Membuka catatan tugasku. Pekerjaan rumah untuk pelajaran esok. Ah geografi. Aku cari buku paketnya tapi tak menemukannya. Guru killer julukan Bu Sri, biasa dipanggil Buser itu tak bisa disepelehkan.
Biasa aku menjadikan buku pr, buku catatan, buku paket dan lks jadi satu bundel dan aku tak menemukannya.
Plak!
Kutepok jidatku. Jangan bilang aku tinggalkan di lokerku!
Ck! Mana ini pr banyak bener gak ngadi-ngadi memang kalau guru galak kesal pasti ngasinya banyak pr.
Mana besok pelajaran pertama lagi. Kesekolah aja apa?
Tapi udah jam 8 bro. Gile. Argh! Gimana ini?
Oke. Demi kebaikan martabat. Yuk kamu bisa Shanas!
Aku Shanas Fadli, kelas 11 sosial 3. Dengan terpaksa akan kesekolah malam ini.
*****
Aku berdiri didepan sekolah, suasana gelap dan entah lebih mencekam atau aku yang penakut? Sepertinya, aku yang penakut.
"Pak Diman" Teriakku dari pagar. Aku melihat Pak Diman sedang menikmati sebungkus makanan
"Pak, Pak Diman!" Aku melihatnya lari tergopoh kearahku. Meninggalkan makannya
"Neng Shanas? Kenapa neng?"
Klek klek klek
Pak Diman membuka pagarnya.
"Ada yang ketinggalan pak"
"Oh mau ditemenin neng?" Aku menggeleng. Walau ngeri tapi tak enak menganggu makan malam Pak Diman.
"Bisa sendiri Pak"
"Kalau begitu bapak tinggal dulu ya neng" Pak Diman meninggalkanku. Aku menghirup napasku rakus.
Sekilas kelebatan rumor-rumor seram berseliweran di kepala. Aku menggeleng kuat agar pikiran itu hilang dan musna.
Panggil aku pengecut! Terserah tapi memang seram. Biasanya ada ekstrakulikuler yang latihan tapi malam ini sepi.
Ayo Shanas ambil buku itu dan cus balik!
Tapi ternyata tak semudah itu besti. Saat mencapai lobby sekolah melihat lorong menuju loker kok jadi jauh.
Mataku membola. Jauh banget. Aku mengepalkan tangan didepan dada.
Okeh. Melihat kedepan, susah aku menelan salivaku seolah ada biji dondong.
Aku melangkah. Hembusan udara malam, membuatku merinding dan berkeringat dingin.
Aku melewati lorong-lorong. Kelas Sains. Ragu,aku harus melewati uks dengan selentingan horornya.
Dengan cepat aku melangkah tanpa mau menegok kearah UKS. Tapi kurasakan hembusan angin menabrakku.
Aku terdiam. Sejenak. Mataku berputar mengamati sekitar. Bulu kudukku berdiri. Tak betah berlama disitu. Aku berjalan lebih cepat.
Lewat sudah UKS, tak membuatku lega. Karena setelah ini aku harus melewati laboratorium dengan segudang cerita seramnya.
Takut! Aku berlari. Suara derapan kakiku bergema menimbulkan efek lebih menakutkan ternyata. Mamaaaaa...
Rasanya macam ada yang mengejar tapi cuma sendiri, tapi gimana, mau nanges rasanya...
Aku merogoh tasku untuk mengambil kunci. kuaduk tasku dan belum ketemu, Keringatku sudah mengucur seperti air pancuran.
"Kemana sih? Apa aku lupa?" Enggak mungkin. Aku mencoba mencari sesekali memantau sekitarku.
Seperti pencuri yang terburu-buru takut ketahuan. Bukan lagi! Degup jantungku seolah ingin menggedor keluar. Sangking takutnya.
Ah, dapat, ternyata terselip di lipatan tas. Dengan grasak grusuk aku membuka lokerku. Mengambil buku yang aku mau.
Lalu kututup lokerku. Dan...
"AAAAAAHMmmm..."
"Ssssttt... lo kenapa dah!" Tegur Doni. Yang membekap mulutku. Lemas! Ya tubuhku lemas.
