awan awan mulai menggumpal bak kapas yang belum tersentuh tangan manusia, disandarkan pada langit sore yang sedang mendung ini..
sore ini memang terlihat tak cerah untuk hilwa yang menanti pertemuannya dengan seorang pria berparuh baya yang selalu ia nantikan pelukannya.
Anggun nan rapi pakaian serba pink soft terlihat menyelimuti tubuh mungilnya yang berkulit kuning langsat cerah dan sehat, gadis bermata sayu dengan bulu mata lentik dan alis menawan bak parang membuat wajah eloknya semakin terlihat oleh semua mata manusia memandang.
klungg..bunyi notifikasi handphone menunjukkan pesan singkat dari ayahnya
"Nduk..maaf hari ini ayah belum bisa pulang" dengan sergap hilwa membaca dan membalas pesan "Kenapa tidak jadi lagi ayah?"... dengan cepat membalas
terlambat, tanda centang satu menunjukkan bahwa ayahnya sudah tidak memegang ponsel
sambil meletakkan lipstik yang hampir menghiasi bibir lembabnya, cukup lemah melihat pesan terakhir di hari itu.
kembali dengan menaruh ponsel diatas meja riasnya,. berkaca sambil mengusap air mata yang mulai jatuh membasahi pipi tirusnya
dalam hati ia tak sabar ingin memeluk erat cinta pertamanya di dunia setelah ibu yang melahirkan kemudian meninggalkannya di usia satu tahun.
...
menutup mata telinga dengan bantal tak cukup untuk mencurahkan rasa hatinya, teringat tanggal dimana ayahnya akan segera menjalani hukuman mati membuat hilwa semakin tak kuasa menahan air matanya..
kasus yang menimpa pada ayahnya, sangat tidak adil untuknya mendapatkan hukuman mati dengan sebab seorang majikan yang menuduh ayahnya sebagai pembunuh istrinya lantaran kesal dengan istri yang selalu memberi gaji lebih pada ayah Hilwa dengan alasan kasihan..
sampailah keesokan hari yang semakin tak kuat untuk seorang gadis 21 tahun yang kerap disapa kembang desa, pun masih harus menanggung derita ayahnya yang malang saat ini.
pukul 07.00 Hilwa sudah berada di tempat kerja, ia menjalankan tugasnya sebagai administrator di perusahaan bursa mobil milik pamannya sendiri di daerah yang memiliki jarak tempuh 45 menit dari rumahnya.
semakin hari semakin ia tak bersemangat dalam bekerja, karena hanya satu alasan.
pamannya yang mengetahui keadaan Hilwa, ia pun hanya bisa pasrah akan keadaan seorang ayahnya saat ini,.
"Mbak..saya mau tanya harga mobil yang ini berapa?" tanya seorang calon pembeli mobil
"Iya mas, itu masih sekitar 250jt mas" sahut Hilwa dengan nada datar tanpa sesumeh seperti di hari biasanya ia melayani pembeli
"kalau saya lihat fisiknya masih cukup mulus mbak, lalu apa baik2 saja dengan keadaan mesinnya?" tanya seorang pembeli itu
"sebentar mas, saya panggilkan bagian teknisi mesinnya" segera mengalihkan pandangannya dari pembeli itu
tak berselang lama laki-laki itu pun membeli mobil yang sudah menjadi pilihannya, dan Hilwa mendapatkan gaji yang seharusnya beserta bonus tambahan dari bos yang seorang pamannya sendiri.
....
