‘Strategi Untuk Mendapatkan Cinta Eli’
Dari judulnya saja sudah membuat bulu kuduk merinding. Aku tak percaya kalau pemilik laptop yang sedang kupegang ini memiliki rencana seperti ini terhadapku. Eli di sini belum tentu aku sih. Tapi kalau dipikir, di sekelilingnya tidak ada lagi yang bernama Eli atau sekedar panggilannya saja. Yang mirip paling Lili, Laila, Laili, atau Ela.
Awalnya Gana, sang pemilik laptop, meminjamkan laptop ini padaku karena laptopku sedang diservis. Padahal ada tugas yang harus dikumpulkan besok. Jadi, untuk sementara Gana menggunakan komputer di kamarnya. Yang namanya godaan, setiap manusia pasti mengalaminya. Dan disitulah aku tergoda untuk membuka-buka folder yang seharusnya tak kubuka.
Judul foldernya adalah ‘Awas 18+’.
Orang pada umumnya akan menggunakan nama folder lain untuk menyembunyikan file ‘18+’ kan? Tapi, Gana terang-terangan kasih judul begini. Pasti ada rahasia di balik rahasia, deh. Begitulah pikirku.
Begitu ku buka folder itu, nampaklah sebuah file .doc dengan judul yang sudah kujabarkan tadi. Tanpa ragu, langsung ku buka file yang ternyata tidak dipassword itu.
Dan isinya jaauuuuh lebih mencengangkan dari judulnya. Serentetan tanggal dan kegiatan tertera di sana. Ada juga rencana yang sudah terlewat dan dituliskan pula kesimpulannya di sana. Misalnya:
Rencana Tanggal 5 Maret 20xx
6.00 nungguin di depan rumah Eli buat berangkat bareng ke sekolah.
9.40 istirahat pertama ajak Eli ngobrol + traktir jajan.
12.40 istirahat makan siang bareng Eli. Pesenin makanan+minuman kesukaan Eli di kantin.
14.20 pulang bareng Eli.
Hasil Rencana:
6.30 berhasil berangkat bareng Eli. Dia suka mepet-mepet kalau berangkat, tapi kali aja dia lagi niat, besok jam 6.00 lagi datengnya.
9.40 gagal. Eli diajak Nia ke perpus buat bikin tugas.
12.40 makan bareng sih, tapi gak di kantin. Soalnya Eli ternyata lagi bawa bekal.
14.20 gagal. Eli udah janji bareng Nia ke cafe buat bikin tugas.
Kesimpulan:
Asem Nia. Bikin gue gagal mulu. Lain kali jangan sampe keduluan Nia.
Sumpah. Baru kali ini aku merasa kaget sampai rasanya mataku mau lepas dari wajah. Artinya, ini benar-benar luar biasa mencengangkan.
Bagaimana tidak kaget, kalau tahu aslinya Gana itu seperti apa.
Gana itu sehari-hari seperti kutub selatan berjalan. Julukan populernya bukan Ice Prince, tapi Yeti alias manusia salju. Karena selain visual dan otaknya, entah kenapa tidak ada yang membuat Gana terlihat seperti pangeran. Dengan kualitas yang cukup mumpuni, sudah sewajarnya dia dicintai. Tetapi, Gana justru ditakuti. Itu terlihat jelas setiap hari. Misalnya para preman sekolah akan menyingkir seketika jika Gana lewat, kakak kelas tidak ada yang menyuruh-nyuruh dia, bahkan beberapa guru tak mau bertatap mata dengannya.
Bukannya tak memiliki penggemar. Orang tampan mana ada yang tidak laku. Tapi masalahnya, tidak ada yang berani mendekati Gana. Para anak perempuan yang sempat mendekatinya bahkan membuat kesepakatan bersama untuk fangirling secara diam-diam saja.
Awal mula Gana yang seperti itu bisa berteman denganku adalah hanya karena rumah kami bersebelahan dan kami sudah kenal sejak balita. Saat masih bayi dulu, kami sudah sering main bersama, pergi ke posyandu bersama, bahkan mandi bersama. Makanya tidak aneh kalau dia bisa akrab denganku.
