Teruntukmu…. pria terhebatku..
Aku begitu sangat membencimu.. Kau pergi tanpa sepatah kata ..
Kau pergi tepat dihari istemewaku.. Kau pergi dan melupakan janjimu.....
Tiga hari sebelumnya..
Malam itu, ketika berbaring ditempat tidur kecilku di mess tempat ku bekerja tiba-tiba Hp kecilku berbunyi, bapak memanggil ..
“Malam nak, sibuk kau boru ? lagi ngapain kau boru. Tiga hari lagi ulang tahun mu boru, wisudamu juga sebentar lagi, kau gak minta apa-apa dari bapak” sahutnya sembari batuk kecil.
“Bapak ini lah.. kayak anak kecil aja aku bapak buat, harus minta hadiah dari bapaknya “
“Gak apa-apa boru, minta saja , selagi kau bisa meminta dari bapak, kalau nanti bapak sudah gak ada lagi gak bisa lagi kau minta apa-apa dari bapakmu ini"
“Permintaanku masih sama pak ee.. Aku Cuma mau bapak dan mamak itu sehat,
biar bisa bapak dan mamak jadi pendamping wisuda” Sahutku sebelum bapak melanjutkan pembicarannya yang makin hari makin membuat kekhawatiranku membesar.
“Gak mau anting, kalung, atau gelang untuk kau pake wisuda mu nanti sebagai hadiah terindah ditahun akhir ini , mana tahu bapak gak bisa nemani kau wisuda, ada yang bisa mewakilkan bapak disa …..”
Sambil aku menahan tanggis , aku memotong pembicarannya..
“AKU CUMA MAU BAPAK SEHAT SAJA . itu saja” sahutku dengan nada kasar dan aku memutuskan untuk mematikan teleponnya dan tanpa sepengetahuanku, air mataku sudah mengalir sedari tadi. Kekhawtiranku semakin menjadi-jadi.
Beberapa menit kemudian hpku kembali berdering. Mamak memanggil
“Hallo boru, kenapa kau matikan hpmu, gak sopan gitu , jadi diam bapakmu dah, jangan buat bapak mu sedih ya boru,” (dengan logat medannya)
“Mamak? Aku cuma mau bapak sama mamak jadi pendamping wisudaku, itu saja sebagai hadiah ulang tahunku. gak usah belikan barang “ sahutku berpura-pura semua baik-baik saja. Dan mamak melanjutkan pembicaraan lainnya untuk mencairkan suasana.
Setelah menutup telepon , aku menelpon kakak ku.
“Ka, lagi dirumah kaka ?”
“Nanti saja telepon ya dek, lagi ada tamu dirumah” Sahutnya sambil tergesa-gesa dan dia mematikan teleponnya.
(Ada tamu? ini sudah jam 10.00 P.M, siapa yang bertamu semalam ini )
Aku coba memenangkan perasaan ku. Aku ambil buku dibawah bantal yang aku selipkan selembar foto bapak dan mamak. Aku tenangkan hatiku. “Terjadilah kehendakMu Tuhan”.
Tepat pagi itu, 01.08 A.M
Hp munggilku berbunyi dan membangunkanku dari tidurku, ku ambil hpku (pesan dari Bapak?)
“Selamat ulang tahun boru, sehat kau ya boru, jadi anak kebanggaan,semoga wisudamu nanti jadi hari yang membahagiakan bagimu, meskipun jika nanti bapak gak bisa menemanimu, sudah kau capai cita-citamu untuk menyelesaikan pendidikan mu boru, kau ada buktikan kau anak yang bertangung jawab. Harus tetap rendah hati dengan gelar mu nanti ya boru. GBU “
Seketika air mataku menetes, aku memutuskan untuk menelpon bapak , si pacar pertamaku.
“Nomor yang anda tunju sedang tidak aktif” Sahut dari sebrang dan kekhawatiranku semakin menjadi. Aku telepon kembali dan lag-lagi jawab yang sama. Aku telepon ke nomor kakak, dan tidak diangkat, aku hubungi ke nomor mamak juga hal yang sama.
Ku kirim pesan singkat “Aku menyayangimu pak ee, sehat ya , I love you so much”
Ketika itu, aku rasa malam ku sangat panjang…. Inginku sgera berlari mengejar waktu, memeluk dan meluapkan tanggisku dipelukkan bapak.