Aku bersandar pada loker setelah melepaskan bekapannya.
"Lo yang kenapa?" Bentakku setelah aku bisa mengurangi kekagetanku.
Doni hanya menatapku bingung. "Hah! Lu lucu, gue sedari tadi dibelakang lu, ngeliatin tingkah aneh lu yang kayak maling, kocak lu!"
"Masa? Gue gak liat!" Kataku kesal.
"Sumpah" dia terbahak.
"Ngeliatin lu kayak ngeliatin orang lagi akting drama, sumpah aduh perut gue ahahaha aduh duh sakit" Katanya yang membuatku makin kesal.
"Jangan bilang lu takut ke sekolah malem malem?"
Aku diam saja. Memang begitu.
"Serius lu? Umur berapa lu? Lima? Sepuluh?" Tanya Doni seperti gemas padaku, ia menguyel pipiku.
"Apaan sih" masih kesal dan malu.
"Lu lupa ada Indah sama keluarganya tinggal noh di pojokan dalem sekolah" aku lihat kearah Kak Indah yang tersenyum sambil melambai padaku.
"Dari tadi lu sama Kak Indah ngeliatin gue?" Tanyaku tak percaya.
Doni mengangguk sambil terkekeh.
"Sumpah lu tuh hiburan banget, Makasih ya kecil, balikin mood gue" Doni mengelus pelan kepalaku.
Duh jangan baper, dia punya orang Shanas! Cewek cantik disana itu. Kak Indah Pradita. Kakak kelas.
"Udah belum? Sini gue anter balik, jadi gak usah kayak maling ketauan lagi lu"
"Bukan lagi! Sindir aja teros" aku melirik malas. Doni hanya terkekeh.
Aku berjalan bersisian, sebelumnya Doni berpamitan pada Kak Indah.
Aku melihat Kak Indah mengusap sudut matanya, habis berantemkah? Lalu Doni mengelus kepala Kak indah sayang kemudian mengambil helmnya dan berlari kearahku.
Haah... Syinta ini memboenoehkoe! Cemboeroe akoe! Ya aku suka, mungkin lebih dengan Doni. Bah kumat alay
Tadi ngeri setan-setanan, sekarang gegalauan WOWWI sekali malam ini.
Sampai diparkiran, "Ayo" katanya sambil memukul pelan jok belakangnya.
"Gue bawa motor Don" mengedikan dakuku ke arah vespa milik Kak Ayu, Kakaku.
"Yaudah ayok, gue ikutin dibelakang, ini udah malem" perhatiaannya ini yang bahaya buat orang yang gampang baper sepertiku. Apa lagi aku ada rasa padanya.
Sepanjang jalan aku ribet dengan kegalauan dan pikiranku. Tak terasa aku sampai didepan rumahku.
"Thanks ya Don," aku kira dia akan langsung pergi. Ternyata dia turun dari motornya, melepas helmnya.
Wajahnya pucat. Sangat. Aku terkejut.
"Don lo sakit?" Aku mencoba memegang tangannya. Dingin. Aku melepas helmku.
"Masuk dulu Don, gue buatin teh anget" kataku menarik lengan kemejanya yang dia gulung.
"Ayok" tapi ia tak bergerak. Dia menggeleng pelan.
"Gue pamit ya" lirihnya, aku tentu bingung kenapa dia? Kemudian ia mengacak rambutku. Kembali kemotornya. Sebelum mengenakan helmnya aku melihat ada kucuran darah dari kepalanya.
Mataku melebar, aku ingin memanggilnya tapi mulutku juga badanku tak dapatku gerakkan. Dan motornya melaju hilang dan kemudian gelap.
*****
Aku terbangun, diatas kasurku, apa aku mimpi semalam?
Pintu kamarku terbuka. Kak Ayu datang dengan segelas teh hangat juga bubur. Bertambah bingung.
"Sudah bangun dek?" Aku hanya mengangguk. Kemudian Mama masuk, ia mengelus kepalaku. Aneh.
"Kenapa Ma?" Ini kenapa? Kok mukanya gak enak.
"Kamu pingsan lho didepan rumah udah 2" Mama masih mengelus kepalaku.
