Hari itu sepulang les Bahasa aku dan teman les ku Tania berpisah di depan gedung . Karena kami naik angkutan umum yang berbeda .
“ Ehh Nad , angkot ku udah datang tuh .. aku duluan , ga pa –pa ya “ tanya Tania
“ Ooh iya ga pa –pa , sebentar lagi juga paling angkot ku datang “ ucap ku
“Bye Nad , sampai ketemu lagi nanti ya ..” ucap Tania sambil melambaikan tangan nya dan masuk ke dalam angkot .
“ Bye Tan , hati – hati ya “ ucap ku
Aku dan Tania dari sekolah yang berbeda , sebenar nya mama ku sudah menyuruh ku untuk bawa motor sendiri atau naik ojek online bahkan papa ku juga sudah menyuruh ku untuk minta di antar supir . Tapi aku lebih suka naik angkutan umum .
Hari semakin sore , namun angkot ku belum kunjung datang . Tiba –tiba ada sebuah mobil minibus berwarna hitam berhenti di depan ku .
Semula aku pikir mau menurunkan seseorang atau bertanya alamat . Aku pun mundur sedikit . Lalu keluar lah tiga orang dari dalam mobil . Semua nya lelaki bertubuh tinggi besar , memakai masker dan pakaian serba hitam . Dua orang berjalan cepat ke arah ku , lalu menyergap ku dan menutup hidung ku dengan sapu tangan . Ada bau yang menyengat dan membuat kepala ku pusing . Lalu tiba –tiba pandangan ku menjadi gelap .
Di rumah Nadia , mama Nadia mencoba menghubungi ponsel nya namun berkali – kali tidak di angkat . Akhir nya mama Nadia pun menghubungi suami nya .
Kriing .. kriing ..
“ Halo ma “ ucap papa Nadia
“ Halo pa, Nadia kok belum pulang ya .. ponsel nya juga ga diangkat – angkat .. gimana ini , pa .. sudah jam tujuh “ ucap mama Nadia panik
“ Tenang dulu , ma .. papa sekarang masih di jalan , nanti sekalian papa mampir ke tempat les nya ya “ ucap papa Nadia
“ Oke pa, kabarin mama ya “ ucap mama Nadia sambil menutup telpon nya
“ Di , mampir ke tempat les Nadia dulu ya “ ucap pak Zaky ke Odi , supir nya
“Baik pak “ jawab Mang Odi
Sesampai nya di tempat les Nadia , semua sudah sepi bahkan lampu – lampu nya pun sebagian sudah di matikan . Pak Zaky turun dari mobil lalu menghampiri pos satpam
“ Permisi pa, mau nanya .. untuk jadwal yang les siang sudah pada pulang semua belum ya “ tanya pak Zaky dengan sopan
“Ohh sudah pulang semua , pak .. kalau boleh tahu bapak mencari siapa ya ?” tanya satpam tersebut
“ Saya mau menjemput Nadia , saya ayah nya “ jawab pak Zaky
“ Ooh neng Nadia sudah pulang dari tadi sore , pak .. sebelum magrib sudah keluar bareng sama temen satu kelas nya “ jawab pak satpam .
“ Ooohh gitu , kalo boleh tahu siapa temen nya ya pak ?” selidik pak Zaky
“ Nama nya neng Tania , pak .. Tapi maap saya ga punya nomer telepon dan alamat rumah neng Tania . Kalo pihak yayasan sih nyimpen data pelajar di sini . Kalau mau bapak besok datang aja lagi untuk minta nomer dan alamat neng Tania atau teman yang lain nya “ ucap pak satpam panjang lebar .
“ Ooohh gitu , ya sudah terimakasih banyak info nya ,pak “ ucap pak Zaky mengakhiri obrolan .
“Iya sama – sama pak “ ucap pak satpam , sebenar nya pak satpam itu merasa aneh, kenapa neng Nadia tidak nelpon ke orangtua nya dulu ya kalo mau main ke rumah teman , batin pak satpam .
Setelah berlalu dari tempat les nya ,pak Zaky langsung menghubungi istri nya .
“ Halo ma, aku sudah mampir ke tempat les nya tapi kata satpam sudah pulang semua . Nadia juga sudah keluar dari sebelum magrib bareng temen – temen kelas nya . Bahkan ada temen deket nya juga yang sama – sama nunggu angkot , nama nya Tania . Cuma satpam itu tidak punya nomer telepon dan alamat rumah Tania , yang punya yayasan .