Pukul 06.00 A.M
Alarm membangunkan tidurku.. (tidak ada panggilan? ) ku cek pesan yang sudah memenuhi hp ku (gak ada pesan bapak, bapak gak ada balasan, tapi pesannya terkirim, kapan aktif nomor bapak ? ) Aku kembali menelpon bapak.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif?” (Sudah tidak aktif lagi )
Segera aku bergegas keluar, kubangunkan temanku, sambil mengeluarkan motorku
“Aku pulang dulu ya… minggu malam aku balik ke mess” Tanpa penjelesan apapun aku meninggalkan temanku yang sedang berdiri.
Aku lajukan motorku dengan sejuta kekhawatiran yang luar biasa. “Pak.. makk ee.. yang ulang tahun datang.. mana kue nya” Berusaha menenangkan hati ku sendiri.
“Bapak sama mamak lagi kekampung, ada acara” Sahut kakak ku dari kamar.
“what? ke kampung? Kenapa gak bilang samaku, nomor mereka pun gak bisa dihubungi” Sahutku didepan pintu kamarnya yang terkunci.
“Iya tiba-tiba ditelepon semalam, ada titipan bapak sama mu, diletakkan diatas mejanya, lihatlah” Jawab kakak tetap dari dalam kamar.
Segera aku berlari ke kamar, kulihat ada kotak munggil .Aku buka dan ada secarik kertas lengkap dengan cincin dan kalung dengan bertuliskan namaku.
Ku ambil kertasnya dan membaca suratnya.“Selamat ulang tahun ya boruku sayang, ini ada kado bapak khusus untuk mu. Satu untuk hadiah ulang tahunmu, satu untuk kado wisudamu, mana tahu sakit bapak memang keinginan bapak untuk mendampingimu di wisudamu tapi kita tidak tahu apa rencana Tuhan kedepannya. Bapak tulis surat ini , biar bisa kau jadikan kenangan, karna bapak tahu kau suka koleksi kertas, bahkan surat cinta dari pacar-pacarmu dulu masih saja kau simpan. Sehat kau terus ya bor, ingat makan, jaga mamakmu dah, harus bisa kau buat mamakmu melupakan kesdihannya nanti, Nanti kalau wisudamu, bapak gak bisa datang, sudah bapak titipkan sama bapaudamu untuk buat ikan emas dan telur untuk mu. Berbahagialah kau boru,. Bapak sudah bahagia lihat kau mencapai gelarmu. Dari bapakmu.”
Seketika tanggis ku kembali tumpah. Aku ketuk kamar kakak ku, untuk minta penjelesan. Tapi tidak ada jawaban, aku kembali kekamar dan memeluk pemberian bapak.
Pukul 10.00 A.M
“Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun” Nyanyian itu membangunkan tidurku.
“Selamat ulangt ahun ya boruku”Sambil meneteskan air mata mamak, menciumku.
“Bapak mana mak? tadi kata kakak, kalian ke kampung” Sahutku tanpa mengubris ucapan mamak
“Mamak pulang untuk mengrayakan ulang tahunmu disuruh bapak” Sahut kakak ku yang tetap dengan jawaban yang menjengkelkan.
Tiba-tiba hp kakak berdering memecahkan ketenangan dikamar itu. Kaka pergi kedapur seakan akan menyembunyikan sesuatu. Setelah itu, bergegas entah kemana setelah membisikkan sesuatu sama mamak.
“Kakak mau kemana mak?”
Mamak hanya berusaha menenangkanku dan memelukku tanpa menjawab apapun. Untuk memecahkan suasana itu, aku berjalan kearah lemari tempat aku menyimpan baju yang telah ku belikan untuk mereka, untuk dipakai nanti di hari jadi ku.
“Mak , cantik kali nanti mamak makai ini kan” Sambil menunjukan kebayanya.
“Bapak juga ganteng kali pasti makai baju dan jasnya lengkap dasinya nanti”
Tiba-tiba mamak berjalan ke arahku, Sambil memelukku dengan senduan yang tak ku tahu artinya.
Pukul 12.00 P.M
“Liu…liu…liu..” bunyi itu membangunkan ku.
