Krieett...
Gerbang yang engselnya sudah berkarat itu berdecit saat Heksa membukanya. Setelah gerbang sedikit terbuka, dilangkahkannya kaki ke halaman sekolah dengan langkah lebar.
Sekarang ia sudah ada di lorong yang remang dengan pencahayaan seadanya. Langkahnya semakin dipercepat saat akan menaiki tangga.
Bahkan setengah berlari saat menapaki anak tangga yang menghubungkan dengan lantai dua dimana kelasnya berada.
Ceklek.
Sunyi. Senyap. Gelap.
Klik.
Heksa menyalakan saklar lampu kelasnya. Lalu segera menuju bangku belakang dimana bangkunya berada.
"Ini dia. Untung gak hilang," ujarnya lega, sambil mengambil secarik kertas di dalam laci mejanya.
Heksa senyum-senyum sendiri sambil memandangi kertas yang dilipat seadanya, yang diberikan seorang adik kelas kepadanya tadi saat jam istirahat.
Masih terbayang jelas wajah adik kelasnya yang tersipu malu saat menyerahkan kertas itu padanya.
"Jisa... Jisa... " gumam Heksa sambil geleng-geleng kepala.
Kresek-kresek
Heksa tersentak, lalu mengedarkan pandangan keseluruhan penjuru kelas saat ia yakin mendengar sesuatu. Namun tidak ada siapapun kecuali dirinya seorang.
"Mungkin hanya angin," batinnya yang tak mau overthinking.
Segera ia masukkan secarik kertas yang isinya belum ia ketahui itu ke dalam saku celana. Lalu berbalik hendak keluar kelas. Ketika menoleh, seketika pandangannya menangkap sekelebat bayangan yang tiba-tiba saja melesat keluar ruang kelas.
Heksa mengucek mata sambil mengerjapkannya beberapa kali, untuk mengecek apakah ada yang salah dengan matanya.
"Kayaknya aku mulai rabun," ujarnya pada diri sendiri.
"Sudahlah, sebaiknya aku segera pulang."
Dengan langkah sama cepatnya ketika ia datang tadi, Heksa meninggalkan kelas lalu menuruni tangga.
"Kak Heksa..."
Panggilan itu sukses membuat Heksa terperanjat dengan bulu kuduk meremang. Lagi-lagi Heksa harus menyapu seluruh penjuru tempat yang gelap itu dengan menajamkan netranya.
Aneh, tak ada siapapun di sana. Tapi panggilan itu sangat jelas tertangkap oleh indera pendengarannya.
Tap.
Heksa baru saja menyelesaikan anak tangga terakhir saat ia kembali melihat bayangan melintas. Kali ini ia yakin jika matanya tidak rabun. Diam-diam dirinya bersyukur karena matanya masih sehat.
"Siapa itu? Keluarlah! Jangan jadi pengecut," teriak Heksa lantang.
Krik... Krik... Krik...
Tidak ada yang menyahut. Hanya ada suara jangkrik yang terdengar. Heksa menghela nafas, berusaha mengatur detak jantungnya yang sudah berdisko ria.
Tap. Tap. Tap
Langkah kaki Heksa semakin dipercepat untuk keluar dari lorong kelas yang sudah seperti labirin tak berujung. Semakin cepat ia berlari, semakin jauh pula ujung lorong itu.
"Hhh... Hahhh.... Hhhh... " Heksa terengah-engah sambil membungkuk memegangi lututnya.
"Sebenarnya apa sih mau kalian! Maaf kalau sudah ganggu. Aku hanya mengambil barangku yang ketinggalan. Itu aja. Gak ada niatan lain lagi," teriak Heksa yang mulai frustasi.
"Kak Heksa..."
'Sial. Suara itu lagi!' batin Heksa kesal.
"Kamu siapa sih?! Jangan beraninya main sembunyi doang. Ayo keluarlah!" Heksa semakin penasaran dengan suara yang terus memanggil namanya.
Srek.
Sosok gadis yang masih mengenakan seragam sekolah muncul dari dalam kegelapan.
"Jisa... "
Gadis itu tersenyum ke arah Heksa.
"Itu benar kau, Jisa? Apa yang kau lakukan di sekolah malam-malam begini?" tanya Heksa pada gadis yang mulai mendekatinya itu.
"Ada barangku yang ketinggalan. Kak Heksa mau antar aku ke kelas?" pinta Jisa dengan senyum manis, yang entah kenapa malah terlihat sedikit menyeramkan.
"Kenapa tidak," Heksa langsung menyetujui permintaan Jisa.
Entah ini kebetulan atau tidak, ia bertemu dengan Jisa. Tapi menurutnya lebih baik bersama Jisa daripada berada di tempat mencekam ini seorang diri.
Jisa berjalan menuju kelasnya yang berada di lantai tiga dengan berdiam diri. Heksa tidak mempermasalahkan hal itu karena ia pikir Jisa masih canggung dengannya. Apalagi setelah lelaki itu menerima surat dari gadis di sampingnya.
"Maaf ya," ujar Heksa, memecah keheningan yang lama-lama membuatnya merinding.
"Kenapa minta maaf," balas Jisa, tanpa menatap Heksa.
"Aku belum membaca suratmu."
Jisa terdiam sejenak.
"Kau marah?" tanya Heksa sambil menatap wajah pucat Jisa dari samping.
Saat melewati lampu yang menyorot Jisa dari atas malah membuatnya semakin mirip dengan Sadako.
"Tidak."
"Oh."
"Tidak masalah. Itu hak Kak Heksa. Mau baca surat dariku atau tidak, surat itu sudah milik Kakak. Jadi terserah mau diapakan," jelas Jisa yang membuat Heksa mangut-mangut.
"Setelah ini akan aku baca," sahut Heksa yang sepertinya tidak didengar Jisa, karena gadis itu sudah masuk lebih dulu ke ruang kelasnya.
Heksa mengikuti dari belakang.
Srek.
Tiba-tiba Jisa membuka jendela kelas hingga menampakkan suasana gelap di luar jendela, dengan bintang-bintang menghiasi angkasa, membentuk titik-titik cahaya kecil di langit yang gelap.
"Aku ingin menjadi salah satu dari bintang itu," ujar Jisa sambil memandangi bintang dari jendela yang terbuka lebar. Wajahnya yang diterpa oleh sinar bulan tampak sedikit menyeramkan.
Heksa mengikuti arah pandang Jisa. Namun tubuhnya terasa kaku saat pandangannya malah bertemu dengan manik mata Jisa yang menajam menghujam ke arahnya.
"Apa Kak Heksa mau menjadi bagian dari bintang di langit bersamaku?" tanya Jisa yang berhasil membuat Heksa menelan ludah.
Entah mengapa pertanyaan sederhana itu seperti menentukan kelanjutan hidupnya ke depan.
Tatapan intens Jisa seperti menyihir Heksa untuk mengangguk. Jisa tersenyum miring menanggapinya, lalu menarik Heksa agar mendekati jendela.
"Kita lihat bintang dari dekat yuk?"
Jisa memanjat jendela lalu duduk di bingkainya. Ia menoleh kebelakang untuk memberi isyarat pada Heksa agar duduk di sampingnya.
Heksa pun hanya bisa menurut.
"Aaaaaaakhh....!"
Teriakan Heksa yang memekakkan telinga dibalas dengan senyuman lebar oleh Jisa yang memandangi tubuh Heksa dari atas.
Kertas di saku celana yang tadinya putih bersih kini berubah menjadi merah darah.