Jadi harus kembali lagi besok untuk minta nomer telepon dan alamat Tania dan lain nya , kalo sekarang semua sudah pada pulang “ ucap pak Zaky panjang lebar
“Ya Tuhan , kemana ya Nadia , pa “ ucap mama Nadia sambil terisak .Ia begitu khawatir dengan anak semata wayang nya .
“ Sabar ma .. sebentar lagi papa nyampe rumah ,kita tunggu dulu , mungkin Nadia sedang ada keperluan jadi mampir dulu ke suatu tempat “ ucap pak Zaky menutup obrolan .
Sementara itu di tempat Nadia ,
Perlahan ku buka mata , aku melihat ke sekeliling .. banyak tumpukan barang bekas , ruangan nya pun berdebu .
Lampu yang menerangi tidak terlalu terang , sehingga membuat aku harus benar – benar memicingkan mata . Aku kini duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kaki di ikat ke tiang yang terbuat dari kayu , dan kayu itu terlihat sudah keropos , mulut ku pun tersumpal dengan kain . Aku tidak bisa bergerak , tubuhku sakit semua , juga tidak dapat berbicara karena tersumpal .
Namun aku tidak mau menyerah , aku mencari akal . Ku perhatikan suasana disekitar . Di atas tumpukkan barang terdapat sebuah jendela . Kalo aku panjat barang-barang itu kemungkinan aku bisa ke jendela itu , pecahkan kaca nya lalu keluar , pikir ku . Tapi gimana cara kesana nya , dan gimana cara pecahin kaca tanpa suara , aku masih memutar otak .
Ku lihat ke diri ku , baju ku masih sama tidak ada yang terbuka hanya kotor dan berdebu . Aku teringat mama dan papa , seketika airmata ku mengalir . Ma ,Paa .. maapin Nadia yang ga nurut pesen mama dan papa , Nadia pengen pulang , ucap ku dalam hati .
Ayo Nadia , jangan menyerah , kamu pasti bisa keluar dari sini ,mereka ini hanya preman – preman amatir kok , hati Nadia memberi semangat . Aku pun kembali melihat sekeliling untuk memastikan celah lain yang bisa di jadikan tempat untuk melarikan diri.
Tiba –tiba pintu di hadapan ku terbuka , masuk lah empat orang laki – laki . Mereka pun langsung menuju ku yang sudah sadar dan menatap tajam ke arah mereka .
“ Halo cantik , sudah bangun rupa nya “ ucap salah satu dari mereka . Mereka semua memakai tutup kepala hitam .
Aku hanya diam memperhatikan , aku berdoa dalam hati agar di beri petunjuk untuk bisa keluar dengan selamat dari sini . Lalu aku teringat ponsel ku , aku memang belum mengaktifkan nada dering nya . Sewaktu di kelas les , semua ponsel siswa harus dalam keadaan silent .
Aku pun melihat ke sekeliling , ku melihat tas nya teronggok di sudut ruangan . Semoga mereka tidak menemukan ponsel ku . Karena ponsel ku aku masukkan ke tempat pulpen dan tempat pulpen tadi aku selipkan di buku cetak ku .
Aku pun mengingat – ingat isi tas nya , apa yang bisa ku gunakan untuk di jadikan alasan .
Ahhaa , pembalut , pikir ku senang . Aku selalu membawa pembalut kemana pun , sebagai antisipasi .
Lalu ku arahkan pandangan ku ke empat pria tersebut , aku mencoba untuk mengenali salah satu nya. Hingga tiba – tiba , ada satu pria yang menghampiri ku dan memberikan ku sebuah nasi bungkus dan air mineral botol .
“ Nih , makan dulu .. kalo lo mati nanti kita gagal dapet duit “ ucap nya , seraya menyodorkan piring yang berisi nasi bungkus yang belum di buka , dan air mineral botol nya .
“ Hhmm ..mmppp..mmpfft “ Nadia mencoba bersuara ,gimana mau makan , mulut kesumpel gini , batin Nadia .
Lalu ke empat pria tersebut menengok ke arah Nadia .
“ Aahh bego lo , orang di suruh makan tapi sumpelan nya ga di buka dulu “ ucap pria satu nya yang memiliki tato naga di tangan kanan nya .
Lalu ia pun menghampiri Nadia dan melepas kain yang menyumpal mulut nya .
Sementara yang lain menertawakan teman nya yang tadi memberi makanan .
“ Iyee , gw lupa “ ucap nya terkekeh
“ Udah sono lo makan .. abis itu gw sumpel lagi mulut lo “ ucap pria yang melepas kain tadi .
Duuhh gimana ya ,makan ga ya .. di racun ga ya , batin Nadia .
“ Hehhh udah makan , malah bengong lo … awas aja kalo lo mati gara –gara kelaperan “ ucap pria yang dari tadi hanya duduk di seberang Nadia .