Aku melangkah ke luar kamar (ada suara tanggis ? siapa yang menangis ?)
Ada ambluance parkir di depan rumah, rumah kenapa sudah rapi seperti ini ?????
Segera aku cari mamak dan mamak berada tepat didepan pintu ambulance.
(siapa yang meninggal ???? )
“Mak eee? Ngapain disitu, sini mak .. ngapain mamak disitu , gak baik main main kayak gitu” Antara binggung dan menepis sebuah kenyataan.
Mamak berlari kearah ku sambil menangis.
“Bapak sudah sehat nang, bapak gak bisa menemani wisudamu” Sahut mamak menangis sambil memelukku.
Mamak hanya menangis, aku berlari ke arah kerumunan orang yang sedari tadi sibuk tak menentu untuk mengeluarkan sosok yang kuharap bukan bapak…
“Bapakkkkkkkkkk ?????” teriakku
“Kalian apakan bapakku… tadi pagi kakaku bilang bapakku ke pesta, kenapa jadi kaku gini bapakku ..ahkk??” Teriakku sambil menepis tangan siapa saja yang berusaha memegang tempat sosok itu terbujur kaku.
Tiba-tiba kakaku memelukku dan menangis
“Bapak kita sudah sembuh dek, tenanglah biar mereka menyiapkan tempat bapak dulu, kasihan bapak capek dari perjalanan tadi...”
Aku berusha menenangkan pikiranku, berharap semua hanya mimpi. Tiba-tiba saja semua jadi gelap, tak ada yang bisa ku liat…..Aku terbangun dan mendengar suara isak tanggis dimana-mana. Aku tak menghiraukan siapapun disampingku tadi. Aku cari sosok yang paling aku cintai itu berada tepat ditengah ruangan.
“Pak.. bapak bilang samaku, minta satu permintaan, aku hanya minta bapak sehat kan?? Ini kado mu untuk ku pak ee???” Tanggis ku sambil tertatih menuju sosok itu.
Aku keluarkan kotak kecil yang menjadi kadonya.
“Mak.. ayok kita kembalikan aja ini ke tokohnya, biar aja aku gak make ini .. biar bapak bisa nemani aku wisuda.., pak ee.. aku balikkan aja ini ke tokonya.. yang penting bapak menemaniku wisuda . ya pak ee???” Tanggisku lagi dan tak ada jawaban apapun yang aku terima.
Aku berlari kekamar, ku gapai lemari tempat tadi aku meletakkan bajunya.
“Pak.. bapak janji make ini diwisudaku.. mana janjimu pak ee.. aku belikan ini untuk wisudaku, bukan untuk mengantarkanmu ke peristrhatanmu…, pakk eeeeee” Tanggisku semakin menjadi.
Orang-orang itu hanya berusaha menenangkan tanpa mengerti betapa hadiah dari Tuhan ini sangat menyakitkan. Aku tak mengerti alasaan Tuhan kenapa ini menjadi hadiah dihari special ku. Dan aku tak mau tahu itu. Aku harap bapak kembali terbangun dan menemaniku dari hari bahagiaku nanti. Aku menyayangimu pak e.
Teruntukmu…. pria terhebatku..
Aku begitu sangat membencimu.. Kau pergi tanpa sepatah kata ..
Kau pergi tepat dihari istemewaku.. Kau pergi dan melupakan janjimu
Dan kau hanya meninggalkan secarik kertas dan hadiah , berharap aku bisa terima kepergianmu?? Tidak pak …
Ini menyakitkan.. tepat di hari ulang tahunku .. kau beri hadiah yang menyakitkan.
Hadiah kepergianmu..
Dan di hari wisudaku, kau kembali mengoreskan luka…
Aku melihat temanku begitu bahagia dengan gandengannya masing-masing..
Dan aku hanya bisa menahan tanggis dan menebarkan senyum palsu demi mamak.
Semua seakan sesuai scenario mu.
Bahkan, sampai akhir nafasmu, kau berusaha membuatku merasakan hari bahagiaku walaupun hanya sebentar ..
Dan kau menghancurkan hidupku pak..
Pak ..
Bahagia lah disana….. Aku menyayangimu..
Sangat menyayangimu.. Meski berat, aku akan meneruskan cita-citamu yang tertunda…