Tapi, ya sebelumnya cuma sampai situ kupikir. Aku tak pernah menyangka Gana memiliki perasaan terpendam untukku. Membayangkannya saja tidak pernah.
Jadi, kalau ini sungguhan, mungkin aku akan menolak Gana. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Dan lagi, saat ini aku sedang naksir pada orang lain yang sepertinya juga suka padaku.
Untuk sementara, aku akan mencopy file ini ke flashdisk. Kalau aku tahu semua rencananya, pasti aku bisa menggagalkannya.
---
Esoknya, aku dan Gana tetap berangkat ke sekolah bersama. Karena laptopku juga akan diambil hari ini, aku kembalikan laptop Gana hari ini juga.
“Cuma buat tugas kan?” tanya Gana saat ku serahkan tas jinjing berisi laptopnya.
“I- iya, lah. Orang laptop kamu gak ada game nya. Mau diapain lagi?” dustaku.
Tentu saja sebelumnya sudah kuobrak-abrik isi laptopnya. Mungkin saja ada file sejenis yang menyimpan rencana rahasia lainnya. Aku kan tidak boleh lengah.
“Ya udah. Jalan.” Ajaknya.
Kami pun berjalan menuju halte bus, baru deh ke sekolah.
Iya. Naik bus. Kami berdua walaupun sudah kelas 11 SMA belum dibolehkan naik kendaraan pribadi oleh orang tua. Padahal kami sudah punya SIM yang didapat dengan cara jujur dan jerih payah sendiri.
Tapi, dibalik semua itu ada berkahnya, kok. Misalnya, bisa ketemu gebetan setiap pagi di bus, seperti sekarang.
Rayhan, cowok yang kutaksir sejak SMP juga naik bus untuk ke sekolah. Kami tidak selalu bertemu sih, tetapi lumayan lah. Daripada tidak pernah bareng sama sekali. Begini saja sudah membuatku senang.
“Hhhh...”
Terdengar suara dengusan keras Gana di sampingku. Aku baru ingat kalau orang di sebelahku ini suka padaku. Saat kulirik dia, ekspresinya seperti gunung berapi yang sudah hampir meletus. Kuperhatikan betul arah sorot matanya yang ternyata berujung pada Rayhan.
Jujur saja saat ini Gana terlihat sangat menyeramkan. Matanya melotot, tangannya terkepal hingga nampak betul otot-ototnya, tak lupa juga mulutnya yang berkomat kamit dengan kata-kata kasar yang terdengar lirih.
“Gan?” panggilku.
Dalam sekejap Gana mengganti ekspresinya. Tatapannya sudah tidak seseram tadi begitu melihatku.
“Hm?”
Dia membalas sahutanku, tetapi aku bingung mau bilang apa padanya. Aku hanya spontan saja memanggil namanya tadi.
Karena tak juga mendengar apa yang ingin kukatakan, Gana bertanya,”Kenapa?”
Aku tak bisa berkata apapun. Aku sama sekali tidak kepikiran mau bilang apa. Tadi impulsif saja aku memanggilnya. Mungkin aku harus improvisasi. Misalnya tanya soal tugas, jadwal piket, atau soal materi Biologi yang belum kupahami.
Tanpa sengaja aku melihat telinga Gana yang memerah. Mungkinkah dia malu kuperhatikan begini?
“Ng... gak jadi. Aku lupa mau bilang apa.” Kataku sambil memalingkan wajah.
Dari reaksinya tadi, bisa dipastikan bahwa ternyata Gana benar-benar suka padaku.
Kalau aku tak membaca catatan yang ada di laptop Gana itu, mungkin sampai sekarang aku juga tidak akan sadar. Memang sih, aku kadang mendengar dengan silir umpatan-umpatan yang entah dari mana sumber suaranya. Tetapi, hingga saat ini aku tak pernah sama sekali melirik ke arah Gana. Aku terlalu fokus pada pemandangan indah bernama Rayhan.
Begitu sampai di sekolah, aku langsung menuju ke kelas dan menarik lengan Nia yang juga baru datang. Ku ajak dia (baca: geret) menuju toilet terdekat. Masalah ini harus segera dicurhatkan bagaimanapun juga.