Ooohh mereka takut gw mati , berarti aman nih makanan , aku makan aja sambil ngulur waktu , pikir Nadia . Lalu ia pun mendapat ide .
“ Ehmm bang , om , pak , maap boleh ga saya izin ke kamar mandi dulu ? saya ingin buang air kecil “ ucap Nadia beralasan .
“Hehh , anterin sono bocah nih “ ucap pria yang tadi hanya duduk diam .
“ Hadeehh ribet banget sih lo .. udah ayo , awas aja kalo lo coba – coba kabur , gw matiin di sini “ ucap nya .
Aku menelan ludah ku dengan susah ketika mendengar ancaman itu , aku pun hanya mengangguk dan berakting pura – pura kebelet .
Lantas mereka berdua pun keluar dari ruangan itu menuju toilet .
Hari sudah semakin malam, tanda –tanda Nadia pulang belum juga terlihat . Orangtua Nadia sudah menghubungi semua teman sekolah nya , barangkali Nadia ada singgah ke salah satu nya.
Namun jawaban mereka semua sama , bahwa bertemu Nadia saat terakhir di sekolah . Kedua orangtua Nadia pun semakin panic , apalagi mama Nadia , ia sudah menangis terus .
Kriiing .. kriingg .. kriing tiba –tiba telepon rumah Nadia berbunyi , lalu di angkat oleh papa nya Nadia .
“ Haloo , selamat malam ..” sapa papa Nadia sopan , karena ia berpikir kalau ini mungkin dari slah satu sahabat Nadia , atau bahkan Nadia sendiri yang menghubungi nya .
“ Selamat malam … siap kan uang 2 milyar besok jam sebelas siang , atau anak mu , kami lenyapkan . Dan jangan coba –coba lapor polisi “ ucap nya .
“Apaa .. dari mana aku bisa menyiapkan uang sebanyak itu besok ?” ucap papa Nadia , sementara mama Nadia berdiri gemetar di sebelah suami nya .
“ Jangan banyak bacot , kami sudah periksa harta kekayaan mu yang ga akan habis tujuh turunan .. atau kamu lebih rela kehilangan anak gadis mu ?” ucap nya
“ Mana Nadia ..?” tanya papa nya
Sementara itu Nadia baru saja masuk ke ruangan tadi bersama pria yang mengawalnya ke toilet .
“ Hehh bocah, sini lo .. ni ngomong “ ucap nya sambil menarik Nadia dengan kasar dan mendekat kan ponsel ke telinga Nadia .
“ Ha.. haaloo .. “ ucap ku dengan gemetar , ia belum tahu dengan siapa ia bicara.
“ NADIA .. NAD , KAMU BAIK-BAIK AJA NAK ? “ tanya papa ku dengan panic setelah ia mendengar suara ku . Aku juga mendengar suara mama yang memanggil nama ku sambil terisak . Airmata kumengalir deras.
“Papa… maa.. Nadia .. Nadia baik .. Nadia mau pulang , pa ..maa ..” ucap ku sambil terisak .
Seketika ponsel tersebut di ambil paksa , aku pun di dorong dengan kasar ke tempat nya tadi .
“Daahh sono lo makan “ ucap pria yang berdiri di sebelahku . Aku pun jatuh tersungkur . Ku tatap makanan yang ada di hadapan ku , aku tidak memiliki rasa lapar sedikit pun . Ku coba mendengarkan percakapan ke empat pria tersebut .
“Gimana .. udah percaya kan kalo anak lo ada di sini ..” ucap suara orang tesebut .
“ Iii yaa .. iiyaaa .. tolong jangan apa-apakan anak saya , kemana saya harus kirim uang nya ?” tanya papa Nadia . Ia rela kehilangan harta nya asal tidak anak kesayangan nya .
“Baik , kamu bawa dalam bentuk cash .. alamat akan kami berikan besok jam sepuluh pagi , dan ingat jangan bawa polisi “ ucapnya .
“Iiiyaa .. iyaa “ jawab papa Nadia . Dan mereka pun mengakhiri obrolan nya .
Setelah menutup telepon papa Nadia terduduk lemas , ia mengatakan kepada istri nya bahwa penculik Nadia minta uang tebusan 2 Milyar , dan tidak boleh lapor polisi . Papa Nadia kemudian menelpon asisten nya agar menyiapkan uang cash 2milyar untuk besok pagi , jam Sembilan sudah di kirim ke rumah nya .
Aku mendengar para penculiknya mengancam kedua orangtua nya, ia pun semakin bingung .
