"Laras! Kamu itu seharusnya tau diri dong! pake pikiran" Raut wajah buruk itu terus melekat di pikiran Laras, kakaknya selalu saja ingin menghancurkan masa indahnya dgn kekasih laras
Mungkin sedikit wajar, karena kekasih laras hanyalah pria biasa yg bekerja di kantor walaupun sebagai manajer tidak bisa dibanding dengan putri raja pembisnis
"Kalau kamu enggak suka, jangan urusin juga! emang aku ga bisa pacaran kaya lo! aku benci sama kamu! " Laras segera berlari menahan tangisnya
"Laras! kamu... akh sial! " Kakaknya bernama Jhon hanya bisa melihat adiknya pergi, hari ini sudah malam dan hujan, laras terus mengelilingi jalan yg cukup jauh dari rumahnya
"Kenapa...kenapa sih aku mesti punya kakak kaya dia!?" Sekujur badannya basah, tangisnya terus menitik, tetapi semua itu ditutupi oleh air hujan
"Laras kamu kenapa disini?" Suara pria yg lembut itu membuat laras membalik badannya, dia adalah Rey kekasihnya
"Hiks... Hiks Rey kamu..." Sebuah jari menutup mulut Laras yg ingin sekali mengeluarkan isi hatinya
"Sudah, jangan dipikirin, mending kita pulang ke rumahku yuk entar kamu sakit" rey membawa laras pulang kerumahnya yg cukup besar
"Non laras, kenapa basah gini kalau sakit nanti gimana? kalau non sakit tuan muda bakal gimana? kalau tuan muda... "
"Bibi, tenang aja aku gapapa kok, Hatchi! Aduh... " Wanita tua berumur 49 tahun itu adalah asisten rumah rey, memang bibi itu selalu dekat dgn laras karena laras sering berkunjung
"Aduh kan, udah deh non mending langsung mandi biar makan obat dikit sebelum kena flu ya" Dia langsung menarik tangannya, rey hanya tersenyum melihat tingkah bibi yg sangat khawatir
Selesai mandi, sebuah senyum ceria muncul di wajah laras, mereka makan malam dan tidur, bibi Jen pulang ke rumahnya
Ting Tong!
"Aduh, siapa sih orang jam segini ke rumah, apa keluarganya rey ya" Saat membuka pintu laras kaget apa yg dilihatnya
"Kyaa! Rey! To... Umh... umh... " Keberadaan laras menghilang saat itu memang masih pukul 05.54, sedangkan rey berangkat kerja jam 08.00 WIB
"Laras kamu kok teriak-teriak sih tadi? Laras?!" Rey melihat pintu terbuka dan ada bercak darah, rey segera menelfon polisi, tetapi berita itu sampai ke telinga bibi jen
"Tenang aja pak, kami akan melakukan sebaik mungkin"
"Pak! tolong cepat temui nona saya, jangan dia sampai kenapa-napa" Bibi jen Begitu panik, polisi segera mengamankan rumah itu
• Rumah Kosong •
"Kamu siapa sih! kenapa culik aku?! kalau mau uang aku bakal kasih" Ucap laras
"Siapa yg butuh uang kamu?" Pria itu sangat misterius, tetapi suaranya sangat dekat dengan laras, bagai pernah bertemu
"Tuan muda, aku menemukan lokasinya, ada di X"
Rey langsung mengambil mobilnya dan segera mengebut dengan cepat hingga sampai di rumah kosong
Brak!
"Laras... Laras! kamu dimana?!" Rey mencari ke seisi rumah kosong itu
"Rey! Rey! Pergi dari sini!" Rey tidak mengerti dengan perkataan Laras dan mencoba membuka ikatan laras
"Kalau aku suruh pergi! ya pergi!" Wajah laras tampak sangat marah, tetapi tangisannya bercucur
Hingga akhirnya...
DOOR!
"Re... Re.... Rey!!!!!!" Sebuah peluru menembus badan Rey
"Uhuk... Uhuk! Uhuk!"
" Laras, kamu ga bakal ninggalin aku kan?" Senyum menahan sakit itu membuat laras semakin terisak, hingga polisi datang dan mengepung tempat itu
• Rumah Sakit •
"Dia kehabisan darah, senjatanya juga beracun kami tidak bisa melakukan apa-apa"
"Tuan! Tuan! kenapa bisa gini?!" Isak tangis bibi jen begitu kuat, bibi jen sudah merawat rey sejak berumur 11 tahun karena orang tua rey meninggal, bibi jen sudah menganggap rey bagai anak sendiri, sedangkan di sisi lain
"Hiks.... Kenapa gini.... " Laras mencoba menahan nafasnya, agar tidak terdengar orang lain, dia bersandar di dinding mengganggap itu hanya mimpi saja
Mimpi paling buruk
~ Tamat ~