"Pingsan?" Tanyaku linglung. Yang aku ingat kemarin aku ke sekolah, ketemu Doni yang lagi apel. Ck! Kesel. Abis itu dia nganterin pulangkan.
"Iya, kamu pasti syok ya denger kabar Doni koma?" Kak Ayu menyodorkan teh hangat. "Nih minum dulu"
Melihatku tak merespon ia duduk disebelah Mama.
"Koma? Kenapa?" Lirihku. "Malemnya Doni masih nganterin, aku ketemu disekolah kemarin malem"
"Ah Kak Ayu jangan bercandalah" tapi aku tak melihat adanya candaan di wajahnya.
"Kenapa?"
"Kecelakaan" Mama mengelus punggungku. Keluargaku dan Kak Doni memang dekat. Kami kenal sejak kecil. Dan semua tahu aku punya rasa pada Doni.
"Kapan?" Lirihku
"Waktu Pulang sekolah"
"Tapi aku kemaren ketemu disekolah, malem waktu aku mau ambil buku yang ketinggalan Doni juga yang nganter aku pulang kok" Aku masih tak percaya.
Hingga keluargaku menjenguk ke rumah sakit. Ini sudah seminggu sejak Doni dinyatakan koma.
Aku melihatnya, Tante Nurma, ibu Doni membolehkanku melihat anaknya. Doni didalam, tertidur dengan banyak alat yang mengelilinginya.
"Hei lo, lo kan masih ngater gue kemaren kan, Don ini enggak lucu ya!" Bentakku.
"Kalo lo mau ngerjain gue ini udah keterlaluan Don! Please!" Aku tersedu. Sedih.
"Ayolah. Buka mata lo, gue bilang ini gak lucu!" Dengan perlahan aku pegang ujung jarinya. Dingin.
"Doni, lo mau gue panggil Kak kan? Makanya lo bangun nanti gue panggil lo Kak terus seperti yang lo mau, gue akan nganggep lo kakak gue, janji gue bakal bunuh perasaan gue, yang pernah bikin kita jauh"
"Gue janji Kak Doni! Gue akan jadi adik yang baik, makanya bangun!" Sesenguk
"Besok gue dateng lagi, lo jangan bosen-bosen gue bakal dateng setiap hari" aku melepas tautan jariku.
Membuka pintu dan melihat Kak Indah dikejauhan. Ya Kak Indah tak boleh menjenguk Tante Nurma melarangnya, karna Tante mengira Kak Indahlah penyebab Doni koma.
Karena pertengkaran mereka.
Aku menghampirinya.
Aku ingin tahu, malam itu apa aku hanya mimpi Doni mengantarku pulang.
Karena Kak indah juga disana.
"Kak apa kabar?" Ya kami jarang bertemu apa lagi kelas 12 sibuk persiapan Ujian Nasional juga, Ujian masuk Kuliah.
"Baik" Wajahnya yang cantik tampak sembab juga kuyuh. Kami berada di taman rumah sakit.
"Doni gimana?" Tanyanya lirih.
"Masih sama kayak kemarin"
"Kak? Boleh aku nanya?" Aku menatap wajahnya. Kesedihan terpancar.
"Apa waktu malam itu, Kak Indah melihatku kan?"
"Malam Doni mengantarku, Kakak juga melihat Doni kan?"
Lama jeda antara kami.
"Iya" bisiknya.
"Berarti aku bukan mimpi? Jadi Doni nyamperin Kakak, karena yang aku ingat Doni pamitan sama aku"
Kak Indah mengangguk. Ini hal yang mustahil tapi ini terjadi.
"Haaiii~" Sapa suara lelaki ceria,
Aku dan Kak Indah menenggok ke sumber suara. Aku melihat Doni dengan senyuman konyol sudah duduk disampingku.
BRUK!
Kak Indah pingsan!
Dan aku terkejut sampai tak bisa berkata-kata. Degupan jantungku bergemuruh.
Ini Doni dengan pakaian seperti saat dia mengantarku pulang. Padahal yang aku tahu dia mengenakan piyama rumah sakit. Doni tersenyum. Melambaikan tangan gembira.