"Laras. Terima kasih telah menyediakan waktumu untukku hari ini."
"Menyediakan waktu untukmu selalu menjadi kebahagiaan untukku, Kak."
Surya tersenyum mendengar jawaban, Laras. Junior di kampusnya yang selalu membuatnya senang setiap berbagi cerita dengannya. Gadis itu telah membuat hatinya tertambat sejak lama. Gadis cerdas, lugas, mudah bergaul, dan seolah tak pernah kehabisan ide bila sudah diajak bicara. Surya pernah berniat mengutarakan cintanya pada Laras, namun tak kunjung diwujudkannya. Surya merasa Laras terlalu sempurna untuknya. Ia tak siap jika cintanya ditolak. Ia takut, mengungkapkan cinta pada Laras hanya akan merusak kenyamanan dan keakraban mereka selama ini. Laras hanya menganggap keakraban mereka seperti keakraban kakak dan adik. Demikian anggapan Surya selama ini.
"Kak, apa benar kabar yang sedang hangat itu?"
"Kabar yang mana, Laras?
"Kabar bahwa kakak bertunangan dengan kak Laura."
Surya menarik napas panjang. "Hmm.. Hhh... , iya Ras. Sebenarnya kakak ingin menyampaikan hal itu kepadamu, Ras. Tapi, sepertinya kamu sudah dulu mengetahuinya."
"Wah, selamat Kak. Kenapa kemarin-kemarin tidak cerita sih sama adik kakak yang satu ini."
Laras mencoba bersikap santai mengetahui kebenaran kabar yang didengarnya dari teman-temannya. Padahal hatinya perih, menahan sedih, karena kakak senior idolanya yang diharapkannya menjadi kekasih hatinya akan menjadi suami orang lain. Benar bahwa Laras mudah akrab dengan siapa pun di kampusnya, bahkan sebagian besar dosennya pun sudah seperti teman dengannya. Tapi bagi Laras, keakrabannya dengan Surya bukanlah keakraban biasa. Andai Laras adalah lelaki, mungkin ia akan menyatakan cintanya secara jelas kepada Surya. Namun, apalah daya, bagi Laras adalah tabu jika perempuan menyatakan cinta lebih duluan kepada pria.
"Ya, karena berbagai kesibukan. Jadi, kakak tidak punya kesempatan untuk menceritakan hal ini sama kamu. Kamu pun sepertinya sedang sangat sibuk menyusun skripsimu. Iya, kan?"
Surya mencoba-coba mencari alasan, padahal hatinyalah yang tidak siap menyampaikan perihal pertunangan itu kepada Laras. Orangtua Surya dan Laura sudah berteman sejak lama dan mereka berniat menjodohkan putra dan putri mereka. Sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tua, Surya menerima perjodohan itu. Namun sejak saat itu justru Laras semakin menguasai pikirannya. Hatinya bimbang.
"Hm? Aku sibuk? Kan sudah sering kukatakan bahwa menyediakan waktu untukmu selalu menjadi kebahagiaan untukku, tidakkah kakak mengerti?"
Laras meras gemas dengan jawaban Surya yang terkesan mengada-ada. Matanya melotot.
"Oke, oke.. Aku yang sibuk, bukan kamu," Surya menjadi salah tingkah karena jawaban asalnya direspon keras oleh Laras.
"Maafkan, Aku!" ujar Surya melanjutkan.
"Hmmm... Selalu begitu. Baiklah."
"Terima kasih,Ras. Mm.. Sebenarnya.. ada hal penting yang kakak ingin sampaikan sama kamu."
Dada Surya terasa sesak, Ia masih merasa tak siap menyampaikan hal penting tersebut kepada Laras. Namun di sisi lain, Surya merasa tak sanggup lagi menyembunyikan semuanya. Menurutnya, sudah waktunya Laras mengetahui semuanya.
"Hal penting apa, Kak?"
"Hmm.. Hh.... Apa pun yang kamu dengar setelah ini, tolong jangan menertawakanku. Please!"
Laras mengernyitkan dahi, sepenting apa hal yang akan disampaikan Surya, hingga harus ada syarat seperti itu.