Hari sudah semakin larut , Hanya ada satu penjaga yang standby di depan pintu . Yang lain nya sudah keluar .
“Hhmmppff .. mmppfft ..” aku bersuara kembali .
“ Penjaga tersebut menghampiri dan menarik kain yang menyumpal mulut ku
“ Mau apa lagi sih lo , bocah ?” tanya nya dengan nada tinggi
“ Ma.. maap om , perut aku mules , soalnya tadi sambel nya pedes banget , aku mau .. mmhh ke toilet , om” ucap ku dengan wajah memelas .
Sebenar nya aku hanya ingin memeriksa suasana di luar ruangan ini .
“ Hadeehh ribet banget lo .. ayoo “ ucap nya sambil membuka ikatan di kaki dan tanganku .
Lalu kami pun berjalan beriringan . Setelah berada di luar ruangan menuju toilet , aku melihat sebuah pintu yang tidak ada penjaga nya .
Dan sebuah jendela yang cukup besar , seperti nya hanya dia di sini , batin ku sambil melirik ke penculik itu .
Setelah itu aku pun keluar dari toilet dan menghampiri penculiknya .
“ Om , ternyata aku datang bulan juga .. aku mau ambil pembalut di tas ku ,, boleh ya om .. dari pada darah nya kemana-mana “ ucap ku berbohong .
Tanpa banyak bicara penculik itu pun mengangguk dan mengawal ku kembali ke ruangan , namun ia hanya berdiri saja dekat pintu sehingga aku sedikit leluasa untuk mengambil pembalut dan ponsel ku .
Tepat seperti dugaan ku , mereka ini preman – preman amatir , mereka tidak menyangka kalau bocah ini bawa ponsel , dasar amatir .. Untung juga sih mereka amatir , peluang ku untuk selamat semoga masih terbuka lebar , pikir ku sambil tersenyum simpul .
Ku robek sedikit bungkus pembalut nya , lalu ku masukkan ponsel nya . Kemudian aku pun teringat kalau aku masih menyimpan sebuah cutter bekas tugas praktek sekolah . Setelah semua masuk ke dalam bungkus , aku pun berjalan kembali menuju toilet .
Di dalam toilet , ku nyalakan kran air keras- keras . Lalu mengeluarkan ponsel ku , dan mengirim lokasi ke ponsel mama dan papa . Aku juga bilang , jangan lupa bawa polisi , aku akan cari cara untuk melarikan diri . Jangan hubungi aku dulu karena ponsel mau aku matikan biar aman .
Setelah itu ponsel ku matikan kemudian ku selipkan ke pinggang ku dan aku pun mengencangkan ikat pinggang ku .
Hari ini aku menggunakan celana panjang biru , kaos tangan pendek warna putih dan jaket putih.
Lalu cutter ku masukkan ke saku belakang celana , karena aku tahu tangan ku akan di ikat pada posisi ke belakang . Tak lama kemudian , pintu kamar mandi pun di gedor oleh penculik nya .
Duugg .. duugg.. duugg..
“ Heyy bocah , lama amat sih lo .. “ ucap penculik nya itu
“ Iii yaa . iyaa om , sbentar lagi .. mules om ..” ucap ku dengan suara yang di buat – buat .
Akhirnya gedoran pun berhenti . Aku terpaksa memakai pembalut nya karena aku tidak tahu harus ngumpetin di mana , kalo ketauan ga di pake bisa bahaya nih , pikir ku .
Setelah selesai aku pun keluar , dengan kasar tangan ku di tarik oleh penculik itu , kemudian di ikat kembali .
“ Ganggu aja lo malem – malem .. “ ucap nya dengan kesal .
Papa dan mama Nadia saat ini sedang menghubungi polisi meminjam ponsel bi Asih , pembantu rumah nya , karena takut ter detect oleh para penculik .
Ia pun menjelaskan kronologi nya , kemudian mengirimkan lokasi yang di dapat dari Nadia . Para polisi tersebut sekarang sedang mengatur strategi serangan , mereka tidak akan menggunakan seragam polisi sebagai serangan pertama .
Namun di balik itu para polisi berseragam di minta standby dari lokasi tersebut .
Aku menunggu penculik ini lengah , lalu mulai menggerakkan tangan ku agar ikatan nya sedikit longgar , tangan ku sudah lecet dan berdarah, aku masih terus berusaha merogoh saku celana ku pelan – pelan .
Tiba –tiba penculik itu melihat ke arah ku , aku pun buru – buru pura – pura ngantuk dan memejam kan mata . Namun tangan ku masih berjuang untuk mengambil cutter . Aaahh berhasil , batin ku .