Pukul22.35, hari itu Hilwa mendapatkan pesan singkat dari nomor yang tak ia kenali sebelumnya,
dingin malam membuat Hilwa semakin tak kuat untuk menahan rasa ngantuk yang berujung tidur lelap dengan genggaman ponsel yang membuka pesan itu
"Assalamu'alaikum, ini Hilwa?"
singkat satu pesan telah terbaca, namun tak sampai terbalaskan
hingga saat waktu sepertiga malam telah tiba, Hilwa terbangun dan lekas bangkit untuk pergi ke kamar mandi dan mengambil air wudhu, segeralah ia melebarkan alas suci beserta memakai mukenah bercorak batik dengan anggun terpakai menutupi tubuh Hilwa dan diakhir sujudnya ia sangat menangis merasakan hatinya kala itu.
hari-hari berganti, hingga waktu menjelang hukuman mati sang ayah hampir tiba.
namun Tuhan berkehendak lain, tak disangka seorang lelaki dengan pakaian berdasi ala pengacara telah menjadi pembicara yang hebat dalam persidangan terakhir kasus yang menimpa ayah Hilwa
" ... apa kamu mengenali laki-laki itu nduk" sambil memegang tangan Hilwa, wanita berumur 45 tahun itu
" Hilwa tidak mengenalinya bi.." sahut Hilwa tanpa berpikir panjang
"lantas pengacara dari mana lagi yang mampu membenarkan kasus ayahmu ini ya nduk, yakin kamu ndak mengenali nya?" tanya bibi ratih lagi
" ehm.. sepertinya tidak bi" jawab Hilwa acuh
pukul 10.35 WIB sang hakim menyatakan bahwa saudara Mukmin Amanatullah dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan pembunuhan majikan atas nama Tina Mulituna dan dinyatakan lolos dari tahanan yang dijerat hukuman mati
"... Allahuakbar Subhanallah.." hentak Hilwa menyebut nama Allah dengan bersujud dilantai kejaksaan
dan sesegera memeluk tubuh berparuh baya yang rambut telah memutih semua itu dengan tangisan tak berderai
"ayah, Alhamdulillah sebuah keajaiban Allah yah..." sembari memeluk erat tubuh lelaki tua itu tak lain ialaha ayahnya.
......
satu minggu telah berlalu dimana sang ayah sudah berkumpul di rumah sederhana tak lain itu rumahnya
"hilwa buatkan kopi buat ayah" sambil menyodorkan secangkir kopi pait kesukaan ayahnya
"Alhamdulillah... terimakasih anakku" dengan senyumannya yang khas mengeluarkan ginsul dalam sebelah kiri bagian atas
"Hilwa dapat uang darimana untuk menyewa pengacara yang meloloskan bapak kemarin?" tanya ayah
"ehmmm..Hilwa tidak mengenalinya yah, tapi wajahnya ternyata tidak begitu asing"
sambil mengingat pelan
"yakin?" sahut ayah
"MasyaAllah ayah, apa benar laki-laki itu adalah pembeli mobil saat itu ya?" dengan mencengang dan gemetaran Hilwa mengatakan pada ayahnya
"lalu, apa kamu mengetahui identitas nya nak?" seru ayah
"tidak ayah, tapi setelah ini Hilwa akan coba pergi ke paman, siapa tau paman mengenalinya" dengan segera bergegas menuju rumah pamannya
"Hilwa pamit yah, Assalamu'alaikum" sambil mencium tangan kanan ayahnya
"wa'alaikumussalam wr wb...hati-hati nak"
....
tok tok tok (suara mengetuk pintu)
"Assalamu'alaikum bibi, paman tuwah ada?" sambil mencium tangan kanan bibinya
"wa'alaikumussalam Hilwa, iyaa tadi masih keluar sebentar..kamu tunggu aja ya" jawab bibinya
dan melanjutkan " sini Hilwa masuk dan duduk dulu"
"iya bi terimakasih"
"tumben kesini hari libur gini Hil?" tanya bibi
"iya bi, Hilwa ada urusan sedikit dengan paman" sahut Hilwa
"masalah apa nak?" jawab bi ratih
"itu loh bi, Hilwa dan ayah ingin tahu siapa pengacara yang sudah berhasil membenarkan kasus ayah kemarin" jawab Hilwa
"Assalamu'alaikum buk,,," tak lama kemudian paman tuwah sudah datang dan menyambut "Hil, gimana nduk ada kabar apa kok pagi sekali datangnya?" tanya paman Tuwah
"begini paman, Hilwa dan ayah tadi pagi membicarakan tentang pengacara yang berani membenarkan kasus ayah seminggu lalu, itu siapa? apa paman mengenalinya?"