"Aneh," pikir Laras.
"Ayolah, kak. Sampaikan saja!" Laras tak sabar.
"Hmm.. Hh... Sejujurnya, tak mudah bagi kakak untuk menyampaikan ini. Kakak sudah mencoba meredamnya, namun tak bisa. Mungkin inilah saat yang tepat bagimu untuk tahu semuanya."
Laras bingung, tak mengerti, hanya dahinya yang masih mengernyit mencoba memahami setiap kata yang diucapkan Surya. Matanya mencoba bertahan menatap mata Surya.
Surya melanjutkan kata-katanya, "Aku Mencintaimu, Ras."
"Ha'? Kakak apaan sih? Kakak, bercanda kan?"
"Tidak, Ras. Aku serius. Sudah lama rasa ini kupendam. Namun, aku sudau tidak tahan lagi."
"Mengapa kakak baru bilang sekarang?" mata Laras mulai berkaca-kaca. Hatinya berkecamuk. Ia tidak menyangka bahwa Surya mengungkapkan hal itu justru saat ini.
"Aku pikir, kamu gadis yang sangat istimewa. Cantik, baik hati, pendengar yang baik, sekaligus teman diskusiku yang paling menyenangkan. Sementara.. Aku.. bukan lelaki yang tampan, aku bukan pria romantis seperti teman-temanku yang pernah mencoba mendekatimu. Aku merasa tak layak untukmu."
"Bagaimana jika aku sama sepertimu, Kak?"
"Maksudmu?
"Bagaimana jika aku sama sepertimu, Aku juga mencintaimu.
"Tidak mungkin. Kamu selama ini tak pernah memberikan sinyal padaku." Surya tidak menyangka bahwa Laras mengungkapkan rasa pada dirinya.
"Tidak memberi sinyal, bagaimana? Tidak sadarkah kakak bahwa Aku senang mendengarkan semua cerita kakak. Tidak ingatkah kakak bahwa aku selalu senang menyediakan waktu untuk kakak. Tidak sadarkah kakak bahwa sampai hari ini aku masih sendiri? Apakah itu bukan sesuatu yang bisa kakak anggap sinyal dariku?"
"Tidak mungkin Laras.Bukankah kamu memang selalu begitu kepada semua orang? Kamu adalah tipe orang yang memang selalu berusaha menghargai orang lain?"
"Tidak kak, tidak.. Aku begitu kepadamu karena aku mencintaimu."
"Seandainya aku tahu sebelumnya bahwa kamu juga mencintaiku, Ras."
"Jika kakak benar-benar mencintaiku, batalkan pertunangan kakak, tinggalkan dia, menikahlah denganku."
Entah dari mana Laras mendapat keberanian untuk berkata seperti itu. Ia juga sudah tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya.
"Tidak mungkin, Ras. Segala persiapan pernikahan sudah dimulai. Aku juga tak mungkin mengecewakan orang tuaku dan orang tua Laura. Semua sudah terlanjur terjadi."
"Lalu untuk apa kakak mengungkapkan ini semua kepadaku, jika hanya akan membuatku kecewa dan terluka." Kali ini air mata Laras mengalir deras tak terbendung.
"Maafkan aku, Ras. Aku mengira hanya diriku yang mencintamu. Aku hanya ingin mencoba melepas semua rasaku padamu yang telah lama mengikatku. Aku berharap setelah menyatakan ini, aku bisa melanjutkan kehidupanku, kehidupan pernikahanku dengan lapang, tanpa bayang-bayangmu lagi. Walau aku tak yakin aku bisa."
"Mengapa kakak sejahat itu padaku, kak? Mengapa? Akan lebih baik bagiku untuk tidak mengetahui bahwa kamu mencintaiku, Kak. Daripada tahu bahwa kita saling mencinta, tapi tak bisa saling memiliki."
"Maafkan aku, Ras. Aku pun tak menyangka." Surya tertunduk menyesali segala yang sudah terjadi. Seandainya dahulu dia lebih berani mengungkapkan perasaannya kepada Laras.