Aku mengatur posisi cutter agar bisa memotong salah satu tali , keringat mulai membasahi ku . Aku berjuang cukup lama , mungkin sekitar hampir dua jam baru bisa memotong sebelah tali nya .
Aku sempat melihat jam dari ponsel ku tadi saat di toilet , kalau menurut perkiraan ku sekarang sudah pukul setengah tiga pagi . Aku harus bisa melepaskan ikatan ini sebelum pagi , dan sebelum kawanan penculik lainnya datang lagi . Aku pun mulai memotong tali yang sebelah nya lagi , kali ini lebih cepat
karena tangan yang sebelah sudah lebih leluasa . Hanya butuh tiga puluh menit melepas ikatan yang kedua . Namun aku masih meletakkan kedua tangan ku kebelakang agar penculik itu tidak curiga .
Sekarang gimana memutuskan tali yang di kaki ya , kalo aku membungkuk nanti ketahuan , pikir ku.
Sejenak aku terdiam berpikir , sambil sesekali melirik ke arah penculik yang sedang duduk melihat layar ponsel nya . Ahhaa , aku dapat ide lagi . Kemudian ia pun mulai bersuara lagi .
“Ehhmmpp .. mmmphht ..”
Penculik itu bangun mendekati ku, lalu menarik kain nya .
“ Apaaaa lagiii “ ucap nya kesal
“ Maap omm , tenggorokan saya gatal dan perih .. boleh minta air minum ?” tanya ku memohon . Ia tahu air mineral yang tadi sudah ia habis kan.
“Heehh gw jitak juga lo .. nyusahin amat sih ,, bentar gw ambilin dulu “ ucap nya dengan galak
Penculik itu pun keluar ruangan untuk mengambil air mineral lagi , aku buru –buru memotong tali yang melilit kedua kaki ku , tak sampai lima menit semua tali sudah kepotong .
Saat aku hendak berdiri terdengar suara pintu di buka , aku buru-buru melilitkan tali nya kembali asal – asalan agar tidak ketahuan . Dan duduk dengan posisi semula .
Penculik itu datang kembali membawa air mineral di botol .
“ Buka mulut loo .. gw tuangin aja , males gw buka pasang tali lo “ ucap nya dengan galak. Aku pun menurut , aku membuka mulut ku perlahan .
Tuangan pertama ku minum , pada saat penculik tersebut akan menuangkan kembali , aku membuka mulut ku lebar – lebar . Aku ingin air itu masuk lebih banyak , lalu … bbuuaahhh , ku semburkan ke wajah penculik tersebut .
Dan segera berlari menerobos ke luar ruangan . Aku menuju pintu depan tapi ternyata terkunci , aku pun menerobos jendela besar tersebut dengan tubuh ku .
Praaaankkk seketika jendela pecah . Aku terhuyung namun aku tetap memaksakan diri berlari , sebagian tubuh ku terkena pecahan kaca dan berdarah , aku tak tahu harus ke arah mana . Sambil berlari aku mengeluarkan ponsel , menghubungi papa ku .
Sementara itu di ruangan yang tadi Nadia di culik ,
Penculik tersebut marah – marah karena tertipu dengan bocah kecil .
“Brengsekk .. bocah brengsekk .. awas saja kalo ketemu , gw perk*s*baru tau rasa lo “ ucap nya sambil mengelap wajah nya yang basah .
Lalu ia pun menghubungi kawanan nya dan mengatakan kalo bocah tersebut kabur . Mereka pun segera datang ke markas .
Setelah mendapat telpon dariku ,papa ku langsung menghubungi polisi . Dan serentak polisi pun langsung mengepung tempat itu . Kedua orang tua ku segera menjemput ku ke lokasi pelarian ku .
Ke empat penculik tersebut berhasil di ringkus polisi .. Aku kini di bawa ke rumahsakit untuk pengobatan karena banyak nya luka . Dan aku juga di mintai keterangan oleh pihak polisi .
Ternyata kawanan penculik itu sudah mengintai aku , dan mereka tahu kalau papa ku memiliki sebuah perusahaan besar . Oleh sebab itu mereka mengadakan rencana penculikan ini untuk mendapatkan uang dari papa ku .
Peristiwa ini telah membuat heboh pihak sekolah mau pun tempat les ku . Namun semua bernapas lega karena aku akhir nya selamat . Dan aku kini selalu di antar jemput oleh sopir kemana pun aku pergi .
Meski pun di culik oleh preman – preman amatir , cukup membuat ku trauma . Terlebih lagi aku tidak mau membuat kedua orangtua ku khawatir dan sedih seperti kemarin .
The End .