Kigawa, nama sebuah desa yang sering di sebut-sebut oleh banyak orang. kebanyakan dari mereka penasaran dengan desa itu. tapi, ada seseorang yang tak terlalu mempedulikannya. namanya Leby. sejak kedatangannya di Harasi, tempat tinggal barunya, Leby masih belum mengenal sekitar. apa lagi, dia orangnya pendiam.
"Leby, kamu gak gabung sama teman-temanmu? "
Leby hanya menggeleng.
"seenggaknya kamu coba akrabkan diri dengan mereka. "
karna tak mau berdebat dengan mamanya, Leby menurut. dia segera pergi menemui teman sekelasnya yang baru dia kenal beberapa hari yang lalu.
"Leby? ahirnya kamu datang juga. katanya gak mau? "
"ini juga terpaksa."
Leby duduk di samping Anis. yang bisa di bilang lebih akrab dengannya.
"eh, kalian masih denger gak sih soal desa Kigawa itu? katanya ada di dekat desa kita. "
"iya. banyak yang bilang di sana itu seperti surga. uuuh... jadi pengen kesana. "
salah satu di antara mereka menanggapi. cerita tentang Kigawa semakin sering di bahas para warga. sebenarnya itu adalah cerita zaman dulu yang sangat melegenda. di ceritakan juga ada seorang yang sangat di kagumi oleh masyarakat di sana. tapi itu semua belum pasti. karena tak ada seorangpun yang pernah datang ke sana.
"gimana? seru?"
"membosankan. "
Leby sudah kembali kerumahnya. dia membantu ibunya yang sedang memasak di dapur.
"Sebaiknya kamu sering-sering bergabung dengan mereka."
Leby hendak menanggapi. tapi kepalanya tiba-tiba pusing. Leby menyandarkan kepalanya di dinding.
"ma. aku kekamar dulu yah. "
mamanya mengangguk. Leby segera berjalan menuju kamarnya. tapi, setelah membuka pintu kamarnya, keadaan berubah. yang dia lihat bukan lagi kamarnya yang rapih. tapi hutan yang luas. angin berhembus perlahan.
"apa ini. di mana kamarku? "
Leby menepuk-nepuk kepalanya. dia hendak kembali lagi ke luar. tapi pintunya telah hilang.
"dimana pintunya? "
Leby ahirnya memutuskan untuk berjalan mencari jalan keluar. sesuat yang mengejutkan sudah muncul di hadapannya setelah dia berjalan begitu lama.
"waw... sungguh indah. "
Leby tak bisa berkata-kata lagi. semua yang ada di depannya begitu menakjubkan. banyak rumah yang cantik. lampu yang berkelap-kelip indah.
"apa ini tempat yang sedang tenar itu? sama persis dengan yang mereka ceritakan. "
Leby hendak membalik badan.
brak...
banyak barang yang jatuh. seseorang telah berdiri tegak di hadapan Leby yang hampir terjatuh. Leby menatapnya. dia sempat diam. tapi segera sadarkan diri.
"maafkan aku. aku gak liat ada kamu. "
seseorang itu hanya diam dan memungut kembali barang-barang miliknya yang jatuh. Leby juga ikut membantunya.
"aku benar-benar minta maaf. "
"tidak apa. "
Leby terus menatapnya. membuat seseorang itu merasa tak nyaman.
"apa ada yang salah dengan aku? "
Leby segera menggeleng.
"kamu mirip sekali dengan ciri-ciri dalam legenda itu. "
"legenda? "
Leby menganggukkan kepalanya. seseorang itu memang begitu menawan. dia tampan. tapi juga bisa di sebut cantik. baju yang di pakainya begitu elegan.
"bisa aku tau siapa namamu? "
"Saka. "
Leby tersenyum. biasanya dia yang selalu diam. kini banyak bicara.
"aku Leby. "
"senang bisa mengenalmu. "
Saka tersenyum. membuat Leby semakin menyukainya.
"kau laki-laki? "
"iya. tentu saja."
Leby membalikkan tubuhnya. dia tidak mau kalau wajah malunya di lihat oleh Saka. setelah tenang, lebi kembali memutar tubuhnya. tapi apa yang dia lihat? yang ada di hadapannya bukan lagi laki-laki tampan bernama Saka. melainkan sebuah pintu yang berdiri kokoh di hadapannya.
"apa ini? hanya halusinasi? ini benar-benar menyebalkan."
Leby menghela nafasnya dan berusaha melupakannya.