lanjut Hilwa bercerita " karena sedikit Hilwa ingat wajah itu pernah membeli mobil di kantor paman, apa benar paman?"
dengan senyuman yang cerah dari paman dan menjawab " benar nak, benar sekali...dia adalah lelaki kaya yang pernah membeli mobil di paman dan ia gunakan untuk mengangkut barang yang ada di gudangnya"
"lalu?" sahut segera Hilwa
"dia memang seorang pengacara tingkat kelas nak, tak sengaja ketika ia bertemu denganmu ia jatih hati padamu, lalu paman beri tantangan padanya apakah bisa meloloskan bapakmu dari penjara yang dijatuhi hukuman mati? dia menjawab sangat sanggup pak, kala itu" berhenti untuk meminum sedikit teh suguhan dari bi Ratih
"singkat cerita ia ingin mengenalmu lebih jauh, tapi paman dengan berani memberikan tantangan itu padanya karena paman tau nak, kalau dia adalah pengacara muda yang pernah melepaskan jatuhan pidana pada seorang teman paman dulu itu, papanya juga temen paman sd dahulu nak, dan sekarang mereka menjadi orang- orang sukses di jakarta pusat sana" berhenti sambil menghela nafas
"lalu paman?" sahut Hilwa dengan ketus
" apakah dia menghubungi mu?" tanya paman
" tidak paman, hanya saja waktu kurang seminggu sidang ayah dilakukan ada seseorang yang mengirim pesan via WhatsApp, hanya salam saja sih pesannya" jawab Hilwa
hahahaha " ... iyaa itu nduk nomornya, tujuannya mengirim pesan padamu itu karena ingin memberitahu soal persidangan ayahmu waktu itu"
"MasyaAllah paman...kenapa tidak bilang dari dulu" sambil tersenyum malu
"aah sudahlah nak, mugkin ini sudah rezekimu dan bapakmu" jawab paman dengan senyumannya
"lalu apa kamu ingin menemuinya?" tanya paman dengan gembira
"iya paman, Hilwa dan ayah akan menemuinya untuk mengucapkan banyak terimakasih padanya" sahut Hilwa dengan senang hati
***
Melihat awan di sore hari ini sangat cerah, dan mulai bersorak riang burung-burung meninggalkan pepohonan bergegas mengitari langit-langit senja
"Nduk,.." sambil mendekat dan mengelus kepala hilwa dengan lembut
"iya ayah" sahutnya
"Apa kamu ikhlas dengan tawaran nak Farhan kemarin? tanya ayah
"ehm...jika ayah merestui saya ikhlas yah" dengan senyum melebar di di wajah Hilwa
"Nak Farhan ayah lihat dia santun nak, alim karena lulusan pesantren.. InsyaAllah orangnya bertanggung jawab" jawab ayah
"Ayah?" sahut Hilwa
"Bagaimana nak?"
"semalam mas Farhan bilang katanya akan kerumah bersama keluarganya yah, untuk meminta Hilwa didepan ayah"
"MasyaAllah, jadi kalian suda saling sepakat nak, Alhamdulillah" sambil memeluk dari samping badan Hilwa
***
"saya terima nikahnya Zahrana Hilwa binti
Mukmin Amanatullah......."
"sah?" tanya penghulu
"sahhhh" jawab saksi saudara beserta keluarga mempelai Hilwa dan Farhan
"Alhamdulillah".....
*Jangan pernah berhenti untuk berdoa, memintalah maka akan terkabul.