.
Dia tidak tahu kalau gue vampir!
Lalu gue berlari ke kamarnya di tengah malam.
… Dan menggigitnya.
"Gue... gue udah mau dewasa," gue menjelaskan dengan terbata-bata, "Permintaan dari vampir, setiap vampir dewasa harus minum darah segar untuk menyelesaikan ritual dewasa."
Dia mengangguk dan tersenyum samar, "Lalu lo ... apakah lo udah dianggap dewasa?"
"Apakah mungkin bisa melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan orang dewasa?"