“Sakit El! Ya gusti!” rintih Nia.
Begitu sampai di toilet, aku pun melepaskan Nia.
“Kenapa, sih!?” bentaknya.
Ku letakkan jari telunjukku di depan bibir. “Ssh...”
“Aku mau cerita.”
Begitu yakin ini lokasi yang aman, aku melanjutkan perkataanku.
“Ternyata Gana suka sama aku, Ni.” Bisikku.
“Terus?”
Mendengar reaksi Nia yang biasa saja, aku mengerutkan dahi.
“Gitu aja? Gak kaget?” aku balik bertanya.
Nia memutar bola matanya,”Di seluruh tata surya kayaknya cuma kamu yang gak tahu kali, El.”
“Eh?”
Nia menepuk jidatnya berkali-kali.
“Gana kasihan bener.”
Setelah itu Nia bercerita tentang apa saja yang dilakukan Gana tanpa sepengetahuanku selama ini. Mulai dari ancaman Gana untuk Nia yang super kekanak-kanakan, caranya melototi semua cowok yang berusaha mendekatiku, usahanya untuk berhasil di segala bidang, dan lain-lain.
Nia juga memberitahuku bahwa saat kelas VIII, ada seorang kakak kelas yang membuntutiku kemana-mana. Kakak kelas itu bahkan pernah hampir mengintip dan memotretku di kamar mandi.
Untungnya, sebelum itu terjadi Gana meringkusnya. Alhasil, Gana yang saat itu belum sekuat sekarang babak belur dan di bawa ke rumah sakit.
Aku tahu tentang Gana yang masuk rumah sakit. Seluruh tubuhnya lebam dan dia kehilangan banyak darah. Gana saat itu beralasan bahwa dia kecelakaan dan aku tidak curiga sama sekali, jadi tidak kuselidiki lebih lanjut. Kini aku tahu kalau saat itu dia berbohong. Semua itu karena dia melindungiku dari penguntit.
Semenjak itu Gana jadi rajin olah raga dan belajar bela diri. Kata Nia, karena usaha Gana itu lah aku jadi tidak pernah diganggu lagi.
Mendengar cerita dari Nia, aku jadi merasa tidak enak. Alasanku untuk menolak Gana seperti terkikis sedikit demi sedikit. Tapi, bukan berarti aku langsung jatuh cinta padanya. Mungkin aku harus menunggu sampai saat Gana benar-benar menembakku.
Ya. Lebih baik begitu. Tunggu dia menyatakan perasaannya, baru kupikirkan jawabannya.
Begitulah rencanaku. Tapi kalau setiap hari ketemu, mau tidak mau pasti kepikiran. Rumahku dan Gana itu bersebelahan dan bangkunya di kelas juga tepat di sebelahku.
Sepanjang dua jam pelajaran pertama, aku tanpa sadar melirik ke arah Gana lalu kembali lagi ke depan. Melirik lagi, lalu kembali lagi ke depan. Begitu seterusnya hingga tak sengaja mata kami bertemu.
Aku hanya bermaksud meliriknya sebentar, tetapi saat itu juga ternyata Gana sedang menoleh ke arahku. Mata kami bertatapan cukup lama tanpa ada yang berniat untuk kembali memperhatikan papan tulis.
Tiba-tiba Gana melengkungkan dua ujung bibirnya ke atas. Saat itu aku berpikir,’Apa selama ini senyumnya memang seindah ini?’
(Gana's Side)
Ting!
Terdengar nada dering Whatsapp dari ponselku.
Ternyata yang datang adalah pesan dari Nia, teman sebangku Eli.
[Dah w sebar virusnya. Balikin kamera w. ASAP!]
Salah satu ujung bibirku terangkat. Rencana pamungkasku untuk membuat Eli memperhatikanku sudah dimulai dengan sukses.
[Sip]
Balasku.
Sekarang tinggal meminjamkan laptop ini ke Eli. File catatan yang berisi rencana-rencanaku pada Eli juga sudah kutaruh di folder yang lokasinya gampang sekali untuk ditemukan. Ditambah judul folder yang mencurigakan, orang seperti Eli mana mungkin tidak membukanya.
....END...